Tips Wawancara: Membangun Empati


dari: brantar.blogspot.com

Ada seorang perempuan muda masuk ruangan dan saya sudah menunggu dengan siap. Saya bertugas mewawancarai gadis itu untuk seleksi beasiswa di sebuah kabupaten di Kalimantan Timur. Saya mengamati dia berjalan agak cepat ke arah saya dan langsung duduk di sebuah kursi, tepat di depan meja. Kami berhadap-hadapan dan siap melakukan peran masing-masing.

Berbeda dengan peserta wawancara lainnya, perempuan muda ini memberi kesan yang tidak biasa. Jika yang lainnya cenderung hormat, sopan dan sangat menjaga sikap, perempuan ini terkesan agoran. Ada hal yang melampaui percaya diri sehingga yang muncul adalah kesombongan. Setidaknya itu kesan yang saya tangkap. Cara dia memandang, cara dia tersenyum dan caranya duduk menggambarkan bahwa dengan sengaja dia memancarkan energi yang besar dan kuat bahwa dia ada di sana dengan niat untuk mengalahkan.

Menghadapi situasi seperti demkian, seorang pewawancara seperti saya bisa terusik dengan mudah. Saya senang melihat orang yang percaya diri, pintar dan berpengetahuan luas tetapi rasanya tidak ada orang yang senang melihat orang yang datang dengan kesan sombong dan arogan. Saya merasakan ketidaknyamanan itu. Meski begitu, saya berusaha keras tidak menguragi sikap profesonal saya dan memulai dengan ucapan standar memberi apresiasi.

“Pertama, terima kasih telah hadir dan mau menunggu. Kedua, selamat karena telah sampai pada tahap wawancara. Anda sampai di sini karena berkas aplikasi yang istimewa.” Saya mengucapkan itu dengan senyum wajar. Cara dia tersenyum, menanggapi dengan air muka dan bahasa tubuh memang tidak seperti yang saya bayangkan. Ada kesengajaan untuk menunjukkan bahwa dia orang hebat yang tidak mudah ditundukkan. Pastinya, jika saya menjadi pihak yang diwawancarai, saya tidak akan melakukan hal yang sama.

Waktu terus berjalan, berbagai pertanyaan keluar dari mulut saya dan dijawab dengan isi baik. Jawabannya tepat dan jitu dari segi materi. Sayangnya jawaban itu tidak dibawakan dengan cara yang baik. Perempuan itu memiliki kebiasaan seperti Cinta Laura yang sering mencampur bahasa dalam pembicaraannya. Lingo-mixaholic mungkin istiahnya. Pertanyaan Bahasa Indonesia saya dijawab dengan Bahasa Inggris yang ‘gaya’. Karena berlangsung terus menerus, saya peringatkan suatu ketika “when I ask you in Bahasa Indonesia, please answer me in Bahasa Indonesia. There will be a session when I ask you in English”. Mendengar peringatan itu, dia minta maaf tetapi dengan cara yang ‘cengengesan’ seakan itu bukan kesalahan berarti.

Sementara itu, di ruangan itu ada dua orang pengamat, berasal dari sebuah perusahaan besar yang menjadi penyandang dana beasiswa. Mereka berdua punya kepentingan agar kandidat yang diseleksi benar-benar yang terbaik. Dari wajah mereka yang diam saya merasakan dengan jelas kedongkolan dan ketidaksukaan mereka kepada gadis di depan saya. Saya bisa memahami.

Saya lalu bertanya kepada gadis itu tentang komunikasi karena dia dari jurusan komunikasi. “Jika Anda memulai komunikasi, apa yang harus Anda lakukan pertama kali?” Setelah berpikir singkat dia menjawab dengan baik “membangun empati dengan orang yang kita ajak berkomunikasi” katanya mantap. Saya tertegun. Jawaban perempuan itu sangat baik dan saya rasa tepat diaterapkan dalam keseharian. Saya lanjutkan “menurut Anda, jawab sejujurnya, apakah Anda sudah melakukan itu tadi ketika masuk ruangan dan duduk di depan meja saya?” Dia agak gelagapan, tidak menyangka pertanyaan saya seperti itu. Saya lanjutkan “tadi Anda masuk dengan sadar dan memilih untuk bersikap tertentu. Apakah menurut Anda, Anda sudah dengan serius membangun empati dengan saya sebagai lawan bicara?” Dia mengangguk ragu namun sepertinya mulai menyadari situasi. Saya tersenyum wajar menatap wajahnya tak berpaling dari matanya. “Rasanya sudah Pak” katanya dengan pandangan tidak yakin. “Apakah ada hal tidak berkenan yang saya lakukan?” dia balik bertanya. “Anda belajar komunikasi, saya bertanya saja bagaimana cara memulai komunikasi yang baik. Apakah menurut Anda, Anda melakukan kesalahan dalam memulai komunikasi?” Dia diam, tidak yakin harus menjawab apa.

Saya tidak mau berpanjang-panjang dengan gaya komunikasinya karena saya tidak ingin subyektif. Saya lanjutkan dengan pertanyaan lain yang umum sifatnya. Ada perubahan cara menjawab. Dia lebih ‘jinak’, tidak seangkuh tadi. Saya merasa senang bukan karena dia menjadi ‘lebih nurut’ tetapi karena dia belajar dalam waktu singkat dan menerapkannya. Saat menghadapi peserta wawancara yang arogan, pewawancara seringkali tergoda untuk ‘menundukkan’ orang yang diwawancarainya dengan menunjukkan secara eksplisit “kamu itu tidak hebat-hebat amat, tidak usah gaya”. Pewawancara juga manusia yang bisa emosional. Semoga saya tidak melakukan hal demikian.

“Adakah yang ingin Anda tanyakan?” kata saya mengakhiri wawancara itu. Dari sekian pertanyaannya, salah satunya adalah “apakah Bapak punya masukan untuk saya?” Saya tatap mata perempuan itu lekat-lekat sambil diam beberapa saat. Suasana menjadi lebih serius. Saya mulai bicara pelan karena yang akan saya katakan benar-benar saya niatkan. “Apa yang membuatmu merasa perlu tampil angkuh dan hebat di depan saya?” Dia terperangah. “Maksud Bapak?” “kamu tahu maksud saya. Sejak kamu memasuki ruangan ini, saya sudah bisa menangkap hal itu. Kamu berusaha sangat keras agar terlihat hebat dan tidak diremehkan. Kenapa kamu begitu?” Karena sudah agak akrab, saya menggunakan panggilan ‘kamu’ dengan kesan dekat tetapi tetap sopan. Air mukanya berubah.

“Saya tidak ingin dibully Pak. Saya tidak ingin ada di pihak yang jadi pesakitan dalam wawancara. Makanya saya harus tunjukkan dulu bahwa saya punya kemampuan, saya tidak mudah dibully” demikian dia menjawab. Sesungguhnya ini perasaan yang umum terjadi pada mereka yang diwawancarai. Perasaan takut dikira bodoh, perasaan takut ditindas dan takut merasa inferior bisa terjadi pada siapa saja. Saya katakan “kamu tahu kalau kamu bagus banget. Kamu pinter, memiliki kemampuan Bahasa Asing yang baik, pengetahuan luas. Kenapa kamu minder seperti itu?” Dia mungkin tidak merasakan bahwa dia mengalami minder itu. “Jauh di dalam hatimu, kamu insecure dan minder. Makanya kamu memulai percakapan dengan mengirim sinyal bahwa kamu tidak terkalahkan. Kamu bahkan gagal menerapkan teorimu sendiri bahwa percakapan harus dimulai dengan membangun empati. Sekarang jujur saja, mungkinkah ada empati yang terbangun di antara kita jika kamu memulai komunikasi dengan memamerkan keangkuhan itu?” Dia menjawab lirih “tidak mungkin Pak”. “Ingat baik-baik, kamu hebat sekali. Kamu punya hampir segalanya. Tidak ada alasan untuk tidak percaya diri. Kamu tidak usah memamerkan kesombongan itu hanya untuk mendapatkan pengakuan karena orang pasti mengakuimu dengan kualitas seperti ini. Teori saya, kalau kamu tetap merasa perlu menyombongkan diri, kamu belum selesai dengan dirimu. Kamu selamanya akan minder dan tidak percaya diri. Suasana wawancara itu diliputi haru. “Terima kasih Pak” katanya dalam. Dia adalah salah satu yang saya rekomendasikan sebagai penerima beasiswa.

PS. Dialog yang ditulis di sini adalah hasil ingatan, mungkin sedikit berbeda dengan yang sebenarnya tetapi intinya sama.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

26 thoughts on “Tips Wawancara: Membangun Empati”

      1. ehe jarang nemu sih bapak-bapak ngeblog ^0^/
        bapak pernah tinggal di Australi ya ?
        terus skrang tinggal di mana ?
        buku yang bapak bikin ttg apa ?
        maaf klo pecicilan maklum anak muda kecil
        bapak suka nulis ya ?
        excited banget nemu orang satu kampung ^0^9

        klo bapak mw silakan kunjungi blog aneh saya di http://babyrosse21.wordpress.com/

        salam ^^

  1. Assalamu’alaikum,,,

    Saya sangat senang membaca article     bapak yang selalu masuk di email saya. Trimakasih pak atas motivasi dan pencerahan yang di berikan melalui tulisannya. Pak andi tahun depen saya berencana untuk mendaftar beasiswa ke luar, saya masih bingung dengan hal” yang harus saya siapkan untuk wawancara. Sekiranya dengan hormat bapak memberikan saran bidang” ilmu apa saja yang saya harus  perdalam?

    Saya sangat berharap balasan dan bantuan dari pak Andi.

    Trimakasih banyak pak Andi untuk kesempatannya membaca email saya.

    Terkirim dari tablet Samsunga madeandi’s life menulis:

  2. Ada pepatah begini bli Andi, “Langit tidak butuh pengakuan bahwa dirinya tinggi”

    Artinya, orang yang benar-benar hebat justru santai-santai aja. Ya karena dia tahu dirinya tinggi, tanpa pengakuan atau tidak 🙂

  3. Saya merasa sanga tersentil membaca tulisan bapak yang ini. Saya merasa bahwa kadang saya sering kali bersikap seperti perempuan yang sedang diwawancarai diatas.
    Orang-orang terdekat saya sadar bahwa saya orangnya pesimis dan minderan, mereka juga selalu meyakinkan saya untuk percaya diri dan percaya bahwa saya itu mampu. Namun saya sendiri sering menepis itu, mengatakan bahwa saya belum ada apa-apanya dan pada akhirnya secara spontan, sering bersikap arogan dan menunjukan kehebatan pada orang agar takut diremehkan.
    Syukurlah wanita yang diwawancar itu bertemu dengan bapak, yang mau perduli menjelaskan tentang kekurangan dari sikapnya dan menasehati dia, alangkah malangnya jika dia bertemu dengan pewawancara yang tidak perhatian dan langsung saja tidak meloloskan dia karena tidak suka dan tidak mau memberitahu dimana letak kekurangan dia.

    Terima kasih sudah share pak. This is what I need. Now, I know my self better and I know what to do 🙂
    1,5 tahun lagi saya lulus S1 dan sekarang lagi cari-cari beasiswa untuk S2.
    Thank you very much sudah banyak sharing pengalaman bapak.

  4. Pak Andi,

    Tulisan yang tepat disaat yang tepat untuk saya yang baru selesai wawancara LPDP. Saya belajar banyak sekali dari wawancara kemarin Pak.

    Satu hal saja yang saya ingin tanggapi, yaitu tentang sikap Pak Andi sebagai interviewer. Menurunkan ego, tetap bersikap professional dan memberikan feedback sebagai masukan untuk calon awardee, menurut saya adalah sesuatu yang sangat dewasa dan bijaksana. Sudah sepantasnya seorang interviewer memahami bahwa yang duduk didepan mereka hanyalah pemuda/pemudi yang punya mimpi besar dan ingin mewujudkannya melalui beasiswa. Ada usaha yang besar untuk dapat duduk di depan pewawancara. Oleh karena itu, Rasa ego untuk ‘mengalahkan’ si calon awardee benar-benar harus dihindari. Terakhir, saya kira, semua interviewer beasiswa harus baca tulisan ini 🙂

    Very good job Pak Andi, so proud to be the one of your students,
    Muhammad Ashar

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s