Thank You, Terima Kasih …

While writing the thesis as a whole was challenging, this acknowledgement part is the one I wrote nervously for there are too many parties I owe thanks to in the completion of this journey. First and foremost I sincerely thank my wife, Asti, for her enduring support that I can never describe in words. I understand that Asti’s decision to support my academic journey and put her career second is one of the toughest decisions she has ever made. I also thank my daughter, Lita, for her amazing support for behaving well during my absence due to the study. For both Asti and Lita, I dedicate this work. They are the reason I am.

Clive Schofield is the one who introduced me to this fascinating world of maritime boundaries. Clive, you are more than a good supervisor to me. Thank you for unlocking so many doors of opportunities by introducing me to many great scholars in this field. I felt welcome and it makes this journey enjoyable. I have enjoyed making maps for you and thank you for providing space for me to further develop my professional cartographic career to introduce the power of maps to a global audience. I also acknowledge Prof. Martin Tsamenyi for his support along the way. Martin, you have directly and indirectly taught me the way to communicate complicated issues such as maritime boundaries in a manner that is understandable by a non-expert audience.

Continue reading “Thank You, Terima Kasih …”

Geodesi dan Geomatika Merekam Keistimewan Peradaban

surveyorjogja
Surveyor pakai blangkon

Ada yang berbeda di Keraton Yogyakarta tanggal 5-7 Juli 2014. Sejumlah orang datang dengan seperangkat alat yang tidak lazim terlihat di Keraton: Terrestrial Laser Scanner (TLS). Alat ini bisa memancarkan sinar laser untuk merekam obyek bangunan dengan akurat dan mewujudkannya dalam bentuk digital tiga dimensi. Adalah Jurusan Teknik Geodesi UGM bekerjasama dengan alumni di PT. Lidar Indonesia dan PT. Leica Geosystem yang mewujudkan gagasan itu. Para surveyor itu melakukan pengabdian masyarakat dalam rangka Dies Teknik Geodesi UGM ke-55.

Jogja istimewa, kita semua tahu. Keraton adalah salah satu tanda keistmimewaan yang penting bagi Jogja. Bangunan Keraton, seperti halnya bangunan lain, sesungguhnya terancam keberadaannya oleh kondisi alam, polusi, bencana, peperangan dan kurangnya perawatan. Bangunan bersejarah ini dengan mudah bisa punah jika tidak dijaga. Yang lebih penting, renovasi dan rekonstruksi bangunan bersejarah ini juga tidak mudah dilakukan jika tidak atau belum pernah dilakukan dokumentasi yang sistematis dan akurat. Sebagai contoh, bagaimana mungkin Keraton bisa dibangun kembali sesuai bentuk aslinya jika dokumentasi teknis terhadap bentuk aslinya tidak pernah ada?

Agar tidak mengalami nasib yang sama seperti banyak tinggalan peradaban lainnya, pemeliharaan terhadap Keraton Yogyakarta mutlak diperlukan. Pemeliharaan ini dapat dilakukan dengan pendokumentasian yang berfungsi untuk konservasi. Konservasi Keraton Yogyakarta membutuhkan tingkat ketelitian dan kerincian yang tinggi. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan sains, khususnya bidang ilmu keteknikan.

Continue reading “Geodesi dan Geomatika Merekam Keistimewan Peradaban”

Jas dan angkot

Genjo turun dari Damri yang mengantarnya dari Bandara Soekarno Hatta ke Bogor. Di terminal Damri Bogor dia mencoba mencari tahu lokasi hotel tempatnya menginap nanti. Alternatif transportasinya banyak. Pertama, Genjo bisa jalan kaki tetapi sepertinya cukup jauh dan memerlukan waktu lama. Bogor tak sedingin yang diduganya sehingga berjalan kaki begitu jauh bisa melelahkan juga. Kedua, Genjo bisa naik taxi. Tentu tidak ada masalah karena ada cukup uang untuk membayar taxi dan itu sudah dianggarkan. Alternatif ketiga, Genjo bisa naik angkot 06 yang turun tepat di depan hotel. Saat itu Genjo mengenakan jas rapi karena akan menghadiri sebuah pertemuan dengan kementerian tertentu. Genjo hadir mewakili pejabat tinggi di universitasnya. Ada pertanyaan kecil terbersit di pikiran Genjo “wajarkah saya, dengan penampilan seperti ini saat mewakili sebuah universitas besar di negeri ini untuk bertemu dengan pejabat di sebuah kementerian mentereng di Republik Indonesia, datang dengan naik angkot?”

Continue reading “Jas dan angkot”

Menjelaskan Quick Count, Exit Poll dan Margin of Error kepada Ibu Saya

http://amazon.com/

Sudah jadi tradisi, kami bercerita tentang apa saja. Jangankan untuk hal hal penting, kisah serial MacGyver di tahun 1990an saja saya ceritakan setiap hari Jumat malam pada Ibu saya, meskipun mungkin beliau tidak tertarik. Setiap selesai nonton serial itu dari TV tetangga, saya akan bangunkan ibu untuk menceritakan kisahnya. Tradisi itu yang melekat dan berjalan terus hingga sekarang.

“Sebenarnya apa yang terjadi” demikian Ibu saya bertanya ketika menyimak kedua calon presiden menyatakan kemenangannya. Tentu saja beliau tidak sendiri. Sebagian masyarakat yang tidak memahami politik secara mendalam tentu akan bingung dengan perilaku calon presiden kita. Saya kemudian mengatur strategi untuk menjawab pertanyaan Ibu saya. Hal pertama yang mengkhawatirkan adalah pengetahuan formal saya terhadap pemilu yang mungkin tidak mumpuni karena saya memag tidak mempelajarinya secara resmi. Kedua, Ibu saya hanya lulus SD di tahun 1960an dan bukan pembaca buku atau koran. Perlu penggunaan bahasa yang sederhana agar beliau paham dengan gamblang.

Continue reading “Menjelaskan Quick Count, Exit Poll dan Margin of Error kepada Ibu Saya”

Memahami arah Qiblat dengan Geodesi

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi sahabat Muslim. Saya persembahkan sebuah video yang menjelaskan pemahaman saya
terhadap qiblat dari sudut pandang Geodesi. Selamat menyimak 🙂

Apakah Indonesia akan kehilangan pulau?

Perhatian masyarakat Indonesia terhadap kedaulatan, wilayah, batas maritim, pulau hingga Laut China Selatan meningkat belakangan ini karena tema-tema itu diangkat dalam debat capres 22 Juni 2014. Ini adalah tulisan saya yang sudah cukup lama umurnya dan pernah terbit di PuzzleMinds tetapi rasanya masih relevan untuk ditayangkan lagi. Selain itu, ada beberapa pertanyaan seputar isu ini yang masuk lewat FB, Twitter maupun email sehingga perlu rasanya mengisahkan lagi pemahaman saya terhadap topik hangat ini.

Continue reading “Apakah Indonesia akan kehilangan pulau?”

Ketika Capres Bicara Kedaulatan, Batas Maritim dan Laut China Selatan

Debat capres ketiga tanggal 22 Juni 2014 menarik perhatian banyak orang. Saya mencoba menyampaikan pandangan atas tiga isu yang saya pelajari selama ini: kedaulatan, batas maritim dan Laut China Selatan. Tulisan ini saya buat untuk berbagi pemahaman, bukan secara spesifik merespon komentar capres tertentu. Tujuannya hanya satu, lebih banyak orang yang memahami isu sensitif dan seksi ini dalam perspektif yang ilmiah (teknis dan legal). Tulisan ini saya sajikan dalam format PDF agar mudah diunduh dan dibaca secara offline. Silakan disebarkan jika dirasa perlu dan semoga menghadirkan pencerahan, dan tidak justru menambah keruwetan. Selamat membaca 🙂

Ini diskusi di FB yang menampilkan Peta Indonesia.

Dari Solo hingga Oslo

Aku tatap koper yang masih belum dikemasi dengan baik, tergeletak di lantai. Sebagian baju dan celana sudah di dalam, sebagian lain berserakan. Aku masih di depan komputer, mengetikkan kalimat-kalimat yang harus dituangkan. Sekali waktu jendela Twitter dan Facebook mengganti Ms Word di layar laptop. Pagi berjalan malas. Saat kulihat koper yang tergeletak itu, melambung ingatanku ke masa lalu.

Terminal Ubung, Januari 1995,
Aku bergegas menjinjing sebuah tas besar. Di dalamnya berupa-rupa pakaian dan peralatan mandi. Ada makanan beragam jenis. Tas berukuran cukup besar itu berat dan merepotkan. Di sebuah bangku aku lihat Mbak Eva, kakak kelasku yang duduk tenang tersenyum ramah. Dia santai, pakaiannya tidak seperti pakaianku yang rapi dan cenderung formal: kaos berkerah di masukkan ke dalam celana kain yang licin disetrika. Rapi atau ndeso? Mungkin yang kedua. Di belakangku menyusul Meme’ dan Bapak yang melangkah ragu menyusul tanpa tahu apa yang akan terjadi pada anaknya.

Itu kali pertama aku ke Jawa, dipercaya sekolah untuk mengikuti lomba cerdas tangkas dan keterampilan Kimia di Surabaya bersama Mbak Eva, Jimmy dan Sri. Sejak dua minggu sebelumnya seisi rumah gelisah, harap-harap cemas apa yang akan terjadi nanti. Jawa begitu jauh bagi kami, terutama bagi Meme’. Tiga minggu sebelumnya, aku diantar membeli tas besar. Bukan kopor! Tas itu ada tali jinjingnya, bukan juga tas punggung yang bisa digendong. Entah apa yang ada di pikiran kami saat itu. Segala sesuatunya tidak mendukung sebuah perjalanan jauh meskipun perjalanan itu telah membuat resah berminggu-minggu sebelumnya. Berbeda dengan Mbak Eva, Sri dan Jimmy yang santai, aku yang paling ndeso dengan bawaan yang membuatku tergopoh-gopoh dan jauh dari keren.

Seminggu sebelumnya, sebagian warga desa heboh saat aku bersembahyang berpamitan dan mohon restu ke hampir seluruh Pura di desa. Kerabat dekat bertanya tentang perjalananku. Semuanya memberi doa dengan wajah yang gundah tak jelas, sebagian lain mendoakan dengan tetesan air mata. Pergi ke Jawa adalah perjalanan jauh sejauh-jauhnya pikiran mereka bisa menjangkau. Bekal doa dan nasihat adalah hal minimal yang mereka berikan. Aku duduk khusu’ sembahyang memohon keselamatan dan pencerahan bagi perjalananku yang masih penuh misteri itu.

“Ndi, katanya mau ke Prancis, jadi nggak?” teriakan ibu mertua membuyarkan aku dari lamunan. Aku segera melesat ke kamar mandi setelah memasukkan beberapa potong baju dan celana ke dalam koper lalu menutupnya dengan cepat. Berpergian di masa lalu dan kini memang berbeda. Mungkin ini yang namanya globalisasi, ketika pergi ke Paris tidak berbeda dengan pergi ke Pare atau terbang ke Oslo tak ubahnya pergi ke Solo. Diam-diam ada kerinduan pada perasaan was-was dan terutama gembira saat harus bepergian (Cebu, Filipina, 18 Juni 2014, 00.31 dini hari)

Berbagi rejeki

Kami sekeluarga menikmati suasana Gembira Loka, kebun binatang tenar di Jogja, sore tadi. Selespas menjelajahi hampir semua kawasan dan menikmati hampir semua jenis satwa yang ada, kami mampir di sebuah warung untuk berbelanja. Lita memilih makanan ringan dan saya memesan segelas es teh untuk diminum bersama Asti. Yang agak mengganggu pikiran saya, ada warung serupa yang menempel di sebelah warung tempat kami berbelanja. Saya perhatikan ibu penjaganya sudah agak tua dan matanya berharap-harap agar kami juga berbelanja di warungnya. Ada perasaan gundah gulana.

Selepas berbelanja, saya melangkah ragu hendak meninggalkan warung. “Ayah kasihan ya sama ibu itu?” begitu kira-kira Lita berkata spontan seperti menampar saya. Kami berhenti. “Ya, ayah kasihan sama ibu itu. Kita harus berbelanja di tempatnya juga.” Lita seperti sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Tanpa banyak diskusi dia segera melesat menuju warung yang ditunggui perempuan berpandangan harap-harap cemas itu. Saya membekalinya selembar sepuluh ribuan. “Beli teh aja ya” kata saya ketika Lita beranjak pergi. Kami menunggu sambil melihat dari kejauhan. Saya dan Asti melihat Lita melakukan transaksi.

Beberapa menit kemudian Lita sudah datang dengan segelas es teh yang wujudnya sama dengan yang saya pegang. “Yah, ibunya bilang gini ‘wah Nak, kamu baik sekali mau bagi-bagi rejeki sama ibu. Orang lain tidak ada yang mau belanja sama ibu. Makasih ya Nak. Kamu baik sekali’, kasihan ya. Untung kita belanja sama dia.” Mau nangis rasanya saya mendengar laporan Lita. Tuhan memang adil pada umatnya. Sistem ekonomi dan bernegara yang baik juga menjamin kesejahteraan. Namun, rejeki yang diterima oleh seorang warga negara seperti perempuan tua itu, bisa jadi adalah hasil dari sebuah keputusan kecil seorang warga negara biasa lainnya. Rejeki itu tidak selalu terkait dengan pemerintahan yang bersih, apalagi dengan debat calon presiden. Tidak sama sekali.

PS Kejadian ini mengingatkan saya cerita lalu di Borobudur.

[Bukan] Moderator Debat Capres

Orang yang saya moderatori dalam acara ini bukan capres tetapi pernah berinisiatif untuk menjadi Calon Presiden Republik Indonesia melalui proses Konvensi Partai Demokrat. Menjadi moderator bagi Mas Anies Baswedan adalah kebanggan bagi saya sekaligus sebuah proses pembelajaran yang tidak biasa. Entahlah apakah pembaca bisa merasakannya tetapi apa yang Anda lihat adalah hasil berlatih dan bersiap yang begitu lama dan serius. Saya tidak akan membahas tips-tips menjadi mederator dalam tulisan ini tetapi jika saya harus menjelaskan bagaimana menjadi moderator yang baik maka apa yang saya lakukan di video ini adalah jawabannya. Apakah ini bagus? Pembaca yang punya kewenangan untuk memutuskan. Selamat menyaksikan.