Kekalahan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan?

Yang ditunggu-tunggu tentang Laut Tiongkok Selatan (LTS) akhirnya tiba. Teka-teki yang menyisakan pertanyaan dan bahkan ketidakpastian akhirnya terungkap dengan terang benderang. Permanent Court of Arbitration (PCA) yang berkedudukan di Den Haag, Belanda akhirnya memutuskan kasus Laut Tiongkok Selatan antara Filipina dan Tiongkok. Putusan PCA ini akan menjadi yurisprudensi, sebuah hukum baru, yang menegaskan, menjelaskan dan mendukung Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) dengan ketentuan-ketentuan yang lebih rinci.

Continue reading “Kekalahan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan?”

Mengupas Mangga

Tangan-tangan kecil itu saya perhatikan dengan seksama. Telapak tangan kiri memegang sebiji manga dan telapak tangan kanan menggenggam pisau. Nampak sangat tidak terampil, ringkih dan penuh keraguan. Ada juga ketakutan dari gerakannya yang gemetar tidak yakin. Lita, anak saya, sedang mengupas mangga.

Apa istimewanya mengupas mangga? Tidak ada istimewanya bagi saya atau banyak orang lain yang bahkan merasa mengupas mangga itu adalah keterampilan sejak lahir. Tapi percayalah, bagi Lita dan teman-temannya yang hidup pada masa dan situasi kini, mengupas mangga bisa jadi urusan besar yang runyam. Jika Anda memiliki anak sepantaran dengan Lita, tinggal di kota dan hidup di lingkungan yang lebih sering menyajikan mangga telanjang tanpa kulit, maka mengupas mangga menjadi keterampilan mahal.

mangga

Anak-anak kita mungkin terampil memainkan tuts-tuts piano, menggesek senar biola, memainkan papan ketik komputer, memijat layar-layar sentuh tablet atau ponsel cerdas dan menghitung di luar kepala soal-soal matematika yang biasa dipelajari oleh mereka yang jauh di atas umurnya. Tentu saja itu semua bagus tetapi mereka mungkin termasuk golongan yang tergagap-gagap ketika memegang sapu lidi, mengupas mangga, menggerakkan alat pel, mengucek baju yang kotor, menggosokkan spon di permukaan piring yang licin bersabun, atau bahkan sekedar untuk melipat kembali selimut mereka sendiri di pagi hari. Mereka mungkin termasuk anak yang berbicara Bahasa Inggris logat Amerika yang fasih tetapi terbata-bata dan terdengar begitu tidak sopan ketika harus berbicara dengan Eyang Puterinya dalam Bahasa Jawa halus.

Lita, anak saya, mungkin termasuk yang demikian tapi saya tidak menginginkan itu. Maka dari itulah saya mengawasinya dengan ketat ketika belajar mengupas mangga. Pelajaran yang tentu saja akan ditertawakan oleh teman kecil saya di Desa Tegaljadi karena, menurut mereka, mengupas mangga termasuk keterampilan yang bisa datang dengan sendirinya. Lita, seperti anak kecil lainnya, kadang mungkin kesal saya pandangi ketika menggerakkan pisau untuk memisahkan kulit mangga dari isinya yang ranum. Dia mungkin kesal saat saya koreksi arah gerakan spon waktu mencuci piring. Dia pastilah tidak bahagia ketika saya memanggilnya kembali ke kamarnya hanya untuk melipat selimut padahal dia sudah siap berangkat ke sekolah. Dia lebih sering merengut tanda tak senang setiap kali saya tegur karena membuat lantai kamar mandi kami basah dan terabaikan sehabis mandi. Saya harus menikmati dengan sabar kemarahan dan kekesalan itu karena saya merasa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihatnya di masa depan.

Saat dia sekolah di sebuah perguruan tinggi di Cape Town nanti, tidak ada yang akan mengupaskan mangga untuknya. Tidak ada pembantu yang akan merapikan selimutnya setiap pagi. Tidak ada yang mencucikan piring untuknya selepas makan malam. Tidak ada yang membersihkan lantai dari serpihan makanan ringan sampai semut berdatangan. Tidak ada yang membuat handuknya kering jika terhempas begitu saja di sudut kamar sehabis mandi di pagi hari. Tidak ada. Tidak ada kemewahan yang membuat Lita bisa hidup cuek tidak peduli. Itulah yang saya lihat di masa depan dan masa depan itu tidak lama lagi. Sayangnya, saya tidak pernah melihat bahwa keterampilan akan datang lewat mimpi dan tiba-tiba dikuasai. Keterampilan juga tidak bisa dibeli secara instan.

Lita masih harus belajar, demikian pula saya sebagai orang tua. Cerita ini bukan tetang keberhasilan tetapi tentang kekhawatiran yang mungkin dirasakan juga oleh sahabat-sahabat saya lainnya. Lita dan generasinya perlu diajari mengupas mangga. Dia perlu tahu bahwa mengupas mangga itu harus dari ujung bekas tangkai, bukan sebaliknya. Lita perlu tahu bahwa mengupas mangga itu harus menghasilkan rangkaian kulit mangga seperti kelopak bunga yang berurai panjang, tidak terpisah satu sama lain. Dia perlu tahu, rangkaian kulit mangga itu akan dipisahkan dari bagian bawah mangga di saat terakhir, sehingga sampahnya menjadi satu kesatuan sebelum akhirnya dia terhempas di tong sampah dengan sekali hentak.

Seperti yang saya selalu katakan pada Lita, mengupas mangga adalah life skill yang tak pernah salah untuk dikuasai. Maka ketika nanti di halaman belakang rumahnya dia melakukan reuni alumni UGM dengan Presiden Kamboja, dia akan mengupas sendiri mangga manalagi sambil berkelakar tentang kekonyolan kawan karib mereka yang sedang kampanye untuk menjadi Sekjen PBB.

GA867, langit antara Bangkok dan Jakarta, 15 Juli 2016

Kursi Kosong atau Kursi Isi

Nanning, Tiongkok, 18 Juni 2016

Di depan ada puluhan pasang mata, menyimak dengan takzim. Meski hari sudah agak sore dan makan siang baru saja berlalu, wajah-wajah antusias masih bisa disaksikan di ruangan itu. Mereka seperti menunggu-nunggu presentasi saya. Setidaknya saya meyakinkan diri saya akan hal itu. Entahlah sesungguhnya.

I am afraid, I am the only engineer in this room” kata saya memulai presentasi dan mulai mengundang senyum bahkan tawa. “I warn you, mine might be a little bit too technical but I will do my best to make it as accessible as possible”. Kelakar yang tepat di awal presentasi memang selalu membantu mencairkan suasana. Maka setelah senyum dan tawa kecil itu terlihat, datanglah energi positif yang mengiringi kelebat lembar-lembar tayang di belakang saya. Satu dua kelakar tetap keluar, puja puji untuk kolega selalu terjaga. Konon, begitulah presentasi yang baik. Menjadi bintang bersama-sama dengan pembicara lainnya dan menjadi bagian utuh dari para penyimak.

Continue reading “Kursi Kosong atau Kursi Isi”

Cinta dalam Sebiji Mangga

Saat kuliah, saya kos di tempat seorang penulis novel dengan nama pena Nani Heroe. Kami memanggil beliau dengan nama Bu Heru. Tempat kos kami berupa sebuah rumah besar yang sudah tua umurnya. Di halaman ada beberapa batang pohon manga. Kerap mangga itu berbuah dan manis rasanya. Kami, anak-anak kos, turut menikmati buah mangga itu dengan penuh sukacita. Saya termasuk yang sering memanjat untuk memanen mangga yang sudah matang.

Continue reading “Cinta dalam Sebiji Mangga”

Kasihan mereka, para anak pejabat dan orang kaya itu!

Bapak dan Ibu saya tidak munya banyak pilihan dalam memperlakukan dan memberi fasilitas pada anaknya. Mereka hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar di masanya sehingga tidak punya ‘network’ yang kuat. Sahabat karibnya adalah Nang Koplar tukang angon bebek, Nang Kocong petani penggarap yang tak pernah sekolah, Men Sungkrug, tukang munuh sisa panen padi dan beberapa orang lain yang profilnya tak berbeda.

Ketika saya punya cita-cita sekolah di SMA 3 Denpasar, salah satu sekolah terbaik di Bali, Bapak Ibu saya tidak bisa membantu. Saya bahkan tidak pernah diantar ke sekolah karena jika beliau mengantar saya maka dipastikan beliau akan menjadi beban tambahan. Akan ada dua orang yang tersesat. Beliau tidak paham bahwa orang desa di Kecamatan Marga di Tabanan harus menjalani proses pindah rayon dulu untuk bisa bersekolah di Denpasar. Beliau tidak tahu menahu, apalgi bisa membantu. Bapak dan Ibu saya aman sentausa hidupnya karena tak pernah khawatir akan saya. Beliau tidak tahu rumitnya administrasi bersekolah. Kata administrasipun pastilah asing di telinganya, bahkan sampai hari ini.

Continue reading “Kasihan mereka, para anak pejabat dan orang kaya itu!”

Bertetanggakah Indonesia dengan China?

sindoIstilah “tetangga” dalam pertanyaan ini adalah negara yang dengannya perlu disepakati garis batas darat atau laut. Malaysia, Papua Nugini dan Timor Leste adalah tiga negara yang berbatasan darat dengan Indonesia. Tentu saja dengan ketiganya Indonesia juga perlu berbagi laut. Sementara itu tujuh negara lain yang hanya berbatasan laut dengan Indonesia adalah India, Thailand, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, dan Australia. Secara formal, Indonesia mengakui sepuluh tetangga.

Tetangga di darat jelas urusannya. Bagaimana dengan tetangga di laut? Hal pertama adalah menentukan lokasi daratan suatu negara dan hak daratan tersebut atas laut. Menurut Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), sebuah negara berhak atas laut territorial (12 mil laut), zona tambahan (24 mil laut), zona ekonomi eksklusif (ZEE, 200 mil laut) dan landas kontinen (hingga 350 mil laut atau lebih) yang diukur dari garis pangkal/pantai.

Continue reading “Bertetanggakah Indonesia dengan China?”

Dedalu Bali – Tour and Travel

logoTulisan ini adalah iklan. Saya akan katakan sebelum Anda, para pembaca, bertanya-tanya atau menuduh. Sejak kapan saya menulis sebuah iklan di blog saya? Sejak muncul sebuah usaha komersial yang lahir dari suatu pergulatan panjang. Sejak muncul sebuah usaha yang akan menentukan arah kehidupan keluarga kami dalam waktu dekat, menengah dan panjang. Saya menulis iklan ini karena ini adalah tetang hubungan darah, tentang perjuangan, dan tentang pilihan hidup seorang adik untuk mendukung kehidupan kakaknya.

Continue reading “Dedalu Bali – Tour and Travel”

Mei di Kota Dili

Ruangan itu besar dan nampak dipersiapkan dengan baik. Kursi-kursi berwarna biru berderet di tiga sisi lokasi dengan jumlah tidak kurang dari 500. Gedung konferensi itu berukuran besar dengan mimbar pembicara berdiri megah di bagian depan. Ukiran-ukiran di mimbar nampak mentereng, berpadu cantik dengan rangkaian taman yang dipenuhi bunga. Indah dan sejuk di mata.

Continue reading “Mei di Kota Dili”

Menjadi Islami

Denpasar dinobatkan menjadi kota paling Islami di Indonesia berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute (MI). Berita ini menggelitik saya dan ternyata juga menarik bagi banyak orang lainnya. Seorang sahabat bahkan secara khusus mention saya di Twitter terkait berita ini.

Continue reading “Menjadi Islami”

Mendadak Moderator

Chief Executive Office General Electric Indonesia, Dr. Handry Satriago, akan memberi kuliah umum di UGM. Saya sudah tahu agak lama. Yang merekomendasikan ini juga tidak main-main: Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Ambassador Blake. Bersiap sebagai moderator kuliah umum itu adalah orang yang tepat dan selevel: Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM, Dr. Hargo Utomo, seorang pakar dan praktisi bisnis mumpuni. Semua cocok dan klop. Ibarat panci ketemu tutupnya.

Continue reading “Mendadak Moderator”