Orang Indonesia umumnya membayangkan gelar kesarjanaan, baik itu S1, S2, maupun S3 diperoleh setelah melalui ujian tugas akhir. Di Indonesia, umum kita ketahui, misalnya, lulus S1 harus melalui ujian skripsi. Ada yang menyebutnya pendadaran, ada yang mengistilahkan seminar. Di tingkat S2 dan S3 juga sama, selalu ada ujian untuk mempertahankan hasil karya tugas akhir (tesis maupun disertasi). Bagaimana dengan di Australia?
Saya pernah menulis tentang pre-departure training (PDT) bagi calon penerima Australian Development Scholarship (ADS) di blog ini. Calon penerima beasiswa ADS memang wajib mengikuti pelatihan Bahasa Inggris di IALF Bali atau Jakarta yang dikenal juga dengan English for Academic Purposes (EAP). Singkatnya, seorang calon penerima beasiswa ADS harus mencapai nilai IELTS minimal 6,5 untuk bisa berangkat belajar di universitas Australia. Dalam beberapa kasus tertentu, nilai IELTS bahkan harus lebih tinggi.
Saya menulis ini tanggal 2 April 2007 sambil sesekali memandang gemerlap lampu di kejauhan. Suasana malam ini sangat indah terlihat dari tempat tinggal saya di lantai 3 sebuah apartemen yang berada di Crown Street, Wollongong, NSW, Australia. Sudah beberapa hari ini saya berada di Wollongong Australia untuk melakukan sebuah penelitian. Hal inilah yang akan saya ceritakan kepada Anda saat ini. Mungkin tidak berguna bagi semua orang, tetapi bisa jadi memberi sedikit inspirasi bagi sebagian pembaca. Bagi Anda yang ingin mendapatkan kesempatan seperti ini, mungkin ada baiknya Anda simak.
Setiap kali mengiklankan buku, saya merasa risih karena merasa berjualan ilmu pengetahuan. Kadang ada yang bergurau, saya beralih profesi jadi salesman. Idealnya, menurut saya, ilmu pengetahuan harus disebarkan tanpa berbayar untuk kemajuan peradaban. Sayang sekali kita tidak hidup di dunia ideal seperti itu. Ada kertas yang harus dibeli untuk membuat buku dan ada tinta yang harus dibayar. Mesin untuk mencetak juga tidak gratis serta orang-orang yang bekerja di industri penerbitan dan percetakan memiliki anak yang harus membayar SPP. Singkat kata, penerbitan buku sudah menjadi industri mapan yang harus menghidupi banyak manusia.
Berjalanlah dengan tenang di tengah kebisingan dan ketergesaan, dan ingatlah kedamaian itu bertumbuh dalam kebisuan yang tenang. Sedapat mungkin, jagalah kisah baik dengan semua orang, tanpa harus menyerah dan menjadi tumbal. Nyatakanlah kebenaran hatimu dengan lirih dan jernih; dan dengarkanlah orang di sekitarmu, betapapun mereka membosankan dan tidak peduli; merekapun memiliki cerita yang layak didengar.
Hindarilah mereka yang gaduh dan agresif, mereka adalah orang-orang yang menebarkan kekhawatiran bagi jiwamu. Jika engkau membandingkan dirimu dengan yang lain, engkau mungkin merasa tiada berguna dan getir; karena sesungguhnya selalu ada orang yang lebih hebat atau lebih lemah dari dirimu.
Nikmatilah pencapaian dan juga rencana-renana hidupmu. Berusahala untuk tetap tertarik dengan pilihan pekerjaanmu, betapapun sederhananya.; itulah milikmu yang sesungguhnya melewati masa dengan keberuntungan yang senantiasa berubah tidak terduga.
Kata ‘maaf’ ini paling mudah diasosiasikan, salah satunya, dengan Mpok Minah di Bajaj Bajuri. Sudah lama aku percaya bahwa minta maaf adalah salah satu dari beberapa hal yang tidak mudah dilakukan. Anggapan ini berubah setelah aku berkenalan dengan Mpok Minah. Mudah sekali untuk minta maaf ternyata. Jangankan setelah melakukan kesalahan, sebelum melakukan apa-apa pun ternyata kita bisa minta maaf. Maaf ya, bagi yang tidak paham, silakan nonton dulu. Bagi yang punya hobi ilmiah, jangan terkejut kalau maaf-nya Mpok Minah sudah jadi skripsi/tesis. 🙂
Maaf yang dimaksud di tulisan ini tentunya bukan maaf-nya Mpok Minah. Bukan juga maaf yang tertempel di pintu kelurahan yang diteruskan dengan kalimat “tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun” karena maaf yang demikian sesungguhnya diilhami oleh penolakan bukan pengampunan. Maaf ini juga tak seperti maaf-nya Ungu, walaupun tanpa kausadari, aku kadang menduakan cintamu 🙂 Maaf ini seperti maaf-nya Iwan Fals kepada ibunya. Maaf yang mendalam, yang disesali dan berharap tak mengulangi kesalahan, meski berharap akan berjumpa Ramadhan di tahun mendatang.
Semoga maaf ini tak seperti maaf-nya Si Malin Kundang yang tak sempat diucapkannya hingga terbujur kaku menjadi batu. Selamat Idul Fitri 1433 H untuk kawan-kawan yang merayakan. Mari saling memaafkan atas segala kesalahan.
Warm greeting from Canberra (in the midst of cold winter), Alhamdulillah. The English Writing Competition for the commemoration of the 2012 National Education Day has eventually reached its final stage.
Board of judges, consisting of Prof Aris Junaidi (Educational and Cultural Attaché of the Indonesian Embassy in Canberra) and A’an Suryana (PhD Candidate/former journalist at the Jakarta Post), have decided three winners as follows:
Di sebuah milis yang saya ikuti, sempat terjadi diskusi menarik soal nasionalisme. Beberapa ilmuwan Indonesia memilih untuk tidak pulang ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikannya. Tentu banyak yang prihatin akan hal ini. Saya memiliki satu pandangan.
Dimensi geografis di masa lalu tentu sangat berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Teknologi saat ini membuat dunia jadi ‘lebih kecil’ secara signifikan. Dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kita bisa tahu apa yg dilakukan seorang kawan di Finlandia dan dua detik kemudian bertegur sapa dengan kolega di Afrika Selatan. Ini tidak bisa dilakukan di tahun 80an. Saat ini ‘negara’ dengan jumlah pendudukan terbesar ketiga bernama Facebook, taman bermain paling besar bernama Google Earth dan tempat ngerumpi paling asyik mungkin saja Twitter.
Saya mengikuti sebuah lomba menulis yang diselenggarakan oleh Telkom Solution terkait penggunaan teknologi informasi (TI) untuk mendukung kinerja perusahaan. Ketika mendapatkan informasi ini dari milis Bali Blogger, saya tidak berniat mengikutinya. Namun begitu, diskusi tidak serius di milis tersebut akhirnya membuat saya mengubah pikiran. Atas ‘desakan’ setengah guyon dari Cahya Legawa, saya akhirnya menulis dan mengirimkannya pada panitia. Ditulis suatu malam yang dingin di Innovation Campus University of Wollongong, saya mengirimkan langsung pada malam itu juga. Tulisan saya hanya 1.192 kata dari 1.200 syarat maksimum yang ditetapkan panitia.
Tulisan saya terkait penggunaan IT untuk kuliah jarak jauh yang memang saya senangi belakangan ini. Rasanya topik ini menarik untuk dibahas dan sangat mungkin untuk diterapkan dengan situasi infrastruktur TI yang dimiliki Indonesia saat ini. Tulisan itu berjudul Teknologi Inspirasi: Jarak Bukan Lagi Tirani.
Seorang kawan baik meminta saya membantunya perihal presentasi yang sedang disiapkan untuk sebuah konferensi. Dia memiliki grafik yang dibuat dengan Excel dan ingin disajikan dengan power point saat presentasi. Jika saja penyajian ini menggunakan tampilan statis tentu tulisan ini tidak perlu ada karena tinggal copy grafiknya di Excel dan paste di Power Point. Teman saya tentu saja mau yang lebih canggih dari itu. Dia mau grafik itu beranimasi dengan kemunculan garis-garis informasi dengan urutan sedemikian rupa sehingga lebih mudah dijelaskan dan terutama dipahami.
Bayangkanlah di sebuah grafik ada beberapa garis yang menujukkan data berbeda dengan warna berbeda. Akan jauh lebih menarik jika saat presentasi garis-garis bebeda ini muncul berurutan, tidak sekaligus, palagi hanya gambar statis. Bagaimana cara melakukan ini?
Terus terang saya tidak langsung bisa mengerjakannya. Saya perlu waktu yang cukup lama untuk bereksperimen, trial and error. Akhirnya saya menemukan caranya seperti video ini. Lihat juga langkahnya setelah video.
Jika grafik itu masih di Excel atau sudah dicopy ke Ms Word, copy grafik itu lalu paste special di Power Point. Ingat, gunakan paste special, bukan paste biasa. Pilih Microsof Office Graphic Object ketika muncul pilihan untuk paste.
Jika perlu, sesuaikan ukurannya. Klik kanan gambar tersebut di bagian pinggirnya (bingkai) lalu “Save as Picture” dan pilih Windows Enhance Metafile saat menyimpan.
Buat slide baru dan masukan (insert) gambar hasil langkah 2 ke Power Point.
Klik kanan gambar tersebut lalu pilih Group > Ungroup. Pilih yes, lalu lakukan ungroup sekali lagi. Tujuan langkah ini adalah untuk memisahkan bagian-bagian gambar menjadi bagian tersendiri agar nanti mudah dianimasikan.
Rapikan gambar agar tampilannya cantik. Ganti font, geser posisi, putar orientasi dll.
Karena di-ungroup maka semua obyek jadi terpisah satu sama lain, padahal mungkin kita ingin ada beberapa obyek yang tergabung membentuk satu kesatuan. Untuk obyek yang demikian, satukan lagi dengan melakukan pengelompokan (Grouping). Caranya, pilih semua obyek yang ingin dikelompokkan lalu klik kanan dan pilih group.
Setelah semua obyek pada posisi yang benar dan terkelompokkan sesuai keinginan, mulailah merencanakan animasi, terutama terkait urutan tampil.
Berikan animasi pada masing-masing obyek, dengan cara memilih menu Animation lalu Custom Animation. Selanjutnya pilih Add Effect yang diinginkan misalnya suatu obyek muncul biasa (appear) atak muncul secara perlahan dari arah tertentu (wipe) atau muncul dengan zoom dan lain-lain.
Lakukan hal ini untuk semua obyek dan nikmati animasinya.
Selamat mencoba.
Adakah cara yang lebih gampang dari ini? Mohoh kesediaannya berbagi.