Bodoh, Baru dan Pemula

Kami sekeluarga datang ke sebuah studio foto di Tabanan. Tidak sering dalam hidup keluarga besar kami bisa berkumpul secara lengkap. Meski tidak merayakan Idul Fitri, libur lebaran menjadi alasan keberasamaan ini. Kami mengunjugi sebuah studi sederhana dengan tujuan membuat foto keluarga yang professional.

Lepas mencoba berbagai gaya, proses administrasipun berjalan. Di saat itulah kami merasa tidak mendapat pelayanan yang baik. Seoang ibu, yang mungkin adalah pemilik studio itu, memasang wajah tidak bersahabat bahkan sejak kami masuk studio. Semua pertanyaan yang saya ajukan dijawabnya dengan nada yang datar bahkan cenderung agak ketus. Pandangan matanya tidak bersahabat sejak awal. Semangat melayangi tidak ada. Kesannya, perempuan itu tidak membutuhkan kehadiran kami sebagai konsumen. Dia tidak bersikap sebagai penyedia jasa tetapi seakan akan pemberi sedekah kepada kami yang membutuhkan bantuan. Saya bahkan sempat berbicara dengan nada agak tinggi karena satu perkara. Ibu, kakak, dan adik saya melihat itu dan mereka merasakan kekecewaan yang sama.

Continue reading “Bodoh, Baru dan Pemula”

Tukang Parkir

Suatu malam kami buka puasa bersama di Restoran Sederhana di Jalan Kaliurang, Jogja. Selepas makan, saya menuju parkir untuk segera pulang. Di depan restoran, ada seorang peminta minta yang mengenaskan wajah dan tubuhnya. Sambil berlalu, saya memberikan satu satunya lembar dua ribuan yang ada di dompet. Selepas itu saya beranjak ke dalam mobil. Begitu mulai bergerak, tukang parkir dengan sigap melaksanakan tugasnya. Teriakan khas “terus terus terus” terdengar nyaring.

Teringat sesuatu, saya segera berhenti dan memeriksa dompet. Benar saja, tidak ada dua ribuan yang tersisa. Saya panggil Mas Tukang Parkir dan berkata “Mas, maaf saya tidak ada recehan. Ada kembalian untuk lima puluh ribuan nggak”. Saya lakukan itu agar terjadi pemahaman dan transaksi di awal sebelum dia selesai melakukan tugasnya. Di luar dugaan, lelaki muda itu pergi begitu saja tanpa menjawab dan diapun tidak meneruskan apa yang sudah dimulainya dengan baik. Dia lenyap, di sela mobil mobil yang banyak itu. Dia menetapkan sebuah pilihan yang mungkin dia yakini benar. Itu adalah sikap hidupnya dalam bekerja. Jika harus jadi tukang parkir, semoga saya tidak memilih hal yang sama.

Rahasia di Balik Gelar Doktor

image(13)
Perjalanan menuju doktor

Tentu saja ini bukan sebuah rahasia karena hal ini dialami oleh banyak orang bahkan mungkin dengan cara yang lebih heroik. Judul ini dipilih karena alasan iseng dan untuk membuatnya dramatis, tidak lebih tidak kurang. Cerita ini saya paparkan dalam bentuk potongan potongan informasi yang sebelumnya saya bagikan lewat Twitter. Selamat menikmati.

  1. Saya mulai tahun 2008 dengan Beasiswa Australian Leadership Awards (ALA) di @uow, di sebuah Kota kecil Wollongong, Australia.
  2. Saat mulai PhD, bulan ketiga saya sudah konferensi ke Norway. Kok cepet? Itu hasil penelitian saat S2 sebelumnya dan karena dekat dengan Supervisor. Supervisor S3 dan S2 saya sama.
  3. Untuk ke Norway, saya ngumpulin duit dari ALA, universitas dan supervisor. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia. Itu adalah kunjungan pertama ke Eropa yang bersejarah.
  4. Cerita ‘sedihnya’, saya ditinggal supervisor selama 8 bln justru saat menulis proposal PhD 😦 Dia sekolah S2 ke Canada. Betul, dia sudah S3 dan sekolah S2 lagi. Iseng banget!
  5. Saya menentukan arah sendiri saat nulis proposal S3 dengan bimbingan minimal. Komunikasi dengan Supervisor hanya email. Karena beda zona waktu maka jadi lebih heboh saat ngatur waktu.
  6. Ini tantangan lain PhD. Harus rela begadang jam 2-4 pagi demi komunikasi interaktif dengan Supervisor yang ada di belahan dunia lain.
  7. Karena merasa tertantang dan dukungan yang bagus dari supervisor saya justru bisa selesaikan beberapa paper untuk konferensi dan jurnal saat pisah sama Supervisor itu. Nulis bareng! 🙂
  8. Karena pisah sama supervisor, saya baru presentasi proposal PhD setelah setahun, tepatnya 23 Juli 2009. Agak lambat 😦
  9. Tantangan lain, tetap melayani bos/kolega dr Ina yang datang ke Aussie. Saya msh jadi ‘tuor guide’ di Sydney semalam sebelum presentasi proposal.
  10. Saya termasuk orang yang tidak bisa fokus hanya pada satu hal. Tetap kerja part time cuci piring di restoran Thailand 🙂 Ini sisi lain PhD.
  11. Kerja saya macam2: Cleaner, guru komputer, asisten peneliti, dosen, kartografer, student advisor, dll. Intinya: gak bisa diem.
  12. Dasarnya ‘banci urus’, saya aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia. Sempat jadi ketua PPIA di @uow, aktif di @PPIAustralia juga 🙂 Pernah menjadi pimpinan sidang umum PPIA dan menajadi campaign strategist untuk seorang calon Presiden PPIA.
  13. Selama PhD, saya kunjungi 5 benua untuk presentasi penelitian, sekitar 20 negara, 3 paspor, puluhan bandara disinggahi. Suka nulis, saya tetap ngeblog di madeandi.com, berbagi hal penting dan gak penting. Nulis itu mengusir galau yang mujarab.
  14. Prinsipnya: tidak harus nunggu hebat dulu untuk berbagi. Tidak harus kaya dulu untuk nolong orang. Berbagi tak pernah rugi.
  15. Saya tetap ngasih kuliah kalau pulang ke Indonesia, setiap liburan selalu ngasih kuliah umum, tidak saja di UGM, ngasih kuliah online juga dr Aussie ke Ina. Cerita saya memberi Kuliah online ke Papua bahkan sempat dibaca Pak SBY.
  16. Saya nulis lebih dari 30 artikel di @jakpost selama sekolah PhD, belasan tulisan di media lain, ratusan blog post, media online dll.
  17. Selama PhD terbit 5 buku: #BeyondBorders #WollongongMenyapa #CincinMerah #GuruKangguru #KelilingDunia. Ini alasan ‘keren’ kenapa sekolah lama 🙂
  18. Pernah juga dapat kesempatan berlayar 4 Minggu di Samudera Hindia, pemetaan landas kontinen. Ini yang kemudian jadi buku #CincinMerah.
  19. Pernah sakit cacar saat jadi ketua PPIA @uow padahal ada proyek besar peringatan batik dunia 😦 Saat itu, muka compang camping mengenaskan.
  20. Selain perayaan batik dunia, saat cacar itu harus ikut lomba ke Paris. Syukurlah juara umum 🙂 kerja keras berbuah manis. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia.
  21. Masa masa berat, @KtutAsti dan Lita harus pulang duluan ke Ina. Sendirian menjalani perjuangan berat. Rasanya aneh setelah hampir tiga tahun bersama sangat akrab 😦
  22. Hidup sendirian ada positifnya. Lebih mandiri, lebih banyak waktu untuk sosialisasi dan networking. Lebih akrab sama sesama PhD students. Jadi sering lembur di kampus dan jalan bareng.
  23. Saya termasuk yang kurang disiplin, mudah tergoda berbagai kesempatan. Sering ikut lomba, nulis blog atau koran, jadi panitia ini itu, jalan2 dll.
  24. Progres PhD tidak selalu bagus. Pernah mengalami kemalasan amat sangat. Untunglah pelariannya ngeblog/ngetwit. Meski galau tetap berbagi.
  25. Akhirnya sampai waktu habis belum selesai tesisnya, diampuni, dikasih bebas SPP untuk selesaikan tesis. Ini jangan sampai ditiru oleh siapapun.
  26. Saya terbantu karena sangat kompak dengan Supervisor. Salah satunya karena gak tanggung2 bantu dia meski gak ada kaitannya dengan riset saya.
  27. Saya berhasil membina hubungan baik dengan supervisor, lebih dari sekedar hubungan akademik. Ada chemistry. Jangan salah, dia cowok kok 🙂
  28. Di saat kritis soal kemajuan riset, supervisor yang pasang badan 🙂 Ketika mau urus bebas SPP, dia yang berjuang mati matian. Ini ada buruknya, saya jadi selalu merasa dibela dan bisa tetap malas.
  29. Pelajaran moral: semua orang bisa jatuh. Yang membedakan, siapa yang menyerah siapa yang tidak. Saya selamat karena dikelilingi orang orang baik.
  30. Di akhir masa PhD, @KtutAsti dapat beasiswa s2 di @unsw, Sydney. Good news tapi saya juga jadi ribet karena harus pindah kota tinggalnya. Wollongong itu 1,5 jam dari Sydney dengan kereta.
  31. Positifnya, suka duka ditanggung bareng tapi tingkat stress Asti juga berpengaruh ke saya 🙂 Tapi hidup harus jalan terus meski terseok seok.
  32. Terjadi penyesuaian dalam aktivitas, saya tinggal di Sydney tapi kampus di Wollongong. Cukup repot padahal perlu fokus di saat saat akhir.
  33. Tapi kebersamaan itu tiada duanya. Meskipun repot, beban dipikul berdua pasti lebih ringan. Akhirnya semua baik2 saja, berjalan seperti seharusnya.
  34. Di akhir masa studi, saya memutuskan tidur di kampus berbekal sleeping bag. Tidur di lantai yang dingin, mandi di kampus.
  35. Kenapa tidur di kampus? Sydney-Wollongong cukup jauh, deadline mengancam. Tiket pesawat pulang sdh dikasih. Ngeri kalau sampai nggak tamat 😦
  36. Malam malam sendirian di kampus berdinding kaca yang dingin, ada perasaan was was tapi ketakutan akan gagal mengalahkan semuanya.
  37. Motivasi lain, saya terlanjur sering berbagai kisah kisah heroik selama ini kepada pejuang beasiswa, malu kan kalau sampai gak lulus 😦
  38. Ini adalah alasan lain sering berbagi. Tanpa sengaja saya membuat ‘perangkap’ sendiri untuk ‘terpaksa’ berjuang keras agar terhindar dari malu yang amat sangat.
  39. Jadi kalau teman teman lihat saya ‘rajin’ berbagi, itu juga dalam rangka mengingatkan diri sendiri dan sebagai ‘pelarian’ positif 🙂
  40. Rajin ngeblog itu, bagi saya, tidak selalu berarti kerjaan utama sdh beres. Ngeblog bg saya bs jadi = ngerokok bagi perokok.
  41. Seperti saya yang tidak bisa paham kenapa orang ketagihan rokok, banyak yang mungkin gak ngerti kalau saya bilang nulis itu candu.
  42. Karena saya aktif organisasi, tiap Presiden @SBYudhoyono datang, selalu diminta oleh Kedutaan atau Konjen menemani team preseiden dan menteri. Ini pengalaman istimewa.
  43. Tidak semua mahasiswa Ina di LN sempat ketemu presiden dan menteri. Bukan soal ketemu menterinya tapi soal membangun network dan mendekatkan ilmu pada kebijakan. Ini penting!
  44. Belakangan saya temukan, perjalanan PhD layak diceritakan karena ‘hal hal lain’ di luar akademik. Itu yang justru memperkaya.
  45. Saya pernah bisa selamat dari pembatalan keberangkatan ke Vietnam untuk konferensi karena kenal baik sama orang Konjen Sydney. ceritanya ada di buku #KelilingDunia
  46. Saya pernah bicara 4 mata dengan Presiden Somalia karena keberhasilan menjaga hubungan baik dengan teman2 di UN selama sekolah.
  47. Bagi saya perjalanan PhD adalah masa masa istimewa saat belajar tentang hidup sebanyak banyaknya. Tak salah jika namanya “Philosophy Doctor”.
  48. Maka menurut saya, rugilah mereka yang perjalanan PhDnya hanya untuk menambah 3 huruf di belakang namanya. PhD sungguh lebih dari itu, jangan sia siakan.
  49. Yang pasti, PhD itu membuat paham betapa banyaknya yang tidak saya pahami. Jadi agak tahu apa yang tidak diketahui sebelumnya.
  50. PhD adalah sebuah perjalanan kolektif. Dukungan istri, pengertian anak, doa orang tua dan permakluman teman jadi kunci keberhasilan.
  51. Saya beruntung punya istri yang begitu mendukung, anak yang rela ditinggal dan menjadikan Skype sebagai alat perekat cinta.
  52. Saya beruntung punya orang tua yang sehat fisik dan ekonomi sehingga perjalanan PhD saya tidak diganggu urusan kesehatan dan finansial. Saya tahu banyak yang perjalanan studinya berat karena urusan ekonomi itu.
  53. Saya beruntung punya mertua dan ipar yang rela mengambil alih tanggung jawab saya merawat anak selama menjalani PhD. Jasa mereka tidak akan pernah terbayar.
  54. Saya beruntung punya kolega di @UGMYogyakarta dan @geodesiugm yang membiarkan saya bertumbuh meski harus jauh dari kantor demi PhD.
  55. Fokus pada PhD bisa membuat peran dan kehadiran kita dilupakan khalayak. Maka dari itu saya tetap menulis agar nama saya tetap beredar sehingga saat selesai PhD nanti tidak mulai dr nol.
  56. PhD adalah perjuangan. Maka jika ada mahasiswa saya yang diminta revisi skripsi/tesis langsung keder, saya senyum saja. They have no idea 🙂
  57. Perjalanan selama PhD juga memberi kesempatan berkiprah di tingkat dunia sambil mengakar kuat pada basis nilai nilai lokal.
  58. PhD harus membuat kita, atau setidaknya wawasan kita, melanglang buana. Buatlah peta pertemanan atau lokasi kunjungan dan saksikanlah seberapa luas jaringan kita
  59. Yang paling penting, PhD semestinya membuat peraihnya mampu berpikir besar tetapi tetap bertindak lokal dan mulai sekarang. Think Big, Act Small, Start Now!
  60. Benar kata Malcolm Forbes, pendidikan itu memang untuk mengganti kepala yang kosong dengan kepala yang terbuka. Demikianlah bagi saya perjalanan meraih PhD itu. Terima kasih 🙂

Makrab

Makrab di Pantai Drini dengan @Geodeleven @Geodesiugm

Saya pernah ikut makrab, malam keakraban, dengan sekelompok mahasiswa di Teknik Geodesi UGM. Terasa istimewa karena itu bukan hal yang biasa dilakukan dosen dosen di tempat kami bekerja. Saya menikmati suara ombak yang menjadi latar suasana malam itu. Kawan kawan mahasiswa menyiapkan sebuah acara malam yang memikat. Api unggun di tengah menghangatkan suasana dan celoteh anak anak muda tanpa henti melambungkan ingatan saya ke beberapa belas tahun silam saat menjadi mahasiswa. Kini hadir di tengah tengah mereka sebagai dosen, ada rasa yang berbeda. Ada pemahaman baru saat melihat anak anak muda itu bercengkrama, bergurau dan saling cela satu sama lain dengan akrabnya. Yang penting, ada makna  baru yang tidak bisa didapatkan dengan tatap muka di ruang kelas.

Continue reading “Makrab”

Jas dan angkot

Genjo turun dari Damri yang mengantarnya dari Bandara Soekarno Hatta ke Bogor. Di terminal Damri Bogor dia mencoba mencari tahu lokasi hotel tempatnya menginap nanti. Alternatif transportasinya banyak. Pertama, Genjo bisa jalan kaki tetapi sepertinya cukup jauh dan memerlukan waktu lama. Bogor tak sedingin yang diduganya sehingga berjalan kaki begitu jauh bisa melelahkan juga. Kedua, Genjo bisa naik taxi. Tentu tidak ada masalah karena ada cukup uang untuk membayar taxi dan itu sudah dianggarkan. Alternatif ketiga, Genjo bisa naik angkot 06 yang turun tepat di depan hotel. Saat itu Genjo mengenakan jas rapi karena akan menghadiri sebuah pertemuan dengan kementerian tertentu. Genjo hadir mewakili pejabat tinggi di universitasnya. Ada pertanyaan kecil terbersit di pikiran Genjo “wajarkah saya, dengan penampilan seperti ini saat mewakili sebuah universitas besar di negeri ini untuk bertemu dengan pejabat di sebuah kementerian mentereng di Republik Indonesia, datang dengan naik angkot?”

Continue reading “Jas dan angkot”

Berbagi rejeki

Kami sekeluarga menikmati suasana Gembira Loka, kebun binatang tenar di Jogja, sore tadi. Selespas menjelajahi hampir semua kawasan dan menikmati hampir semua jenis satwa yang ada, kami mampir di sebuah warung untuk berbelanja. Lita memilih makanan ringan dan saya memesan segelas es teh untuk diminum bersama Asti. Yang agak mengganggu pikiran saya, ada warung serupa yang menempel di sebelah warung tempat kami berbelanja. Saya perhatikan ibu penjaganya sudah agak tua dan matanya berharap-harap agar kami juga berbelanja di warungnya. Ada perasaan gundah gulana.

Selepas berbelanja, saya melangkah ragu hendak meninggalkan warung. “Ayah kasihan ya sama ibu itu?” begitu kira-kira Lita berkata spontan seperti menampar saya. Kami berhenti. “Ya, ayah kasihan sama ibu itu. Kita harus berbelanja di tempatnya juga.” Lita seperti sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Tanpa banyak diskusi dia segera melesat menuju warung yang ditunggui perempuan berpandangan harap-harap cemas itu. Saya membekalinya selembar sepuluh ribuan. “Beli teh aja ya” kata saya ketika Lita beranjak pergi. Kami menunggu sambil melihat dari kejauhan. Saya dan Asti melihat Lita melakukan transaksi.

Beberapa menit kemudian Lita sudah datang dengan segelas es teh yang wujudnya sama dengan yang saya pegang. “Yah, ibunya bilang gini ‘wah Nak, kamu baik sekali mau bagi-bagi rejeki sama ibu. Orang lain tidak ada yang mau belanja sama ibu. Makasih ya Nak. Kamu baik sekali’, kasihan ya. Untung kita belanja sama dia.” Mau nangis rasanya saya mendengar laporan Lita. Tuhan memang adil pada umatnya. Sistem ekonomi dan bernegara yang baik juga menjamin kesejahteraan. Namun, rejeki yang diterima oleh seorang warga negara seperti perempuan tua itu, bisa jadi adalah hasil dari sebuah keputusan kecil seorang warga negara biasa lainnya. Rejeki itu tidak selalu terkait dengan pemerintahan yang bersih, apalagi dengan debat calon presiden. Tidak sama sekali.

PS Kejadian ini mengingatkan saya cerita lalu di Borobudur.

[Bukan] Moderator Debat Capres

Orang yang saya moderatori dalam acara ini bukan capres tetapi pernah berinisiatif untuk menjadi Calon Presiden Republik Indonesia melalui proses Konvensi Partai Demokrat. Menjadi moderator bagi Mas Anies Baswedan adalah kebanggan bagi saya sekaligus sebuah proses pembelajaran yang tidak biasa. Entahlah apakah pembaca bisa merasakannya tetapi apa yang Anda lihat adalah hasil berlatih dan bersiap yang begitu lama dan serius. Saya tidak akan membahas tips-tips menjadi mederator dalam tulisan ini tetapi jika saya harus menjelaskan bagaimana menjadi moderator yang baik maka apa yang saya lakukan di video ini adalah jawabannya. Apakah ini bagus? Pembaca yang punya kewenangan untuk memutuskan. Selamat menyaksikan.

Merayakan Kuningan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

formis
Formis

Saya masih percaya, inilah Indonesia yang sebenarnya. Indonesia yang menjamin seorang Hindu seperti saya hadir tanpa beban di tengah kerumunan mahasiswa Muslim di sebuah universitas yang keislamannya dikagumi. Indonesia yang memberi ruang pada saya untuk berkisah tentang Kuningan di sebuah ruang kelas yang di dalamnya hanya dipenuhi anak-anak muda yang menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan. Saya percaya, Indonesia adalah yang demikian. Sebuah negeri yang menjunjung tinggi kearifan lokal, merayakan perbedaan dan menghormati keberagaman sebagai sebuah kekayaan.

Tanggal 31 Mei lalu, kami umat Hindu merayakan Kungingan. Agak berbeda dengan biasanya, saya tidak merayakannya di Pura tetapi dengan cara berbagi dengan teman-teman yang haus ilmu pengetahuan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Saya datang berbagi pemahaman saya tentang beasiswa luar negeri. Ada rasa haru melihat wajah-wajah penuh gairah di depan saya, seakan-akan tidak ada hal yang perlu dirisaukan. Mereka menyimak dengan antusias, bertanya dengan penuh gairah dan menyerap ilmu tanpa curiga. Tak ada yang mereka khawatirkan. Bahwa ada seorang lelaki beragama Hindu yang sedang ‘menceramahi’ mereka, itu adalah perkara kecil yang tak mampu membuat mereka resah. Mereka adalah anak-anak muda yang percaya diri, yakin dengan keimanannya dan berpandangan jauh ke depan. Ceramah seorang beragama lain tentang peluang ilmu di berbagai belahan dunia sama sekali bukan alasan untuk khawatir. Kekhawatiran itu terkubur binasa oleh keyakinan dan kebesaran hati. Inilah Indonesia yang ingin selalu saya lihat dan rasakan.

Continue reading “Merayakan Kuningan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta”

Bangkit itu …

Ada beberapa tulisan saya tentang Indonesia dan kebangkitan nasional yang mungkin menarik dibaca lagi:

  1. Menera ulang nasionalisme
  2. Nasional is me
  3. Bangkit
  4. Mengenal Indonesi dari Sabang sampai Merauke
  5. Kartu Nama Pak Dino
  6. Membaca Indonesia
  7. Membela Indonesia dalam lima menit
  8. Kalau saja Indonesia punya akun Twitter
  9. Diaspora Indonesia: Nasionalisme dari Negeri Seberang
  10. Belajar dari Anies Baswedan tentang Indonesia Mengajar

Selamat membaca …

Video Anies Baswedan di Geodesi UGM

Tanggal 25 April 2014, Anies Baswedan memberikan kuliah umum tentang kepemimpinan di Teknik Geodesi UGM. Berikut ini adalah video-video yang diabadikan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi.