Pelajaran di Kursi 45 dari Anies Baswedan: Obyektif vs Netral


Bersama Anies Baswedan
Bersama Anies Baswedan

Badan masih terasa lelah, kantuk belum pergi sempurna ketika saya melangkah menuju pesawat Garuda yang akan menerbangkan saya dari Jogja ke Jakarta. Dari kejauhan nampak sesosok tubuh yang tak asing. Mas Anies Baswedan, saya segera mengenalinya. Beliau mendekati tangga dan termasuk dalam kelompok penumpang terakhir. Saya menyusul di belakangnya. “Mas Anies”, demikian saya sapa dan beliau menoleh lalu memberi sambutan hangat khas seorang Anies Baswedan. Jabatan yang erat bertenaga, pandangan yang antusias menatap mata dan air muka yang sumringah bukan buatan. Tentu bukan karena saya yang istimewa tetapi karena memang demikianlah Anies Baswedan. Seorang pemimpin alami yang karakternya memancar dari hal-hal kecil seperti itu. “Apa kabar Mas Andi?” sapanya serius dengan nada antusias.

Kami ternyata duduk di deretan kursi yang sama, bernomor 45, hanya beda lajur. Kami sama-sama di lorong sehingga cukup dekat untuk ngobrol tetapi masih cukup jauh untuk menjaga interaksi yang elegan. Di sepanjang jalan menuju kursi kami, banyak sekali yang menyapa Mas Anies. Tentu sulit mencari orang Indonesia, yang biasa naik Garuda, yang tidak mengenal Anies Baswedan. Mas Anies menyalami dan membalas sapaan banyak orang dengan alami. Saya menikmati suasana itu dari belakang. Hangat, antusias dan sederhana. Itulah tiga kata yang menggambarkan lelaki ini.

Mas Anies duduk di dekat mbak Ferry, istri beliau. Ternyata keduanya pulang ke Jogja untuk reuni di fakultas masing masing, memperingati 25 tahun Mas Anies masuk UGM. “Sudah seperempat abad ternyata, time flies” katanya berkelakar. Ketika mengenalkan dengan Mbak Ferry, Mas Anies berkata “Ini Mas Made Andi, yang nulis Anies Turun Tangan itu” dan segera disambut respon tanda memahami dari Mbak Ferry. Benarkah tulisan itu menjadi topik percakapan suami istri keren ini? Saya hanya menebak nebak dalam hati.

Perjalan satu jam dari Jogja ke Jakarta kami isi dengan nborol berbagai hal. Yang khas dari seorang Anies Bawsedan adalah energi positif dan semangat berbaginya sama ketika tampil di panggung dengan ketika ngobrol penuh kelakar di kursi pesawat. Ini pertanda dia menjiwai kalimatnya dan meyakini gagasan-gagasan idealnya. Tidak sedikit tokoh publik yang berbeda antusiasmenya saat di panggung dibandingakan saat tidak di panggung. Mereka yang demikian, menjadikan ide sebagai pengikat perhatian dan penguat kharisma, tidak lebih tidak kurang. Mas Anies nampaknya berbada.

Jika harus ditulis semuanya, percakapan kami mungkin bisa menghasilkan beberapa buku tentang topik yang beragam namun setara tajamnya. Percakapan bergerak alami dengan topik-topik menyentuh aktivisme mahasiswa, pendidikan secara umum, interaksi internasional, fenomena akademisi Indonesia hingga gaasan soal Ketua RT. Saya mencatat semuanya dengan baik, meski tak satupun saya tuliskan.

Obyektif vs Netral
Salah satu tang menyentuh saya adalah gagasannya tentang menjadi obyekif dan menjadi netral. Akademisi, kata Mas Anies, harus obyektif dengan mendasarkan pandangan serta argumentasinya pada fakta dan kaidah keilmuan yang relevan. Ini tidak bisa ditawar. Meski demikian, itu bukan bearti bahwa akademisi harus selalu netral. Ketika telaah obyektif telah dilakukan dan kebenaran ilmiah telah terungkap, seorang akamdemisi harus mengambil sikap tegas meskipun sikap itu harus membuatnya berpihak pada satu kelompok. Memihak itu tidak salah. Yang salah adalah jika memihak kaum yang durjana, apapun situasi dan caranya. Akademisi seringkali terjebak pada situasi untuk mengutamakan netralitas, bukan obyektivitas. Obyektif itu tidak sama dengan netral. Obyektif memungkinkan seseorang mengenal sesuatu dengan lebih baik melalui telaah yang sedapat mungkin tidak bias. Sedangkan netral berarti tidak berpihak jika suatu ketika ada pihak yang berseberangan, baik dalam hal gagasan maupun implementasinya. Sikap netral atau tidak semestinya merupakan konsekuensi lanjutan dari sikap obyektif.

Mas Anies bercerita dengan begitu antusias ketika menyentuh topik ini. Percapakan ini dimulai ketika saya menanyakan posisi beliau di Paramadina sekaligus di Tim Transisi. Pada intinya beliau melihat bahwa jika memang harus berpihak, akademisipun harus tegas berpihak. Mengapa kita harus netral jika telaah obyektif kita jelas-jelas menunjukkan bahwa satu pihak buruk dan satu pihak lainnya baik, misalnya. Di saat yang menentukan demikian, akademisi justru harus berani mengambil posisi pembelaan.

Mas Anies ingin menunjukkan hal ini kepada dunia akademik di Indonesia, bahwa hal ini juga termasuk bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bahwa pengabdian masyarakat itu mestinya lebih dari sekedar datang ke desa-desa dan bergaul bersama masyarakat. Selama ini beliau melihat pengabdian masyarakat itu sudah baik tetapi cenderung jauh dari proses politik yang justru jadi penentu dalam pembuatan kebijakan. Jika akadimisi ingin ilmunya bermanfaat bagi masyarakat maka ilmu itu harus mewarnai produk kebijakan. Jika ingin ilmunya mewarnai kebijakan maka ilmuwan harus memastikan bahwa ilmu itu diketahui oleh pembuat kebijakan. Hal ini tidak akan terjadi jika ilmuwan secara sadar menghindari interaksi dengan proses politik yang menghasilkan kebijakan itu sendiri. Demikian saya memaknai percakapan itu.

“Saya akan menuliskan hal ini Mas tapi saya perlu waktu yang agak panjang” kata Mas Anies menjelaskan. Secara spontan saya bertanya “ini sangat menarik Mas, boleh nggak saya tulis di blog saya?” demikian saya bertanya. “Oh silakan, most welcome” katanya menegaskan. Pencerahan memang bisa datang kapan saja dan dari mana saja. Obrolan santai itu mengandung pembelajaran yang sangat banyak dan padat. Ketika bercakap-cakap, tidak sering kami ‘diganggu’ oleh troli yang lewat menawarkan makanan dan minuman. Cukup sering kami harus saling ‘mengintip’ untuk melihat wajah masing masing di sela sela troli yang didorong oleh mbak-mbak pramugari dan sekali waktu berhenti di antara kami. Mas Anies menjaga energi percakapan itu sepanjang jalan dan beliau berhasil dengan sangat baik. Tak sekalipun gairah berbaginya turun. Saya yang sesungguhnya sangat mengantuk karena begadang hingga jam dua pagi sebelumnya menjadi awas dan penuh semangat. Saya masih tetap percaya, memang ada seorang pemimpin yang punya naluri dan kemampuan untuk menggerakkan.

Tadi, sebelum kami mulai bercakap-cakap serius, Mas Anies menyapa seorang lelaki yang duduk di belakang saya. “Pak Mulyadi, apa kabar Pak?” katanya sambil menyalami lelaki yang sudah terlihat matang itu dengan takzim. “Saya murid Bapak, mudah mudahan masih ingat” kata Mas Anies meneruskan. Rupanya lelaki itu adalah dosen UGM yang sudah purna tugas. Tentu saja lelaki itu mengiyakan dan menyatakan beliau selalu mengikuti kiprah Mas Anies. Ada kerendahan hati yang dipertontonkan seorang Anies Baswedan ketika berhadapan dengan orang lain, terutama gurunya di masa muda. Hal yang sama ditunjukkan ketika bertemu dengan beberapa orang lain, baik yang sudah dikenalnya maupun yang belum. Hampir semua orang yang melihatnya menyalami dan mengatakan sesuatu. Semua dihadapi dengan hangat oleh Mas Anies. Demikianlah orang orang yang telah selesai dengan dirinya, dia tidak perlu memamerkan kehebatan dengan menghargai diri terlalu tinggi. Perjalanan dari Jogja ke Jakarta pagi itu begitu istimewa, kursi bernomor 45 menghadirkan pelajaran-pelajaran kecil yang tak terduga nan mencerahkan. Bersambung

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

11 thoughts on “Pelajaran di Kursi 45 dari Anies Baswedan: Obyektif vs Netral”

  1. dua sosok yang sangat saya kagumi. Pak I Made Arsana selalu membagikan kisah inpiratif selama di perjalanan. Membuka pikiran dan mata hati ketika membaca di blog ini, objektif.

    gimana Pontianak? semoga senang bertandang di kawasan ekuator bumi.

    Sukses Pak I Made Arsana dan Pak Anies Baswedan

  2. wah memang sudah rejeki bli Andi ya dapet kursi 45, bisa belajar banyak dari seorang Anies Baswedan. Kalau diplanning malah mungkin sulit ya untuk bisa ngobrol santai begitu 🙂

  3. Setuju bahwa Mas Anies selalu bisa menjaga energi dan antusiasmenya. Di podium maupun lesehan beralas tikar sederhana, sama berkarismanya. Ikut bangga sekaligus berhutang inspirasi sebagai relawan Turun Tangan.

  4. .”….Selama ini beliau melihat pengabdian masyarakat itu sudah baik tetapi cenderung jauh dari proses politik yang justru jadi penentu dalam pembuatan kebijakan. Jika akadimisi ingin ilmunya bermanfaat bagi masyarakat maka ilmu itu harus mewarnai produk kebijakan…”
    Ini kena banget pak andi 😀
    Ditunggu pak andi sambungannya 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s