Bangkit itu …

Ada beberapa tulisan saya tentang Indonesia dan kebangkitan nasional yang mungkin menarik dibaca lagi:

  1. Menera ulang nasionalisme
  2. Nasional is me
  3. Bangkit
  4. Mengenal Indonesi dari Sabang sampai Merauke
  5. Kartu Nama Pak Dino
  6. Membaca Indonesia
  7. Membela Indonesia dalam lima menit
  8. Kalau saja Indonesia punya akun Twitter
  9. Diaspora Indonesia: Nasionalisme dari Negeri Seberang
  10. Belajar dari Anies Baswedan tentang Indonesia Mengajar

Selamat membaca …

Sekuntum mawar, tanpa alasan

Seorang perempuan muda yang menjajakan mawar di perempatan depan Gramedia Jalan Solo, Jogja mungkin tidak menduga saya akan membeli sekuntum mawar yang ditawarkannya dengan ragu sore tadi. Saya buka jendela dan dia mendekat ragu. “Berapa satu tangkai?” tanya saya dan dijawabnya semangat “sepuluh ribu Bapak”. Meluncur selembar berwarna merah ungu dan bertukar menjadi setangkai mawar merah.

Untuk apa saya membeli bunga mawar? Untuk Asti yang menunggu di rumah. Untuk Lita yang kadang sudah tertidur pulas saat saya membuka pintu depan rumah. Mengapa hari ini? Apa istimewanya? Tidak selalu butuh hari istimewa untuk membeli sekuntum mawar. Saya membelinya tanpa alasan karena demikianlah cinta: tanpa alasan.

Citra

http://stat.ks.kidsklik.com/

“Aku di Jogja ni. Ketemu yuk” demikian bunyi pesan di whatsap yang baru saja aku baca. Citra, kawan lama, teman seangkatan kuliah dulu berkabar. “Eh, kapan tiba?” tanyaku membalas pesannya. “Baru saja kemarin pagi. Nanti malam makan yuk. Aku kangen makan di Jogja.” Kami bersepakat makan di sebuah warung PKL di Jetis, jalan Monumen Jogja Kembali dekat dengan STM. Tempat itu bersejarah bagi kami. Ingatanku melayang ke penggal terakhir dekade 1990an silam. Jogja adalah tempat yang begitu berbeda.

Continue reading “Citra”

Video Anies Baswedan di Geodesi UGM

Tanggal 25 April 2014, Anies Baswedan memberikan kuliah umum tentang kepemimpinan di Teknik Geodesi UGM. Berikut ini adalah video-video yang diabadikan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi.

 

Berjejaring: Sebuah Keputusan Sadar

Mendiskusikn buku
Mendiskusikan buku dengan Pak Marty

Seorang anak SMA di Banyumas menghubungi saya lewat komentar di blog. Fajri, demikian namanya, bukan orang pertama yang berkomentar di blog tetapi dia termasuk yang istimewa. Fajri adalah satu dari sedikit yang mengemukakan keinginannya secara langsung untuk bertemu saya. Berawal dari membaca buku saya, menelusuri blog dan akhirnya berujung pada ketertarikan Fajri pada gagasan-gagasan saya. Singkat kata, dia merasa perlu bertemu. Tujuannya sederhana saja, ingin bertemu dan meminta tandan tangan. Saya respon positif keinginan itu dan kami akhirnya bertemu di kantin Fakultas Teknik UGM.

Gedung PBB di New York, penghujung tahun 2007

Saya melihat lelaki berwibawa itu berdiri di samping saya, hanya sekitar dua meter. Saya tahu orang itu. Dia tak lain dan tak bukan adalah Marty Natalegawa. Saya diam, tercekat tidak bisa bicara dan dirundung ragu yang teramat sangat. Satu sisi diri saya mengatakan “ayo, sapa dia. Kapan lagi bisa menyapa Duta Besar Indonesia untuk PBB kalau tidak sekarang. Ini kesempatanmu.” Sementara itu, sisi lain dari diri saya berbisik “eh, kamu itu siapa?! Sadar diri dong! Kamu anak desa, orang tua tidak rampung pendidikan dasar, dan tidak kaya. Kamu tidak selevel dengan Marty Natalegawa. Paling-paling kamu dicuekin kalau menyapa. Malu kan?! Sudahlah, tidak usah menyapa. Lebih baik diam, cari aman. Kamu terhindar dari ancaman rasa malu dan tengsin.” Dua imajinasi ekstrim itu menguasai saya, muncul silih bergandi dan adu kuat.

Continue reading “Berjejaring: Sebuah Keputusan Sadar”

Menjaga Kewarasan Alumni Luar Negeri

i4talksposter

Ketika hampir menyelesaikan pendidikan di luar negeri, dia mendapat suatu pelatihan yang menurutnya aneh. Pelatihan itu bertema persiapan pulang kampung. Dia tidak habis pikir, mengapa untuk pulang kampung saja harus menyiapkan diri. Jika persiapan sebelum berangkat ke luar negeri dulu dilakukan begitu serius, dia paham karena akan datang ke tempat baru. Namun persiapan serius untuk pulang ke rumah sendiri ini terasa agak berlebihan. Akibatnya dia tidak mengikuti pelatihan itu dengan serius. Baginya tidak begitu penting. Dia tidak merasa perlu diajari bersikap di rumah sendiri, di negeri sendiri. Tidak akan ada yang mengejutkan di lingkungan budaya yang dia kenal sejak lahir. Itulah keyakinannya.

Continue reading “Menjaga Kewarasan Alumni Luar Negeri”

Apakah Anda Suka Berbagi?

http://understandquran.com/

Hidup di era teknologi informasi dan komunikasi jauh lebih mudah dibandingkan masa-masa sebelumnya. Informasi begitu gampang diperoleh, tentang apa saja. Mesin pencari Google menjadi penunjuk jalan paling sakti bagi siapa saja. Apapun yang Anda cari nyaris ada informasinya. Meski begitu, kadang kita tidak menemukan apa yang kita cari. Artinya, belum ada orang yang berbagi informasi itu? Di saat seperti ini kita kadang sedih atau bahkan kesal, menyayangkan mengapa tidak ada orang yang menuliskan informasi yang kita cari. Pernahkan Anda demikian?

Continue reading “Apakah Anda Suka Berbagi?”

Nasionalisme Usil

Merah Putih
Merah Putih

Celoteh usil tapi sok serem ingin mengingatkan orang tentang nasionalisme atau patriotisme.

  1. Kamu tidak bangga sama Indonesia? Indonesia bangga kok sama kamu, meskipun kamu tahu, kamu tidak layak dibanggakan!
  2. Malu jadi orang Indonesia? Indonesia tidak akan malu punya kamu, meskipun kamu nyaris tidak ada gunanya buat dia.
  3. Nggak ada yang bener di Indonesia ini, semua kacau | Betul! Dengan melihatmu saja, semua orang akan setuju dengan pernyataan itu.
  4. Aku capek hidup di Indonesia, semua amburadul! | Istirahatlah, memang jadi penonton dan tukang komentarpun bisa capek.
  5. Aku mau cabut dari Indonesia. Gak tahan sama semua kebobrokan | Kamu mengambil keputusan tepat karena saat ini Indonesia hanya membutuhkan orang-orang kuat.
  6. Mahasiswa: Payah! Presiden INA takut sama Presiden Amerika | INA: Beda sama kamu, para mahasiwa, yang lebih pinter dari mahasiswa Amerika.
  7. Sampai kapan Indonesia seperti ini? Lelah aku! | Indonesia: Istirahatlah, hanya diam sambil nonton tv dan baca berita online memang melelahkan.
  8. Lama2 aku mau tinggal di luar negeri saja kalau Indonesia tetap begini! | Persiapkan dengan baik dan pergilah. Indonesia melepasmu dengan rela.
  9. Kapan ya Indonesia jadi negara maju? | Ina: Jangan berharap. Aku tidak akan pernah maju kalau kamu hanya mengeluh sambil tidur.
  10. Entah kapan Indonesia akan membaik. Kaya’nya tidak akan! | Ina: Sekarang kamu tahu, pekerjaan menunggu tanpa melakukan apa-apa memang membosankan.

Tidak setuju? Berarti Anda tidak termasuk yang tertuduh. Santai saja Sob dan teruskan perjuangan 🙂

Memetakan Anies Baswedan

surveyor_anies
Anies Baswedan di kerumunan surveyor 🙂

Melihat Anies Baswedan di Mata Najwa, berbagai talk show di TV, atau di koran tentu biasa. Melihat Anies Baswedan hadir di Ruang Kuliah III.4 Teknik Geodesi UGM tentu bukan hal yang biasa. Mungkin ada yang bertanya, sejak kapan Mas Anies mengajar pemetaan? Sejak kapan beliau menekuni remote sensing atau GPS? Ternyata tidak demikian pasalnya. Mas Anies Baswedan hadir di kampus Teknik Geodesi UGM untuk berbicara tentang kepemimpinan. Acara itu bernama “Leadership Talk bersama Anies Baswedan” yang digagas dan diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Geodesi (KMTG) bersama Geodetic English Club (GEC). Pagi itu, Teknik Geodesi heboh sejadinya. Banyak yang mengakui, acara itu adalah satu dari sedikit hal tak lazim dalam sejarah perjalanan Teknik Geodesi UGM.

Continue reading “Memetakan Anies Baswedan”

Sebelas

Lukisan Lita :)
Lukisan Lita 🙂

Kami belum apa-apa. Tak layak menegakkan dagu apalagi menepuk dada jumawa. Tapi hati kami masih diliputi sombong maka kadang-kadang kami berpuas diri, berhenti sejenak dari lari. Karena kami makhluk biasa maka kami berhenti tak saja untuk istirahat tetapi untuk menikmati butir-butir kecemerlangan yang kami artikan sendiri. Di penggal perjalanan ini, telah berpelukan antara duka nestapa dan sumringah gembira, maka susah kami bedakan keduanya. Kami berusaha sangat untuk memelihara keterkejutan dan memanen pelajaran dari keterpurukan meski perasaan datar kadang mampir menghinggapi. Datar karena kami mulai terbiasa dengan sedu sedan duka dan tawa riang bahagia yang tak henti saling merangkul.

Continue reading “Sebelas”