Jas dan angkot


Genjo turun dari Damri yang mengantarnya dari Bandara Soekarno Hatta ke Bogor. Di terminal Damri Bogor dia mencoba mencari tahu lokasi hotel tempatnya menginap nanti. Alternatif transportasinya banyak. Pertama, Genjo bisa jalan kaki tetapi sepertinya cukup jauh dan memerlukan waktu lama. Bogor tak sedingin yang diduganya sehingga berjalan kaki begitu jauh bisa melelahkan juga. Kedua, Genjo bisa naik taxi. Tentu tidak ada masalah karena ada cukup uang untuk membayar taxi dan itu sudah dianggarkan. Alternatif ketiga, Genjo bisa naik angkot 06 yang turun tepat di depan hotel. Saat itu Genjo mengenakan jas rapi karena akan menghadiri sebuah pertemuan dengan kementerian tertentu. Genjo hadir mewakili pejabat tinggi di universitasnya. Ada pertanyaan kecil terbersit di pikiran Genjo “wajarkah saya, dengan penampilan seperti ini saat mewakili sebuah universitas besar di negeri ini untuk bertemu dengan pejabat di sebuah kementerian mentereng di Republik Indonesia, datang dengan naik angkot?”

Beberapa menit Genjo menimbang-nimbang sebelum akhirnya mantap memutuskan untuk menyetop angkot nomor 06. Genjo duduk di depan karena di belakang agak penuh. Di situ ternyata ada ban serep sehingga kakinya agak susah menemukan tempat nyaman. Meski begitu, Genjo usahakan duduk senyaman mungkin dan angkot melaju mengantarnya ke hotel yang ingin dituju. Beberapa menit kemudian angkot berhenti tepat di depan hotel dan Genjopun turun setelah membayar tiga ribu rupiah. Angkot bergegas berlalu dan pak satpam di depan hotel menatapnya ragu. Tentu saja tadi beliau tidak membukakan pintu angkot untuk Genjo karena memang tidak ada tradisi demikian. Dari tatapan ragunya pak satpam pelan-pelan beranjak dari posisi mapannya. Dari tadi pak satpam asik bermain dengan HP. Genjo tersenyum penuh keyakinan, seyakin jas yang dikenakannya. Di titik itu pak satpam baru teryakinkan dan bergegas mempersilakan Genjo masuk meskipun di pikirannya mungkin berkecamuk berbagai perihal. Jas rapi dan angkot mungkin bukan dua hal yang sering berpadu dengan serasi di kepala pak satpam.

“Pak Genjo, apa kabar?” seorang yang dikenal Genjo berteriak dari dalam hotel. Lelaki itu pastilah juga akan menghadiri pertemuan penting hari itu.

“Baik Pak. Apa kabar?” jawab Genjo singkat dan penuh senyum.

“Kenapa naik angkot segala, Bos?” pertanyaan itu terlontar dari mulut lelaki itu “bukannya sudah ada anggaran taxi. Kok aneh gitu?” lanjut lelaki itu.

Genjo diam sejenak. dia mengingat, memang anggaran untuk naik taxi sudah diberikan. Ada lebih dari setengah juta disediakan untuk kepentingan itu. Mengapa harus bersusah payah naik angkot yang tidak nyaman? Dia ingat percakapannya dengan istrinya saat menuju bandara tadi pagi, bahwa dia ingin naik Damri saja dari bandara dan naik angkot dari terminal Damri ke hotel. Alasannya? Karena anggaran transportasi itu diberikan at cost, dalam arti jumlah uang yang boleh Genjo habiskan sesuai dengan pengeluaran sebenarnya. Jika pengeluarannya lebih kecil dari yang dianggarkan maka Genjo harus mengembalikan sisanya. Jika pengeluaranbya lebih banyak dari yang dianggarkan di awal maka akan ditambahi. Artinya, kalau Genjo bisa keluarkan lebih kecil dari yang dianggarkan, saya dia mengembalikan sejumlah uang kepada insitusi. Mendengar pertanyaan kawannya itu, tiba-tiba saja Genjo  merasa dituduh “sok idealis”. Genjo mengiyakan dalam hati bahwa memang tindakannya sok idealis bahkan klise seperti di buku-buku teori atau jargon kampanye. Ya begitulah. Sebelum menjawab, Genjo meyakinkan dirinya bahwa kalau orang-orang mau jujur, kebaikan itu memang selalu terdengar sok idealis dan klise. Kita memang lebih mudah mencibir orang-orang yang baik dan idealis dibandingkan orang-orang yang jahat. Kejahatan adalah norma keseharian dan kebaikan adalah barang mahal yang aneh dan sulit didapat. Ini soal pilihan. Demikian kecamuk dalam pikiran Genjo

“Nggak dapat taxi Bos. Nunggunya lama. Takut terlambat.” kata Genjo singkat dan cengengesan sambil berlalu menuju meja receptionist.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Jas dan angkot”

  1. Semoga semakin banyak Genjo-Genjo yang lain di Indonesia ini, yang tidak minder dibilang sok idealis. karena sekarang cukup banyak orang baik yang urung berbuat baik hanya karena takut dibilang sok baik, sok idealis, dan sok-sok yang lain. salam buat Genjo ( Salut )

  2. Genjo ini siapa pak? 😀
    ada sedikit salah ketik :p di kalimat …”Artinya, kalau Genjo bisa keluarkan lebih kecil dari yang dianggarkan, saya dia mengembalikan sejumlah uang kepada insitusi.”… xixixixi…..SAYA

    I admire you, pak 🙂

  3. Dan akhirnya memilih memakai alasan yg terdengar rasional ya pak karena menghindari komentar dan cibiran 🙂

    Kadang kalau bertindak idealis serupa saya masih suka sengaja cari alasan yang terdengar rasional karena kalau karena prinsip, seringkali ada omongan di belakang, bahkan beberapa langsung di depan, yang kurang enak didengar, ahaha

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s