Kasihan mereka, para anak pejabat dan orang kaya itu!


Bapak dan Ibu saya tidak munya banyak pilihan dalam memperlakukan dan memberi fasilitas pada anaknya. Mereka hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar di masanya sehingga tidak punya ‘network’ yang kuat. Sahabat karibnya adalah Nang Koplar tukang angon bebek, Nang Kocong petani penggarap yang tak pernah sekolah, Men Sungkrug, tukang munuh sisa panen padi dan beberapa orang lain yang profilnya tak berbeda.

Ketika saya punya cita-cita sekolah di SMA 3 Denpasar, salah satu sekolah terbaik di Bali, Bapak Ibu saya tidak bisa membantu. Saya bahkan tidak pernah diantar ke sekolah karena jika beliau mengantar saya maka dipastikan beliau akan menjadi beban tambahan. Akan ada dua orang yang tersesat. Beliau tidak paham bahwa orang desa di Kecamatan Marga di Tabanan harus menjalani proses pindah rayon dulu untuk bisa bersekolah di Denpasar. Beliau tidak tahu menahu, apalgi bisa membantu. Bapak dan Ibu saya aman sentausa hidupnya karena tak pernah khawatir akan saya. Beliau tidak tahu rumitnya administrasi bersekolah. Kata administrasipun pastilah asing di telinganya, bahkan sampai hari ini.

Seorang saya mengurus sendiri pendaftaran sekolah di Denpasar di tahun 1993 silam dan Bapak Ibu saya tenang dan damai di rumah. Entah apa pasalnya, semua hal yang di luar kuasanya itu memang tidak dipikirkannya dan saya dianggap bisa menyelesaikan sendiri. Tak mungkin Bapak saya menelpon seseorang di Denpasar untuk membantu saya menemukan jalan menuju SMA 3 Denpasar dan bagaimana harus berkomunikasi dengan Wakil Kepala SMA 3 yang berwibawa itu. Dengan ketidakmampuannya itu, beliau telah memberi saya jalan belajar yang begitu mewah dan penuh makna. Saya temukan sendiri jalan itu meski kadang terantuk sana sini dan tersungkur dua tiga kali. Sebuah kehidupan yang mewah dengan pelajaran yang mahal harganya.

Ketika tahun 1996 saya diterima di UGM, saya datang sendiri. Sore-sore diantar di Terminal Ubung lalu menghabiskan waktu semalaman di Bus Simpatik menuju Jogja. Saya yang mabuk berat sudah melihat perjuangan tidak akan mudah. Saya berangkat sendiri dan terpaksa harus mencari teman di dalam bus malam. Melewati 16 jam tanpa bicara itu bukanlah saya.

Seramah-ramahnya Jogja, tetap saja dia asing bagi anak umur 18 tahun yang bahkan tak paham kota-kota di luar Denpasar dan Tabanan. Tidak ada network, tidak ada yang memberitahu cara registrasi, tidak ada yang mengantar ke Gedung Pusat UGM pertama kali. Tidak ada. Untunglah pertemanan dengan kawan-kawan SMA membuat hidup saya lebih mudah karena mulai mengenal satu dua orang yang bisa membantu di Jogja. Bapak saya? Sama sekali tidak. Hidupnya aman sentausa di Desa Tegaljadi dan tak pernah risau anaknya akan tersesat atau tidak kembali. Apapun yang di luar kendali dan kuasanya, harus dan pasti bisa saya kerjakan sendiri. Demikian imajinasinya.

Menjadi orang miskin dan lahir di keluarga tidak terdidik formal seperti saya adalah kemewahan. Tanpa sengaja dan tanpa bersusah payah, Bapak Ibu saya melatih kemandirian saya dengan alami. Beliau tidak perlu ikut seminar parenting yang mewah dan mahal untuk bisa tahu bahwa anak itu harus berkecerdasan majemuk untuk bisa bertahan hidup. Bapak saya dari dulu sudah tahu bahwa untuk bisa bertahan di desa, nilai matematika saya tidak banyak faedahnya. Bahwa untuk bisa dianggap sebagai anggota masyarakat normal, senyum dan tegur sapa lebih berarti dibandingkan angka-angka mentereng di rapot saya.

Ibu saya tak jauh berbeda. Bahwa kemampuan saya membaca cepat atau melantunkan puisi di lomba tingkat SD itu tidak akan membawa saya ke mana-mana jika saya tidak bisa mencuci piring dengan kecepatan tinggi dalam jendela waktu antara Sandiwara Sahur Sepuh dan Misteri Gunung Merapi. Dan untuk itu beliau tidak perlu bersusah payah menjadi anggota grup sosialita yang harus mendiskusikan pendidikan dan masa depan anak di mall-mall mentereng. Alangkah beruntungnya menjadi saya dan generasi saya.

Anak saya dan teman-temannya sekarang kasihan hidupnya. Mereka terancam tidak punya kesempatan belajar sambil tersesat karena diantar ke mana-mana. Untuk sekedar dipahami bahwa mereka punya kecerdasan majemuk saja, Bapak Ibunya harus ikut workshop atau membaca buku-buku mentereng. Untuk mengerjakan tugas sekolah sacara mandiri saja mereka sulit sekali karena Ibu Bapaknya bersaing satu sama lain memastikan hasil tugas mereka paling bagus di kelas. Sering kali mereka termarjinalkan karena tugas sekolahnya digarap orang tua mereka. Begitu kasihan.

lita
Lita dijemput neneknya di Bandara, berangka sendiri dari Jogja ke Bali umur 7 tahun

Yang lebih kasihan lagi adalah anak-anak para pejabat dan orang tua itu. Untuk bisa membiarkan anak mereka pergi sendiri ke luar kota adalah pengorbanan yang begitu berat. Untuk bisa membiarkan anaknya membeli kebutuhan ospek tanpa didampingi sopir adalah usaha yang luar biasa. Kadang saya berpikir, anak saya juga terancam tidak punya kemewahan yang sama dengan saya untuk menikmati kesemrawutan dunia yang penuh pelajaran. Saat melepasnya pergi ke Kenya untuk menyelamatkan hewan liar di tahun 2027 nanti, saya mungkin perlu berusaha sangat keras untuk tidak menelpon Duta Besar Indonesia di Kenya agar menjemputnya di Bandara.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

14 thoughts on “Kasihan mereka, para anak pejabat dan orang kaya itu!”

  1. Untuk tulisan ini kita mengalami fase misteri gunung merapi yang sama.

    Btw kenapa di endingnya sepertinya menyinggung kasus penjabat yg sedang heboh ya.

  2. Saya ingat betul, saat registrasi di SMA saya, ada beberapa memang orang tua yang mengantar, termasuk saya :). Tapi ternyata orang tua hanya dibatasi sampai gerbang saja, sejak masuk gerbang sekolah, semua mandiri dilalui, dialami dan dikerjakan sendiri oleh calon siswa.

    Agak bertolak belakang dengan apa yg saya saksikan bbrp waktu yang lalu, ujian masuk PTN, ada yg ‘dikawal’ hingga depan pintu ruang ujian.
    Ada pula kisah lain, yang mau masuk ptn anaknya, tapi yang ribet ini itu bapak-ibunya. Tugas berat untuk orientasi mahasiswa besok.

  3. 👍👍👍👍👍👍
    Saya mbacanya dengan segala keseriusan pak, turut berempati dan menyatakan setuju dengan pandangan pak Andi. Di bagian akhir langsung bikin ngakak. 2027 Nanti, Lita baru umur 18 ya??? 😃😃

  4. Luar biasa Pak Andi, jadi semakin terinspirasi. Saya pun mengalaminya seperti Pak Andi alami, mengurus segalanya sendiri. Orang tua saya…. ya lebih beruntung lah, namun skrg sudah tdk bersama saya (ibu saya wafat dan bapak menikah lagi di luar pulau jawa). Jadi saya dituntut “kerjakan semuanya sendiri”.

    Saya tahu Pak Andi dari semester 5 S1 (2013), dan dari inspirasi Pak Andi inilah saya bertekad untuk terus melanjutkan sekolah hingga tahun ini saya masuk program doktoral. Nice story, pak.

  5. Saya sudah merencanakan untuk “melepas” putri sulung berangkat ke sekolah sendiri setelah dia naik kelas 3 SD nanti. Maklum, banyak alay di jalan raya ibukota negara bagian pinggiran, hehe. Terima kasih atas tulisan yang bagus ini.

    1. Kalau pohon mangganya ada dan kalau orang tuanya tidak penakut, pasti bisa. Tidak anak lahir langsung manja atau langsung hebat. Orang tua dan lingkunganya turut menentukan 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s