New York 2012: Perjalanan

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

Tanggal 9 Desember 2012 adalah hari H saya harus terbang ke New York. Membayangkan saja rasanya sudah lelah karena penerbangannya sangatlah panjang. Waktu temput sekitar 22 jam dari Sydney ke New York City dengan sekali transit gi Los Angeles. Dengan perbedaan waktu 16 jam, bisa dibayangkan dramatisnya jet lag yang akan dialami.

Jam 9.20 saya sudah melaju dari North Wollongong Station menuju Sydney International Airport dengan kereta api. Mas Handoko, flat mate baru, mengantar dengan si biru, mobil yang begitu setia menemani sejak tahun lalu. Perjalanan lancar jaya sampai di Bandara. Tanpa menunggu lama, saya langsung check in di Delta Airlines untuk penerbangan jam 14.40. Hanya ada satu isu kecil, paspor saya tidak memuat visa Australia karena visa-nya elektronik. Petugas counter menanyakan hanya untuk memastikan. Dia berbaik hati menanyakan itu agar saya tidak mendapat masalah ketika pulang dari Amerika dan masuk Australia lagi minggu depan. Sayapun memastikan bahwa saya memiliki visa Australia dengan menunjukkan visa elektronik lewat email yang bisa diakses lewat iPhone. Pelajaran moral dari cerita ini: meskipun visa elektronik, ada baiknya tetap dicetak sehingga bisa ditunjukkan dengan mudah saat diperlukan.

Sebelum berangkat saya sempatkan menghubungi Asti dan Lita di Jogja dengan Skype lewat iPad, pamitan terakhir. Sempat juga mengirim beberapa email kepada orang-orang penting untuk memberitahukan kepergian saya atau sekedar berpamitan. Saya sudah membayangkan, kehangatan Australia sebentar lagi berganti New York yang menggigil di musim dingin. I miss downunder already even before I depart.

Jam 14.40, saya sudah melaju dengan Delta Air. Saya duduk di dekat jendela, di samping saya seorang lelaki berkebangsaan Australia dan di sampingnya lagi seorang perempuan yang saya tidak tahu asal usulnya. Lelaki di sebelah saya bekerja di sebuah perusahaan perancang mesin poker dan rupanya sering ke Las Vegas untuk pekerjaannya itu. “For work, unfortunately!” katanya ketika saya bertanya kepentingan dia ke Las Vegas. Mendengar kata Las Vegas, tentu saja yang terbayang pertama kali adalah bersenang-senang dan berlibur. Rupanya tidak demikian dengan lelaki ini.

Karea sebelumnya lebih sering begadang, sayapun tertidur sempurna hanya beberapa menit setelah pesawat tinggal landas. Beberapa jam pertama saya tidak menikmati hiburan sama sekali, tidak juga membaca buku atau menulis. Ini agak berbeda dengan perjalanan-perjalanan lain yang biasanya saya habiskan dengan nonton film atau menulis cerita perjalanan. Saya mengandalkan rekaman twitter atau catatan kecil di iPhone atau foto yang diambil secara acak jika nanti harus membua cerita perjalanan yang lebih panjang.

Perjalanan dari Sydney ke LA ditempuh sekitar 14 jam, sebuah perjalanan yang sanga lama dan panjang. Jarak tempuh sekitar 12.000 kilometer atau 7000an mil. Saya yang duduk di dekat jendela tentu saja harus meminimalkan acara keluar dari tempat duduk sehingga tidak terlalu banyak mengganggu penumpang di sebelah saya. Akan lebih rumit lagi karena mereka sedang tidur. Strateginya adalah meminimalkan asupan makanan dan minuman sehingga tidak perlu sering ke kamar mandi. Strategi ini mungkin tidak begitu sehat tetapi saya selalau merasa ini membantu menjaga kenyamanan teman duduk saya di sebelah. Alhasil, saya sama sekali tidak beranjak dari tempat duduk selama 14 jam itu. Sebuah prestasi yang layak dihargai oleh teman di sebelah saya.

Selama perjalanan, tentu saja saya juga akhirnya menonton film yaitu Abraham Lincoln, the Vampire Hunter. Filmnya menarik karena menggunakan konteks sejarah kepresidenan Amerika yang tersohor saat periode Abraham Lincoln. Kisahnya yang dimodifikasi dengan sentuhan mistis seperti vampire membuatnya menarik. Melihat film itu membuat saya terbayang kunjungan ke Washington 5 tahun lalu saat menyaksikan patung Abraham Lincoln yang terkenal itu. Di depannya berdiri gagah tugu Amerika yang terkenal itu. Tata rias wajah yang cemerlang membuat karakter Lincoln bisa nampak dengan sangat baik pada actor yang memerenkannya di film yang saya tonton.

Selain menonton saya juga membaca buku yaitu Chairul Tanjung (CT) si Anak Singkong yang sempat saya beli saat pulang ke tanah air beberapa bulan lalu. Buku ini berisi kisah-kisah perjalanan hidup CT dalam meraih sukses sebagai salah satu pengusaha berhasil di Indonesia. Lepas dari gaya penulisannya yang sebenarnya bukan merupakan favorit saya, buku ini menarik dibaca oleh para anak muda, terutama mahasiswa, untuk meningkatkan naluri wirausaha. Buku ini dengan lugas membahas bagaiaman CT dengan cerdas menemukan peluang-peluan usaha sejak usaha belia. Bahasanya yang sederhana membuatnya mudah dibaca, meskipun itu mengurangi dramatisasi yang mungkin diinginan oleh sebagian pembaca lainnya.

Jam 9.30 pagi saya tiba di Los Angeles. Menariknya, saya tiba di hari yang sama tanggal 9 Desember 2012 yang artinya saya kini menjadi lebih muda. Berangkat jam 14.40 dari Australia dan tiba jam 9.30 pagi waktu yang sama jadi saya lebih muda sekitar administratif lima jam meskipun tidak demikian halnya secara biologis.

Waktu saya tidak banyak ketika transit di LA. Karena merupakan negara bagian pertama yang saya singgahi di Amerika maka proses imigrasi berlangsung di LA. Saya harus mengambil bagasi lalu menjalani proses imigrasi dan secara resmi memasuki Amerika. Prosesnya tidak rumit tetapi cukup panjang karena begitu banyak orang yang datang ke Amerika saat itu. Sebelum turun dari pesawat saya sudah mengisi formulir kedatangan untuk kepentingan imigrasi, termasuk mendeklarasikan apa yang saya bawa. Untuk mendapat pemeriksaan, saya harus mengantri di barisan sangat panjang. Hari itu juga ada rombongan siswa dari Australia yang melaksanakan tour ke Las Vegas sehingga suasana jadi riuh rendah. Saya lihat jam, waktu semakin mepet dengan penerbangan berikutnya. Saya bertanya-tanya bagaimana proses transfer akan dilakukan dengan antrian panjangg seperti ini.

Anyone flying before 12 today?” tiba-tiba saya mendengar seorang perempuan berteriak. Saya lamngsung mengacungkan tangan dan diapun meminta saya keluar dari antrian karena akan diproses lebih cepat. Sayapun tidak perlu mengantri dan segera melalui proses imigrasi. Karena memang mendesak waktunya, sayapun dip roses di loket untuk warga negara Amerika. Beberapa petugas di sekitar situ terlihat ramah, jauh lebih bersahabat dibandingkan saya ke New York lima tahun lalu saat diinterogasi di Bandara Minneapolis. Seorang lelaki bahkan guyon ketika melihat saya membaca sesuatu di ipad. “Is it ipad 2 or the new one?” katanya bertanya. Dia bahkan bertanya lagi “are you getting the new one, or iPad mini” dan saya jawab dengan tersenyum “no, I am good with this.” Percakapan sederhana itu menghadirkan suasana akrab dan membuat penumpang tidak begitu tertekan menghadapi proses imigrasi yang panjang.

Sayapun melewati seorang petugas dan setelah ditanya beberapa hal, saya sudah melenggang meninggalkan petugas menuju tempat pengambilan barang. Kopor saya ternyata sudah turun dari conveyer belt dan siap ditarik masuk pesawat berikutnya. Semua lancar, semua mudah. Saya sempatkan untuk ngetwit dengan wifi yang tersedia gratis di Bandara Los Angeles. Pagi di Los Angeles berarti malam di tanah air, Australia dan sekitarnya. Beberapa kawan masih sempat membalas dan memberi dukungan terhadap perjalanan saya.

Sesaat kemudian saya sudah kembali duduk di sebuah kursi pesawat Delta Air yang kini berukuran lebih kecil. Saya diapin dua perempuan, keduanya orang New York. Keduanya rupanya sering bepergian di sekitar Amerika untuk kepentingan bekerja. Saya sempat bicara banya dengan yang duduk di sebelah kiri karena rupanya lebih terbuka untuk bicara berbagai hal. Saya tanyakan perihal Gubernur Arnold Swazeneger yang sempat memimpin California selama dua periode karena dia pernah tinggal di California. Dia mengatakan, “Arnold was not bad” melihat latar belakang politiknya yang tidak terlalu kuat. Kami juga sempat berbicara tentang politik Amerika, tentang Obama, tentang banana alam, tentang perjalanannya yang sudah ke beberapa negara Asia dan sebagainya. Sangat menyenangkan dan menambah banyak wawasan. Dia adalah seorang konsultan.
Yang menarik, perjalanan dari LA ke New York saya tempuh dengan memanfaatkan fasilitas internet yang disediakan maskapai. Saya harus membayar USD 20 untuk bisa online selama tiga jam. Meski agak mahal, rasanya sangat layak. Bisa tetap berinteraksi dengan teman-teman di dunia maya saat ada di udara, menghadirkan kepuasan tersendiri. Menyenangkan bisa menyapa orang dengan menulis “greeting from up in the air”.

Kombinasi antara ngobrol, twitteran, tidur, nonton film dan membaca membuat perjalanan terasa cepat. Tanpa terasa saya sudah tiba di Bandara JFK di New York dan kini siap-siap melaju menuju penginapan. Saya lalu menuju tempat mangkal taxi setelah mengambil barang bawaan yang hanya berupa satu kopor yang tidak terlalu besar. Saya termasuk orang yang tidak suka membawa banyak barang ketika bepergian. Setelah antri beberapa lama, sayapun mendapatkan taxi yang sopirnya orang Pakistan. Dengan sigap dia membawa saya ke Middle Village di Queens tempat saya akan menginap selama di New York. Hari telah gelap dan dingin mulai menyerang. Saya mengenakan jaket tebal sejak keluar dari bandara tadi. Selain dingin, hujan cukup deras dan suasana berkabut. Benar-benar bukan sambutan terbaik oleh New York untuk seorang saya yang kembali lima tahun setelah menginjakkan kaki di New York pertama kali.

New York 2012: The US Visa

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

The US Visa
The US Visa

Menjadi orang Indonesia itu sangat menarik. Salah satu yang membuatnya menarik adalah ketika harus melakukan perjalanan ke luar negeri. Perjalanan ini selalu dilengkapi cerita seru karena harus mengurus visa. Indonesia bisa ke luar negeri tanpa visa hanya jika ke sembilan negara ASEAN. Selain itu, semua memerlukan visa. Maka dari itu, selalu ada cerita menarik yang mungkin tidak dialami oleh orang-orang dari negara lain, terutama yang lebih maju. Supervisor saya yang orang Inggris bahkan tidak punya pengalaman mengurus visa Amerika dan Eropa, misalnya. Kasihan sekali dia. Itulah sebabnya saya katakan menjadi orang Indonesia itu sangat menarik. Kita orang-orang yang gesit dan cerdas, bisa mengurus sesuatu yang orang lain bahkan tidak pernah pikirkan.

Continue reading “New York 2012: The US Visa”

New York 2012: The invitation

Note: Cerita ini adalah bagian dari New York 2012

The Invitation
The Invitation

Suatu malam saya sedang chatting dengan Dr. Francois Bailet, seorang pejabat di United Nations Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea (UN DOALOS) di New York. Percakapan kami berlangsung lewat Facebook dalam suasana yang santai. Sejak mengikuti program UN-Nippon Foundation Fellowship pada tahun 2007 silam, saya memang cukup akrab dengan Francois yang tidak lain adalah coordinator program tersebut. Lewat program itu, saya bersama sembilan orang lainnya dari seluruh dunia mendapat kesempatan melakukan penelitian di Wollongong, Australia dan New York, Amerika Serikat selama total Sembilan bulan. Sebuah pengalaman yang berharga.

Percakapan santai saya malam itu dengan Francois adalah satu dari sekian banyak. Saya memang pernah terpilih untuk menjadi representatif (presiden) alumni UN-Nippon Foundation Fellowship tahun 2008-2009 sehingga harus berinteraksi dengan Francois secara dekat. Tugas saya sebagai presiden adalah mengordinasi berbagai kegiatan alumni sebagai tindak lanjut dari program fellowship yang sudah kami jalani. Intinya, United Nations dan Nippon Foundation menginginkan para alumni tetap aktif dan idealisme tidak berhenti ketika kegiatan penelitian Sembilan bulan itu berakhir. Salah satu tugas saya sebagai representatif adalah memastikan penerbitan newsletter secara berkala. Selain itu, saya juga terlibat dalam megatur pertemuan alumni seperti yang dilakukan di Tokyo, Jepang tahun 2009.

Di sela percakapan malam itu, tiba-tiba Francois bertanya apakah saya siap diminta datang ke New York pada bulan Desember 2012. Tanpa berpikir panjang, tentu saja saya megiyakan dengan senang hati. Ada rasa gembira karena akan mendapat kesempatan kembali lagi ke New York setelah lima tahun meninggalkan kota itu. Undangan ke New York ini adalah dalam rangka pertemuan alumni dalam rangka memperingati ulang tahun United Nations Conventions on the Law of the Sea (UNCLOS) yang ke-30. Tahun 1982 silam, konvensi yang sangat penting itu berhasil disepakati di Montego Bay, Jamaica dan kini sudah diratifikasi (diakui) oleh 164 negara dan 1 Uni Eropa. Indonesia melalui Prof. Mochtar Kusumaatmaja dan Prof. Hasjim Djalal berperan cukup besar dalam negosiasi UNCLOS ketika itu.

Saya membayangkan, bisa mengikuti perayaan ulang tahun UNCLOS ke-30 di Gedung PBB New York tentu saja bukan kesempatan biasa. Saya harus memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Beberapa hari kemudian, sebuah surat resmi berlogo United Nations masuk ke email saya. Saya telah mendapatkan undangan resmi dari PBB. Undangan ini adalah sebagai alumni UN-Nippon Foundation Fellowship, terutama sebagai mantan representatif alumni yang dianggap masih aktif hingga saat ini. Saya memang diberi peran yang cukup besar dalam membangun dan memelihara jejaring alumni. Sayalah yang membangun dan memelihara website resmi alumni http://www.unfalumni.org sebagai wadah interaksi dan ekspresi alumni dari berbagai penjuru dunia. Dengan peran itu, saya diberi satu predikat dalam pertemuan di New York nanti sebagai Network Component Manager.

Rasanya masih belum percaya ketika saya menerima sebuah surat berlogo United Nations tertanggal 7 November 2012 dan ditandatangani langsung oleh Mr. Serguei Tarassenko, Direktur Division for Ocean Affairs and the Law of the Sea, Office of Legal Affairs. Percaya tidak percaya, undagan itu sudah di tangan dan saya harus segera mengurus keberangkatan.

New York 2012

Saya menutup tahun 2012 ini dengan sebuah perjalanan ke New York. Saya diundang oleh United Nations (PBB) sebagai alumni UN-Nippon Foundation Fellowship untuk menghadiri pertemuan alumni dan perayaan 30 tahun Konvensi PBB tentang Hukum Laut atau UNCLOS. Sebuah kesempatan istimewa tentunya.

Saya akan ceritaan di posting berbeda tentang undangan yang saya terima lalu proses aplikasi visa yang cukup seru. Saya juga kisahkan perjalanan saya yang mencapai lebih dari 20 jam penerbangan dari Sydney ke New York. Saya tinggal di Queens, New York, di tempat yang sama dengan yang saya tinggali lima tahun lalu ketika saya menjalani program UN-Nippon Foundation Fellowship. New York masih sama, hingar bingar dan bergairah. Masih terbayang saya menyusuri Eliot Avenue di Queens liam tahun lalu dan kini saya melakukannya lagi.

Agenda utama adalah mengikuti Sidang Umum PBB memperingati ulang tahun UNCLOS ke-30 dan pertemuan alumni. Kedua acara itu memberi saya pengalaman berharga salama di New York selain karena memberi pengetahuan juga memberi kesempatan berjejaring dengan para intelektual dunia di bidang kelautan dan hukum laut. Selain acara serius, tentu saja saya menikmati hingar bingar Manhattan dan romantisnya musim dingin yang bernuansa natal. Hidup di Manhattan memang mirip dengan menjadi tokoh dalam film Hollywood. Saya juga mencatat pelajaran-pelajarn kecil yang tercecer di sepanjang perjalanan. Selamat menikmati kisah saya.

Surat dari New York

sekjen

Aku ingin mengajakmu serta, menyusuri Eliot Avenue yang dipagari pepohonan meranggas yang menggigil karena dingin. Lalu kita hangatkan beku dengan bersenda gurau sambil memandangi bajing yang bertengger di ranting dan dahan tak berdaun karena tirani musim dingin yang kejam. Aku ingin mengajakmu serta.

Continue reading “Surat dari New York”

Setelah shortlisted Beasiswa ADS, what’s next?

Taken from http://australiaawardsindo.or.id/

Beberapa hari terakhir ada banyak kawan yang menyampaikan berita baik bahwa mereka lulus seleksi administrasi Beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Katanya, ada yang sudah mendapat surat dari ADS, ada juga yang menelopon langsung ke kantor ADS di Jakarta. Sebagian lagi mendapatkan informasi dari institusi mereka karena lembaganya masuk kategori Key Agencies atau targeted areas. Mereka menyebutnya masuk shortlist alias daftar pendek. Ada juga yang mengatakan “saya termasuk yang shortlisted”. Saya bisa merasakan kebahagian dalam berita itu. Meski demikian, ada juga yang belum beruntung tahun ini.

Dalam suatu percobaan memang selalu ada dua kemungkinan: berhasil atau belum berhasil. Saya tidak akan berpura-pura bijaksana menasihati mereka yang tidak lulus. Jika mereka memang serius dan berharap ketika mendaftar, wajar jika kecewa. Maka saya memaklumi mereka yang sedih tetapi dengan sungguh-sungguh ingin menyampaikan bahwa dunia belum berakhir. Saya memiliki banyak sekali cerita kegagalan. Asti, isteri saya, juga mencoba tiga kali sampai akhirnya mendapat kesempatan. Dalam bahasa sederhana, izinkan saya menyampaikan satu kalimat klasik “jangan menyerah.”

Kepada yang berhasil melewati tahap pertama, saya sampaikan selamat dan turut berdoa demi kesuksesan perjuangan selanjutnya. Meminjam istilah Chairil Anwar, kerja belum selesai, belum apa-apa. Sejatinya, jalan masih panjang dan tidak ada yang bisa menjamin Anda akan lolos hingga tahap akhir. Meski demikian, kita juga percaya bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa memastikan Anda tidak akan diterima. Kita yakin, nasib akan berpihak pada para pejuang yang berani. Mari kita siapkan diri, mari berjuang dengan berani menyelesaikan penggal terakhir yang pastinya tidak mudah ini.

Dari 800 orang kandidat yang shortlisted, hanya sekitar 400 orang yang berhak mendapatkan beasiswa ADS tahun 2013/2014 karena jatahnya memang sejumlah itu. Untuk menghibur diri, silakan berpikir bahwa peluangnya adalah sekitar 50%, sebuah peluang yang tinggi. Agar terdengar lebih menyenangkan, silakan berpikir bahwa satu dari setiap dua kandidat akan menerima beasiswa ADS. Atau agar lebih mudah lagi, silakan berpikir bahwa Anda hanya perlu mencari pasangan sesama kandidat yang lebih rendah kemampuannya dari Anda dan jika dia tidak lolos maka Anda akan lolos karena peluangnya 50%. Cukup mudah rasanya mendapatkan ADS bukan?

Tunggu dulu. Dari 800 orang itu, akan ada 400an orang yang tidak diterima. Anda tentu tidak ingin ada dalam kelompok itu bukan? Maka dari itu tugas Anda adalah keluar dari kelompok 400 yang tidak lolos itu. Artinya, untuk bisa mendapatkan beasiswa ADS Anda wajib lebih baik dari setidaknya 400 orang. Ini tidak bisa ditawar. Dengan perspektif seperti ini Anda akan bisa menempatan perjuangan ini dalam konteks yang lebih tepat. Satu lagi, beasiswa ADS adalah misteri Ilahi. Jika Anda percaya keberuntungan, sebaiknya percaya keberuntungan versi Thomas Jefferson bahwa “the harder I work the more luck I seem to have“. Dan bahwa orang yang tidak diterima tidak selalu berarti tidak mampu.

Ada dua hal utama yang akan dihadapi oleh para kandidat yang masuk shortlist yaitu ujian IELTS dan Wawancara dengan Joint Selection Team. Saya tidak akan berbicara banyak soal IELTS di sini karena sebelumnya sudah pernah saya bahas. Yang mau saya ingatkan lagi adalah bahwa ujian formal seperti IELTS adalah sebuah ujian standard yang memiliki pola tertentu. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah memahami dengan baik pola ujian itu. Orang sebaiknya tidak mengikuti ujian sebelum hafal secara meyakinkan komponen apa saja yang diuji di IELTS, berapa jumlah pertanyaan masing-masing, berapa lama waktu ujian dan lain-lain. Belum pernah ikut IELTS sama sekali? Beli bukunya, ikuti kursusnya, atau belajar dari mereka yangs udah pernah. Intinya, Anda masih punya waktu maka gunakan waktu itu untuk bersiap-siap.

Hal kedua adalah wawancara JST. Saya sudah pernah menulis tips wawancara di blog ini. Ada juga prediksi pertanyaan yang saya buat tahun 2012 dan saya sertakan jawabannya untuk tahun 2013 atau tips wawancara dan IELTS yang saya tulis sebelumnya. Lihat juga bagaimana saya menjalani wawancara untuk beasiswa ALA, mungkin ada manfaatnya untuk persiapan. Mulai tahun ini ada sedikit perubahan dalam hal seleksi, terutama untuk PhD (atau mungkin juga Master by Research, silakan dilihat). Kandidat diminta untuk memaparkan proposal penelitiannya dalam waktu 10 menit saja dan tidak boleh lebih. Hal-hal yang wajib dipaparkan adalah metodology, mengapa penelitian penting bagi Indonesia, memastikan bahwa penelitian itu bisa diselesaikan dalam waktu yang dialokasikan dan menegaskan sumbangan penelitian itu bagi disiplin terkait. Perlu diingat, tidak diperkenankan menggunakan alat bantu presentasi seperti power point. Yang perlu disiapkan, presentasi ini akan diikuti dengan tanya jawab sekitar 25-30 menit. Semua kandidat PhD akan diundang ke Jakarta dengan biaya ADS untuk memaparkan rencana penelitiannya dan ada 60 orang calon PhD yang akan diterima, naik 100% dari tahun lalu. Silakan lihat tulisan saya tentang tips memaparkan proposal ini. Informasi ini disampaikan dalam surat undangan kepada kandidat PhD, seperti yang disampaikan oleh Sahabat Saya, Taufik E. Susanto yang berbaik hati telah berbagi surat undangan untuk istrinya.

Kisah saya dalam mendapatkan beasiswa juga pernah saya tulis di sini dan mungkin bisa dibaca lagi. Bagi yang sekian kali berjuang dan baru kali ini mendapat kesempatan untuk dipanggil wawancara, silakan simak kisah Asti, isteri saya, yang saya tulis Februari lalu. Tidak ada tips yang tiba-tiba membuat Anda jadi pintar dan pasti diterima beasiswa ADS. Meski demikian, jangan lewatkan satu pun dari semua dokumen dan bahan lain yang diberikan oleh ADS dalam amplop besar yang Anda terima. Baca semua tulisan dan nikmati semua videonya. Kunjungi lagi website resmi ADS Indonesia untuk menyegarkan ingatan. Yang bisa dilakukan adalah mengerahkan segenap upaya agar tidak kita sesali hasil apapun yang akan diberikan oleh Sang Pemilik Waktu kelak di kemudian hari. Selamat berjuang kawan!

Mahasiswa Aktivis

https://i0.wp.com/2.bp.blogspot.com/-dINNJW_kANc/T8QIAuOvpvI/AAAAAAAAAWU/tuctcHzsgKc/s1600/5f35a150705e472d62787025055ae472_1.jpg
dari: mjalaluddinjabbar.blogspot.com

Semua mata memandang takjub. Genjo tidak berkedip menyimak pemaparan Bondan yang cerdas berapi-api. Gerakan tangannya dan pemilihan kata yang nyaris sempurna membuatnya bisa memukau puluhan hadirin di ruangan itu. Genjo yang tidak mengerti politik hanya bisa diam tapi pikiran dangkalnya bisa memahami apa yang meluncur dari mulut Bondan. Bondan memang lihai memintal kata-kata menjadi kalimat yang kemudian mengalir menjadi kisah yang melenakan.

“Inti dari kegagalan bangsa kita adalah tidak adanya usaha sungguh-sungguh dari mereka yang memegang kekuasaan. Negeri kita dibangun dengan pendekatan tambal sulam tanpa perencanaan yang matang. Kita minim negarawan, yang ada hanya para oportunis yang mencari celah-celah untuk menguntungkan pribadinya. Mereka pada akhirnya tidak pernah ingat kepada rakyat yang membawa mereka pada tampuk kekuasaan” Hadirin terpesona dengan pemaparan Bondan yang begitu jelas, tegas dan tanpa tedeng aling-aling. Nampak jelas, dia juga mengetahui banyak apa yang terjadi di pemerintahan. Sementara itu Genjo kian terpesona. Usia Bondan tidak lebih tua darinya tetapi Genjo mengakui bahwa Bondan memang luar biasa.

Continue reading “Mahasiswa Aktivis”

Bersama Mahfud MD mencari pemimpin masa depan Indonesia

Koreksi terakhir: Selasa, 27 Nov 12 @9.36 WIB

Silakan langsung lompat ke inti diskusi jika tidak ingin membaca rangkaian cerita sebelum diskusi.

Pak Mahfud dan moderatornya 🙂

Saya mendapat kesempatan berharga, diminta menjadi moderator sebuah diskusi istimewa dengan Profesor Mahfud MD. Nadia, ketua PPIA NSW tiba-tiba menghubungi saya lewat email menanyakan kesediaan untuk acara tersebut. Tentu saja tidak membutuhkan waktu lebih dari semenit untuk mengatakan ‘ya’, tawaran itupun saya terima dengan senang hati, meski sedikit grogi.

Stasiun North Wollongong, 24 November 2012 @ 7.40 pagi
Saya telah berdiri di pinggir rel kereta mengenaan batik lengan pendek. Hari ini adalah hari yang ditunggu, saya akan meluncur ke Sydney melakukan tugas istimewa mengantarkan diskusi bersama tokoh terkemuka Indonesia: Mahfud MD di Konsulat Jenderal RI di Sydney. Diskusi memang belum akan dimulai sebelum jam 11.00 tetapi jarak Wollongong ke Sydney ditempuh setidaknya 1,5 jam dengan kereta dan perjalanan dari Stasiun Central ke KJRI memakan waktu minimal setengah jam. Sementara itu, frekuensi jadwal kereta dari Wollongong ke Sydney adalah sejam sekali. Saya tidak boleh terlambat.

Continue reading “Bersama Mahfud MD mencari pemimpin masa depan Indonesia”

Fungsi tambahan

TALOS Editor

Saya pernah menulis “Marketing in Venus” di blog ini tentang bagaimana sesuatu atau seseorang menjadi ‘laku’ bukan karena fungsi atau keahlian utamanya tetapi karena fungsi tambahannya. Saya mengalami hal ini berkali-kali, saya yakin Andapun demikian.

Sejak tahun 2011 saya secara resemi dilibatkan dalam revisi sebuah dokumen penting dalam bidang hukum laut dan terutama batas maritim. Dokumen itu bernama TALOS, sebuah buku manual yang menjelaskan aspek teknis dari Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Singkatnya, UNCLOS, sebagai produk hukum, dipenuhi muatan teknis yang tidak mudah dipahami oleh orang non teknis. Aspek teknis ini begitu rumit, sementara sebuah konvensi bahkan tidak memuat ilustrasi atau penjelasan tambahan. Agar pemahaman terhadap aspek teknis ini bisa berjalan baik maka sekelompok pakar teknis (geodesi, hidrografi) berinisiatif membuat buku manual yang menjelaskan. Jadi, TALOS adalah ‘suplemen’ UNCLOS yang menjelaskan segala hal teknis yang ada di UNCLOS.

Continue reading “Fungsi tambahan”

Bertemu Presiden

Bersama Hassan Wirajuda

Kadang saya bertemu orang-orang penting, para pejabat negeri, justru saat ada di negeri orang. Kalau sedang di tanah air, mungkin kesempatan makan malam atau ngobrol dengan menteri atau wapres akan terasa sulit. Isitimewakah kesempatan itu? Saya serahkan saja bagi pembaca untuk menilainya, tapi bagi saya, jelas ini bukan kesempatan sehari-hari. Kalau demikian, bolehlah dia kita anggap istimewa.

Seorang kawan bertanya ’bagaimana caranya bisa punya kesempatan bertemu orang-orang penting itu?’ Saya harus akui, tidak ada cara sistematis yang saya tempuh dan ini bukanlah cita-cita. Yang pasti, tidak pernah ada tes psikologi apalagi IELTS untuk bisa bertemu menteri. Tidak juga ada wawancara. IP juga tidak berpengaruh, apalagi jumlah publikasi ilmiah. Tidak ada.

Continue reading “Bertemu Presiden”