Ada Apa dengan Cinta?

Saat kamu persoalkan satu purnama, sejatinya kamu telah melemparku pada sepotong ingatan lama. Ingatan lama tentang cinta yang penuh misteri, tak kuasa diungkap lewat ujar ujar dan mantra. Cinta yang awalnya berwujud kegelisahan yang hadir tanpa permisi karena sekedar tatapan atau aroma yang asing nan memikat. Cinta yang mengejawantah dalam lagu, senda gurau dan senandung anak anak rantau yang sepi dalam keramaian. Cinta yang kadang hadir seperti terik matahari yang menikam tanpa ampun, menyisakan garis garis jejak cahaya di tubuh tubuh mungil tak berdosa. Cinta itukah yang juga kamu persoalkan selama ini?

Continue reading “Ada Apa dengan Cinta?”

Sepuluh Tips Jitu Pasti Lolos Beasiswa Luar Negeri

Saya menerima komentar atau email setiap hari terkait beasiswa luar negeri. Secara umum mereka bertanya tips untuk mendapatkan beasiswa luar negeri. Hasil dari berinteraksi dengan banyak orang itu, saya sudah punya sepuluh tips jitu yang menjamin Anda mendapatkan beasiswa luar negeri. Silakan disimak ya.

buku

  1. Anda tidak perlu pintar, tidak perlu IP tinggi, tidak perlu aktif organisasi, tidak perlu kreatif, karena basiswa luar negeri itu untuk orang orang biasa yang tidak istimewa. Semua pendaftar yang jumlahnya ribuan itu pasti diterima karena negara pemberi beasiswa tidak punya perhitungan strategis soal jumlah dana beasiswa yang mereka keluarkan. Jangan khawatir.
  2. Anda tidak perlu pintar berbahasa asing karena di luar negeri Anda akan menggunakan Bahasa Indonesia. Semua tugas makalah yang menumpuk, presentasi yang tiada henti dan pergaulan sehari hari menggunakan Bahasa Indonesia. Belanja di toko ikan juga menggunakan Bahasa Indonesia. Tidak perlu sibuk belajar Bahasa Inggris. Lebih baik Anda gunakan uang saku untuk beli HP baru, bukan kursus Bahasa Inggris, karena itu jauh lebih penting.
  3. Anda tidak perlu bisa menulis yang baik. Cukup tekun saja menulis di Twitter atau Facebook karena persyaratan essay untuk bisa diterima di perguruan tinggi luar negeri itu cukup 14O karakter saja kok. Tidak perlu belajar menulis yang komprehensif hingga ribuan kata dan mengartikulasikan dengan baik gagasan Anda tetang hal hal baru. Kadang cukup dengan hashtag #eaaa atau twit nyinyir, essay Anda akan diterima dan dianggap luar biasa.
  4. Anda tidak perlu mencari sendiri tentang jurusan dan universitas yang tepat karena informasi itu akan datang sendiri ke inbox Facebook Anda lengkap dengan persyaratan masuk dan rincian proses seleksi. Kadang kadang Anda cukup mention seseorang di twitter lalu tanya persyaratan masuk sebuah perguruan tinggi maka orang itu akan berbaik hati menunda pekerjaannya lalu begadang berjam jam untuk membantu Anda mengumpulkan informasi dengan membaca berlembar lembar petunjuk di website resmi sebuah perguruan tinggi di luar negeri. Tidak usah khawatir, pekerjaan dia memang seperti itu. Anda tinggal menikmati saja. Tidak usah repot repot.
  5. Ada tidak perlu belajar membuat CV yang bagus dan kreatif karena format CV bisa diperoleh dengan mudah di internet dan Anda tinggal tiru saja dengan mengganti nama. Petugas seleksi beasiswa tidak akan tahu kalau anda menyontek format dan model CV karena mereka tidak paham caranya menggunakan Google untuk mengecek keberadaan dokumen di internet. Anda juga tidak perlu berprestasi dalam hidup karena CV itu bisa dibuat buat seolah olah Anda berprestasi. Tidak akan ada yang tahu, tidak usah terlalu peduli.
  6. Tidak usah membeli buku untuk latihan TOEFL dan IELTS karena Bahasa Inggris Anda bisa tiba tiba bagus hanya dengan menghabiskan waktu bermain game online Berbahasa Inggris. Semua soal TOEFL dan IELTS nanti terkait dengan game online, tidak perlu belajar khusus. Listening dan Reading juga gampang. Tidak ada bacaan panjang yang perlu pemahaman komprehensif, semuanya seperti twit yang pendek pendek dan random.
  7. Beasiswa luar ngeri itu sama dengan uang gratis untuk Anda dan artinya Anda tidak akan perlu keluar uang. Jadi tidak usah menabung. Kursus TOEFL tidak perlu, biaya menerjemahkan dokumen tidak perlu, biaya transportasi untuk mengurus administrasi tidak perlu, pengiriman berkas juga tidak perlu biaya sama sekali. Sebaiknya gunakan uang untuk membeli pulsa karena tanpa itu Anda tidak bisa upload foto di Path. Tidak ada yang lebih penting dari itu.
  8. Jangan habiskan waktu membaca buku petunjuk beasiswa yang tebalnya puluhan atau ratusan halaman. Jika bingung tentang sesuatu, langsung saja email seseorang atau tanya di Twitter. Biarkan orang yang Anda tanya itu yang pusing membaca buku yang tebal itu dan sebentar kemudian dia akan berbaik hati meringkasnya untuk Anda dalam 14O karakter. Tentu saja orang itu akan melakukannya dengan senang hati karena dia pengangguran dan tidak punya kesibukan lain. Dia bahkan bersyukur mendapat kepercayaan Anda.
  9. Usahakan lebih percaya pada orang dibandingkan website atau buku informasi resmi. Jadi silakan ajukan pertanyaan kepada orang lain seperti “syarat TOEFL berapa”, “apakah ijazah perlu dilegalisir”, “formulir didapat di mana”, “berkas dikirim ke mana”, “dokumen yang dibutuhkan apa saja”. Website resmi pasti tidak memuat informasi seperti ini karena ini termasuk informasi rahasia yang tidak boleh ditulis di website resmi. Tanyakan kepada orang yang memiliki kemampuan seperti dukun.
  10. Percayalah pada informasi tentang beasiswa yang tertulis di blog atau di forum forum diskusi atau broadcast BBM karena informasi itu pasti benar. Anda tidak perlu melakukan verifikasi atau pengecekan dengan membaca website resmi atau menelpon ke penyelenggara beasiswa.

Selamat menerapkan sepuluh tips di atas dan saya jamin Anda akan mendapatkan beasiswa luar negeri besok sore. Percayalah.

Inspired by nothing

Kita sering sibuk mencari inspirasi untuk mulai berkarya, terutama jika karya itu terkait kreativitas seperti menulis. Tiadanya inspirasi sering menjadi alasan untuk tidak berkarya. Memang itu terjadi pada hampir semua orang. Agak berbeda dengan Bruno Mars, dia berkarya begitu baik nyaris tanpa inspirasi. Keinginannya utuk tidak melakukan apapun justru menjadi inspirasi bagi karya bagus. Ketidakmauannya melakukan apapun di suatu pagi justru menjadi tema central sebuah lagu berjudul “The Lazy Song” yang akhirnya meledak dan digandrungi. Betul rupanya kata Jonathan Trager di Serendipity, “the absence of sign is a sign” atau yang menurut Bruno Mars, ketidadaan inspirasi adalah inspirasi itu sendiri. Dia membuat karya yang bagus tentang kemalasan. Mungkin saya harus ralat, Bruno Mars tidaklah berkarya tanpa inspirasi tetapi ketiadaan inspirasi itu adalah inspirasi baginya. He can be inspired by nothing.

Tidak ada di Google

http://cosmicbuddha.com/

Suatu kali saya menyimak penuturan Rektor UGM, Prof. Pratikno tentang suatu hal. Beliau menceritakan tentang gagasan gagasan baru yang cemerlang. Suatu ketika beliau menyinggung tentang Google yang sering dijadikan rujukan untuk mengetahui keberadaan sesuatu. Saat memikirkan suatu gagasan, kita memang sering kali datang ke Google berharap menemukan gagasan yang mirip sehingga bisa dijadikan rujukan. Apa yang didirekam oleh mesin pencari raksasa Google memang kerap bermanfaat untuk menajamkan, menyempurnakan atau bahkan menjadi fodasi kuat bagi gagasan gagasan baru yang sedang kita masak untuk kemudian disajikan.

Continue reading “Tidak ada di Google”

Rahasia di Balik Gelar Doktor

image(13)
Perjalanan menuju doktor

Tentu saja ini bukan sebuah rahasia karena hal ini dialami oleh banyak orang bahkan mungkin dengan cara yang lebih heroik. Judul ini dipilih karena alasan iseng dan untuk membuatnya dramatis, tidak lebih tidak kurang. Cerita ini saya paparkan dalam bentuk potongan potongan informasi yang sebelumnya saya bagikan lewat Twitter. Selamat menikmati.

  1. Saya mulai tahun 2008 dengan Beasiswa Australian Leadership Awards (ALA) di @uow, di sebuah Kota kecil Wollongong, Australia.
  2. Saat mulai PhD, bulan ketiga saya sudah konferensi ke Norway. Kok cepet? Itu hasil penelitian saat S2 sebelumnya dan karena dekat dengan Supervisor. Supervisor S3 dan S2 saya sama.
  3. Untuk ke Norway, saya ngumpulin duit dari ALA, universitas dan supervisor. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia. Itu adalah kunjungan pertama ke Eropa yang bersejarah.
  4. Cerita ‘sedihnya’, saya ditinggal supervisor selama 8 bln justru saat menulis proposal PhD 😦 Dia sekolah S2 ke Canada. Betul, dia sudah S3 dan sekolah S2 lagi. Iseng banget!
  5. Saya menentukan arah sendiri saat nulis proposal S3 dengan bimbingan minimal. Komunikasi dengan Supervisor hanya email. Karena beda zona waktu maka jadi lebih heboh saat ngatur waktu.
  6. Ini tantangan lain PhD. Harus rela begadang jam 2-4 pagi demi komunikasi interaktif dengan Supervisor yang ada di belahan dunia lain.
  7. Karena merasa tertantang dan dukungan yang bagus dari supervisor saya justru bisa selesaikan beberapa paper untuk konferensi dan jurnal saat pisah sama Supervisor itu. Nulis bareng! 🙂
  8. Karena pisah sama supervisor, saya baru presentasi proposal PhD setelah setahun, tepatnya 23 Juli 2009. Agak lambat 😦
  9. Tantangan lain, tetap melayani bos/kolega dr Ina yang datang ke Aussie. Saya msh jadi ‘tuor guide’ di Sydney semalam sebelum presentasi proposal.
  10. Saya termasuk orang yang tidak bisa fokus hanya pada satu hal. Tetap kerja part time cuci piring di restoran Thailand 🙂 Ini sisi lain PhD.
  11. Kerja saya macam2: Cleaner, guru komputer, asisten peneliti, dosen, kartografer, student advisor, dll. Intinya: gak bisa diem.
  12. Dasarnya ‘banci urus’, saya aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia. Sempat jadi ketua PPIA di @uow, aktif di @PPIAustralia juga 🙂 Pernah menjadi pimpinan sidang umum PPIA dan menajadi campaign strategist untuk seorang calon Presiden PPIA.
  13. Selama PhD, saya kunjungi 5 benua untuk presentasi penelitian, sekitar 20 negara, 3 paspor, puluhan bandara disinggahi. Suka nulis, saya tetap ngeblog di madeandi.com, berbagi hal penting dan gak penting. Nulis itu mengusir galau yang mujarab.
  14. Prinsipnya: tidak harus nunggu hebat dulu untuk berbagi. Tidak harus kaya dulu untuk nolong orang. Berbagi tak pernah rugi.
  15. Saya tetap ngasih kuliah kalau pulang ke Indonesia, setiap liburan selalu ngasih kuliah umum, tidak saja di UGM, ngasih kuliah online juga dr Aussie ke Ina. Cerita saya memberi Kuliah online ke Papua bahkan sempat dibaca Pak SBY.
  16. Saya nulis lebih dari 30 artikel di @jakpost selama sekolah PhD, belasan tulisan di media lain, ratusan blog post, media online dll.
  17. Selama PhD terbit 5 buku: #BeyondBorders #WollongongMenyapa #CincinMerah #GuruKangguru #KelilingDunia. Ini alasan ‘keren’ kenapa sekolah lama 🙂
  18. Pernah juga dapat kesempatan berlayar 4 Minggu di Samudera Hindia, pemetaan landas kontinen. Ini yang kemudian jadi buku #CincinMerah.
  19. Pernah sakit cacar saat jadi ketua PPIA @uow padahal ada proyek besar peringatan batik dunia 😦 Saat itu, muka compang camping mengenaskan.
  20. Selain perayaan batik dunia, saat cacar itu harus ikut lomba ke Paris. Syukurlah juara umum 🙂 kerja keras berbuah manis. Ceritanya ada di buku #KelilingDunia.
  21. Masa masa berat, @KtutAsti dan Lita harus pulang duluan ke Ina. Sendirian menjalani perjuangan berat. Rasanya aneh setelah hampir tiga tahun bersama sangat akrab 😦
  22. Hidup sendirian ada positifnya. Lebih mandiri, lebih banyak waktu untuk sosialisasi dan networking. Lebih akrab sama sesama PhD students. Jadi sering lembur di kampus dan jalan bareng.
  23. Saya termasuk yang kurang disiplin, mudah tergoda berbagai kesempatan. Sering ikut lomba, nulis blog atau koran, jadi panitia ini itu, jalan2 dll.
  24. Progres PhD tidak selalu bagus. Pernah mengalami kemalasan amat sangat. Untunglah pelariannya ngeblog/ngetwit. Meski galau tetap berbagi.
  25. Akhirnya sampai waktu habis belum selesai tesisnya, diampuni, dikasih bebas SPP untuk selesaikan tesis. Ini jangan sampai ditiru oleh siapapun.
  26. Saya terbantu karena sangat kompak dengan Supervisor. Salah satunya karena gak tanggung2 bantu dia meski gak ada kaitannya dengan riset saya.
  27. Saya berhasil membina hubungan baik dengan supervisor, lebih dari sekedar hubungan akademik. Ada chemistry. Jangan salah, dia cowok kok 🙂
  28. Di saat kritis soal kemajuan riset, supervisor yang pasang badan 🙂 Ketika mau urus bebas SPP, dia yang berjuang mati matian. Ini ada buruknya, saya jadi selalu merasa dibela dan bisa tetap malas.
  29. Pelajaran moral: semua orang bisa jatuh. Yang membedakan, siapa yang menyerah siapa yang tidak. Saya selamat karena dikelilingi orang orang baik.
  30. Di akhir masa PhD, @KtutAsti dapat beasiswa s2 di @unsw, Sydney. Good news tapi saya juga jadi ribet karena harus pindah kota tinggalnya. Wollongong itu 1,5 jam dari Sydney dengan kereta.
  31. Positifnya, suka duka ditanggung bareng tapi tingkat stress Asti juga berpengaruh ke saya 🙂 Tapi hidup harus jalan terus meski terseok seok.
  32. Terjadi penyesuaian dalam aktivitas, saya tinggal di Sydney tapi kampus di Wollongong. Cukup repot padahal perlu fokus di saat saat akhir.
  33. Tapi kebersamaan itu tiada duanya. Meskipun repot, beban dipikul berdua pasti lebih ringan. Akhirnya semua baik2 saja, berjalan seperti seharusnya.
  34. Di akhir masa studi, saya memutuskan tidur di kampus berbekal sleeping bag. Tidur di lantai yang dingin, mandi di kampus.
  35. Kenapa tidur di kampus? Sydney-Wollongong cukup jauh, deadline mengancam. Tiket pesawat pulang sdh dikasih. Ngeri kalau sampai nggak tamat 😦
  36. Malam malam sendirian di kampus berdinding kaca yang dingin, ada perasaan was was tapi ketakutan akan gagal mengalahkan semuanya.
  37. Motivasi lain, saya terlanjur sering berbagai kisah kisah heroik selama ini kepada pejuang beasiswa, malu kan kalau sampai gak lulus 😦
  38. Ini adalah alasan lain sering berbagi. Tanpa sengaja saya membuat ‘perangkap’ sendiri untuk ‘terpaksa’ berjuang keras agar terhindar dari malu yang amat sangat.
  39. Jadi kalau teman teman lihat saya ‘rajin’ berbagi, itu juga dalam rangka mengingatkan diri sendiri dan sebagai ‘pelarian’ positif 🙂
  40. Rajin ngeblog itu, bagi saya, tidak selalu berarti kerjaan utama sdh beres. Ngeblog bg saya bs jadi = ngerokok bagi perokok.
  41. Seperti saya yang tidak bisa paham kenapa orang ketagihan rokok, banyak yang mungkin gak ngerti kalau saya bilang nulis itu candu.
  42. Karena saya aktif organisasi, tiap Presiden @SBYudhoyono datang, selalu diminta oleh Kedutaan atau Konjen menemani team preseiden dan menteri. Ini pengalaman istimewa.
  43. Tidak semua mahasiswa Ina di LN sempat ketemu presiden dan menteri. Bukan soal ketemu menterinya tapi soal membangun network dan mendekatkan ilmu pada kebijakan. Ini penting!
  44. Belakangan saya temukan, perjalanan PhD layak diceritakan karena ‘hal hal lain’ di luar akademik. Itu yang justru memperkaya.
  45. Saya pernah bisa selamat dari pembatalan keberangkatan ke Vietnam untuk konferensi karena kenal baik sama orang Konjen Sydney. ceritanya ada di buku #KelilingDunia
  46. Saya pernah bicara 4 mata dengan Presiden Somalia karena keberhasilan menjaga hubungan baik dengan teman2 di UN selama sekolah.
  47. Bagi saya perjalanan PhD adalah masa masa istimewa saat belajar tentang hidup sebanyak banyaknya. Tak salah jika namanya “Philosophy Doctor”.
  48. Maka menurut saya, rugilah mereka yang perjalanan PhDnya hanya untuk menambah 3 huruf di belakang namanya. PhD sungguh lebih dari itu, jangan sia siakan.
  49. Yang pasti, PhD itu membuat paham betapa banyaknya yang tidak saya pahami. Jadi agak tahu apa yang tidak diketahui sebelumnya.
  50. PhD adalah sebuah perjalanan kolektif. Dukungan istri, pengertian anak, doa orang tua dan permakluman teman jadi kunci keberhasilan.
  51. Saya beruntung punya istri yang begitu mendukung, anak yang rela ditinggal dan menjadikan Skype sebagai alat perekat cinta.
  52. Saya beruntung punya orang tua yang sehat fisik dan ekonomi sehingga perjalanan PhD saya tidak diganggu urusan kesehatan dan finansial. Saya tahu banyak yang perjalanan studinya berat karena urusan ekonomi itu.
  53. Saya beruntung punya mertua dan ipar yang rela mengambil alih tanggung jawab saya merawat anak selama menjalani PhD. Jasa mereka tidak akan pernah terbayar.
  54. Saya beruntung punya kolega di @UGMYogyakarta dan @geodesiugm yang membiarkan saya bertumbuh meski harus jauh dari kantor demi PhD.
  55. Fokus pada PhD bisa membuat peran dan kehadiran kita dilupakan khalayak. Maka dari itu saya tetap menulis agar nama saya tetap beredar sehingga saat selesai PhD nanti tidak mulai dr nol.
  56. PhD adalah perjuangan. Maka jika ada mahasiswa saya yang diminta revisi skripsi/tesis langsung keder, saya senyum saja. They have no idea 🙂
  57. Perjalanan selama PhD juga memberi kesempatan berkiprah di tingkat dunia sambil mengakar kuat pada basis nilai nilai lokal.
  58. PhD harus membuat kita, atau setidaknya wawasan kita, melanglang buana. Buatlah peta pertemanan atau lokasi kunjungan dan saksikanlah seberapa luas jaringan kita
  59. Yang paling penting, PhD semestinya membuat peraihnya mampu berpikir besar tetapi tetap bertindak lokal dan mulai sekarang. Think Big, Act Small, Start Now!
  60. Benar kata Malcolm Forbes, pendidikan itu memang untuk mengganti kepala yang kosong dengan kepala yang terbuka. Demikianlah bagi saya perjalanan meraih PhD itu. Terima kasih 🙂

Makrab

Makrab di Pantai Drini dengan @Geodeleven @Geodesiugm

Saya pernah ikut makrab, malam keakraban, dengan sekelompok mahasiswa di Teknik Geodesi UGM. Terasa istimewa karena itu bukan hal yang biasa dilakukan dosen dosen di tempat kami bekerja. Saya menikmati suara ombak yang menjadi latar suasana malam itu. Kawan kawan mahasiswa menyiapkan sebuah acara malam yang memikat. Api unggun di tengah menghangatkan suasana dan celoteh anak anak muda tanpa henti melambungkan ingatan saya ke beberapa belas tahun silam saat menjadi mahasiswa. Kini hadir di tengah tengah mereka sebagai dosen, ada rasa yang berbeda. Ada pemahaman baru saat melihat anak anak muda itu bercengkrama, bergurau dan saling cela satu sama lain dengan akrabnya. Yang penting, ada makna  baru yang tidak bisa didapatkan dengan tatap muka di ruang kelas.

Continue reading “Makrab”

Jas dan angkot

Genjo turun dari Damri yang mengantarnya dari Bandara Soekarno Hatta ke Bogor. Di terminal Damri Bogor dia mencoba mencari tahu lokasi hotel tempatnya menginap nanti. Alternatif transportasinya banyak. Pertama, Genjo bisa jalan kaki tetapi sepertinya cukup jauh dan memerlukan waktu lama. Bogor tak sedingin yang diduganya sehingga berjalan kaki begitu jauh bisa melelahkan juga. Kedua, Genjo bisa naik taxi. Tentu tidak ada masalah karena ada cukup uang untuk membayar taxi dan itu sudah dianggarkan. Alternatif ketiga, Genjo bisa naik angkot 06 yang turun tepat di depan hotel. Saat itu Genjo mengenakan jas rapi karena akan menghadiri sebuah pertemuan dengan kementerian tertentu. Genjo hadir mewakili pejabat tinggi di universitasnya. Ada pertanyaan kecil terbersit di pikiran Genjo “wajarkah saya, dengan penampilan seperti ini saat mewakili sebuah universitas besar di negeri ini untuk bertemu dengan pejabat di sebuah kementerian mentereng di Republik Indonesia, datang dengan naik angkot?”

Continue reading “Jas dan angkot”

Memahami arah Qiblat dengan Geodesi

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi sahabat Muslim. Saya persembahkan sebuah video yang menjelaskan pemahaman saya
terhadap qiblat dari sudut pandang Geodesi. Selamat menyimak 🙂

Sekuntum mawar, tanpa alasan

Seorang perempuan muda yang menjajakan mawar di perempatan depan Gramedia Jalan Solo, Jogja mungkin tidak menduga saya akan membeli sekuntum mawar yang ditawarkannya dengan ragu sore tadi. Saya buka jendela dan dia mendekat ragu. “Berapa satu tangkai?” tanya saya dan dijawabnya semangat “sepuluh ribu Bapak”. Meluncur selembar berwarna merah ungu dan bertukar menjadi setangkai mawar merah.

Untuk apa saya membeli bunga mawar? Untuk Asti yang menunggu di rumah. Untuk Lita yang kadang sudah tertidur pulas saat saya membuka pintu depan rumah. Mengapa hari ini? Apa istimewanya? Tidak selalu butuh hari istimewa untuk membeli sekuntum mawar. Saya membelinya tanpa alasan karena demikianlah cinta: tanpa alasan.

Sahabat terbaik

Sahabat pembaca blog yang budiman,

Sebelumnya saya tidak pernah menyatakan dengan terang-terangan bahwa saya mengistimewakan seorang sahabat lebih dari sahabat lainnya. Saya lama meyakini bahwa sahabat seharusnya kita perlakukan sama. Namun seiring berjalannya waktu, saya tidak bisa memungkiri bahwa saya memiliki seorang sahabat istimewa. Lebih istimewa dari lainnya. Kami mungkin memang tidak seperti sahabat karib karena tidak begitu sering menyapa di media sosial tetapi saya telah menghabiskan banyak sekali waktu untuk memerhatikan sahabat saya ini. Kami tidak sering bertegur sapa di wall ataupun lewat inbox FB tetapi saya sesungguhnya memerhatikannya. Selalu saya ikuti gerak-geriknya di media sosial itu.

Mengawali April tahun ini, saat kejujuran harusnya diutamakan, saya ingin menceritakannya pada pembaca semua. Dia adalah sahabat terbaik saya. Biarlah semua pembaca dan dunia tahu, saya tidak perlu menutupinya lagi. Semoga sahabat saya ini merasakannya meskipun tidak pernah saya ungkapkan secara langsung kepadanya. Setiaknya, sejak hari ini, 1 April 2014, kekaguman saya terhadapnya bukan rahasia lagi. Silakan kunjungi  sahabat saya di sini. Tolong sampaikan padanya betapa istimewanya dia bagi saya.

Salam,
Andi