Lelaki Pengelana

Aku lelaki pengelana yang bepergian tidak saja dari satu tempat ke tempat lain tetapi juga dari satu peradaban ke peradaban berikutnya. Aku menuai badai yang menerpa layarku untuk merelakan diri terombang ambing di satu titik Samudera tak bertuan. Aku menyisir pantai yang lengang, melacak jejak kebijaksanaan abadi seraya mengabadikan tinggalan tinggalan yang gugup nan rapuh.

Aku berkelana dipandu bintang, disemangati angin yang bergemuruh dan dilecut terik matahari yang menikam kemalasan. Aku mandi tetasan air yang mengalir dari gemercik suara yang berasal dari senda gurau para cendikia. Aku berbekal tongkat para santri yang mudah lantak dan luluh tapi berjaya tanpa keluh meski terik tak kunjung teduh. Aku berjalan di kesunyian, saat sendiri dan sepi menjadi satu satunya kebisingan. Saat senyap menjadi perdebatan yang paling hakiki, bahwa lawan sejati adalah keyakinan akan senyap yang penuh cerita.

Aku berkelana, tidak untuk meninggalkan kepatutan tetapi untuk berburu satu wasiat nan waskita. Aku meniti pematang yang gelap atau lorong lorong yang berdebu dan kehilangan gairah, bukan untuk menyembunyikan diri tetapi untuk menemukan keniscayaan yang lama hilang. Di suatu titik waktu aku kembali. Kembali pada gairah cemara atau aroma pagi yang basah di sebuah kita yang kerap gelisah. Dan tak ada satupun yang lebih melenakan, dari senyum seorang gadis kecil yang berlari dan menghantamku tanpa ampun dengan tumpukan rindu yang sengaja tak dipatut patutkannya.

Parkir

Seorang lelaki datang mendekat, raut wajahnya tidak begitu bahagia. “Mobilnya pindah seberang aja Mas” katanya tanpa basa basi. Saya yang sedang duduk menunggu giliran potong rambut agak kaget. Saya melihatnya dengan agak ragu tapi tetap bergerak untuk melakukan apa yang dimintanya. Mobil saya memang diparkir di depan toko lelaki itu dan rupanya menghalangi pengunjung yang hendak datang. Tanpa pikir panjang saya pun memindahkan mobil saya ke seberang jalan. Sejurus kemudian kembali duduk menunggu giliran potong rambut. Tidak terjadi apa apa.

Jika Anda membaca tulisan ini dan mencoba mencari cari kisah dramatis dari kejadian ini atau berharap menuai inspirasi, mungkin Anda gagal. Hidup tidak selalu dramatis. Kejadian yang kita alami sehari hari memang lebih banyak yang biasa dibandingkan yang luar biasa. Membaca blog sesorang atau melihat posting foto di Facebook kadang membuat kita tertipu seakan akan ada orang yang hidupnya selalu dramatis dan hebat.

Inspired by nothing

Kita sering sibuk mencari inspirasi untuk mulai berkarya, terutama jika karya itu terkait kreativitas seperti menulis. Tiadanya inspirasi sering menjadi alasan untuk tidak berkarya. Memang itu terjadi pada hampir semua orang. Agak berbeda dengan Bruno Mars, dia berkarya begitu baik nyaris tanpa inspirasi. Keinginannya utuk tidak melakukan apapun justru menjadi inspirasi bagi karya bagus. Ketidakmauannya melakukan apapun di suatu pagi justru menjadi tema central sebuah lagu berjudul “The Lazy Song” yang akhirnya meledak dan digandrungi. Betul rupanya kata Jonathan Trager di Serendipity, “the absence of sign is a sign” atau yang menurut Bruno Mars, ketidadaan inspirasi adalah inspirasi itu sendiri. Dia membuat karya yang bagus tentang kemalasan. Mungkin saya harus ralat, Bruno Mars tidaklah berkarya tanpa inspirasi tetapi ketiadaan inspirasi itu adalah inspirasi baginya. He can be inspired by nothing.

Tidak ada di Google

http://cosmicbuddha.com/

Suatu kali saya menyimak penuturan Rektor UGM, Prof. Pratikno tentang suatu hal. Beliau menceritakan tentang gagasan gagasan baru yang cemerlang. Suatu ketika beliau menyinggung tentang Google yang sering dijadikan rujukan untuk mengetahui keberadaan sesuatu. Saat memikirkan suatu gagasan, kita memang sering kali datang ke Google berharap menemukan gagasan yang mirip sehingga bisa dijadikan rujukan. Apa yang didirekam oleh mesin pencari raksasa Google memang kerap bermanfaat untuk menajamkan, menyempurnakan atau bahkan menjadi fodasi kuat bagi gagasan gagasan baru yang sedang kita masak untuk kemudian disajikan.

Continue reading “Tidak ada di Google”

Perkelahian yang sangat laki­-laki

Bandara Ngurah Rai, 1 Mei 2014.
Hari masih pagi, saya sudah memasuki ruang keberangkatan domestik. Tubuh agak lelah dan mata masih mengantuk karena perjalanan dari Desa Tegaljadi ke Bandara Ngurah Rai cukup jauh. Malang, tiba-tiba lampu bandara mati. Suasana gelap dan calon penumpang berteriak kompak. Saya diam, mengamati suasana yang mulai panas. Dalam gelap kami berdesakan, suasana makin riuh, emosi mudah meningkat.

Lama tidak ada perubahan, saya mencoba mengabarkan lewat Twitter. Saya ambil sebuah foto suasana penumpang yang berdesakan dalam gelap lalu mengunggahnya lewat Twitter. Saya melaporkan kejadian itu kapada PLN dan ditembuskan kepada akun Dahlan Iskan. Responnya tidak buruk, dalam beberapa menit twit saya dibalas oleh PLN meskipun bentuknya hanya pertanyaan dan konfirmasi. Akun twitter memang tidak bisa menyelesaikan persoalan itu seketika.

Continue reading “Perkelahian yang sangat laki­-laki”

Jangan Terlalu Berharap, Jokowi Pasti Mengecewakan!

http://www.jpnn.com/

Satu pertanyaan: “mungkinkah ada seorang umat manusia yang bisa memuaskan seperempat miliar manusia sekaligus” Jawabannya pasti: TIDAK. Jokowi, atau siapapun presidennya, tidak akan bisa memuaskan semua orang Indonesia. Semua presiden pasti [pernah] mengecewakan.

Saya diskusi agak serius dengan beberapa kawan asal Malaysia, Singapura, Myanmar dan Amerika Serikat di sela sela sebuah forum di Kuala Lumpur beberapa hari lalu. Pertanyaan saya, “bagaimana pandangan Anda terhadap Indonesia dan presidennya” Jawabannya seragam, Indonesia akan lebih baik dengan presiden baru. Mungkin klise tetapi jawaban mereka cukup analitis. Singkatnya, mereka melihat harapan yang begitu besar. Seorang kawan dari Kuala Lumpur dengan tegas mengatakan “Indonesia akan segera meninggalkan Malaysia jika kami tidak kerja keras”. Mungkin ini berlebihan tetapi sepertinya dia tidak sedang berbohong.

Continue reading “Jangan Terlalu Berharap, Jokowi Pasti Mengecewakan!”

Bodoh, Baru dan Pemula

Kami sekeluarga datang ke sebuah studio foto di Tabanan. Tidak sering dalam hidup keluarga besar kami bisa berkumpul secara lengkap. Meski tidak merayakan Idul Fitri, libur lebaran menjadi alasan keberasamaan ini. Kami mengunjugi sebuah studi sederhana dengan tujuan membuat foto keluarga yang professional.

Lepas mencoba berbagai gaya, proses administrasipun berjalan. Di saat itulah kami merasa tidak mendapat pelayanan yang baik. Seoang ibu, yang mungkin adalah pemilik studio itu, memasang wajah tidak bersahabat bahkan sejak kami masuk studio. Semua pertanyaan yang saya ajukan dijawabnya dengan nada yang datar bahkan cenderung agak ketus. Pandangan matanya tidak bersahabat sejak awal. Semangat melayangi tidak ada. Kesannya, perempuan itu tidak membutuhkan kehadiran kami sebagai konsumen. Dia tidak bersikap sebagai penyedia jasa tetapi seakan akan pemberi sedekah kepada kami yang membutuhkan bantuan. Saya bahkan sempat berbicara dengan nada agak tinggi karena satu perkara. Ibu, kakak, dan adik saya melihat itu dan mereka merasakan kekecewaan yang sama.

Continue reading “Bodoh, Baru dan Pemula”

Tukang Parkir

Suatu malam kami buka puasa bersama di Restoran Sederhana di Jalan Kaliurang, Jogja. Selepas makan, saya menuju parkir untuk segera pulang. Di depan restoran, ada seorang peminta minta yang mengenaskan wajah dan tubuhnya. Sambil berlalu, saya memberikan satu satunya lembar dua ribuan yang ada di dompet. Selepas itu saya beranjak ke dalam mobil. Begitu mulai bergerak, tukang parkir dengan sigap melaksanakan tugasnya. Teriakan khas “terus terus terus” terdengar nyaring.

Teringat sesuatu, saya segera berhenti dan memeriksa dompet. Benar saja, tidak ada dua ribuan yang tersisa. Saya panggil Mas Tukang Parkir dan berkata “Mas, maaf saya tidak ada recehan. Ada kembalian untuk lima puluh ribuan nggak”. Saya lakukan itu agar terjadi pemahaman dan transaksi di awal sebelum dia selesai melakukan tugasnya. Di luar dugaan, lelaki muda itu pergi begitu saja tanpa menjawab dan diapun tidak meneruskan apa yang sudah dimulainya dengan baik. Dia lenyap, di sela mobil mobil yang banyak itu. Dia menetapkan sebuah pilihan yang mungkin dia yakini benar. Itu adalah sikap hidupnya dalam bekerja. Jika harus jadi tukang parkir, semoga saya tidak memilih hal yang sama.

Rahasia di Balik Gelar Doktor

image(13)
Perjalanan menuju doktor

Tentu saja ini bukan sebuah rahasia karena hal ini dialami oleh banyak orang bahkan mungkin dengan cara yang lebih heroik. Judul ini dipilih karena alasan iseng dan untuk membuatnya dramatis, tidak lebih tidak kurang. Cerita ini saya paparkan dalam bentuk potongan potongan informasi yang sebelumnya saya bagikan lewat Twitter. Selamat menikmati.

  1. Saya mulai tahun 2008 dengan Beasiswa Australian Leadership Awards (ALA) di @uow, di sebuah Kota kecil Wollongong, Australia.
  2. Saat mulai PhD, bulan ketiga saya sudah konferensi ke Norway. Kok cepet? Itu hasil penelitian saat S2 sebelumnya dan karena dekat dengan Supervisor. Supervisor S3 dan S2 saya sama.
  3. Untuk ke Norway, saya ngumpulin duit dari ALA, universitas dan supervisor. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia. Itu adalah kunjungan pertama ke Eropa yang bersejarah.
  4. Cerita ‘sedihnya’, saya ditinggal supervisor selama 8 bln justru saat menulis proposal PhD 😦 Dia sekolah S2 ke Canada. Betul, dia sudah S3 dan sekolah S2 lagi. Iseng banget!
  5. Saya menentukan arah sendiri saat nulis proposal S3 dengan bimbingan minimal. Komunikasi dengan Supervisor hanya email. Karena beda zona waktu maka jadi lebih heboh saat ngatur waktu.
  6. Ini tantangan lain PhD. Harus rela begadang jam 2-4 pagi demi komunikasi interaktif dengan Supervisor yang ada di belahan dunia lain.
  7. Karena merasa tertantang dan dukungan yang bagus dari supervisor saya justru bisa selesaikan beberapa paper untuk konferensi dan jurnal saat pisah sama Supervisor itu. Nulis bareng! 🙂
  8. Karena pisah sama supervisor, saya baru presentasi proposal PhD setelah setahun, tepatnya 23 Juli 2009. Agak lambat 😦
  9. Tantangan lain, tetap melayani bos/kolega dr Ina yang datang ke Aussie. Saya msh jadi ‘tuor guide’ di Sydney semalam sebelum presentasi proposal.
  10. Saya termasuk orang yang tidak bisa fokus hanya pada satu hal. Tetap kerja part time cuci piring di restoran Thailand 🙂 Ini sisi lain PhD.
  11. Kerja saya macam2: Cleaner, guru komputer, asisten peneliti, dosen, kartografer, student advisor, dll. Intinya: gak bisa diem.
  12. Dasarnya ‘banci urus’, saya aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia. Sempat jadi ketua PPIA di @uow, aktif di @PPIAustralia juga 🙂 Pernah menjadi pimpinan sidang umum PPIA dan menajadi campaign strategist untuk seorang calon Presiden PPIA.
  13. Selama PhD, saya kunjungi 5 benua untuk presentasi penelitian, sekitar 20 negara, 3 paspor, puluhan bandara disinggahi. Suka nulis, saya tetap ngeblog di madeandi.com, berbagi hal penting dan gak penting. Nulis itu mengusir galau yang mujarab.
  14. Prinsipnya: tidak harus nunggu hebat dulu untuk berbagi. Tidak harus kaya dulu untuk nolong orang. Berbagi tak pernah rugi.
  15. Saya tetap ngasih kuliah kalau pulang ke Indonesia, setiap liburan selalu ngasih kuliah umum, tidak saja di UGM, ngasih kuliah online juga dr Aussie ke Ina. Cerita saya memberi Kuliah online ke Papua bahkan sempat dibaca Pak SBY.
  16. Saya nulis lebih dari 30 artikel di @jakpost selama sekolah PhD, belasan tulisan di media lain, ratusan blog post, media online dll.
  17. Selama PhD terbit 5 buku: #BeyondBorders #WollongongMenyapa #CincinMerah #GuruKangguru #KelilingDunia. Ini alasan ‘keren’ kenapa sekolah lama 🙂
  18. Pernah juga dapat kesempatan berlayar 4 Minggu di Samudera Hindia, pemetaan landas kontinen. Ini yang kemudian jadi buku #CincinMerah.
  19. Pernah sakit cacar saat jadi ketua PPIA @uow padahal ada proyek besar peringatan batik dunia 😦 Saat itu, muka compang camping mengenaskan.
  20. Selain perayaan batik dunia, saat cacar itu harus ikut lomba ke Paris. Syukurlah juara umum 🙂 kerja keras berbuah manis. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia.
  21. Masa masa berat, @KtutAsti dan Lita harus pulang duluan ke Ina. Sendirian menjalani perjuangan berat. Rasanya aneh setelah hampir tiga tahun bersama sangat akrab 😦
  22. Hidup sendirian ada positifnya. Lebih mandiri, lebih banyak waktu untuk sosialisasi dan networking. Lebih akrab sama sesama PhD students. Jadi sering lembur di kampus dan jalan bareng.
  23. Saya termasuk yang kurang disiplin, mudah tergoda berbagai kesempatan. Sering ikut lomba, nulis blog atau koran, jadi panitia ini itu, jalan2 dll.
  24. Progres PhD tidak selalu bagus. Pernah mengalami kemalasan amat sangat. Untunglah pelariannya ngeblog/ngetwit. Meski galau tetap berbagi.
  25. Akhirnya sampai waktu habis belum selesai tesisnya, diampuni, dikasih bebas SPP untuk selesaikan tesis. Ini jangan sampai ditiru oleh siapapun.
  26. Saya terbantu karena sangat kompak dengan Supervisor. Salah satunya karena gak tanggung2 bantu dia meski gak ada kaitannya dengan riset saya.
  27. Saya berhasil membina hubungan baik dengan supervisor, lebih dari sekedar hubungan akademik. Ada chemistry. Jangan salah, dia cowok kok 🙂
  28. Di saat kritis soal kemajuan riset, supervisor yang pasang badan 🙂 Ketika mau urus bebas SPP, dia yang berjuang mati matian. Ini ada buruknya, saya jadi selalu merasa dibela dan bisa tetap malas.
  29. Pelajaran moral: semua orang bisa jatuh. Yang membedakan, siapa yang menyerah siapa yang tidak. Saya selamat karena dikelilingi orang orang baik.
  30. Di akhir masa PhD, @KtutAsti dapat beasiswa s2 di @unsw, Sydney. Good news tapi saya juga jadi ribet karena harus pindah kota tinggalnya. Wollongong itu 1,5 jam dari Sydney dengan kereta.
  31. Positifnya, suka duka ditanggung bareng tapi tingkat stress Asti juga berpengaruh ke saya 🙂 Tapi hidup harus jalan terus meski terseok seok.
  32. Terjadi penyesuaian dalam aktivitas, saya tinggal di Sydney tapi kampus di Wollongong. Cukup repot padahal perlu fokus di saat saat akhir.
  33. Tapi kebersamaan itu tiada duanya. Meskipun repot, beban dipikul berdua pasti lebih ringan. Akhirnya semua baik2 saja, berjalan seperti seharusnya.
  34. Di akhir masa studi, saya memutuskan tidur di kampus berbekal sleeping bag. Tidur di lantai yang dingin, mandi di kampus.
  35. Kenapa tidur di kampus? Sydney-Wollongong cukup jauh, deadline mengancam. Tiket pesawat pulang sdh dikasih. Ngeri kalau sampai nggak tamat 😦
  36. Malam malam sendirian di kampus berdinding kaca yang dingin, ada perasaan was was tapi ketakutan akan gagal mengalahkan semuanya.
  37. Motivasi lain, saya terlanjur sering berbagai kisah kisah heroik selama ini kepada pejuang beasiswa, malu kan kalau sampai gak lulus 😦
  38. Ini adalah alasan lain sering berbagi. Tanpa sengaja saya membuat ‘perangkap’ sendiri untuk ‘terpaksa’ berjuang keras agar terhindar dari malu yang amat sangat.
  39. Jadi kalau teman teman lihat saya ‘rajin’ berbagi, itu juga dalam rangka mengingatkan diri sendiri dan sebagai ‘pelarian’ positif 🙂
  40. Rajin ngeblog itu, bagi saya, tidak selalu berarti kerjaan utama sdh beres. Ngeblog bg saya bs jadi = ngerokok bagi perokok.
  41. Seperti saya yang tidak bisa paham kenapa orang ketagihan rokok, banyak yang mungkin gak ngerti kalau saya bilang nulis itu candu.
  42. Karena saya aktif organisasi, tiap Presiden @SBYudhoyono datang, selalu diminta oleh Kedutaan atau Konjen menemani team preseiden dan menteri. Ini pengalaman istimewa.
  43. Tidak semua mahasiswa Ina di LN sempat ketemu presiden dan menteri. Bukan soal ketemu menterinya tapi soal membangun network dan mendekatkan ilmu pada kebijakan. Ini penting!
  44. Belakangan saya temukan, perjalanan PhD layak diceritakan karena ‘hal hal lain’ di luar akademik. Itu yang justru memperkaya.
  45. Saya pernah bisa selamat dari pembatalan keberangkatan ke Vietnam untuk konferensi karena kenal baik sama orang Konjen Sydney. ceritanya ada di buku #KelilingDunia
  46. Saya pernah bicara 4 mata dengan Presiden Somalia karena keberhasilan menjaga hubungan baik dengan teman2 di UN selama sekolah.
  47. Bagi saya perjalanan PhD adalah masa masa istimewa saat belajar tentang hidup sebanyak banyaknya. Tak salah jika namanya “Philosophy Doctor”.
  48. Maka menurut saya, rugilah mereka yang perjalanan PhDnya hanya untuk menambah 3 huruf di belakang namanya. PhD sungguh lebih dari itu, jangan sia siakan.
  49. Yang pasti, PhD itu membuat paham betapa banyaknya yang tidak saya pahami. Jadi agak tahu apa yang tidak diketahui sebelumnya.
  50. PhD adalah sebuah perjalanan kolektif. Dukungan istri, pengertian anak, doa orang tua dan permakluman teman jadi kunci keberhasilan.
  51. Saya beruntung punya istri yang begitu mendukung, anak yang rela ditinggal dan menjadikan Skype sebagai alat perekat cinta.
  52. Saya beruntung punya orang tua yang sehat fisik dan ekonomi sehingga perjalanan PhD saya tidak diganggu urusan kesehatan dan finansial. Saya tahu banyak yang perjalanan studinya berat karena urusan ekonomi itu.
  53. Saya beruntung punya mertua dan ipar yang rela mengambil alih tanggung jawab saya merawat anak selama menjalani PhD. Jasa mereka tidak akan pernah terbayar.
  54. Saya beruntung punya kolega di @UGMYogyakarta dan @geodesiugm yang membiarkan saya bertumbuh meski harus jauh dari kantor demi PhD.
  55. Fokus pada PhD bisa membuat peran dan kehadiran kita dilupakan khalayak. Maka dari itu saya tetap menulis agar nama saya tetap beredar sehingga saat selesai PhD nanti tidak mulai dr nol.
  56. PhD adalah perjuangan. Maka jika ada mahasiswa saya yang diminta revisi skripsi/tesis langsung keder, saya senyum saja. They have no idea 🙂
  57. Perjalanan selama PhD juga memberi kesempatan berkiprah di tingkat dunia sambil mengakar kuat pada basis nilai nilai lokal.
  58. PhD harus membuat kita, atau setidaknya wawasan kita, melanglang buana. Buatlah peta pertemanan atau lokasi kunjungan dan saksikanlah seberapa luas jaringan kita
  59. Yang paling penting, PhD semestinya membuat peraihnya mampu berpikir besar tetapi tetap bertindak lokal dan mulai sekarang. Think Big, Act Small, Start Now!
  60. Benar kata Malcolm Forbes, pendidikan itu memang untuk mengganti kepala yang kosong dengan kepala yang terbuka. Demikianlah bagi saya perjalanan meraih PhD itu. Terima kasih 🙂

Makrab

Makrab di Pantai Drini dengan @Geodeleven @Geodesiugm

Saya pernah ikut makrab, malam keakraban, dengan sekelompok mahasiswa di Teknik Geodesi UGM. Terasa istimewa karena itu bukan hal yang biasa dilakukan dosen dosen di tempat kami bekerja. Saya menikmati suara ombak yang menjadi latar suasana malam itu. Kawan kawan mahasiswa menyiapkan sebuah acara malam yang memikat. Api unggun di tengah menghangatkan suasana dan celoteh anak anak muda tanpa henti melambungkan ingatan saya ke beberapa belas tahun silam saat menjadi mahasiswa. Kini hadir di tengah tengah mereka sebagai dosen, ada rasa yang berbeda. Ada pemahaman baru saat melihat anak anak muda itu bercengkrama, bergurau dan saling cela satu sama lain dengan akrabnya. Yang penting, ada makna  baru yang tidak bisa didapatkan dengan tatap muka di ruang kelas.

Continue reading “Makrab”