Anak muda, pergilah! Tinggalkan Indonesia!


dusunAda seorang perempuan muda duduk dan sedang membaca buku. Dia takzim menyimak kata demi kata di buku itu dan sesekali melingkari lokasi-lokasi di peta yang menghiasi halaman yang sedang dibacanya dengan pena. Dari wajah dan buku yang dibaca, saya duga dia orang Jepang atau mungkin China. Entahlah. Saya duduk di sebelahnya, sebentar lagi pesawat akan terbang dari Jakarta ke Jogja. Perempuan muda itu menoleh sekilas, tersenyum sesaat lalu tenggelam lagi dalam bacaannya.

In a holiday?” tanya saya setelah mengencangkan sabuk pengaman. Saya tidak menoleh, hanya melirik saja, sekedar untuk memulai percakapan. Rasanya aneh jika tidak menyapa orang yang duduk di sebelah saya dalam sebuah perjalanan yang berlangsung satu jam. “Yes”, katanya sambil menengok. Mungkin dia tidak menyangka saya akan menyapanya. “I hope you enjoy Indonesia” kata saya singkat sambil tersenyum. “Yes” katanya singkat dan berhenti membaca. Dari jawabannya saya bisa tahu, Bahasa Inggrisnya tidak lancar tetapi dia berusaha dengan baik.

Merasa ada yang tertarik mengajak bicara, dia merespon dengan baik. Saya akhirnya tahu, dia dari Jepang. Usianya mungkin masih awal duapuluhan, masih terliat sangat muda. Dia mengenakan topi dengan baju tanpa lengan, nampak sporty dan sedikit tomboy. Dia menceritakan sudah pernah ke Indonesia sebelumnya dan ini adalah kali kedua. Katanya juga, dia punya waktu tiga hari libur dan memanfaatkannya untuk mengunjungi Indonesia. Dia bekerja di sebuah perusahaan yang saya tidak pernah dengar namanya. Mungkin bukan perusaan besar, meskipun katanya ada cabangnya di Jakarta. Perusahaannya memproduksi tinta untuk percetakan.

Di sela-sela percakapan dia tekun menyimak buku, menandai nama-nama tempat dan melingkari lokasi-lokasi yang dianggapnya penting. Dia baru petama kali ke Jogja, dengan Bahasa Inggris yang seadanya dan melakukan rencana perjalanan sendiri tanpa dibantu siapapun. Modalnya adalah buku Lonely Planet versi Bahasa Jepang. Dia dengan fasih menjelaskan bahwa dia akan tinggal di sebuah hotel di dekat tugu yang informasinya diperoleh dari Internet. “Trans Jogja” katanya ketika saya tanya bagaimana dia akan menuju hotel dari bandara. Dia juga bisa menjelaskan arah dan rute ke Borobudur dan Prambanan yang akan dikunjunginya di hari pertama nanti. Dia nampak siap, meskipun, sekali lagi, dengan Bahasa Inggris yang mengenaskan.

Melihat dia berjuang untuk mengucapkan setiap nama tempat dan berusaha mengingat-ingat nomor bus yang akan dinaikinya, tidak tega rasanya untuk tidak berbasa-basi menawarkan bantuan. “I might be able to take you to the hotel. My wife will pick me up at the airport. She will be happy to drive you off.” Dengan sopan dan terbata dia menjawab “no, thanks. I want by myself. Adventure” dengan senyum khas cewek Jepang, meringis dan sopan. Saya terkesima. Atau mungkin karena dia tidak percaya pada saya. Tapi anggap saja bukan itu perkaranya.

Seorang anak muda Jepang, datang ke sebuah negeri asing dengan Bahasa Internasional yang mengenaskan. Dia menjelajah hanya mengandalkan buku dan peta yang mungkin tingkat akurasinya tidak begitu tinggi. Dia memasuki lingkungan asing yang ribuan kilometer jauhnya dari kenyamanan rumahnya di Jepang hanya untuk memuaskan rasa penasarannya. Untuk menyempurnakan petualangan itu, dia menolak menerima kemudahan karena ingin melatih naluri bertualangnya. Perempuan itu mengingatkan saya pada para mahasiswa saya, anak anak muda warga negara kepulauan terbesar di dunia: Indonesia.

Beberapa waktu lalu saya menggunakan pendekatan Renald Kasali dengan bertanya “siapa yang sudah memiliki paspor” ketika mengajar di kelas. Hanya sedikit yang angkat tangan. Mereka mungkin belum siap menjadi warga dunia yang menganggap pergi ke Klaten itu tidak berbeda dengan pergi ke Singapura. Saya katakan, Indonesia ini nomor 16 dunia, nomor 5 di Asia dan nomor 1 di Asia Tenggara dalam hal PDB. Presiden kita duduk bersama 19 pemimpin dunia lainnya untuk menentukan arah ekonomi dunia. Pertanyaannya, sudahkan anak mudanya memiliki mental dan kesadaran itu?

“Bahasa Inggris saya belum lancar Pak” kata seorang mahasiswa ketika saya tanya mengapa tidak bepergian ke luar negeri, di luar persoalan keuangan. Mengapa kita harus takut hanya gara-gara tidak lancar berbahasa Inggris? Percayalah, kita tidak akan mati hanya gara-gara tidak bisa mengatakan nama makanan saat pergi ke sebuah restoran. Bukankah bahasa yang paling penting di dunia itu adalah bahasa understanding? Bukankah setiap orang dikarunia kemampuan bahasa isyarat secara alami, jika terpaksa? Ini jelas bukan persoalan kemampuan bahasa internasional tapi soal mental. Seorang penakut tidak akan pernah merasa siap untuk lepas dari pelukan ibunya, meski dilengkapi banyak uang dan kemampuan bahasa internasional yang mumpuni.

Saya tidak bisa berbahasa Perancis, Belanda atau Jerman namun bisa selamat ketika tersesat di Belgia. Bagaimana caranya? Google Translate dari HP menyelamatkan saya. Yang diperlukan hanya keteguhan hati untuk bertahan maka sisanya adalah catatan sejarah yang akan berwarna dan mengesankan ketika dibaca di kemudian hari. Bayangkanlah betapa lebih hebatnya menceritakan tersesat di sebuah negeri asing yang memacu adrenalin dibandingkan bercerita tetang mengantar mamah untuk pedicure di salon dekat rumah. Bayangkanlah betapa jauh lebih dasyat menceritakan hampir ketinggalan pesawat di sebuah bandara kecil di Vietnam dibandingkan menulis status “folbek dong kakak” dengan wajah memelas dan tak pernah berbalas.

Tidak punya uang? Ini memang jadi persoalan. Ingat, untuk pergi ke Malaysia atau Vietnam, kini bisa kurang dari satu juta pp jika ada tiket promo. Sejuta memang mahal tetapi sadarkah kalau itu artinya sama dengan menabung 100 ribu setiap bulan selama 10 bulan? Kiriman orang tua pas-pasan? Bisa bekerja paruh waktu di warnet terdekat, bisa membantu dosen untuk penelitian atau menjadi asisten yang dibayar 100 ribu per bulan, bisa berhemat dengan naik sepeda ke kampus sehingga tidak perlu beli bensin untuk motor, bisa berhemat dengan ketat sehingga bisa menyisihkan 100 ribu sebulan tanpa harus menghasilkan uang tambahan, atau kendalikan nafsu nonon di XXI beberapa kali saja. Tidak bisa juga? Hidup Anda mungkin memang amat sangat sulit dan saya bersimpati tetapi bisa juga karena Anda seorang pemalas stadium tinggi. Jika bekerja keras adalah hal yang Anda takutkan maka itu adalah cerita lain!

Jika bisa memutar ulang waktu, saya akan tiru aksi Yukiko, perempuan muda dari Jepang itu. Saya akan jelajahi Asia Tenggara. Saya akan bekerja keras berhemat dan menabung selama satu semester sehingga di liburan semester saya bisa menghirup udara Orchard Road di Singapura. Saya akan duduk santai menikmati air mancur di taman KLCC di Kuala Lumpur sambil melewati senja yang temaram meski perut lapar tidak bisa beli makan malam. Saya akan berjuang di ruwetnya kemacetan lalu lintas di Bangkok sebelum menikmati tomyam murahan di kaki lima. Saya akan gendong ransel lusuh saya saat menyusuri jalanan berdebu di Ho Chi Minh City dan menikmati gorengan yang tak ubahnya dengan Jogja. Saya akah habiskan uang yang biasanya saya gunakan untuk nongkrong di sebuah cafe di jalan Kaliurang untuk berbelanja di pasar apung Thailand. Saya akan terapkan keterlatihan saya berpuasa setiap Ramadhan dengan hanya minum air putih saat menjelajahi jalanan Singapura dengan berjalan kaki dan hanya berbekal berberapa botol air putih. Saya akan habiskan uang yang biasanya saya gunakan untuk beli voucher game online untuk membayar hotel murah di Hanoi yang seharga 10 dolar Amerika semalam. Saya akan penuhi instagram saya dengan foto selfie di dalam jeepney Filipina yang sumpek, bukan dengan foto-foto gaya narsis di sebuah mall yang bersih tapi gersang. Saya akan lakukan hal-hal yang ketika saya ceritakan membuat saya bangga, heroik dan berarti.

Untuk apa ke luar negeri? Untuk memenuhi rasa penasaran. Untuk membuktikan bahwa saya hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi. Untuk membuktikan bahwa saya hidup di zamrud katulistiwa yang tidak dikelilingi lautan tetapi kolam susu. Untuk membuktikan bahwa negeri ini memang subur makmur sehingga tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman. Untuk membuktikan bahwa negeri ini adalah negeri yang toleran, memberi ruang hidup kepada orang dengan keyakinan yang berbeda. untuk membuktikan bahwa orang-orang di negeri saya ramah tamah dan santun bukan buatan. Untuk membuktikan bahwa apa yang saya baca tentang negeri saya di buku PPKN dan PMP benar adanya.

Anak muda, menjelahlah. Arungi dunia. Jangan hanya berhenti di pinggir pantaimu yang indah. Dunia adalah sebuah buku. Orang yang tidak menjelajah hanya mengetahui sampulnya saja. Kamu adalah warga negara kepulaun terbesar di dunia dengan seperempat miliar manusia. Negeri ini akan menjadi 7 besar kekuatan dunia saat generasimu menjadi eksekutif muda. Kamu akan duduk rapat dengan orang-orang yang warna kulitnya berbeda. Kamu akan memimpin sebuah tim yang anggotanya bermacam-macam warna paspornya. Kata-katamu tidak hanya akan menentukan nasib segelintir orang di sekitarmu tetapi bisa menimbulkan gejolak di pasar modal di New York. Apa yang kamu dan genarasimu lakukan akan menjadi tajuk rencana di koran-koran dunia dan para pembaca akan dengan serius menjadikannya catatan untuk langkah mereka selanjutnya. Kamu adalah generasi seperti halnya Yukiko yang tidak gentar menjelaji lorong-lorong sepi di negeri asing karena berbekal rasa penasaran yang hebat.

Tinggalkanlah Indonesia untuk menghirup udara semesta raya. Kibarkanlah merah putih di negeri-negeri asing yang jauh hingga para penyimak terpana. Lalu suatu saat nanti kembalilah ke pangkuan ibumu. Tersenyumlah karena kamu sudah tahu dunia. Akan kamu nikmati caci maki serta puja puji teradap bangsamu dengan senyum yang sabar. Bukan karena kamu takut tetapi karena kamu sudah melihat dengan mata kepalamu sendiri bahwa bahwa kamu adalah anak negeri Zamrud Katulistiwa yang tak punya alasan untuk tunduk apalagi teraniaya oleh negeri manapun. Kamu, seperti juga Yukiko, menolak kemudahan karena kamu tahu itu akan memanjakanmu dan membuatmu lantak binasa di satu ketika.

PS. Jika Anda suka tulisan ini, mungkin Anda juga suka buku saya “Anak Dusun Keliling Dunia” dan “Berguru ke Negeri Kangguru”. Silakan tengok di sini.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

133 thoughts on “Anak muda, pergilah! Tinggalkan Indonesia!”

  1. Mantaap bang Made tulisannya.
    Selain itu penting juga Kang menjelajah Indonesia.

    Sy punya teman yg sudah kemana-mana. Alumni UI, selama mahasiswa S1 keliling beberapa negara. S2 juga di NUS. Kemudian jadi pengajar Indonesia Mengajar di Selatan Halmahera. Lalu dia sadar betapa Indonesia luas dan dengan pengalaman yg jadi sempurna. Tahu Indonesia, juga tahu dunia.

  2. Ceritanya sangat bagus,really love it.jujur saya tidak pernah memgexplore indonesia,bukannya tidak mau tapi sebagai seorang backpacker saya lebih tertarik untuk mengexplore negara lain walaupun dengan bermodalkan bahasa inggris mungkin kalau dalam perkuliahan nilai bhs inggris saya D,tapi karena ingin merasakan tantangan baru di luar indonesia saya hanya modal nekad dan tentunya mental perli dipersiapkan dan tentunya preparing semua nya dari rumah sebelm sampai ke negeri orang,dari mulai mencari hostel,siapin rute via gugel maps,baca baca referensi di berbagai blog dll nya.walaupun baru tercapai di beberapa bagian seperti phucket,bangkok,krabi,hatyai,singapore,hongkong,macau,manilla dan tntunya malaysia sebagai negara tujuan transit saya sebagai pengguna maskapai low cost nya malaysia. Banyak pengalaman dan tantangan baru yg bisa saya dapatkan dari petualangan saya beberpa tahun belakangan ini. Dari mulai tiduran di beberapa bandara,di taman kota dll nya. Kepada teman2 yang mmng bener2 ingin merasakan indahnya berpetualang ala backpacker jagam di tunda lagi untuk menjalankannya. Semangat friends.. Ayo kenalkan negaramu pada dunia.

  3. Memberi semangat bru agar terus menabung. Keluarga saya sendiri mendukung saya agar suatu saat bisa keliling melihat negara lain, ya minimal negara tetangga yg dekat dengan kita. Namun, saat saya membicarakan dengan teman saya mereka kurang setuju dengan saya. Mereka berkata hal itu hanya membuang uang saja. Dalam pikiran saya sendiri, menjelajah negara lain membri motivasi baru kepada saya, dan juga betapa cintanya kita terhadap negeri kita.

  4. Terima kasih Pak I Made Andi Arsana. Keren tulisannya, dan bersyuukur banget sudah bolak balik ke Thailand dan terdampar di Spanyol. Selanjutnya Amerika, pingin banget sekolah S2 di sana, bertarung melawan gaya hiudup yang super biasa aja….

  5. Timothy 8thn(hari ini), sudah mulai menabung utk impiannya ke legoland. Ibunya sangat bangga sekali… Jadi ikutan nabung untuk bikin paspor.

  6. Yossshhh tulisannya membakar saya inih..
    jadi semangat… pingin berpetualang. Sbnrnya jiwa saya petualang. Cmn sdh lama saya mengubur keinginan2 saya untuk keliling nusantara bahkan negara2 lain. Atas bebagai alasan. Smoga tulisan ini bisa menjadi cambuk saya lagi untuk kembali melanglang buana.

  7. Halo Mas Andi, tahun depan saya akan meninggalkan Indonesia selama 2 tahun. Alhamdulillah saya dapat beasiswa AAS, dan blog ini amat sangat membantu 🙂
    Menurut Mas Andi, lebih baik tinggal on campus atau off campus ? banyak yg bilang kalo tinggal share house dengan sesama orang Indonesia, kemampuan berbahasa Inggris kita tidak akan meningkat. Mohon pendapatnya, terima kasih.

    1. Selamat Mbak Eva 😀
      Saya dulu tinggal dengan orang Bangladesh di awal2 di Sydney. Pernah juga dengan orang Indonesia. Di Wollongong pernah tinggal dengan orang india, orang Indonesi dan Pakistan. Memperkaya… Saya selalu di luar kampus biar lebih murah.

  8. Betapa besarnya perjuangan seorang ibu yang cengeng seperti saya untuk ‘tega’ melepas gadisku, 18 tahun, backpacking-an ke Dieng dan bbrp kota di Jawa Tengah dengan romb backpackers yang kontak2annya di Internet. Ketika saya berinisiatif mengundang mereka untuk dinner di rumah, dengan maksud supaya tau jelas siapa yg bawa dia pergi bertualang, gadisku melongo: loh, kan kenalannya di internet? Mereka rumahnya jauh2 ada yang dari seberang pulau. Gimana mau kenalan dulu di rumah? OMG, baru saya sadari betapa parahnya gap antargenerasi… tapi ketika akhirnya saya ijinkan gadisku berangkat dengan janjian model baru ini, saya hanya bisa berdoa dan mempercayai gafisku bahwa ia bisa melindungi dirinya dannnnn… nama baik keluarga (betapapun absurdnya konsep nama baik ini, hehe…). Terimakasih karena telah menguatkan saya untuk memberi ijin bagi gadisku untuk bertualang lagi atas dasar pelajaran hidup yang tidak bisa diperolehnya hanya dengan berkutat di rumah, atau mendekam di rumah demi menyenangkan ibunya yang…ah, dasar cuma ibu rumah tangga, jadi domestik sekali dunianya…

  9. Jujur saya belum memiliki uang bahkan untuk membuat paspor tapi hal itu selalu menjadi salah satu hal yang perlu dicapai di dalam skala prioritas pribadi. Terima kasih telah membuka mata saya, Pak. Doakan saya bisa sampai S-2 Ekonomi di Jerman. 😀

  10. Merinding pak, saya juga (bercita-cita) menjelajah dunia. saya pernah ke Turki dan Brunei tanpa sepeserpun rupiah. caranya dengan lomba karya ilmiah. Terima kasih sudah membakar lagi semangat saya. Mohon ijin menyebarkan cerita ini di tumblr dan media sosial saya yang lain. semoga semakin banyak yang terinspirasi 🙂

  11. Betul Pak Andi,
    orang Indonesia memang perlu untuk pergi keluar negeri,
    selain untuk membuktikan bahwa negeri kita memang gemah ripah loh jinawi, juga agar melatih agar kita tidak manja.
    contohnya, : kalau kita kelaparan sore2 dirumah, eh tiba2 ada tukang bakso lewat, kalau mau masak sayur bayem hari ini, eh pagi2 kan ada tukang sayur yang mangkal di depan rumah.
    kalau di luar sono…mana bisaaa? hehe.

  12. Sangat menginspirasi…..
    Negeri yg ingin kudatangi pertama kali adalah mekkah!
    Selanjutnya semoga bisa bertualang bersama keluarga, family backpacker.

    Yeaaah, berteriaklah hei sang pemimpi!

  13. pak andi saya udah punya semuanya,paspor,uang dan waktu my english isn’t really bad,but i’m too scared to go alone,all my friends are too much busy….but this year i have a plan to resign from my job and ready for my adventure.GOD WILLING…

  14. Benar-benar menggugah, penuh inspirasi. Saya yakin kalau tulisan ini dimuat di media massa seperti koran, kantor imigrasi akan penuh dengan anak muda yang ingin mendapatkan pengalaman yang sama. Terima kasih pak untuk tulisannya 🙂

  15. bang Made Andi Arsana, kata-kata di tulisan ini seperti yang anda katakan ketika dulu saya mejadi peserta di seminar abang, saat ini saya sudah memiliki paspor dan tinggal menunggu untuk keluar dr zona nyaman. terima kasih bang, baik motivasi di seminar dl dan tulisan ini. saya segera saya akan menjadi bagian dari dunia ini seperti Yukiko ditilisan ini. teima kasih bang.

  16. Tulisan yang bagus Pak.. Saya merinding bacanya.. Puji Tuhan saat ini saya paling tidak sudah terdampar di Thailand untuk 1,5 thn ke depan.. Mudah2an setelah itu punya kesempatan bisa terdampar ke benua Eropa utk beberapa tahun..

  17. Tulisan nya benar2 menginspirasi pak.. Setelah membaca tulisan ini,, keinginan saya untuk melanjutkan kuliah sampai s2 ke Malaysia semakin mantap.. Semoga Allah mendengar do’a saya ini..
    thanks pak,, atas motivasi yg dberikan pada tulisan ini.. 😁

  18. Bli Made…saya senang baca tulisan yang ini..sedikit tidak saya “banget” lah, saya asli Negara-Jembrana, sejak tamat SMP saya sudah merantau sekaloah di Jogja juga sampai menamatkan bangku kuliah..dan skr saya sedang bekerja di bangkok..Jika ada kesempatan liburan ke Bangkok, lets mee up..

    Gung Are

  19. Sangat menyentuh! Terima kasih atas tulisan hebatnya. Bolehkah saya bertanya karena ini yg saya cari cari selama ini, bagaimana cara membuat Peta / My Journey dan menandai nya mana saja yg sudah kita kunjungi. Seperti milik bapak yg ini https://www.google.com/maps/d/viewer?mid=zmbRXjBRa6X4.k-znxsOjPTYo&ie=UTF8&hl=en&t=h&s=AARTsJr7LeFckh0rkxa-UEWU-JvaqfJXtw&msa=0&ll=11.178402,30.234375&spn=152.863258,351.5625&z=1&source=embed MOHON BANTUANNYA, TERIMA KASIH 🙂 SALAM, Bimo.

  20. Bisa relate ke Yukiko bgt. Liburan kemarin pertama kali solo travelling ke negara asing sendirian, nyasar sana sini, nginep di hostel murah, ketemu travellers2nya lainnya.. Seru hehe. Makasih udah share mas! Jadi pgn jalan2 lagi haha.

  21. Sepakat Bang Andi. Saya termasuk terlambat karena ‘baru tercerahkan di usia kepala ‘3’. Saya mengistilahkan travelling ke tempat-tempat baru dengan ‘Membeli Pengalaman’.

  22. Sepakat mas.
    Indonesia ini ibarat rumah yang selama ini kita huni. Ketika kita merasa perlu untuk melihat rumah ini dari luar, maka mari membuka pintu dan keluar. Apakah rumah ini hanya kelihatan bagus di dalam dan ternyata kusam dari luar atau kebalikannya.
    Saya pribadi mas memiliki keinginan untuk keluar dari negeri ini. Tetapi masih terkendala pada masalah klasik, uang. Padahal paspor sudah 1 tahun dibuat. Melamar au pair dan beasiswa tetapi belum rezeki, mas.
    Terima kasih untuk inspirasinya yang membuat saya kembali bersemangat.

  23. Halo Pak Andi,
    Kebetulan saya sudah khatam buku Anak Dusun Keliling Dunia.
    Sangat menginspirasi. Dan buku tersebut juga menjadi salah satu yang mengingatkan saya tentang impian saya di kala masih berstatus mahasiswa dahulu, ambil Master di luar negeri, dan tentunya juga sekaligus mengenal ragam budaya dan lingkungan di sana.
    Sekarang saya masih berjuang untuk English Proficiency Test agar memenuhi spesifikasi. Mudah-mudahan impian ini bisa terwujud.
    Terima kasih atas inspirasinya.
    😀

  24. Saya akan pergi ^^9
    Doakan saya ya Pak. Tahun depan sy aplly beasiswa S2 di korea. Sy sudah mendapatkan 1 gelar S2 dari dalam negeri. Dan saya ingin sekali mendapatkan 1 gelar lagi dari luar negeri.
    Ketika bulan lalu 5 orang teman saya kembali ke kampus utk bercerita ttg keberhasilan mereka kuliah dan hidup di negeri orang, niat sy untuk pergi ke luar negeri semakin bulat.
    3 tahun lagi, saya akan kembali ke kampus saya, duduk di depan -seperti mereka- berbagi cerita dan menginspirasi adik2 kelas saya utk juga pergi ke luar negeri 🙂

      1. Amin.. Amiin…
        Salah satu yg bersengkongkol utk memantapkan niat saya adalah tulisan Bapak ini 🙂
        Terima kasih, Pak… GBU!

  25. Oh tidak, tulisan ini mencabuk diri saya untuk segera membuat passpor. Sudah sejak dulu saya pengen buat passpor tapi selalu tertunda. Padahal target saya tahun kemarin punya passpor di tahun 2014 dan selalu tertunda. Dan nggak terasa bulan depan udah 2015. hiks..hiks..
    Langsung meluncur ke web imigrasi buat daftar passpor online.

  26. Rejeki bs dari mana aja.Pengalaman terbaikku adalah berkeliaran malam2 di Medellin,kotanya Pablo Escobar di Colombia.Kota yg dulu dikenal sbg kota paling bahaya di dunia dgn perang antar genk drug cartel.Kota yg sy lewati mlam2 itu di red light districtnya masih bnyak pelacur&mngkin perdagangan narkoba walopun tdk sebahaya dulu.

  27. Kalau bisa memutar ulang waktu, akan lebih banyak negeri yg saya jelajahi… 🙂
    Bener banget, saya lebih ‘menghargai’ Indonesia setelah menjelajah. Betapa indahnya ibu pertiwi…

    Dan kalimat ini bikin saya senyum…hehe yesss, begitulah 🙂
    “Akan kamu nikmati caci maki serta puja puji teradap bangsamu dengan senyum yang sabar.”

    Salam dari balik benua 🙂

  28. artikel yang sangat menginspirasi pak made andi, sejak lulus kuliah dan kini sdh 4 tahun bekerja saya bertekad berkeliling dunia untuk melihat keindahan ciptaan Tuhan di negara lain, walaupun byk yg bilang itu wasting money, tapi pengalaman ga bisa dinilai dari uang hehehe akhirnya saya sdh pernah ke jepang, china, qatar, malaysia untuk training dan biaya sendiri baru ke singapore bersama keluarga dan benar2 pergi dan urus sendiri pas ke sydney november kmrn (walau pas di sydney ada sahabat saya). tinggal mengejar s2 di luar negeri nya nih hehehe

  29. Tulisan bapak menyemangati saya kembali. 2011 selepas kuliah S1, yang saya lakukan sambil bekerja, saya berkeinginan menikmati waktu dengan jalan2. Ternyata hal itu sungguh menyenangkan, mencari tiket promo, liat tempat wisata yang murah meriah, hostel murmer, bertemu orang baru, makanan baru dll. tapi karena beberapa hal jalan2 saya terhenti. membaca tulisan ini jadi semangat lagi tuk menjelajah, n semangat cari beasiswa S2. doakan saya ya Pak. Smoga saya dapat menjelajah lagi sambil kuliah S2 dengan beasiswa 🙂

  30. Saya sudah menjelajah 27 negara untuk keperluan studi, konferensi, workshop, meneliti, menjadi dosen tamu, dan menjalin kerjasama.
    Salah satu hal yang saya dapatkan dari banyak hal yang saya pelajari adalah toleransi. Bagaimana saya bersikap toleran di saat saya berada di negara dengan kultur yang berbeda dengan kultur kita.

  31. Pak Made yang baik.

    Terima kasih atas tulisan yang sangat menginspirasi dan memotivasi.

    Alhamdulillah, saya telah mengunjungi 27 negara, untuk studi, konferensi, workshop, mengajar dan meneliti dalam rangka post-doc.

    Salah satu hal yang saya pelajari dan sekian banyak hal yang saya peroleh adalah belajar menerima perbedaan, karena setiap negara mempunyai kultur yang berbeda dengan negara kita. Perbedaan untuk menyatukan dan memperkuat, bukan untuk memecah.

    Kunjungan ini telah mengubah pandangan saya mengenai negara kita. Di satu sisi kita sungguh kaya dari sumberdaya alam dan manusia, tapi di sisi lain masih banyak kekurangan kita.

    Masih banyak yang harus diketahui generasi muda. Untuk itu mereka harus “ke luar” guna menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

    Salam dari Palembang,
    Arinafril

  32. Terima kasih Bli Andi atas tulisannya. Betul apa yang Bli katakan, semakin dalam kita menjelajahi negeri orang, semakin bersyukur pula atas apa yang kita miliki di Indonesia. Tanah air kita kaya, tapi sayang penduduknya banyak yang bermental miskin sehingga tidak bangga dengan keragaman budaya Nusantara. Semangat terus menulis Bli, mari membangun negeri!

    “Tuhan tidak merobah nasib suatu bangsa, sebelum bangsa itu merobah nasibnya” ~ Soekarno

  33. Hasrat untuk keluar negeri masih menggebu-gebu sampai saat ini, ditambah lagi dengan artikel penyemangat dari Pak Andi.

    Terima kasih sudah berbagi pengalaman pak Andi.

    Salam kenal 🙂

  34. Hasrat untuk keluar negeri masih menggebu-gebu sampai sekarang, ditambah lagi adanya penyemangat dari artikel ini.

    Terima kasih pak Andi untuk share pengalamannya.

    Salam kenal 🙂

  35. Selamanya mimpi akan tetap jadi mimpi jika kita tidak bergerak. Thanks a lot Pak Andi untuk sharingnya. Selanjutnya sya akan jdi pembaca setia blog Anda 🙂

  36. Setuju mas, saya jd inget pengalaman saya adv ke NZ, ber3 tanpa ada yg pernah kesana, tanpa guide, bermodalkan nyewa mobil campervan, dan keliling sendiri tak tentu arah..modalnya cuma peta gratisan yg diambil dr bandara. Bener2 pengalaman yg berharga mas. Makasih sharingnya.

  37. artikel menarik, inspiring story pak 🙂
    tapi saya pribadi memutuskan belum keluar negri selain maslaah biaya juga karna ada beberapa hal disini yangbelum terselesaikan, seperti study dan lainnya, tapi asap saya akan pergi keluar untuk menjelajah dunia, setidaknya pergi menginjakan kaki kebelelahan lain bumi walaupun hanya untuk satu atau dua malam saja :0

  38. isi artikel Pak Andi mirip dengan yang saya pikirkan 1 tahun yang lalu ketika belum bisa pergi ke luar negeri (sendiri). Sampai akhirnya sepanjang tahun 2014(januari-des), bisa menaklukkan 3 negara dan sendirian. Bersyukur sekali memiliki pengalaman untuk menengok ke luar nusantara ini meskipun dengan efek samping, kecanduan, hehehe. Namun di samping itu, setiap kembali ke Indonesia, pasti juga memberikan api untuk membangun negeri sendiri. Terima kasih sharingnya, Pak.

  39. Reblogged this on Ceeta's Weblog and commented:
    Pengingat, bahwa kamu memang harus keluar dari cangkangmu, dukungan mewujudka mimpimu keliling ASEAN. Cambuk bahwa kamu memang harus menabung, dan tabunganmu ga boleh diganggu gugat

  40. Salam pak. Saya juga dari Bali
    Tulisan ini benar benar menginspirasi pak. Seperti yang dikatakan guru saya “terlalu enak hidup di Bali, pergilah. Carilah pengalaman dan pengetahuan sebanyak banyaknya. Ketika kalian telah berhasil, jangan lupa kembali dan berbagi segala ilmu dan pengalaman yang kalian dapatkan untuk bangsa kita”

  41. Bli andi, this is really a Wow and inspiring writing. Saya udh keliling di beberapa negara benua Asia,Amerika,dan Eropa meskipun hanya sebagai cruise line staff. Sebisanya saya luangkan waktu untuk pergi menjelajah ketika ada waktu. Memang perlu revolusi mental buat kaum muda untuk bisa lepas dari zona nyaman dantahu betapa indahnya dunia luar. Tetap menginspirasi bli.

  42. Salam Pak, tulisan ini sangan menginspirasi dan membangkitkan semangat.. Memang makin banyak tempat yang kita jelajahi, makin banyak hal bisa didapat, bukannya tidak cinta Indonesia, justru kita mungkin bisa berbuat lebih banyak lagi buat Indonesia suatu hari dengan pengalaman dan ilmu yang kita dapat.

  43. Aeeh, mantap betul tulisannya. Keluar negeri gratis skrg jg udh banyak jalan. Intinya cuma mau berusaha atau ngga. Gitu kan ya. Aku juga merasakan, seberapa rasa penasaran terhadap negara org, dan seberapa besar kerinduan terhadap negeri sendiri saat berada jauh di negeri org. The more we go, the more i realized that i love indonesia. Hihi bener ngga tuh bahasa inggris ku. Salam dr nurulnoe.com 🙂

  44. Luar biasa, sangat menginspirasi. Saatnya anak muda Indonesia banjiri negara negara luar dengan segala talenta yang di miliki. Ambil sebanyak banyaknya ilmu dari negara negara maju untuk kemudian kembali bangun tanah air. Sukses untuk kita semua !
    Salam 🙂

  45. Reblogged this on Nova Pratiwi Indriyani's Blog and commented:
    Waktu awal-awal kuliah S1 di UGM saya punya keinginan buat pergi ke luar negeri, salah satu alesan utamanya yaitu buat liat SALJU!! Believe it or not, that was just a simple reason!
    Alhamdulillah keinginan itu udah kesampaian.. 😄
    Terkadang suatu mimpi yang besar, diawali dengan suatu alasan yang sederhana.

    Salah satu motto saya “dream big for simple little things” (NPI)

    How about you? 😊

  46. wow… mampu menyadarkan otak malasku,,,, okey,,, tahun ini minnimal ke luar pulau dulu

  47. Amazing !! Tulisannya keren sekali pak, superr untuk karya bapak dan semoga saya bisa menjdi penulis yang handal seperti anda 🙂

  48. Saya telah mengikuti sejak lama dan sangat menyukai artikel-artikel yang ada di blog Bapak, dan semakin tertarik setelah tadi siang saya mengikuti seminar dikampus saya yang diisi oleh Bapak. Terimakasih Pak Andi untuk waktu dan sharingnya yg sangat inspiratif dan memotivasi untuk mencapai cita-cita terbaik.

  49. Saya telah mengikuti dan sangat menyukai artikel-artikel yang ada di blog Bapak dan semakin tertarik setelah tadi siang mengikuti seminar di kampus Saya yang diisi oleh Bapak sebagai pembicara. Terimakasih Pak Andi untuk waktu dan sharingnya yang inspiratif dan memotivasi untuk dapat mencapai cita-cita terbaik.

  50. Sangat menginspirasi dan menguatkan Bli. Saya bersyukur dapat kesempatan backpacking ke Malaysia, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Tahun lalu bahkan sempat dapat beasiswa ke Jerman 3 bulan dan selama di sana sempat ke beberapa kota dan ke Praha. Betul bahwa kita tidak perlu kuatir dengan bahasa. Di Vietnam saat di terminal yang luar biasa chaos saya toh bisa menemukan kendaraan untuk mencapai hotel. Di Hanoi saat mau beli sandal jepit pun bisa kita pakai bahasa isyarat. Percayalah, ada banyak orang baik di sana yang melalui mereka kita bisa memperoleh informasi yang kita butuhkan. Penyertaan Tuhan selalu ada. Saat ini saya sudah rencana untuk pergi ke Myanmar tahun depan bersama suami. Melanglang buana itu memberi kita kesempatan untuk mencari teman, mendapat pengetahuan yang membuka wawasan, dan menyadari bahwa jauh di lubuk hati, Indonesia tetap menjadi kebanggaan!

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s