New York 2012: Akomodasi

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

Dalam pertemuan alumni sebelumnya, UN-Nippon Foundation selalu menyediakan akomodasi untuk semua perserta. Kali ini sedikit berbeda, mereka hanya memberi uang harian dan menyerahkan kepada peserta untuk menentukan akomodasi masing-masing. Pilihan ini bisa baik, bisa buruk. Mereka yang tidak terbiasa mengurus sendiri akomodasinya mungkin akan kesulitan menemukan akomodasi yang tepat di New York. Selain mahal, Desember adalah bulan yang sibuk dengan kunjungan sehingga akomodasi pasti sulit dicari. Meski demikian, bagi yang paham cara mengurus akomodasi sendiri, pilihan ini bisa jadi sebuah keberuntungan karena peserta bebas mendapatkan akomodasi dengan harga yang lebih terjangkau sehingga bisa menghemat uang yang disediakan oleh UN-Nippon Foundation. Saya termasuk kelompok yang kedua.

Begitu memastikan diri akan berangkat ke New York, saya segera menghubungi tuan rumah tempat saya tinggal lima tahun lalu ketika mengikuti program UN-Nippon Foundation Fellowship. Ibu Endang, tuan rumah saya, sangat baik hati, demikian pula suami beliau, Pak Madjid dan dua putra-putrinya. Ternyata ada satu kamar kosong dan saya diijinkan tinggal bersama mereka. Satu urusan sudah selesai.

Hubungan saya dengan Ibu Endang tetap terjalin karena sejak 2007 saya selalu merekomendasikan peserta program UN-Nippon Fellowship untuk tinggal bersama beliau. Sudah ada beberapa orang setelah saya yang akhirnya tinggal di rumah beliau di Queens dan merasa sangat nyaman. Saya yakin semuanya diuntungkan dengan ide ini. Ibu Endang tentu terbantu karena kamarnya bisa disewa oleh orang-orang yang jelas asal usulnya, teman-teman saya juga terbantu amat sangat karena harga sewa yang begitu bersahabat. Beberapa peserta dari Indonesia, Thailand, India, Cameroon, dll, telah menempati rumah nyaman itu. Semuanya happy, semuanya ingin kembali. Kini giliran saya yang kembali menempati rumah itu, saya kembali ke New York setelah lima tahun. Winter yang saya tinggalkan dulu masih sama karena saya kembali tepat di bulan yang sama: Desember.

Beberapa kawan yang harus tinggal di hotel harus merelakan lebih dari 150 dolar uangnya per malam untuk tinggal di New York yang mahal. Itupun bukan kelas hotel berbintang. Sementara itu UN-Nippon memberi 300an dollar per hari untuk semua kebutuhan dan masing-masing hanya dibiayai untuk empat hari. Artinya, kalau ingin menghabiskan beberapa hari setelah acara di UN seperti yang saya lakukan maka uangnya akan sangat mepet. Sekedar informasi, tempat tinggal yang wajar di Manhattan (apartemen) bisa seharga $2000 per bulan. Harga hotel yang relatif murah pada kisaran $200 per malam. Saya beruntung karena sewa kamar di tempat Bu Endang sangat terjangkau. Karena hanya seminggu, itupun beliau hampir tidak mau dibayar. Tentu saja tidak adil jika saya tidak membayar dengan harga pantas. Saya sudah berutang budi, sedapat mungkin tidak terlalu banyak berutang materi, meskipun kenyataannya pastilah saya telah terbantu banyak sekali oleh kebaikan keluarga Bu Endang.

Ada juga beberapa kawan lain yang tinggal bersama perwakilan mereka di New York. Teman-teman saya banyak yang diplomat dari Asia, Afrika dan Latin Amerika serta Karibean sehingga tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan bantuan akomodasi dari perwakilan negaranya di New York. Jika demikian halnya, tentu saja mereka akan terbantu dan bisa menghemat uang yang disediakan oleh UN-Nippon Foundation. Saya sendiri sesungguhnya bisa saja mencoba menghubungi Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) atak Konsulat Jenderal RI di New York karena memang punya beberapa kawan di sana. Meski demikian, saya urungkan karena sepertinya akomodasi yang mereka miliki akan penuh karena waktunya bertepatan dengan sidang umum PBB. Meski tidak tinggal bersama perwakilan, saya akan sempatkan mampir dan diskusi dengan beberapa orang di PTRI dan KJRI.

Malam ketika saya tiba di Bandara JFK, saya langsung naik taxi dan memberikan alamat rumah Bu Endang kepada sopir taxi. Menurut Google Maps, perjalanan sekitar 16 menit jika lancar. Meski demikian, malam itu hujan cukup deras dan rupanya ada pengalihan jalur. Sopir taxi bahkan sempat menelpon Ibu Endang untuk memastikan alamat dan jalur alternative yang tepat untuk mencapainya. Selama perjalanan, saya berbicara banyak dengan sopir yang berasal dari Pakistan itu. Perjalanan sangat nyaman dan bersahabat. Wawasannya yang cukup luas tentang politik dan geografi membuat dia fasih berbicara tentang Indonesia dan negara-negara sekitarnya. Rupanya sopir taxi ini beberapa tahun menjadi awak kapal yang berlayar di sekitar Asia.

Sekitar jam delapan malam, saya tiba di rumah Bu Endang di bilangan Middle Village di Queens. Jaraknya dengan gedung PBB di Manhattan sekitar 40 menit ditempuh dengan bus dan subway. Untuk privasi, saya tidak akan sampaikan alamat beliau di tulisan ini tapi saya selalu bersedia mengenalkan teman-teman saya yang membutuhkan akomodasi di New York. Telah banyak yang terbantu oleh kebaikan beliau. Mungkin Anda berikutnya.

New York 2012: The US Visa

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

The US Visa
The US Visa

Menjadi orang Indonesia itu sangat menarik. Salah satu yang membuatnya menarik adalah ketika harus melakukan perjalanan ke luar negeri. Perjalanan ini selalu dilengkapi cerita seru karena harus mengurus visa. Indonesia bisa ke luar negeri tanpa visa hanya jika ke sembilan negara ASEAN. Selain itu, semua memerlukan visa. Maka dari itu, selalu ada cerita menarik yang mungkin tidak dialami oleh orang-orang dari negara lain, terutama yang lebih maju. Supervisor saya yang orang Inggris bahkan tidak punya pengalaman mengurus visa Amerika dan Eropa, misalnya. Kasihan sekali dia. Itulah sebabnya saya katakan menjadi orang Indonesia itu sangat menarik. Kita orang-orang yang gesit dan cerdas, bisa mengurus sesuatu yang orang lain bahkan tidak pernah pikirkan.

Continue reading “New York 2012: The US Visa”

New York 2012: The invitation

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

The Invitation
The Invitation

Suatu malam saya sedang chatting dengan Dr. Francois Bailet, seorang pejabat di United Nations Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea (UN DOALOS) di New York. Percakapan kami berlangsung lewat Facebook dalam suasana yang santai. Sejak mengikuti program UN-Nippon Foundation Fellowship pada tahun 2007 silam, saya memang cukup akrab dengan Francois yang tidak lain adalah coordinator program tersebut. Lewat program itu, saya bersama sembilan orang lainnya dari seluruh dunia mendapat kesempatan melakukan penelitian di Wollongong, Australia dan New York, Amerika Serikat selama total Sembilan bulan. Sebuah pengalaman yang berharga.

Percakapan santai saya malam itu dengan Francois adalah satu dari sekian banyak. Saya memang pernah terpilih untuk menjadi representatif (presiden) alumni UN-Nippon Foundation Fellowship tahun 2008-2009 sehingga harus berinteraksi dengan Francois secara dekat. Tugas saya sebagai presiden adalah mengordinasi berbagai kegiatan alumni sebagai tindak lanjut dari program fellowship yang sudah kami jalani. Intinya, United Nations dan Nippon Foundation menginginkan para alumni tetap aktif dan idealisme tidak berhenti ketika kegiatan penelitian Sembilan bulan itu berakhir. Salah satu tugas saya sebagai representatif adalah memastikan penerbitan newsletter secara berkala. Selain itu, saya juga terlibat dalam megatur pertemuan alumni seperti yang dilakukan di Tokyo, Jepang tahun 2009.

Di sela percakapan malam itu, tiba-tiba Francois bertanya apakah saya siap diminta datang ke New York pada bulan Desember 2012. Tanpa berpikir panjang, tentu saja saya megiyakan dengan senang hati. Ada rasa gembira karena akan mendapat kesempatan kembali lagi ke New York setelah lima tahun meninggalkan kota itu. Undangan ke New York ini adalah dalam rangka pertemuan alumni dalam rangka memperingati ulang tahun United Nations Conventions on the Law of the Sea (UNCLOS) yang ke-30. Tahun 1982 silam, konvensi yang sangat penting itu berhasil disepakati di Montego Bay, Jamaica dan kini sudah diratifikasi (diakui) oleh 164 negara dan 1 Uni Eropa. Indonesia melalui Prof. Mochtar Kusumaatmaja dan Prof. Hasjim Djalal berperan cukup besar dalam negosiasi UNCLOS ketika itu.

Saya membayangkan, bisa mengikuti perayaan ulang tahun UNCLOS ke-30 di Gedung PBB New York tentu saja bukan kesempatan biasa. Saya harus memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Beberapa hari kemudian, sebuah surat resmi berlogo United Nations masuk ke email saya. Saya telah mendapatkan undangan resmi dari PBB. Undangan ini adalah sebagai alumni UN-Nippon Foundation Fellowship, terutama sebagai mantan representatif alumni yang dianggap masih aktif hingga saat ini. Saya memang diberi peran yang cukup besar dalam membangun dan memelihara jejaring alumni. Sayalah yang membangun dan memelihara website resmi alumni http://www.unfalumni.org sebagai wadah interaksi dan ekspresi alumni dari berbagai penjuru dunia. Dengan peran itu, saya diberi satu predikat dalam pertemuan di New York nanti sebagai Network Component Manager.

Rasanya masih belum percaya ketika saya menerima sebuah surat berlogo United Nations tertanggal 7 November 2012 dan ditandatangani langsung oleh Mr. Serguei Tarassenko, Direktur Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea, Office of Legal Affairs. Percaya tidak percaya, undagan itu sudah di tangan dan saya harus segera mengurus keberangkatan.

New York 2012

Saya menutup tahun 2012 ini dengan sebuah perjalanan ke New York. Saya diundang oleh United Nations (PBB) sebagai alumni UN-Nippon Foundation Fellowship untuk menghadiri pertemuan alumni dan perayaan 30 tahun Konvensi PBB tentang Hukum Laut atau UNCLOS. Sebuah kesempatan istimewa tentunya.

Saya akan ceritaan di posting berbeda tentang undangan yang saya terima lalu proses aplikasi visa yang cukup seru. Saya juga kisahkan perjalanan saya yang mencapai lebih dari 20 jam penerbangan dari Sydney ke New York. Saya tinggal di Queens, New York, di tempat yang sama dengan yang saya tinggali lima tahun lalu ketika saya menjalani program UN-Nippon Foundation Fellowship. New York masih sama, hingar bingar dan bergairah. Masih terbayang saya menyusuri Eliot Avenue di Queens liam tahun lalu dan kini saya melakukannya lagi.

Agenda utama adalah mengikuti Sidang Umum PBB memperingati ulang tahun UNCLOS ke-30 dan pertemuan alumni. Kedua acara itu memberi saya pengalaman berharga salama di New York selain karena memberi pengetahuan juga memberi kesempatan berjejaring dengan para intelektual dunia di bidang kelautan dan hukum laut. Selain acara serius, tentu saja saya menikmati hingar bingar Manhattan dan romantisnya musim dingin yang bernuansa natal. Hidup di Manhattan memang mirip dengan menjadi tokoh dalam film Hollywood. Saya juga mencatat pelajaran-pelajarn kecil yang tercecer di sepanjang perjalanan. Selamat menikmati kisah saya.

Setelah shortlisted Beasiswa ADS, what’s next?

Taken from http://australiaawardsindo.or.id/

Beberapa hari terakhir ada banyak kawan yang menyampaikan berita baik bahwa mereka lulus seleksi administrasi Beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Katanya, ada yang sudah mendapat surat dari ADS, ada juga yang menelopon langsung ke kantor ADS di Jakarta. Sebagian lagi mendapatkan informasi dari institusi mereka karena lembaganya masuk kategori Key Agencies atau targeted areas. Mereka menyebutnya masuk shortlist alias daftar pendek. Ada juga yang mengatakan “saya termasuk yang shortlisted”. Saya bisa merasakan kebahagian dalam berita itu. Meski demikian, ada juga yang belum beruntung tahun ini.

Dalam suatu percobaan memang selalu ada dua kemungkinan: berhasil atau belum berhasil. Saya tidak akan berpura-pura bijaksana menasihati mereka yang tidak lulus. Jika mereka memang serius dan berharap ketika mendaftar, wajar jika kecewa. Maka saya memaklumi mereka yang sedih tetapi dengan sungguh-sungguh ingin menyampaikan bahwa dunia belum berakhir. Saya memiliki banyak sekali cerita kegagalan. Asti, isteri saya, juga mencoba tiga kali sampai akhirnya mendapat kesempatan. Dalam bahasa sederhana, izinkan saya menyampaikan satu kalimat klasik “jangan menyerah.”

Kepada yang berhasil melewati tahap pertama, saya sampaikan selamat dan turut berdoa demi kesuksesan perjuangan selanjutnya. Meminjam istilah Chairil Anwar, kerja belum selesai, belum apa-apa. Sejatinya, jalan masih panjang dan tidak ada yang bisa menjamin Anda akan lolos hingga tahap akhir. Meski demikian, kita juga percaya bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa memastikan Anda tidak akan diterima. Kita yakin, nasib akan berpihak pada para pejuang yang berani. Mari kita siapkan diri, mari berjuang dengan berani menyelesaikan penggal terakhir yang pastinya tidak mudah ini.

Dari 800 orang kandidat yang shortlisted, hanya sekitar 400 orang yang berhak mendapatkan beasiswa ADS tahun 2013/2014 karena jatahnya memang sejumlah itu. Untuk menghibur diri, silakan berpikir bahwa peluangnya adalah sekitar 50%, sebuah peluang yang tinggi. Agar terdengar lebih menyenangkan, silakan berpikir bahwa satu dari setiap dua kandidat akan menerima beasiswa ADS. Atau agar lebih mudah lagi, silakan berpikir bahwa Anda hanya perlu mencari pasangan sesama kandidat yang lebih rendah kemampuannya dari Anda dan jika dia tidak lolos maka Anda akan lolos karena peluangnya 50%. Cukup mudah rasanya mendapatkan ADS bukan?

Tunggu dulu. Dari 800 orang itu, akan ada 400an orang yang tidak diterima. Anda tentu tidak ingin ada dalam kelompok itu bukan? Maka dari itu tugas Anda adalah keluar dari kelompok 400 yang tidak lolos itu. Artinya, untuk bisa mendapatkan beasiswa ADS Anda wajib lebih baik dari setidaknya 400 orang. Ini tidak bisa ditawar. Dengan perspektif seperti ini Anda akan bisa menempatan perjuangan ini dalam konteks yang lebih tepat. Satu lagi, beasiswa ADS adalah misteri Ilahi. Jika Anda percaya keberuntungan, sebaiknya percaya keberuntungan versi Thomas Jefferson bahwa “the harder I work the more luck I seem to have“. Dan bahwa orang yang tidak diterima tidak selalu berarti tidak mampu.

Ada dua hal utama yang akan dihadapi oleh para kandidat yang masuk shortlist yaitu ujian IELTS dan Wawancara dengan Joint Selection Team. Saya tidak akan berbicara banyak soal IELTS di sini karena sebelumnya sudah pernah saya bahas. Yang mau saya ingatkan lagi adalah bahwa ujian formal seperti IELTS adalah sebuah ujian standard yang memiliki pola tertentu. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah memahami dengan baik pola ujian itu. Orang sebaiknya tidak mengikuti ujian sebelum hafal secara meyakinkan komponen apa saja yang diuji di IELTS, berapa jumlah pertanyaan masing-masing, berapa lama waktu ujian dan lain-lain. Belum pernah ikut IELTS sama sekali? Beli bukunya, ikuti kursusnya, atau belajar dari mereka yangs udah pernah. Intinya, Anda masih punya waktu maka gunakan waktu itu untuk bersiap-siap.

Hal kedua adalah wawancara JST. Saya sudah pernah menulis tips wawancara di blog ini. Ada juga prediksi pertanyaan yang saya buat tahun 2012 dan saya sertakan jawabannya untuk tahun 2013 atau tips wawancara dan IELTS yang saya tulis sebelumnya. Lihat juga bagaimana saya menjalani wawancara untuk beasiswa ALA, mungkin ada manfaatnya untuk persiapan. Mulai tahun ini ada sedikit perubahan dalam hal seleksi, terutama untuk PhD (atau mungkin juga Master by Research, silakan dilihat). Kandidat diminta untuk memaparkan proposal penelitiannya dalam waktu 10 menit saja dan tidak boleh lebih. Hal-hal yang wajib dipaparkan adalah metodology, mengapa penelitian penting bagi Indonesia, memastikan bahwa penelitian itu bisa diselesaikan dalam waktu yang dialokasikan dan menegaskan sumbangan penelitian itu bagi disiplin terkait. Perlu diingat, tidak diperkenankan menggunakan alat bantu presentasi seperti power point. Yang perlu disiapkan, presentasi ini akan diikuti dengan tanya jawab sekitar 25-30 menit. Semua kandidat PhD akan diundang ke Jakarta dengan biaya ADS untuk memaparkan rencana penelitiannya dan ada 60 orang calon PhD yang akan diterima, naik 100% dari tahun lalu. Silakan lihat tulisan saya tentang tips memaparkan proposal ini. Informasi ini disampaikan dalam surat undangan kepada kandidat PhD, seperti yang disampaikan oleh Sahabat Saya, Taufik E. Susanto yang berbaik hati telah berbagi surat undangan untuk istrinya.

Kisah saya dalam mendapatkan beasiswa juga pernah saya tulis di sini dan mungkin bisa dibaca lagi. Bagi yang sekian kali berjuang dan baru kali ini mendapat kesempatan untuk dipanggil wawancara, silakan simak kisah Asti, isteri saya, yang saya tulis Februari lalu. Tidak ada tips yang tiba-tiba membuat Anda jadi pintar dan pasti diterima beasiswa ADS. Meski demikian, jangan lewatkan satu pun dari semua dokumen dan bahan lain yang diberikan oleh ADS dalam amplop besar yang Anda terima. Baca semua tulisan dan nikmati semua videonya. Kunjungi lagi website resmi ADS Indonesia untuk menyegarkan ingatan. Yang bisa dilakukan adalah mengerahkan segenap upaya agar tidak kita sesali hasil apapun yang akan diberikan oleh Sang Pemilik Waktu kelak di kemudian hari. Selamat berjuang kawan!

Mahasiswa Aktivis

https://i0.wp.com/2.bp.blogspot.com/-dINNJW_kANc/T8QIAuOvpvI/AAAAAAAAAWU/tuctcHzsgKc/s1600/5f35a150705e472d62787025055ae472_1.jpg
dari: mjalaluddinjabbar.blogspot.com

Semua mata memandang takjub. Genjo tidak berkedip menyimak pemaparan Bondan yang cerdas berapi-api. Gerakan tangannya dan pemilihan kata yang nyaris sempurna membuatnya bisa memukau puluhan hadirin di ruangan itu. Genjo yang tidak mengerti politik hanya bisa diam tapi pikiran dangkalnya bisa memahami apa yang meluncur dari mulut Bondan. Bondan memang lihai memintal kata-kata menjadi kalimat yang kemudian mengalir menjadi kisah yang melenakan.

“Inti dari kegagalan bangsa kita adalah tidak adanya usaha sungguh-sungguh dari mereka yang memegang kekuasaan. Negeri kita dibangun dengan pendekatan tambal sulam tanpa perencanaan yang matang. Kita minim negarawan, yang ada hanya para oportunis yang mencari celah-celah untuk menguntungkan pribadinya. Mereka pada akhirnya tidak pernah ingat kepada rakyat yang membawa mereka pada tampuk kekuasaan” Hadirin terpesona dengan pemaparan Bondan yang begitu jelas, tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Nampak jelas, dia juga mengetahui banyak apa yang terjadi di pemerintahan. Sementara itu Genjo kian terpesona. Usia Bondan tidak lebih tua darinya tetapi Genjo mengakui bahwa Bondan memang luar biasa.

Continue reading “Mahasiswa Aktivis”

Menghamba pada rembulan

Pejalan kaki sepertiku kadang terantuk satu pesona. Pesona yang sejatinya merambat dari kesunyian di bawah sadar, tentang keindahan yang jadi misteri. Pesona yang layaknya secarik kertas perawan, dia tanpa kuasa tanpa makna karena tanpa aksara. Aku ingin menuliskan satu kisah pada putihnya yang telanjang demi pesona yang abadi. Pejalan kaki sepertiku memang sering menyerah dan terantuk pada satu pesona.

Aku ingin membangun sebentuk mandir tempat kita memuja keberadaan. Aku ingin memoles bebatuan yang menjadi dasarnya agar rembulan membeberkan rahasia pada semburat cahayanya di satu purnama. Bahwa pertemuan ini adalah keniscayaan, saat aku terantuk satu pesona. Aku tidak akan menyerah, tetapi aku adalah pengabdi. Aku menghamba sepenuh hati, tidak pada kekuasaan yang tiada abadi tetapi pada semburat purnama yang misterius. Aku ingin menghamba pada rembulan karena padanya kutemukan apa yang selama ini kusemayamkan di bawah sadarku.

Bersama Mahfud MD mencari pemimpin masa depan Indonesia

Koreksi terakhir: Selasa, 27 Nov 12 @9.36 WIB

Silakan langsung lompat ke inti diskusi jika tidak ingin membaca rangkaian cerita sebelum diskusi.

Pak Mahfud dan moderatornya 🙂

Saya mendapat kesempatan berharga, diminta menjadi moderator sebuah diskusi istimewa dengan Profesor Mahfud MD. Nadia, ketua PPIA NSW tiba-tiba menghubungi saya lewat email menanyakan kesediaan untuk acara tersebut. Tentu saja tidak membutuhkan waktu lebih dari semenit untuk mengatakan ‘ya’, tawaran itupun saya terima dengan senang hati, meski sedikit grogi.

Stasiun North Wollongong, 24 November 2012 @ 7.40 pagi
Saya telah berdiri di pinggir rel kereta mengenaan batik lengan pendek. Hari ini adalah hari yang ditunggu, saya akan meluncur ke Sydney melakukan tugas istimewa mengantarkan diskusi bersama tokoh terkemuka Indonesia: Mahfud MD di Konsulat Jenderal RI di Sydney. Diskusi memang belum akan dimulai sebelum jam 11.00 tetapi jarak Wollongong ke Sydney ditempuh setidaknya 1,5 jam dengan kereta dan perjalanan dari Stasiun Central ke KJRI memakan waktu minimal setengah jam. Sementara itu, frekuensi jadwal kereta dari Wollongong ke Sydney adalah sejam sekali. Saya tidak boleh terlambat.

Continue reading “Bersama Mahfud MD mencari pemimpin masa depan Indonesia”

Bertemu Presiden

Bersama Hassan Wirajuda

Kadang saya bertemu orang-orang penting, para pejabat negeri, justru saat ada di negeri orang. Kalau sedang di tanah air, mungkin kesempatan makan malam atau ngobrol dengan menteri atau wapres akan terasa sulit. Isitimewakah kesempatan itu? Saya serahkan saja bagi pembaca untuk menilainya, tapi bagi saya, jelas ini bukan kesempatan sehari-hari. Kalau demikian, bolehlah dia kita anggap istimewa.

Seorang kawan bertanya ’bagaimana caranya bisa punya kesempatan bertemu orang-orang penting itu?’ Saya harus akui, tidak ada cara sistematis yang saya tempuh dan ini bukanlah cita-cita. Yang pasti, tidak pernah ada tes psikologi apalagi IELTS untuk bisa bertemu menteri. Tidak juga ada wawancara. IP juga tidak berpengaruh, apalagi jumlah publikasi ilmiah. Tidak ada.

Continue reading “Bertemu Presiden”

Tidak tahu atau cari tahu: pelajaran kecil dari Melbourne

Pemilu ketua PPIA di Melbourne

Saya sedang berada di Kota Melbourne suatu sore untuk bertemu seorang kolega di sebuah gedung di Melbourne University. Sesaat setelah turun dari tram, saya mulai mereka-reka. Kebetulan tidak membawa peta dan iPhone tidak berfungsi dengan baik. Saya tidak bisa menemukan gedung yang dimaksud dengan cepat. Sementara itu saya melihat puluhan mahasiswa berlalu lalang di sekitar saya.

Continue reading “Tidak tahu atau cari tahu: pelajaran kecil dari Melbourne”