Kembali ke Sydney


soh

Di tangga-tangga Sydney Opera House, aku duduk termenung. Sendiri dan merasa sepi di tengah keramaian. Jauh di sisi selatan, nampak gedung-gedung tinggi menjulang, angkuh berebut ruang yang dilatari langit biru, bersih tanpa noda. Sydney Tower nampak khas, mengingatkan orang-orang yang pernah gandrung dengan film animasi “Finding Nemo”. Di pelataran Sydney Opera House, orang berlalu lalang menikmati hari yang cerah dan sejuk. Meskipun matahari menikam bumi, nuansa musim dingin belum sempurna diambil alih musim semi. Bagi penduduk katulistiwa sepertiku, Musim semi masih menyisakan dingin yang menyengat. Matahari yang menikam dan hembusan angin dingin yang bersemangat adalah paduan yang menghadirkan kesejukan. Di sini, di tangga-tangga ini, aku terduduk menikmati. Memandang dan menjadi pengamat, berusaha tidak terlibat.

Dua belas tahun lebih yang lalu, aku datang ke sini pertama kali. Masih terngiang ucapan Yew Kong Tam, salah seorang pejabat di International Students Service, University of New South Wales (UNSW), ketika memberi petunjuk transportasi ke Sydney Opera House. “You guys pay attention to buses that go to Circular Quay and you can take one of them” katanya. Bahasa Inggris Logat China-Melayu yang meluncur dari mulutnya menyisakan kenangan tersendiri. Aku, murid baru dari Indonesia yang belum paham mancanegara, tergagap-gagap mengikuti petunjuknya sebelum akhirnya bersuka cita menikmati Sydney Opera House yang fenomenal itu. Dulu, ada kegembiraan luar biasa. Ada kebanggan yang sulit dibendung.

Dua belas tahun kemudian, aku duduk di tempat yang sama. Di tangga yang sama, menikmati gedung yang tidak berbeda. Di sebelahnya, melengkung Sydney Harbour Bridge, sebuah jembatan tua yang bersama Sydney Opera House telah menjadi penciri peradaban Australia sejak beberapa dekade silam. Melihat keduanya bersanding adalah melihat Australia yang tersimpan dalam kenangan jutaan manusia yang pernah berkunjung ke sini. Di antara jembatan dan gedung ini berkilau cahaya matahari yang menimpa air laut yang beriak tenang. Teluk ini hadir sebagai ikon, menjadi titik berkumpul jiwa-jiwa yang lelah bekerja selama seminggu sebelumnya. Akhir pekan menjadi kesempatan menikmati paduan kemajuan peradaban kota dengan tata alam yang asri dan lestari. Taman dan Macquarie Chair yang tak jauh dari Sydney Opera House menyajikan hijau pepohonan dan rumput yang teduh untuk duduk bersantai bersama orang-orang yang dicintai. Sore ini, paduan itu melambungkan aku ke dua belas tahun silam.

Gedung ini boleh sama, teluk yang menemaninya juga mungkin sama tetapi aku mungkin tidak sama dan semestinya bukan orang yang sama. Dua belas tahun lalu, datang sebagai mahasiswa baru yang tergagap-gagap berbekal rasa penasaran yang tinggi untuk menuai ilmu, kini semestinya berbeda. Dua belas tahun lalu hadir sebagai seorang muda yang haus akan penjelajahan dan penaklukan serta obsesi akan kuantitas penjelajahan, sekarang mestinya berbeda. Dulu datang sebagai pribadi yang hanya peduli sebagai pemulung ilmu, semestinya kini juga memberi sedekah pengetahuan. Pada akhirnya, sore ini mengajarkan satu hal. Bukan perihal seberapa sering aku berkunjung ke tempat-tempat yang jauh dan mentereng. Pertanyaannya adalah apakah aku hadir sebagai orang yang berbeda, memberi peran berbeda dan membawa manfaat yang lebih besar setelah satu dekade lebih memisahkan kunjungan yang satu dengan kunjungan berikutnya. Jika tidak, maka minum teh di pelataran rumah di Sleman sambil membaca tentang dunia mungkin jadi pilihan yang lebih baik.

Tangga Sydney Opera House, 24 September 2016

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Kembali ke Sydney”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s