Anak muda, pergilah! Tinggalkan Indonesia!

dusunAda seorang perempuan muda duduk dan sedang membaca buku. Dia takzim menyimak kata demi kata di buku itu dan sesekali melingkari lokasi-lokasi di peta yang menghiasi halaman yang sedang dibacanya dengan pena. Dari wajah dan buku yang dibaca, saya duga dia orang Jepang atau mungkin China. Entahlah. Saya duduk di sebelahnya, sebentar lagi pesawat akan terbang dari Jakarta ke Jogja. Perempuan muda itu menoleh sekilas, tersenyum sesaat lalu tenggelam lagi dalam bacaannya.

In a holiday?” tanya saya setelah mengencangkan sabuk pengaman. Saya tidak menoleh, hanya melirik saja, sekedar untuk memulai percakapan. Rasanya aneh jika tidak menyapa orang yang duduk di sebelah saya dalam sebuah perjalanan yang berlangsung satu jam. “Yes”, katanya sambil menengok. Mungkin dia tidak menyangka saya akan menyapanya. “I hope you enjoy Indonesia” kata saya singkat sambil tersenyum. “Yes” katanya singkat dan berhenti membaca. Dari jawabannya saya bisa tahu, Bahasa Inggrisnya tidak lancar tetapi dia berusaha dengan baik.

Continue reading “Anak muda, pergilah! Tinggalkan Indonesia!”

Kejutan untuk Ibu

memeIbu saya mudah kagum dengan orang pintar, sedikit tergagap-gagap dengan kemewahan dan mudah merasa lebih rendah dari orang lain. Sempat bersekolah hanya enam tahun dalam hidupnya, ibu saya hidup dalam kesederhanaan pikir, kata dan laku. Meski begitu, sosoknya penuh perhatian dan peduli pada kegiatan anaknya yang mungkin lebih sering tidak dipahaminya. Ibu saya sulit membayangkan bahwa ada orang yang bisa hidup dan menhidupi keluarganya hanya dari berbicara dan presentasi di depan orang, misalnya. Itu tidak masuk dalam kamus tipisnya yang minim pendidikan formal. Meski begitu, Ibu saya tidak pernah ketinggalan menunggu cerita saya tentang presentasi atau konferensi. Menceritakan konferensi tentang sengketa antarnegara di Laut China Selatan, misalnya, bukan sesuatu yang mudah, jika pendengarnya adalah ibu saya. Tak menyerah dengan ketidakterdidikan, Ibu saya gemar bertanya tentang Ambalat, Quick Count, Exit Poll atau tentang kata kata sulit seperti “check list“, “down payment” atau “marketing“. Kami sangat menikmati ngobrol hingga lama.

Dua minggu lalu beliau ke Jogja untuk menengok cucunya. Saya sibuk luar biasa, lebih dari biasanya. Di saat beliau ada di Jogja, saya harus tinggal ke Bandung, ke Magelang atau sekedar lembur di kampus sampai jam 11 malam. Parah nian saya menjadi anak. Namun begitulah kenyataannya. Hidup harus terus bergerak. Ibu saya menghibur “kamu kan memang sibuk sejak kecil dan kesibukan itu yang membuatmu merasa hidup”. Beliau tahu betul anaknya. Pernah ketika SMA, saat menjadi ketua OSIS, ibu saya berkelakar “kaya’ dapat gaji sejuta saja” saat menyaksikan anaknya jarang pulang. Sejuta memang jumlah yang sangat besar. Tidak pernah ada larangan, tidak pernah ada arahan harus begini atau begitu. Yang ada hanya satu: kepercayaan.

Continue reading “Kejutan untuk Ibu”

Ada Apa dengan Cinta?

Saat kamu persoalkan satu purnama, sejatinya kamu telah melemparku pada sepotong ingatan lama. Ingatan lama tentang cinta yang penuh misteri, tak kuasa diungkap lewat ujar ujar dan mantra. Cinta yang awalnya berwujud kegelisahan yang hadir tanpa permisi karena sekedar tatapan atau aroma yang asing nan memikat. Cinta yang mengejawantah dalam lagu, senda gurau dan senandung anak anak rantau yang sepi dalam keramaian. Cinta yang kadang hadir seperti terik matahari yang menikam tanpa ampun, menyisakan garis garis jejak cahaya di tubuh tubuh mungil tak berdosa. Cinta itukah yang juga kamu persoalkan selama ini?

Continue reading “Ada Apa dengan Cinta?”

Kuliah Online yang Mudah, Murah, dan Wah

Saya sudah sering menceritakan soal kuliah online di blog ini. Saya pernah memberi kuliah online di ITS, di Paser, di Sidoarjo, di Papua dan banyak lagi. Kali ini agak berbeda, saya meminta orang lain untuk memberi kuliah online di kelas saya di Jogja. Namanya Imam Priambodo, anak muda lulusan Geodesi UNDIP yang bekerja di Fugro, sebuah perusahaan yang cukup mentereng namanya di bidang offshore. Imam saya minta memberikan materi tekait surveying yang dilakukan untuk pekerjaan konstruksi offshore. Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan materi terkait prosedur pemindahan rig atau rig move.

Continue reading “Kuliah Online yang Mudah, Murah, dan Wah”

Tips Wawancara: Membangun Empati

dari: brantar.blogspot.com

Ada seorang perempuan muda masuk ruangan dan saya sudah menunggu dengan siap. Saya bertugas mewawancarai gadis itu untuk seleksi beasiswa di sebuah kabupaten di Kalimantan Timur. Saya mengamati dia berjalan agak cepat ke arah saya dan langsung duduk di sebuah kursi, tepat di depan meja. Kami berhadap-hadapan dan siap melakukan peran masing-masing.

Berbeda dengan peserta wawancara lainnya, perempuan muda ini memberi kesan yang tidak biasa. Jika yang lainnya cenderung hormat, sopan dan sangat menjaga sikap, perempuan ini terkesan agoran. Ada hal yang melampaui percaya diri sehingga yang muncul adalah kesombongan. Setidaknya itu kesan yang saya tangkap. Cara dia memandang, cara dia tersenyum dan caranya duduk menggambarkan bahwa dengan sengaja dia memancarkan energi yang besar dan kuat bahwa dia ada di sana dengan niat untuk mengalahkan. Continue reading “Tips Wawancara: Membangun Empati”

Tips Menjadi Moderator: Improvisasi di Tengah Jalan

Ada kalanya kita tidak siap untuk melakukan suatu tugas. Alasannya bisa banyak. Mungkin karena tidak punya waktu mempersiapkan, karena tugas itu memang bukan bidang keahlian kita atau semata mata karena kita pemalas. Saya akan ceritakan pengalaman saat menjadi moderator sebuah forum dan sebenarnya saya tidak siap sehingga harus berimprovisasi.

Saya pernah menulis di blog ini tentang tips menjadi moderator. Bagi saya, sukses itu perlu persiapan. Ini tidak bisa ditawar. Maka dari itu, ada perasaan bersalaah saat harus tampil tanpa persiapan, apalagi tampil sebagai moderator di forum internasional. Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma UGM meminta saya menjadi moderator bagi tiga ilmuwan keren dengan topik Weda dan Ilmu Pengetahuan. Ini bukan topik sehari hari yang saya geluti tetapi menantang dan keinginan untuk belajar begitu besar sehingga saya iyakan. Malang sekali, saya dihantam berbagai kesibukan lain sehingga tidak sempat melakukan persiapan semestinya. Jika Anda membaca tulisan saya sebelumnya, Anda akan paham persiapan apa yang saya maksudkan.

Continue reading “Tips Menjadi Moderator: Improvisasi di Tengah Jalan”

Di sebuah toilet di Perancis

Brest, Prancis, 4 Juni 2o14,

Dingin menyengat meskipun bukan winter. Kota Brest sudah sepi karena malam telah larut. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas di depan hotel. Saya berdiri gelisah, menunggu penjemput yang tak kunjung datang. Saya lirik jam tangan, hampir jam 12 malam. Berdiri sendiri di depan sebuah hotel yang sepi di Kota Brest saat subuh menjelang dan dingin yang menyengat bukan hal yang saya cita citakan. Apa daya, rencana tidak semulus yang saya kira. Penjemput tidak kunjung datang. Roaming HP tidak saya aktifkan, sinyal wifi tidak ada. Lengkap.

Di tengah kekalutan itu saya merasa ada gangguan pada perut. Rupanya hidangan makan malam yang baru saja saya nikmati bersama delegasi Conferensi CARIS 2O14 di Oceanopilis mulai menunjukkan reasinya. Perut kampung, tak selalu mudah menerima hidangan ala barat. Saya tersiksa dan harus menemukan toilet. Tanpa berpikir lama saya buka pintu hotel yang terbuat dari kaca besar. Di dalamnya tidak ada banyak orang karena sudah malam. Bergegas saya mencari toilet di bangunan yang sudah cukup tua itu. Tak lama saya menemukannya dan segera masuk untuk menunaikan segala yang harus ditunaikan.

Gelisah tak kunjung pergi, sepi mencekam dan saya berada sekitar sepuluh ribu kilometer dari tanah air. Sambil berpikir saya diam tak bergerak sedikitpun, terpengaruh oleh suasana gedung yang mencekam dan sepi. Saya mereka reka rencana, memutar otak mencari solusi dalam keterdiaman. Tiba tiba lampu mati. Gelap dan saya  masih di ruangan kecil itu. Terjebak. Bersambung di Buku Anak Dusun Keliling Dunia 2.O

Pelajaran di Kursi 45 dari Anies Baswedan: Obyektif vs Netral

Bersama Anies Baswedan
Bersama Anies Baswedan

Badan masih terasa lelah, kantuk belum pergi sempurna ketika saya melangkah menuju pesawat Garuda yang akan menerbangkan saya dari Jogja ke Jakarta. Dari kejauhan nampak sesosok tubuh yang tak asing. Mas Anies Baswedan, saya segera mengenalinya. Beliau mendekati tangga dan termasuk dalam kelompok penumpang terakhir. Saya menyusul di belakangnya. “Mas Anies”, demikian saya sapa dan beliau menoleh lalu memberi sambutan hangat khas seorang Anies Baswedan. Jabatan yang erat bertenaga, pandangan yang antusias menatap mata dan air muka yang sumringah bukan buatan. Tentu bukan karena saya yang istimewa tetapi karena memang demikianlah Anies Baswedan. Seorang pemimpin alami yang karakternya memancar dari hal-hal kecil seperti itu. “Apa kabar Mas Andi?” sapanya serius dengan nada antusias.

Kami ternyata duduk di deretan kursi yang sama, bernomor 45, hanya beda lajur. Kami sama-sama di lorong sehingga cukup dekat untuk ngobrol tetapi masih cukup jauh untuk menjaga interaksi yang elegan. Di sepanjang jalan menuju kursi kami, banyak sekali yang menyapa Mas Anies. Tentu sulit mencari orang Indonesia, yang biasa naik Garuda, yang tidak mengenal Anies Baswedan. Mas Anies menyalami dan membalas sapaan banyak orang dengan alami. Saya menikmati suasana itu dari belakang. Hangat, antusias dan sederhana. Itulah tiga kata yang menggambarkan lelaki ini.

Continue reading “Pelajaran di Kursi 45 dari Anies Baswedan: Obyektif vs Netral”

Sepuluh Tips Jitu Pasti Lolos Beasiswa Luar Negeri

Saya menerima komentar atau email setiap hari terkait beasiswa luar negeri. Secara umum mereka bertanya tips untuk mendapatkan beasiswa luar negeri. Hasil dari berinteraksi dengan banyak orang itu, saya sudah punya sepuluh tips jitu yang menjamin Anda mendapatkan beasiswa luar negeri. Silakan disimak ya.

buku

  1. Anda tidak perlu pintar, tidak perlu IP tinggi, tidak perlu aktif organisasi, tidak perlu kreatif, karena basiswa luar negeri itu untuk orang orang biasa yang tidak istimewa. Semua pendaftar yang jumlahnya ribuan itu pasti diterima karena negara pemberi beasiswa tidak punya perhitungan strategis soal jumlah dana beasiswa yang mereka keluarkan. Jangan khawatir.
  2. Anda tidak perlu pintar berbahasa asing karena di luar negeri Anda akan menggunakan Bahasa Indonesia. Semua tugas makalah yang menumpuk, presentasi yang tiada henti dan pergaulan sehari hari menggunakan Bahasa Indonesia. Belanja di toko ikan juga menggunakan Bahasa Indonesia. Tidak perlu sibuk belajar Bahasa Inggris. Lebih baik Anda gunakan uang saku untuk beli HP baru, bukan kursus Bahasa Inggris, karena itu jauh lebih penting.
  3. Anda tidak perlu bisa menulis yang baik. Cukup tekun saja menulis di Twitter atau Facebook karena persyaratan essay untuk bisa diterima di perguruan tinggi luar negeri itu cukup 14O karakter saja kok. Tidak perlu belajar menulis yang komprehensif hingga ribuan kata dan mengartikulasikan dengan baik gagasan Anda tetang hal hal baru. Kadang cukup dengan hashtag #eaaa atau twit nyinyir, essay Anda akan diterima dan dianggap luar biasa.
  4. Anda tidak perlu mencari sendiri tentang jurusan dan universitas yang tepat karena informasi itu akan datang sendiri ke inbox Facebook Anda lengkap dengan persyaratan masuk dan rincian proses seleksi. Kadang kadang Anda cukup mention seseorang di twitter lalu tanya persyaratan masuk sebuah perguruan tinggi maka orang itu akan berbaik hati menunda pekerjaannya lalu begadang berjam jam untuk membantu Anda mengumpulkan informasi dengan membaca berlembar lembar petunjuk di website resmi sebuah perguruan tinggi di luar negeri. Tidak usah khawatir, pekerjaan dia memang seperti itu. Anda tinggal menikmati saja. Tidak usah repot repot.
  5. Ada tidak perlu belajar membuat CV yang bagus dan kreatif karena format CV bisa diperoleh dengan mudah di internet dan Anda tinggal tiru saja dengan mengganti nama. Petugas seleksi beasiswa tidak akan tahu kalau anda menyontek format dan model CV karena mereka tidak paham caranya menggunakan Google untuk mengecek keberadaan dokumen di internet. Anda juga tidak perlu berprestasi dalam hidup karena CV itu bisa dibuat buat seolah olah Anda berprestasi. Tidak akan ada yang tahu, tidak usah terlalu peduli.
  6. Tidak usah membeli buku untuk latihan TOEFL dan IELTS karena Bahasa Inggris Anda bisa tiba tiba bagus hanya dengan menghabiskan waktu bermain game online Berbahasa Inggris. Semua soal TOEFL dan IELTS nanti terkait dengan game online, tidak perlu belajar khusus. Listening dan Reading juga gampang. Tidak ada bacaan panjang yang perlu pemahaman komprehensif, semuanya seperti twit yang pendek pendek dan random.
  7. Beasiswa luar ngeri itu sama dengan uang gratis untuk Anda dan artinya Anda tidak akan perlu keluar uang. Jadi tidak usah menabung. Kursus TOEFL tidak perlu, biaya menerjemahkan dokumen tidak perlu, biaya transportasi untuk mengurus administrasi tidak perlu, pengiriman berkas juga tidak perlu biaya sama sekali. Sebaiknya gunakan uang untuk membeli pulsa karena tanpa itu Anda tidak bisa upload foto di Path. Tidak ada yang lebih penting dari itu.
  8. Jangan habiskan waktu membaca buku petunjuk beasiswa yang tebalnya puluhan atau ratusan halaman. Jika bingung tentang sesuatu, langsung saja email seseorang atau tanya di Twitter. Biarkan orang yang Anda tanya itu yang pusing membaca buku yang tebal itu dan sebentar kemudian dia akan berbaik hati meringkasnya untuk Anda dalam 14O karakter. Tentu saja orang itu akan melakukannya dengan senang hati karena dia pengangguran dan tidak punya kesibukan lain. Dia bahkan bersyukur mendapat kepercayaan Anda.
  9. Usahakan lebih percaya pada orang dibandingkan website atau buku informasi resmi. Jadi silakan ajukan pertanyaan kepada orang lain seperti “syarat TOEFL berapa”, “apakah ijazah perlu dilegalisir”, “formulir didapat di mana”, “berkas dikirim ke mana”, “dokumen yang dibutuhkan apa saja”. Website resmi pasti tidak memuat informasi seperti ini karena ini termasuk informasi rahasia yang tidak boleh ditulis di website resmi. Tanyakan kepada orang yang memiliki kemampuan seperti dukun.
  10. Percayalah pada informasi tentang beasiswa yang tertulis di blog atau di forum forum diskusi atau broadcast BBM karena informasi itu pasti benar. Anda tidak perlu melakukan verifikasi atau pengecekan dengan membaca website resmi atau menelpon ke penyelenggara beasiswa.

Selamat menerapkan sepuluh tips di atas dan saya jamin Anda akan mendapatkan beasiswa luar negeri besok sore. Percayalah.

Salak

http://intisari-online.com/

Kami sedang menikmati Bulan yang bundar sempurna, menggantung rendah, di atas Prambanan. Sinarnya menghasilkan siluet bangunan candi yang cantik. Seorang perempuan berambut pirang asyik berceloteh. Tak lain, dia adalah Pro Vice Chancellor Flinders University, Australia yang menangani kerjasama internasional. Kunjungannya ke Indonesia untuk menjajagi kerjasama dengan UGM dan saya bertugas menyambutnya. Malam itu, kami menjamu mereka di Prambanan. Sesaat lagi, kami akan menikmati Sendratari Ramayana.

Sejurus kemudian, saya perhatikan perempuan itu datang membawa sebiji salak dan dua bulir pisang. Buah tropis menjadi menu utama desert malam itu. Saya memperhatikannya karena ada yang aneh. “How can I” tanyanya. Dia bahkan tidak melanjutkan pertanyaannya apakah dia harus mengupas salak itu atau langsung memakannya. Dia sama sekali tidak paham bagaimana cara makan salak. Dengan sabar, saya mengajarinya. Tentu saja saya tidak perlu memegang tangannya ketika dia harus mengupas kulit salak itu. Kalaupun demikian, tentu tidak akan muncul dalam tulisan ini. Dengan telaten dia memperhatikan meskipun ketika praktik dia kerepotan. Mengupas salak adalah pekerjaan sulit. Baginya demikian.

Continue reading “Salak”