Rahasia di Balik Gelar Doktor


image(13)
Perjalanan menuju doktor

Tentu saja ini bukan sebuah rahasia karena hal ini dialami oleh banyak orang bahkan mungkin dengan cara yang lebih heroik. Judul ini dipilih karena alasan iseng dan untuk membuatnya dramatis, tidak lebih tidak kurang. Cerita ini saya paparkan dalam bentuk potongan potongan informasi yang sebelumnya saya bagikan lewat Twitter. Selamat menikmati.

  1. Saya mulai tahun 2008 dengan Beasiswa Australian Leadership Awards (ALA) di @uow, di sebuah Kota kecil Wollongong, Australia.
  2. Saat mulai PhD, bulan ketiga saya sudah konferensi ke Norway. Kok cepet? Itu hasil penelitian saat S2 sebelumnya dan karena dekat dengan Supervisor. Supervisor S3 dan S2 saya sama.
  3. Untuk ke Norway, saya ngumpulin duit dari ALA, universitas dan supervisor. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia. Itu adalah kunjungan pertama ke Eropa yang bersejarah.
  4. Cerita ‘sedihnya’, saya ditinggal supervisor selama 8 bln justru saat menulis proposal PhD 😦 Dia sekolah S2 ke Canada. Betul, dia sudah S3 dan sekolah S2 lagi. Iseng banget!
  5. Saya menentukan arah sendiri saat nulis proposal S3 dengan bimbingan minimal. Komunikasi dengan Supervisor hanya email. Karena beda zona waktu maka jadi lebih heboh saat ngatur waktu.
  6. Ini tantangan lain PhD. Harus rela begadang jam 2-4 pagi demi komunikasi interaktif dengan Supervisor yang ada di belahan dunia lain.
  7. Karena merasa tertantang dan dukungan yang bagus dari supervisor saya justru bisa selesaikan beberapa paper untuk konferensi dan jurnal saat pisah sama Supervisor itu. Nulis bareng! πŸ™‚
  8. Karena pisah sama supervisor, saya baru presentasi proposal PhD setelah setahun, tepatnya 23 Juli 2009. Agak lambat 😦
  9. Tantangan lain, tetap melayani bos/kolega dr Ina yang datang ke Aussie. Saya msh jadi β€˜tuor guide’ di Sydney semalam sebelum presentasi proposal.
  10. Saya termasuk orang yang tidak bisa fokus hanya pada satu hal. Tetap kerja part time cuci piring di restoran Thailand πŸ™‚ Ini sisi lain PhD.
  11. Kerja saya macam2: Cleaner, guru komputer, asisten peneliti, dosen, kartografer, student advisor, dll. Intinya: gak bisa diem.
  12. Dasarnya β€˜banci urus’, saya aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia. Sempat jadi ketua PPIA di @uow, aktif di @PPIAustralia juga πŸ™‚ Pernah menjadi pimpinan sidang umum PPIA dan menajadi campaign strategist untuk seorang calon Presiden PPIA.
  13. Selama PhD, saya kunjungi 5 benua untuk presentasi penelitian, sekitar 20 negara, 3 paspor, puluhan bandara disinggahi. Suka nulis, saya tetap ngeblog di madeandi.com, berbagi hal penting dan gak penting. Nulis itu mengusir galau yang mujarab.
  14. Prinsipnya: tidak harus nunggu hebat dulu untuk berbagi. Tidak harus kaya dulu untuk nolong orang. Berbagi tak pernah rugi.
  15. Saya tetap ngasih kuliah kalau pulang ke Indonesia, setiap liburan selalu ngasih kuliah umum, tidak saja di UGM, ngasih kuliah online juga dr Aussie ke Ina. Cerita saya memberi Kuliah online ke Papua bahkan sempat dibaca Pak SBY.
  16. Saya nulis lebih dari 30 artikel di @jakpost selama sekolah PhD, belasan tulisan di media lain, ratusan blog post, media online dll.
  17. Selama PhD terbit 5 buku: #BeyondBorders #WollongongMenyapa #CincinMerah #GuruKangguru #KelilingDunia. Ini alasan ‘keren’ kenapa sekolah lama πŸ™‚
  18. Pernah juga dapat kesempatan berlayar 4 Minggu di Samudera Hindia, pemetaan landas kontinen. Ini yang kemudian jadi buku #CincinMerah.
  19. Pernah sakit cacar saat jadi ketua PPIA @uow padahal ada proyek besar peringatan batik dunia 😦 Saat itu, muka compang camping mengenaskan.
  20. Selain perayaan batik dunia, saat cacar itu harus ikut lomba ke Paris. Syukurlah juara umum πŸ™‚ kerja keras berbuah manis. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia.
  21. Masa masa berat, @KtutAsti dan Lita harus pulang duluan ke Ina. Sendirian menjalani perjuangan berat. Rasanya aneh setelah hampir tiga tahun bersama sangat akrab 😦
  22. Hidup sendirian ada positifnya. Lebih mandiri, lebih banyak waktu untuk sosialisasi dan networking. Lebih akrab sama sesama PhD students. Jadi sering lembur di kampus dan jalan bareng.
  23. Saya termasuk yang kurang disiplin, mudah tergoda berbagai kesempatan. Sering ikut lomba, nulis blog atau koran, jadi panitia ini itu, jalan2 dll.
  24. Progres PhD tidak selalu bagus. Pernah mengalami kemalasan amat sangat. Untunglah pelariannya ngeblog/ngetwit. Meski galau tetap berbagi.
  25. Akhirnya sampai waktu habis belum selesai tesisnya, diampuni, dikasih bebas SPP untuk selesaikan tesis. Ini jangan sampai ditiru oleh siapapun.
  26. Saya terbantu karena sangat kompak dengan Supervisor. Salah satunya karena gak tanggung2 bantu dia meski gak ada kaitannya dengan riset saya.
  27. Saya berhasil membina hubungan baik dengan supervisor, lebih dari sekedar hubungan akademik. Ada chemistry. Jangan salah, dia cowok kok πŸ™‚
  28. Di saat kritis soal kemajuan riset, supervisor yang pasang badan πŸ™‚ Ketika mau urus bebas SPP, dia yang berjuang mati matian. Ini ada buruknya, saya jadi selalu merasa dibela dan bisa tetap malas.
  29. Pelajaran moral: semua orang bisa jatuh. Yang membedakan, siapa yang menyerah siapa yang tidak. Saya selamat karena dikelilingi orang orang baik.
  30. Di akhir masa PhD, @KtutAsti dapat beasiswa s2 di @unsw, Sydney. Good news tapi saya juga jadi ribet karena harus pindah kota tinggalnya. Wollongong itu 1,5 jam dari Sydney dengan kereta.
  31. Positifnya, suka duka ditanggung bareng tapi tingkat stress Asti juga berpengaruh ke saya πŸ™‚ Tapi hidup harus jalan terus meski terseok seok.
  32. Terjadi penyesuaian dalam aktivitas, saya tinggal di Sydney tapi kampus di Wollongong. Cukup repot padahal perlu fokus di saat saat akhir.
  33. Tapi kebersamaan itu tiada duanya. Meskipun repot, beban dipikul berdua pasti lebih ringan. Akhirnya semua baik2 saja, berjalan seperti seharusnya.
  34. Di akhir masa studi, saya memutuskan tidur di kampus berbekal sleeping bag. Tidur di lantai yang dingin, mandi di kampus.
  35. Kenapa tidur di kampus? Sydney-Wollongong cukup jauh, deadline mengancam. Tiket pesawat pulang sdh dikasih. Ngeri kalau sampai nggak tamat 😦
  36. Malam malam sendirian di kampus berdinding kaca yang dingin, ada perasaan was was tapi ketakutan akan gagal mengalahkan semuanya.
  37. Motivasi lain, saya terlanjur sering berbagai kisah kisah heroik selama ini kepada pejuang beasiswa, malu kan kalau sampai gak lulus 😦
  38. Ini adalah alasan lain sering berbagi. Tanpa sengaja saya membuat ‘perangkap’ sendiri untuk ‘terpaksa’ berjuang keras agar terhindar dari malu yang amat sangat.
  39. Jadi kalau teman teman lihat saya ‘rajin’ berbagi, itu juga dalam rangka mengingatkan diri sendiri dan sebagai ‘pelarian’ positif πŸ™‚
  40. Rajin ngeblog itu, bagi saya, tidak selalu berarti kerjaan utama sdh beres. Ngeblog bg saya bs jadi = ngerokok bagi perokok.
  41. Seperti saya yang tidak bisa paham kenapa orang ketagihan rokok, banyak yang mungkin gak ngerti kalau saya bilang nulis itu candu.
  42. Karena saya aktif organisasi, tiap Presiden @SBYudhoyono datang, selalu diminta oleh Kedutaan atau Konjen menemani team preseiden dan menteri. Ini pengalaman istimewa.
  43. Tidak semua mahasiswa Ina di LN sempat ketemu presiden dan menteri. Bukan soal ketemu menterinya tapi soal membangun network dan mendekatkan ilmu pada kebijakan. Ini penting!
  44. Belakangan saya temukan, perjalanan PhD layak diceritakan karena ‘hal hal lain’ di luar akademik. Itu yang justru memperkaya.
  45. Saya pernah bisa selamat dari pembatalan keberangkatan ke Vietnam untuk konferensi karena kenal baik sama orang Konjen Sydney. ceritanya ada di buku #KelilingDunia
  46. Saya pernah bicara 4 mata dengan Presiden Somalia karena keberhasilan menjaga hubungan baik dengan teman2 di UN selama sekolah.
  47. Bagi saya perjalanan PhD adalah masa masa istimewa saat belajar tentang hidup sebanyak banyaknya. Tak salah jika namanya β€œPhilosophy Doctor”.
  48. Maka menurut saya, rugilah mereka yang perjalanan PhDnya hanya untuk menambah 3 huruf di belakang namanya. PhD sungguh lebih dari itu, jangan sia siakan.
  49. Yang pasti, PhD itu membuat paham betapa banyaknya yang tidak saya pahami. Jadi agak tahu apa yang tidak diketahui sebelumnya.
  50. PhD adalah sebuah perjalanan kolektif. Dukungan istri, pengertian anak, doa orang tua dan permakluman teman jadi kunci keberhasilan.
  51. Saya beruntung punya istri yang begitu mendukung, anak yang rela ditinggal dan menjadikan Skype sebagai alat perekat cinta.
  52. Saya beruntung punya orang tua yang sehat fisik dan ekonomi sehingga perjalanan PhD saya tidak diganggu urusan kesehatan dan finansial. Saya tahu banyak yang perjalanan studinya berat karena urusan ekonomi itu.
  53. Saya beruntung punya mertua dan ipar yang rela mengambil alih tanggung jawab saya merawat anak selama menjalani PhD. Jasa mereka tidak akan pernah terbayar.
  54. Saya beruntung punya kolega di @UGMYogyakarta dan @geodesiugm yang membiarkan saya bertumbuh meski harus jauh dari kantor demi PhD.
  55. Fokus pada PhD bisa membuat peran dan kehadiran kita dilupakan khalayak. Maka dari itu saya tetap menulis agar nama saya tetap beredar sehingga saat selesai PhD nanti tidak mulai dr nol.
  56. PhD adalah perjuangan. Maka jika ada mahasiswa saya yang diminta revisi skripsi/tesis langsung keder, saya senyum saja. They have no idea πŸ™‚
  57. Perjalanan selama PhD juga memberi kesempatan berkiprah di tingkat dunia sambil mengakar kuat pada basis nilai nilai lokal.
  58. PhD harus membuat kita, atau setidaknya wawasan kita, melanglang buana. Buatlah peta pertemanan atau lokasi kunjungan dan saksikanlah seberapa luas jaringan kita
  59. Yang paling penting, PhD semestinya membuat peraihnya mampu berpikir besar tetapi tetap bertindak lokal dan mulai sekarang. Think Big, Act Small, Start Now!
  60. Benar kata Malcolm Forbes, pendidikan itu memang untuk mengganti kepala yang kosong dengan kepala yang terbuka. Demikianlah bagi saya perjalanan meraih PhD itu. Terima kasih πŸ™‚
Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

42 thoughts on “Rahasia di Balik Gelar Doktor”

  1. Bagus sekali tulisan ke 60 point diatas, saya jadi ngukur-ngukur diri sendiri tenteng apa yang sudah saya lakukan selama 2o bulan di dalam perjuangan PhD saya. Terimakasih bang Andi Arsana… ijin saya share ya.. πŸ˜€

  2. Terimakasih Bli Andi. Ceritanya bikin saya merasa tidak sendiri.. I am not walking alone with my PhD study… heheeh… Akhirnya semua berbuah manis krena melewati yang tersulit… semoga saya mampu menjalani dengan baik seperti Andi. Mulanya perjuangan saya sya nilai berat sekali, tpi dengan cerita Bli, ternyata saya masih belum apa2nya… saya sudah tahun ke3 lho… tapi theori diutak-atik terus nih sama supervisor… Galau nih…ceritanyan… hehehe

  3. Tetep pak.. Blog bapak tetep selalu membuat mata saya berbinar bacanya karena antusias sama nilai positif yg bapak tulis di postingan :).

    semoga terus menginspirasi ya pak.. Buat saya dan juga yg lainnya :).

    Mohon doanya juga karena saya lagi kejar impian ke univ x sampe ngelepas tawaran univ y buat s2. Terkadang buat impian harus bisa membedakan mana peluang yg mesti diambil atau dilepas ya pak.. *nyengir kecil* *ceritanya titip doa ke orang yg udah sukses duluan*

  4. Luar biasa pak Andi..No pain no gain, u already prove it. Saya sdg berjuang mencari beasiswa S2. Mohon doanya πŸ™‚

  5. gara gara Bli Andi saya jadi fans ke Anies Baswedan. setelah mengikuti blog Bli Andi saya jadi fans ke I Made Andi Arsana πŸ™‚

    tetap menginspirasi bli.. :):)

  6. Selamat Pak Andi atas kelulusannya. Semoga tetap setia berbagi dan memberi manfaat pada sesama demi kemajuan Indonesia tercinta. Saya sudah banyak belajar dari Bapak terutama tentang perjuangan meraih beasiswa AAS. Insya Allah besok saya harus memastikan jurusan dan universitas pilihan.Mohon doa Bapak dan teman-teman sekalian agar saya tidak salah pilih dan dimudahkan dalam menyelesaikan tugas dan impian ini.Aamiin. Sekali lagi, selamat,ya,pak.

      1. Sama-sama,Pak Andi. Oh iya, tadi pagi saya mendapat kabar kalau Pak Andi akan datang ke IALF Jakarta dan bertemu dengan AAS Awardee pada Senin, Tanggal 25 Agustus 2014. Jika benar, wah saya senang sekali. Akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan Bapak. Selamat datang,ya,pak πŸ™‚

      2. makasih bli Andi, aku dari papua da dpt beasiswa untuk Phd tapi blm dapat supervisor dan enrol ke uni yang mau di tujuh dan jurusan yang saya mau diambil adalah social and Public policy. ada beberapa universitas yang saya ajukan tapi blm ada jawaban. mungkin Bli ada referensi untuk saya,mohon petunjuk?

  7. Dari 60 Points yang Mas Andi share, poin Nomor 23 sedikit banyaknya mengena ke pribadi Saya. Fyi–selama PDT yang sudah berlangsung 4 bulan sekarang, Saya pernah; Applied CAUSANDY forum, walaupun hanya dipanggil untuk wawancara;… Applied International Forum di Korea, walaupun dipanggil tapi gak bisa pergi karena harus menentukan prioritas;…Kirim aplikasi ke 6th UANOC Forum di Bali, meskipun tidak dipanggil—
    Untuk menulis, walaupun semangat menulisnya tidak sebesar dan sestabil Mas Andi, tapi alhamdulillah kalau sudah gak sanggup ‘nahan’ banget- gak keluarin apa yang ada di pikiran–tetap menulis. Alhamdulillah, Surat Saya untuk Bapak Jokowi termasuk dalam 150 surat yang dibukukan. Meskipun untuk media, belum ada tulisan yang dimuat terakhir ini, Terakhir minuggu lalu saya kirim tulisan untuk Lomba Peringatan HARDIKDA di DISDIK Provinsi Aceh. *berharap menang*
    Terkesan tidak ‘fokus’ bagi sebagian orang, tapi bagi Saya itu semua adalah bagian berprosesa -proses pendiidkan, proses pengejewantah diri *gayaa banget..heheh.
    Saya nulis komentar ini agak panjang dan promosi, juga bagian belajar menulis. hehehe *ngeles….

    Terimakasih untuk pencerahannya selalu Pak Andi.. Monggo main2 ke blog saya Mas…http://bangadam.com—saya sangat bernafsu untuk mengalahkan anda. he…

  8. Selamat ya pak Andi, sangat menginspirasi perjalanan S3-nya πŸ™‚
    Smoga ilmunya bermanfaat, dan mohon doakan jg agar sy bs sukses seperti bpk..hehe

  9. Bli Andi, saya baru dapat Principal Supervisor di Ausie. Mungkin kalau dibanding milestone perjalanan bli, perjalanan saya ibarat baru sebatas niat. Tapi saya jadi termotivasi untuk belajar ‘mengarungi’ hidup dan ‘membuat’ cerita sendiri kehidupan saya yang bisa dikenang oleh anak cucu, keluarga, sahabat dan rekan kerja saya. Mudah-mudahan AAS 2015 bisa saya lalui dengan baik. Mohon selalu pencerahan bli Andi. Semoga sehat dan sukses selalu…

  10. Mas Andi, sy sering ngikutin dan baca blognya. Bahkan buku yang mas kirimkan sangat motivatif. Tapi bagaimana cara membaca hasil2. Tulisan tangannya mas yang diseminarkan sampe internasional?? Sy ingin mendulang ilmu dari tulisannya mas. Sepertinya batas maritim akan jadi kajian sy juga kalau bisa lulus AAS mas. Salam …

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s