Tips Menjadi Moderator: Improvisasi di Tengah Jalan


Ada kalanya kita tidak siap untuk melakukan suatu tugas. Alasannya bisa banyak. Mungkin karena tidak punya waktu mempersiapkan, karena tugas itu memang bukan bidang keahlian kita atau semata mata karena kita pemalas. Saya akan ceritakan pengalaman saat menjadi moderator sebuah forum dan sebenarnya saya tidak siap sehingga harus berimprovisasi.

Saya pernah menulis di blog ini tentang tips menjadi moderator. Bagi saya, sukses itu perlu persiapan. Ini tidak bisa ditawar. Maka dari itu, ada perasaan bersalaah saat harus tampil tanpa persiapan, apalagi tampil sebagai moderator di forum internasional. Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma UGM meminta saya menjadi moderator bagi tiga ilmuwan keren dengan topik Weda dan Ilmu Pengetahuan. Ini bukan topik sehari hari yang saya geluti tetapi menantang dan keinginan untuk belajar begitu besar sehingga saya iyakan. Malang sekali, saya dihantam berbagai kesibukan lain sehingga tidak sempat melakukan persiapan semestinya. Jika Anda membaca tulisan saya sebelumnya, Anda akan paham persiapan apa yang saya maksudkan.

Saya hadir di ruangan seminar sesaat sebelum acara dimulai. Tidak banyak waktu untuk berinteraksi, tetapi tetap harus saya lakukan. Interaksi dengan calon pembicara tidak bisa ditawar lagi karena saya memang tidak mengenal beliau sebelumnya. Saya hanya membaca tentang mereka dari CV singkat yang diberikan oleh panitia. Sungguh amat tidak cukup jika ingin menjadi moderator yang baik. Setidaknya saya seharusnya membaca tentang mereka, karya mereka dari internet, dan bila perlu blog mereka jika memang ada. Semua itu tidak sempat dilakukan dan satu satunya peluang interaksi intim adalah saat sebelum seminar.

Percayalah, seorang pembicara juga pasti penasaran dengan moderatornya. Sebagian besar ingin mendapatkan moderator yang layak atau setara dengan dirinya, setidaknya secara intelektual. Saya yakin, dua pembicara dari Singapura dan satu dari Bali itu pasti juga bertanya, siapa moderator mereka hari itu. Saya mendekati dua pembicara dari Singapura dan menjabat tangan mereka erat satu per satu. Saya percaya, jabatan tangan dan tatapan mata pertama kali sangat menentukan interaksi selanjutnya. Saya menatap mata meraka lekat namun dengan nuansa yang sopan dan berkata, “Good morning Dr xyz, it is my pleasure to meet you. Welcome to Jogja“. Senyum wajar, tantapan mata mantap, dan jabatan tangan yang erat hangat adalah tiga kombinasi yang wajib. Ini teori dari saya. Jika memang punya waktu lima menit, maka dalam lima menit itu, pembicara harus teryakinkan bahwa mereka akan dimoderatori oleh orang yang tepat. Ini kesulitan saya karena saya tidak membaca materi mereka tapi saya matangkan persiapan dengan berinteraksi seakrab mungkin. Kesan pertama tadi harus mampu membuat mereka terbuka pada saya. Rupanya cukup berhasil. Saya bertanya banyak hal, di luar CV yang saya pegang.

Tiba saatnya menjalankan tugas, saya membaca CV mereka dengan iprovisasi, tidak membaca semua tetapi mengulas beberapa yang penting. Saya tambahi kutipan kutipan umum yang menggambarkan situasi mereka. Hasil interaksi tadi saya ungkapkan kepada hadirin dan itu menambah interaksi personal yang mengakrabkan. Tentu saja harus fokus pada kehebatan dan prestasi dan mengajak hadirin untuk bertepuk tangan. Tidak ada yang lebih ampuh dari itu. Seminar berjalan lancar. Saya memilih utuk memberi komentar umum atau lucu, tidak membahas materi secara mendalam karena bukan keahlian saya.  Sekali waktu saya mengatakan “I will not pretend that I am an expert but I am interested in your statement that …

Saya merasa harus menutup dengan baik. Maka di tengah tengah seminar saya berpikir keras bagaimana melakukan itu. Selama menyimak saya simpulkan satu hal bahwa ujung dari ilmu pengetahuan adalah spiritualitas dan wujudnya adalah cinta. Saya ingin mengaitkan cinta dengan ilmu pengetahuan. Saya coba mengingat buku atau film atau pidato terkait itu yang bisa saya kutip. Hadirlah dengan tiba tiba wajah John Nash, penerima Hadiah Nobel tahun 1994 yang difilmkan tahun 2oo1 “A beautiful mind”. Russel Crow memerankan John Nash dengan sangat apik. Saya ingin mengutip pidato singkat John Nash saat menerima Nobel. Itu tepat untuk menjadi kesimpulan seminar ini. Malangnya, saya tidak hafal dan saya tidak ingin membaca.

Di tengah diskusi saya menggoogle pidato itu dan ketemu. Saya baca di sela sela menyimak penjelasan pembicara yang sedang menjawab perbagai pertanyaan peserta. Tidak mudah menghafalkan pidato singkat itu tetapi kalau situasi mewajibkan, kadang otak dan tubuh kita bekerja lebih hebat dari yang kita duga. Saya mengerahkan segala upaya, energi dan terutama niat. Akhirnya sesi itu harus saya tutup. Saya awali dengan bahasa Indonesia dengan mengatakan bahwa ujung dari ilmu pengetahuan adalah spiritualitas yang berwujud cinta. Selanjutnya saya menatap peserta seminar dengan hangat lalau berkata “saya akan mengingat pelajaran dari seminar ini dengan mengutip apa yang dikatakan John Nash saat menerima Hadiah Nobel tahun 1994 seperti yang bisa kita simak dari film ‘A Beautifiul Mind’:

‘I’ve always believed in numbers and the equations and logics that lead to reason. But after a lifetime of such pursuits, I ask, “What truly is logic? Who decides reason?” My quest has taken me through the physical, the metaphysical, the delusional — and back. And I have made the most important discovery of my career, the most important discovery of my life: It is only in the mysterious equations of love that any logic or reasons can be found’

 Thank you.” Dan peserta pun bertepuk tangan. Mereka yang bisa menilai apakah saya berhasil apa tidak.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Tips Menjadi Moderator: Improvisasi di Tengah Jalan”

  1. Mantap.. memang harus begitu.. saya pernah kaget seorang mahasiswa S-3 di Brunei bahkan menyandang status sebagai Ketua PPI ketika diminta jadi moderator (nggak tahu apa dadakan, atau karena acara keagamaan) dia justru bertindak kontraproduktif… tidak mengenal pembicara meski sama2 civitas academika di UBD justru dibuka ke floor…???? “Kami meski sama2 di UBD, tapi memang tidak pernah saling kenal sebellumnya”… Wah, bagaimana ini,,,, alih2 bertugas mengakrabkan pembicara dengan floor, justru moderator membuat jarak dengan pembicaranya… kalau perlu ka mestinya “sok akrab”, daripada bikin blunder. hehehe. Eh Andi, buku saya akan terbit tgl 16 Nop 2014 diluncurkan di Mall di Bekasi…. masih dengan Pandu Aksara….

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s