Guru dan Murid

Jalanan di sekitar Thirroul, Wollongong sudah gelap dan udara dingin menyengat ketika saya berjalan menuju stasiun kereta. Di samping saya berjalan seorang lelaki kulit putih sambil memegang tali kendali seekor anjing yang berjalan enerjik di depannya. Anjing itu kelihatan sangat aktif sehingga lelaki itu sekali waktu harus menarik agak keras atau sekedar menahan tali kendalinya. Dari mulutnya tidak henti-hentinya keluar peringatan “Amber, slow down!” atau “Amber, no!” untuk mengendalikan anjing kesayangannya itu. Lelaki itu adalah guru saya ketika S2 dan S3. Clive Schofield namanya, seorang lelaki berkebangsaan Inggris.

Malam itu kami menikmati makan malam di rumahnya di Thirroul, tidak jauh dari kampus University of Wollongong, almamater S3 saya. Tiga hari sebelumnya, kami mengikuti sebuah kursus intensif terkait delimitasi batas maritim internasional. Kali ini, saya dan Clive adalah peserta kursus yang disajikan oleh seorang pakar dan praktisi dari Fugro, Kanada. Penat dan lelah setelah tiga hari kursus intensif akhirnya terbayar dengan sebuah makan malam yang akrab di kediamannya. Malam itu, makan malam kami hanya dihadiri empat orang: saya, Clive, Rob (trainer dari Kanada) dan Sandra (isteri Clive). Salmon panggang yang nikmat menjadi penutup yang sempurna. Selepas makan malam itulah, Clive mengantarkan saya ke stasiun kereta karena saya akan bertolak ke Sydney, menginap di rumah seorang teman.

Di sepanjang jalan, kami bercerita dan berkelakar. Saya sempatkan untuk mengingatkan dia bagaimana awalnya kami bertemu. Tiba-tiba saja ingatan saya melambung ke 12 tahun silam ketika pertama kali bertemu dengan Clive. Saya ingatkan dia pertemuan pertama kami, saya ingatkan dia soal panci dan alat dapur lain yang pernah dia berikan ke saya tahun 2004 dan segala macam hal yang kami lalui. “You were younger than I am now when you became my master degree supervisor” kata saya untuk menegaskan betapa mudanya dia dulu ketika menjadi guru saya pertama kali. Perjalanan penuh kelakar, tak terasa lagi bahwa kami adalah guru dan murid tetapi dua orang kawan yang setara. Pendidikan dan kesadaran memang menciptakan kesetaraan.

Beberapa minggu sebelumnya Clive mengirimkan email pada saya dan meminta saya datang ke Wollongong untuk mengikuti training. Dia mengatakan, semua biaya akan ditanggung dia. Tiket dan akomodasi untuk saya akan dibayarinya sampai tuntas. Saya paham, intinya cuma satu, dia ingin saya menemaninya mengikuti training itu, dengan harapan saya merekam lebih banyak pelajaran sehingga bisa ‘dimanfaatkan’ oleh dia secara positif di masa depan. Strateginya jitu, ajaklah lebih banyak orang belajar hal yang sama sehingga jika nanti ada kesulitan maka ada lebih banyak orang yang akan membantu. Bukankah ini cerdas?

Siapa yang bisa menolak tawaran ‘jalan-jalan’ ke almamater secara gratis. Saya langsung iyakan meskipun itu artinya harus menjadwal ulang beberapa kegiatan lain. Saya tidak melihatnya hanya sebagai kegiatan singkat tetapi peluang kerjasama jangka panjang. Clive adalah ‘Dewa’ di bidangnya. Bersahabat erat dan dekat dengan ‘Dewa’ bisa mendatangkan banyak peluang. Namun lebih dari semua itu, bertemu seorang sahabat yang secara tulus ingin saling mendukung tentu saja tidak pernah salah. Itulah alasan saya terbang menemui musim semi di Wollongong. Dua tahun setelah menyelesaikan S3, kembali ke Wollongong terasa seperti pulang ke rumah sendiri.

You can leave me, I am good” kata saya beberapa menit setelah Clive menemani saya di stasiun kereta. Saya pikir dia harus segera pulang mengingat dia sebenarnya sedang pemulihan dari sakit dan Sandra, isterinya, serta dua anaknya ‘tertinggal’ di rumah. “That’s okay, I will wait until your train comes” katanya menegaskan. Perhatian sederhana ini menjadi tanda hubungan yang baik.

Beberapa menit kemudian, kereta saya tiba. Dengan cepat saya bergegas masuk gerbong disaksikan oleh Clive yang masih menunggu. Dari jendela kereta saya lihat dia melambaikan tangan sambil menahan Amber, anjing kesayangannya yang mulai gelisah dan ingin segera beranjak pergi. Di kereta yang membawa saya ke Sydney, saya merenungkan sebuah hubungan yang erat. Jika ada yang bertanya apa tandanya hubungan seorang murid dan guru telah dimulai dan dibina dengan baik, maka malam ini adalah salah satu jawabannya. Hubungan antara guru dan murid yang melampui ruang-ruang ilmiah yang kadang sempit dan kaku atau sekedar sekat-sekat administrasi.

Stay tuned: Sepuluh tips berinteraksi dengan pembimbing/profesor

Pulang ke Indonesia

Yogyakarta, Awal Agustus 1996

id16Kami bertiga, calon mahasiswa UGM itu, berjongkok di dekat pagar tembok berwarna putih kusam. Pagar itu ada di depan sebuah rumah sederhana, milik seorang lelaki tiga puluhan tahun yang kami hormati. Beliau adalah dosen UGM yang telah menjadi ‘bapak asuh’ bagi kami bertiga dalam beberapa hari ini. Kami yang baru tiba di Jogja untuk menuntut ilmu, ‘diangkat’ anak oleh beliau dan diizinkan tinggal di rumahnya.

Peringatan Hari Kemerdekaan segera tiba dan kami bersemangat mengecat pagar tembok itu dengan warna putih. Kami bertiga, beberapa orang anak kos lain dan lelaki panutan itu bekerja sambil bermain dan berkelakar. Semua cerita dan lelucoh mengalir deras, penggal demi penggal tembok kusam itu berubah putih bersih dan bercahaya. Ini adalah pengalaman baru bagi saya. Mengecat tembok dengan semangat untuk peringatan hari kemerdekaan tidak saya temui di kampung saya di Bali.

Sore sudah mampir, pagar tembok sudah putih sempurna. Cahaya matahari membuatnya cerah berwibawa. Di sisi tembok itu menjulang umbul-umbul merah putih, silih berganti dengan bedera yang berkibar perlahan oleh angin sore yang mulai malas. Saya berdiri menatap, melepas penat yang segera berlalu demi menyaksikan nuansa merah putih yang berwibawa.

Wollongong, November 2013

Now, your thesis is done and you are ready to submit. Congratulation!” tiba-tiba lamunan saya buyar oleh kalimat berwibawa lelaki di depan saya. Kata-katanya mantap memberi selamat dan semangat. Wajah lelaki usia empat puluhan itu nampak serius meskipun selalu ada senyum di bibirnya. Dia duduk tenang dan santai di kursi sambil sesekali memutar tempat duduknya sehingga tubuhnya bergoyang kiri dan kanan secara wajar. Baru sadar lagi, saya memperbaiki posisi duduk di depannya, menyimak dengan seksama. Hari itu tidak biasa, kami tidak sedang membicarakan disertasi saya seperti minggu-minggu sebelumnya. Rupanya urusan disertasi sudah tidak lagi masuk dalam prioritasnya karena memang disertasi saya sudah rampung. Paripurna sudah sebuah tugas besar nan panjang. Hari itu, Prof. Clive Schofield, pembimbing saya, memanggil saya untuk urusan yang lebih dari sekedar disertasi.

Saya hanya tersenyum saja sambil berterima kasih ringan. Ada rasa tidak percaya, akhirnya proyek panjang itu terselesaikan. Pendidikan saya di Australia telah mencapai titik akhir dan saatnya untuk menyudahi perjalanan di Negeri Kangguru ini. Terbayang jelas dalam ingatan ketika saya tiba pertama kali di Sydney tanggal 14 Januari tahun 2004 dan artinya itu sudah berlalu satu dekade. Selama itu pula saya tidak pernah lepas dari Australia, mulai dari S2, penelitian atas prakarsa PBB, S3 dan bahkan Postdoc. Satu dekade ini saya telah menghabiskan waktu di Australia dengan status sebagai mahasiswa dan atau peneliti. Hari itu, saat Clive memanggil saya, drama sepuluh tahun perjuangan itu seperti diputar ulang dengan kecepatan tinggi.

What is your plan?” tanya Clive pada saya yang masih belum bisa menguasai keadaan dengan baik. Saya masih tersenyum saja, tidak berkata banyak. Saya hanya mengatakan “well…” sambil menganggukkan wajah dan tersenyum pertanda ada gejolak dalam hati yang mendesak dan tidak tuntas.

The door is always open for you, Andi” kata Clive. Dia kemudian melanjutkan bahwa jika saya berniat bekerja di University of Wollongong bersama dia maka kesempatan itu terbuka lebar. Ada berbagai topik penelitian yang bisa saya kerjakan dan Clive akan dengan senang hati bekerja dengan saya. Begitu dia menegaskan. “It is your call” katanya sambil tersenyum, menyerahkan pilihan itu kepada saya.

Mendapat tawaran dari seorang ‘Dewa’ di bidangnya untuk bekerja dan meneliti di sebuah institusi terkemuka Australia tentulah sangat menggoda. Di tengah kegalauan dan kekhawatiran untuk kembali ke tanah air karena terbayang akan terjadi perubahan drastis dalam hal budaya meneliti dan juga urusan finansial, tawaran Clive itu adalah godaan yang merangsang. Meski menawarkan itu, nampak jelas Clive mengenal saya dengan baik. Dia tidak memaksa, tidak juga ada kesan menakan.

I cannot thank you enough for everything you have done for me Clive” kata saya memulai dan dia tersenyum. “I appreciate your offer and I will treat this as an open opportunity. You know, I will go home to Indonesia” demikian saya sampaikan lalu berhenti sesaat. Wajahnya tidak terkejut meskipun saya melihat raut muka yang tidak biasa pada Clive. Entah apa itu. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tanpa berkata, tanda mengerti apa yang saya sampaikan.

Clive seperti mendengar kata-kata yang tidak saya ucapkan dalam percakapan diam kami. Dia mungkin mendengar saya bergumam “Aku ingin pulang, mengecat pagar rumah yang mungkin mulai kusam. Aku ingin melihatnya putih cemerlang, di sela kibasan Sang Merah Putih yang tak tunduk oleh tikaman matahari sore yang temaram.”

Yogyakarta, 16 Agustus 2016

Washing the dishes is a very important life skills

Ibu saya bilang, bisa mengerjakan pekerjan rumah yang ‘remeh temeh’ memang tidah harus. Apalagi kalau bisa membayar orang lain untuk melakukannya. Meski begitu, bisa mengerjakan semua itu tidak pernah salah. Itu mungkin sebabnya saya ‘ditindas’ di masa kecil untuk mencuci piring. Kebiasaan ‘menindas’ itu kini terjadi pada saya dan Lita adalah ‘korbannya’. Selamat menikmati video ini.

Anies

Semalam, saya duduk mematung di depan laptop. Saya membaca sesuatu yang tak bisa membuat saya berpaling. Di sebelah saya, Asti, isteri saya, juga duduk dan membaca sesuatu di layar HPnya. Sesaat sebelumnya kami bermain dengan Lita sebelum akhirnya dia harus tidur di kamarnya. Di malam yang tenang itu, kami berdua asyik sendiri menikmati bacaan masing-masing.

Sekali waktu Asti berkomentar dan saya timpali. Ternyata, meskipun kami membaca di media yang berbeda dan tidak ada kesepakatan, bacaan kami sama. Kami sama-sama sedang membaca surat pamit dari Mas Anies Baswedan yang baru saja dibebastugaskan oleh Pak Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saya lebih banyak diam dan hanya mengiyakan komentar Asti. Mata saya menjelajahi komentar banyak orang tentang digantinya Mas Anies sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Mas Menteri telah menjalani tugasnya selama duapuluh bulan terakhir dan sesungguhnya itu belum paripurna. Mas Anies diberhentikan di tengah jalan. Sebuah keputusan yang mengejutkan banyak orang. Saya tentu salah satunya. Saya tidak punya kepentingan politik, seperti Mas Anies yang juga tidak berafiliasi pada salah satu partai politik tetapi pencopotan Mas Anies menyisakan kesedihan. Kesedihan mendalam itu tergambar jelas pada komentar ribuan penduduk dunia maya yang memberi komentar pada surat pamitnya yang mengharukan.

Dalam suratnya Mas Anies tidak berpamitan kepada presiden tetapi kepada para guru. Orang-orang hebat yang selalu disebutnya sebagai pahlawan. Dan kata pahlawan yang keluar dari mulut Mas Anies berbeda dengan kata ‘pahlawan’ yang diucapkan dalam suasana kaku di lapangan upacara yang sekedar melewatkan ritual. Ucapan pamit itu menggunakan kop resmi, tanda tangan basah dan cap yang formal. Di tangan Mas Anies, ketiga hal yang biasanya mendukung kekakuan itu seperti menyerah, bersimpuh dan menjelma menjadi pesan yang menyentuh hingga jauh ke dalam.

Asti menyentuh tangan saya ketika saya diam dalam renungan yang melempar saya pada kenangan dan juga harapan masa depan. Tanpa bisa saya bendung perasaan saya hanyut bersama luapan dukungan dan doa bagi Mas Anies dari penduduk dunia maya. Saya membacanya takzim. Dari sudut mata saya keluar butiran bening. Saya menangis dan akhirnya terisak tanpa bisa saya kendalikan.

Saya mungkin sekedar cemen. Mungkin juga benar seperti kata sahabat saya bahwa saya adalah seorang dengan pemikiran yang utopis, berjarak jauh dengan realitas. Mungkin benar demikian makanya saya cenderung mudah terharu pada kejutan-kejutan semacam dicopotnya seorang Anies dari posisi menteri. Meski demikian, saya melakukan itu dengan penuh kesadaran. Saya bahkan tidak begitu khawatir tertuduh cemen dan cengeng karena harus menitikkan air mata meratapi sebuah drama politik yang seharusnya tidak mengejutkan.

Bagi saya, tangis saya semalam adalah bayangan duka mendalam akibat terpenjaranya sebuah harapan dan gagasan. Mas Anies bukan seorang menteri yang mendobrak dengan keberingasan yang bisa mengundang sensasi media. Dia adalah seorang yang tegas dalam sikap tetapi santun dalam ekspresi. Mungkin benar juga, Mas Anies bukan seorang yang super cekatan merampungkan hal-hal pragmatis, seperti diduga sebagian teman saya. Mungkin. Tapi yang saya selalu yakini bahkan sampai saat ini adalah kesungguhannya untuk membangun karakter baik dalam pendidikan.

Ketika mengantar Lita ke sekolah di hari pertama sekolah, saya mengikuti pidato Ibu Kepala Sekolah. Belum pernah saya melihat seorang kepala sekolah menyampaikan pesan seorang menteri dengan sebegitu semangat dan penerimaan yang tak bisa disembunyikan. Pesan Mas Menteri itu adalah energi yang menjalar melalui kata-kata Ibu Kepala Sekolah dalam bentuk nasihat-nasihat sederhana namun prinsipil. Saya bersekimpulan, pesan Mas Menteri Anies tidak hanya hadir dalam lembaran surat atau disposisi kaku yang umumnya dilupakan seiring terhempasnya di rak arisp atau bahkan di tong sampah yang tua dan kumal. Pesan seorang Anies, hadir lewat semangat dan senyum kepala sekolah. Hari ini saya diliputi rasa optimisme.

Asti tidak berani menghentikan atau mengganggu saya ketika saya tercenung dalam isakan lirih. Dia tahu saya dan dia tahu betapa saya mengagumi seorang Anies sejak lama. Bagi saya, ini bukan soal kultus individu, ini adalah soal seorang manusia sekolahan seperti saya yang melihat idealisasi sebuah gagasan dan gerak yang menyatu pada seorang individu. Saya tidak terkejut dengan ide-ide Mas Anies karena itu merupakan milik banyak orang yang terdidik. Yang saya kagumi adalah kemampuannya mentransformasi ide dan idealism itu menjadi pesan yang mudah diiyakan, mudah untuk dituruti. Saya menjadi relawan Hari Pertama Sekolah karena saya percaya ide Mas Anies harus didukung. Saya ikut gerakan Turun Tangan karena seperti katanya, saya tidak boleh hanya urun angan. Saya dekat dengan para pengajar muda di Indonesia Mengajar karena saya tahu gagasan besar itu tak bisa tumbuh subur hanya dengan dipuji dan ditonton.

Saya yakin ribuan anak muda yang menjadi pengajar muda di Gerakan Indonesia Mengajar juga terpikat oleh kekuatan gagasan Mas Anies yang memancar lewat rangkain kata yang tersusun sedemikian rupa atau dalam bentuk tulisan-tulisan yang menyentuh dan membangunkan. Benar yang Mas Anies sampaikan, kita tidak bisa menjadi pahlawan sendiri. Dan bahwa kepimimpinan yang baik bukanlah yang menyelesaikan semua persoalan sendiri tetapi yang mampu menggerakkan orang lain untuk berbuat sesuatu. Mas Anies, tidak menyuruh saya untuk mempercayai dia tetapi mempercayai diri saya untuk bisa melakukan sesuatu perubahan meskipun kecil.

Saya tidak membiarkan diri saya mengumpat atau menyalahkan Pak Jokowi. Saya percaya dengan kebaikan beliau. Namun kebaikan saja tidak cukup untuk mempertahankan seorang Anies Baswedan yang memang tidak kuat secara politik. Pastilah ada banyak kalkulasi politik yang tidak akan bisa saya pahami dengan otak surveyor saya yang fakir pengetahuan politik. Yang saya tahu, selalu ada kalkulasi dan yang terjadi mungkin adalah yang terbaik.

Sementar itu, kekaguman dan terutama rasa terima kasih saya kepada Mas Anies tidak berkurang sedikit pun. Melihat kenyataan bahwa dia masuk dengan tegak serta keluar dengan gagah berani tanpa kasus yang berarti telah menguatkan hati saya untuk menjadikannya teladan. Saya mungkin adalah satu saja dari orang Indonesia yang cemen tetapi saya memilih menjadi cemen dengan sadar.

Hati saya ada bersama anak-anak sekolah yang sumringah datang ke sekolah di hari pertama karena sekolahnya ramah tanpa perploncoan. Semangat saya bersama guru-guru yang tidak lagi pusing hidupnya memikirkan cara terbaik memberi kunci jawaban pada anak-anak yang tertekan saat menjalani ujian yang seakan menentukan hidup matinya. Senyum saya bersama Lita dan teman-temannya yang tas sekolahnya tak lagi berat dan membuat tulang belakangnya cidera. Doa saya bersama Mas Anies yang telah berjuang mewujudkan semua itu. Terima kasih Mas Anies. Seperti kata Kaffee di A Few Good Men, “you don’t need to wear a patch on your arm to have honor”. Seorang Anies Baswedan tak harus menyandang pangkat menteri untuk disebut pahlawan dan pengubah.

Ps. Tulisan saya yang lain tentang Anies Baswedan

  1. Indonesia Mengajar
  2. Ketika Anies Baswedan Turun Tangan
  3. Tulisan Tangan Pak Menteri
  4. Pelajaran di Kursi 45
  5. Memetakan Anies Baswedan
  6. Apa Kabar Mahasiswa Aktivis Hari ini?
  7. Moderator

Mengupas Mangga

Tangan-tangan kecil itu saya perhatikan dengan seksama. Telapak tangan kiri memegang sebiji manga dan telapak tangan kanan menggenggam pisau. Nampak sangat tidak terampil, ringkih dan penuh keraguan. Ada juga ketakutan dari gerakannya yang gemetar tidak yakin. Lita, anak saya, sedang mengupas mangga.

Apa istimewanya mengupas mangga? Tidak ada istimewanya bagi saya atau banyak orang lain yang bahkan merasa mengupas mangga itu adalah keterampilan sejak lahir. Tapi percayalah, bagi Lita dan teman-temannya yang hidup pada masa dan situasi kini, mengupas mangga bisa jadi urusan besar yang runyam. Jika Anda memiliki anak sepantaran dengan Lita, tinggal di kota dan hidup di lingkungan yang lebih sering menyajikan mangga telanjang tanpa kulit, maka mengupas mangga menjadi keterampilan mahal.

mangga

Anak-anak kita mungkin terampil memainkan tuts-tuts piano, menggesek senar biola, memainkan papan ketik komputer, memijat layar-layar sentuh tablet atau ponsel cerdas dan menghitung di luar kepala soal-soal matematika yang biasa dipelajari oleh mereka yang jauh di atas umurnya. Tentu saja itu semua bagus tetapi mereka mungkin termasuk golongan yang tergagap-gagap ketika memegang sapu lidi, mengupas mangga, menggerakkan alat pel, mengucek baju yang kotor, menggosokkan spon di permukaan piring yang licin bersabun, atau bahkan sekedar untuk melipat kembali selimut mereka sendiri di pagi hari. Mereka mungkin termasuk anak yang berbicara Bahasa Inggris logat Amerika yang fasih tetapi terbata-bata dan terdengar begitu tidak sopan ketika harus berbicara dengan Eyang Puterinya dalam Bahasa Jawa halus.

Lita, anak saya, mungkin termasuk yang demikian tapi saya tidak menginginkan itu. Maka dari itulah saya mengawasinya dengan ketat ketika belajar mengupas mangga. Pelajaran yang tentu saja akan ditertawakan oleh teman kecil saya di Desa Tegaljadi karena, menurut mereka, mengupas mangga termasuk keterampilan yang bisa datang dengan sendirinya. Lita, seperti anak kecil lainnya, kadang mungkin kesal saya pandangi ketika menggerakkan pisau untuk memisahkan kulit mangga dari isinya yang ranum. Dia mungkin kesal saat saya koreksi arah gerakan spon waktu mencuci piring. Dia pastilah tidak bahagia ketika saya memanggilnya kembali ke kamarnya hanya untuk melipat selimut padahal dia sudah siap berangkat ke sekolah. Dia lebih sering merengut tanda tak senang setiap kali saya tegur karena membuat lantai kamar mandi kami basah dan terabaikan sehabis mandi. Saya harus menikmati dengan sabar kemarahan dan kekesalan itu karena saya merasa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihatnya di masa depan.

Saat dia sekolah di sebuah perguruan tinggi di Cape Town nanti, tidak ada yang akan mengupaskan mangga untuknya. Tidak ada pembantu yang akan merapikan selimutnya setiap pagi. Tidak ada yang mencucikan piring untuknya selepas makan malam. Tidak ada yang membersihkan lantai dari serpihan makanan ringan sampai semut berdatangan. Tidak ada yang membuat handuknya kering jika terhempas begitu saja di sudut kamar sehabis mandi di pagi hari. Tidak ada. Tidak ada kemewahan yang membuat Lita bisa hidup cuek tidak peduli. Itulah yang saya lihat di masa depan dan masa depan itu tidak lama lagi. Sayangnya, saya tidak pernah melihat bahwa keterampilan akan datang lewat mimpi dan tiba-tiba dikuasai. Keterampilan juga tidak bisa dibeli secara instan.

Lita masih harus belajar, demikian pula saya sebagai orang tua. Cerita ini bukan tetang keberhasilan tetapi tentang kekhawatiran yang mungkin dirasakan juga oleh sahabat-sahabat saya lainnya. Lita dan generasinya perlu diajari mengupas mangga. Dia perlu tahu bahwa mengupas mangga itu harus dari ujung bekas tangkai, bukan sebaliknya. Lita perlu tahu bahwa mengupas mangga itu harus menghasilkan rangkaian kulit mangga seperti kelopak bunga yang berurai panjang, tidak terpisah satu sama lain. Dia perlu tahu, rangkaian kulit mangga itu akan dipisahkan dari bagian bawah mangga di saat terakhir, sehingga sampahnya menjadi satu kesatuan sebelum akhirnya dia terhempas di tong sampah dengan sekali hentak.

Seperti yang saya selalu katakan pada Lita, mengupas mangga adalah life skill yang tak pernah salah untuk dikuasai. Maka ketika nanti di halaman belakang rumahnya dia melakukan reuni alumni UGM dengan Presiden Kamboja, dia akan mengupas sendiri mangga manalagi sambil berkelakar tentang kekonyolan kawan karib mereka yang sedang kampanye untuk menjadi Sekjen PBB.

GA867, langit antara Bangkok dan Jakarta, 15 Juli 2016

Cinta dalam Sebiji Mangga

Saat kuliah, saya kos di tempat seorang penulis novel dengan nama pena Nani Heroe. Kami memanggil beliau dengan nama Bu Heru. Tempat kos kami berupa sebuah rumah besar yang sudah tua umurnya. Di halaman ada beberapa batang pohon manga. Kerap mangga itu berbuah dan manis rasanya. Kami, anak-anak kos, turut menikmati buah mangga itu dengan penuh sukacita. Saya termasuk yang sering memanjat untuk memanen mangga yang sudah matang.

Continue reading “Cinta dalam Sebiji Mangga”

Ketika MacGyver Tersenggol

Tegaljadi, tahun 1992
Setiap jumat malam Kawan, sekitar jam sepuluh. Aku berlari kencang menembus kegelapan jalan kampung dari Warung Men Ayu menuju rumah. Gelapnya perempatan keramat yang biasanya menyeramkan, tak berdaya setiap Jumat malam. Perempatan yang konon angker itu bertekuk lutut diam tak menunjukkan perbawanya kalau aku berlari kencang melewatinya dengan perasaan bergemuruh. Aku baru saja menonton film kesayangan ku: “MacGyver”.

Aku gugah meme’ (ibu) yang tengah terlelap. Persis seperti yang terjadi minggu lalu. Beliau tentu sudah hafal dan mungkin bahkan sudah siap. Sambil mengusap-usap matanya yang terlihat lelah dan masih dikuasai kantuk, meme’ pasti tersenyum. Tanpa dikomando, bercelotehlah aku menceritakan betapa dramatisnya kisah yang baru saja aku saksikan. MacGyver selalu berhasil memukau dan memsonaku dengan segala kecemerlangan pikir dan akalnya.

“Tinggal satu detik lagi Me’” aku bercerita dengan semangat, “tinggal satu detik lagi waktu yang tersisa dan dia berhasil menjinakkan bom itu.” Aku menumpahkan segala kesenangan dan rasa puas yang tiada tara. Tanganku bergerak-gerak penuh semangat, mimik yang serius sambil sekali waktu menirukan adegan serial MacGyver yang baru saja aku tonton, dan tatapan mata berbinar yang penuh energi. Film berdurasi satu jam itu aku ceritakan dalam waktu satu jam juga karena begitu detil dan persis seperti cerita aslinya. Entah dari mana datangnya kemampuan itu, aku kadang mengutip ucapan tokoh-tokohnya, meskipun kini dalam Bahasa Indonesia. Anak SMP kelas 2 menceritakan kembali kisah sebuah film hanya dengan mengingat substitle Bahasa Indonesia yang mungkin mengenaskan kualitasnya. Entahlah.

Sementara itu, meme’ selalu mendengarkan dengan takzim. Raut mukanya selalu tertarik dan seakan ikut terbawa dalam kisah petualangan seorang pahlawan bernama MacGyver. Matanya awas, meskipun mungkin mengantuk, raut mukanya serius dan terbawa, senyum dan kesedihan silih berganti di wajahnya menyesuaikan alur dan nuansa ceritaku. Meme’ telah ikut larut dalam kisah membasmi kejahatan tanpa senjata.

Tegaljadi, Mei 2016
Aku duduk menikmati sambal bongkot (kecombrang) buatan meme’. Telah kupesankan sebelumnya, aku tidak ingin menikmati apapun selain sambal bongkot khas racikan beliau. Penerbangan dari Jogja ke Bali serta perjalanan dari Bandara ke kampung di Tegaljadi cukup melelahkan. Meski mengantuk, sambal bongkot tidak pernah gagal menyambutku dan menjadi penawar rindu akan rumah, keluarga dan suasana desa.

“Ical, sebenarnya pernah tersenggol” kata meme’ melanjutkan ceritanya soal reality show Dangdut Academy, “tapi dia masih diberi kesempatan oleh para juri. Dia gunakan kesempatan itu dengan baik dan akhirnya bisa menang.” Ketika aku Tanya apakah si pemenang itu memang yang dijagokan beliau, dengan mantap meme’ mengiyakan. “Ical bisa membuat lagu itu menjadi khas sesuai karakternya sendiri. Beda dengan Weni yang juara dua itu. Dia memang bagus dan bisa bernyanyi dengan baik tapi lagunya menjadi tidak berkembang. Lagunya sama dengan aslinya dan dia tidak bisa menampilkan ciri khasnya sendiri.” Aku tiba-tiba seperti mendengar Simon di the American Idol yang mengomentari peserta dengan kritis dan pedas. Meme’ tiba-tiba menjadi seorang ahli dan berkomentar dengan sangat fasih. Aku menyimak dengan seksama.

Raut mukanya serius. Wajahnya penuh gairah. Tangannya bergerak-gerak sibuk memeragakan berbagai hal dan suranya penuh kesungguhan. Meme’ menceritakan kesukaanya, menceritakan petualangan bersama para kontestan Dangdut Academy yang diikutinya dengan seksama. Sementar itu aku tersenyum-senyum mendengarkan sambil mencoba dengan sekuat tenaga menjiwai cerita yang sebelumnya tidak pernah menarik perhatianku.

Ingatanku melayang ke tahun 1991, ketika tidak ada TV di rumah kami. Ketika Warung Men Ayu menjadi satu-satunya harapan penjaja nikmat dan kesenangan di setiap Jumat malam. Ketika gairah untuk menceritakan kembali kisah MacGyver kepada ibuku menyala terang dan mengalahkan rasa takut saat melintas di perempatan keramat. Aku merasakan gariah yang sama pada meme’. Gairah untuk bercerita dan berbagi. Bedanya, meme’ menonton dari TVnya sendiri, beliau tidak perlu menemui para kontestan Dangdut Academy dari sebuah TV berwarna di Warung Men Ayu.

Kalau saja hari ini ada MacGyver. Mungkin aku akan membiarkan MacGyver tersenggol oleh Dangdut Academy. Richard Dean Anderson, pemeran MacGyver, mungkin akan mengedipkan matanya penuh dukungan ketika aku memindahkan saluran TV untuk memberikan kesempatan kepada meme’ berpuas diri bercengkrama dengan Ical dan Weni. Maka tak mengapa ketika MacGyver tersenggol.

Malaysia Airlines dari Kuala Lumpur ke Pulau Langkawi, 30 Mei 2016