Tukang Parkir


Suatu malam kami buka puasa bersama di Restoran Sederhana di Jalan Kaliurang, Jogja. Selepas makan, saya menuju parkir untuk segera pulang. Di depan restoran, ada seorang peminta minta yang mengenaskan wajah dan tubuhnya. Sambil berlalu, saya memberikan satu satunya lembar dua ribuan yang ada di dompet. Selepas itu saya beranjak ke dalam mobil. Begitu mulai bergerak, tukang parkir dengan sigap melaksanakan tugasnya. Teriakan khas “terus terus terus” terdengar nyaring.

Teringat sesuatu, saya segera berhenti dan memeriksa dompet. Benar saja, tidak ada dua ribuan yang tersisa. Saya panggil Mas Tukang Parkir dan berkata “Mas, maaf saya tidak ada recehan. Ada kembalian untuk lima puluh ribuan nggak”. Saya lakukan itu agar terjadi pemahaman dan transaksi di awal sebelum dia selesai melakukan tugasnya. Di luar dugaan, lelaki muda itu pergi begitu saja tanpa menjawab dan diapun tidak meneruskan apa yang sudah dimulainya dengan baik. Dia lenyap, di sela mobil mobil yang banyak itu. Dia menetapkan sebuah pilihan yang mungkin dia yakini benar. Itu adalah sikap hidupnya dalam bekerja. Jika harus jadi tukang parkir, semoga saya tidak memilih hal yang sama.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Tukang Parkir”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s