Saya mengaku kalah


darii http://6.mshcdn.com/

Saya mengikuti sebuah lomba menulis yang diselenggarakan oleh Telkom Solution terkait penggunaan teknologi informasi (TI) untuk mendukung kinerja perusahaan. Ketika mendapatkan informasi ini dari milis Bali Blogger, saya tidak berniat mengikutinya. Namun begitu, diskusi tidak serius di milis tersebut akhirnya membuat saya mengubah pikiran. Atas ‘desakan’ setengah guyon dari Cahya Legawa, saya akhirnya menulis dan mengirimkannya pada panitia. Ditulis suatu malam yang dingin di Innovation Campus University of Wollongong, saya mengirimkan langsung pada malam itu juga. Tulisan saya hanya 1.192 kata dari 1.200 syarat maksimum yang ditetapkan panitia.

Tulisan saya terkait penggunaan IT untuk kuliah jarak jauh yang memang saya senangi belakangan ini. Rasanya topik ini menarik untuk dibahas dan sangat mungkin untuk diterapkan dengan situasi infrastruktur TI yang dimiliki Indonesia saat ini. Tulisan itu berjudul Teknologi Inspirasi: Jarak Bukan Lagi Tirani.

Pada tanggal 3 Agustus, seperti janji panitia, lima karya terpilih memasuki tahap final. Kelima karya terpilih diposting di halaman Facebook Telkom Solution dan pemenang ditentukan dari jumlah “likes” yang diperoleh masing-masing finalis. Keempat tulisan lain, setelah saya baca, lebih teknis dari tulisan saya dan aroma IT-nya terasa kuat. Saya kira keempat tulisan lain menawarkan sesuatu yang menarik.

Di sinilah perjuangan dimulai. Untuk bisa menang, saya harus mengerahkan masa agar menyukai tulisan saya dengan menekan tombol “like” pada Facebook. Maka demikianlah, sayapun mulai berjuang merayu teman-teman saya untuk memberikan dukungan. Berlaku naïf, saya memberikan link laman FB Telkom Solution sehingga teman-teman saya bisa melihat semua tulisan finalis dan memilih yang terbaik. Rupanya hal ini menimbulkan masalah karena mereka yang tidak punya banyak waktu merasa kesulitan karena harus mencari-cari. Tidak sedikit yang me-like yang tidak semestinya. Ada seorang kawan dari UGM sengaja mengirimkan email karena tidak menemukan tulisan saya yang harus di-like-nya. Mengharukan sekali.

Dalam beberapa hari, harus saya akui, saya gencar berpromosi. Sesungguhnya saya tidak merasa nyaman dengan itu. Memaksa orang untuk “menyukai saya” sepertinya bukan hal elegan yang bisa dilakukan seorang penulis. Ada kawan baik yang bahkan menyindir saya menjadi seperti promosi MLM. Sepertinya meamang terdengar demikian. Apa daya, demikianlah aturan kompetisinya dan akhirnya saya memilih untuk mengikuti permainan. Alhasil, wall FB dan timeline twitter saya dipenuhi promosi. Promosi itu juga didukung oleh celebrity media seperti Najwa Shihab dan Meutia Hafid. Selain itu, pengusaha dan motivator handal Indonesia, Putu Putrayasa, memberikan dukungan penuhnya. Teman-teman saya di twitter dan FB membuat saya terharu karena membantu saya berkampanye dengan gencar.

Dukungan paling istimewa tentu saja datang dari Asti, istri saya. Mendapat dukungan darinya, saya merasa telah memenangkan kompetisi itu, apapun hasilnya. Asti bahkan merelakan waktunya berdebat di dunia maya dengan seseorang untuk mempertahankan dukungannya dan membela tulisan saya. Tidak ada dukungan lebih hebat yang bisa didapatkan seorang penulis selain dukungan istrinya. Percayalah.

Ketika tahu tulisan saya masuk final, tulisan finalis #2 telah disukai oleh lebih dari 60 orang. Tulisan tersebut berjudul Beralih ke Teknologi Informasi, Siapa Takut? Dalam waktu singkat angka itu berhasil saya lampaui dan dalam beberapa hari pertama selalu memimpin dengan perbedaan “likes” hingga seratus. Sejujurnya, saya merasa senang dan sempat terlena. Seorang kawan dari Filipina bahkan bilang, saya tidak boleh merasa menang terlalu cepat. Dalam twit dan status FB saya pun sering mengungkap keunggulan sementara ini dengan tujuan memotivasi dan promosi. Sementara itu, di sisi lain saya sendiri harus tetap beraktivitas. Ketika itu saya menyiapkan sebuah konferensi di Brisbane dan perlu kerja keras.

Tiga hari terakhir, kondisi berbalik. Peserta nomor dua mengejar dengan sangat cepat dan akhirnya melampaui saya dalam perolehan “likes”. Sementara itu, tiga tulisan lain memang tidak memperoleh “likes” yang signifikan jumlahnya sehingga luput dari perhatiannya saya. Meski yakin bahwa kualitas tentu menjadi pertimbangan orang dalam menyukai satu tulisan di FB, saya tetap yakin selalu ada orang yang memilih tanpa membaca tulisan sehingga promosi menjadi penting. Sejujurnya saya tidak ingin seperti itu tetapi itu harapan yang sangat muluk-muluk sepertinya. Mau tidak mau saya harus gencar berpromosi. Itu satu-satunya cara. Sementara itu, saya berada di Brisbane dari tanggal 8 dan harus menyiapkan presentasi tanggal 9 dan workshop tanggal 10. Semestinya saya membentuk tim yang handal untuk menggalang masa tetapi saya tidak lakukan. Yang bisa saya lakukan adalah menghubungi beberapa teman yang bersimpati dan meminta dukungan. Dukungan mereka memang luar biasa dengan berpromosi di jejaring masing-masing. Semua ini sudah membuat saya bangga.

Yang menyenangkan adalah komentar terhadap tulisan saya lebih banyak dibandingkan keempat tulisan lainnya. Komentar itupun menunjukkan bahwa mereka membaca tulisan saya. Cukup banyak yang mengatakan tulisan itu inspiratif. Ini membuat saya bersyukur, meski ada juga yang berkomentar standard dan sepertinya tidak dari hasil membaca tulisan secara utuh. Memang terlalu berlebihan kelau berharap semua orang membaca lalu menekan tombol “like”. Bagi banyak orang, lomba ini bahkan tidak ada artinya sama sekali, saya memahami itu. Saya juga sering sekali diminta me-like suatu posting di FB dan saya tidak selalu membacanya. Ini fakta.

Bagi saya, lomba semacam ini adalah juga pembuktian kekuatan jejaring. Meski tidak untuk kualitas, keberhasilan ‘memaksa’ orang untuk menekan tombol “like” adalah sebuah keberhasilan yang patut dihargai. Tadinya saya berpikir bahwa dengan teman FB sekitar 4500 dan follower twitter yang mendekati 2000 maka urusan akan selesai dengan mudah. Saya salah. Tidak semua teman memiliki kepentingan dan ketertarikan yang sama. Ada teman yang mendukung apapun yang dilakukan temannya tanpa diminta, ada juga yang menjadi teman hanya untuk mendapatkan manfaat dan tidak memberikan dukungan apapun. Kalangan mayoritas tentu saja adalah mereka yang tidak memberi perhatian terhadap apa yang terjadi pada semua temannya jika tidak diberitahu. Jika memiliki teman lebih dari 1000 di FB maka ketidakpedulian memang bisa terjadi dengan mudah.

Hingga akhir, kemenangan finalis #2 semakin tegas. Pada akhirnya saya memang kalah. Seperti kata teman, saya adalah orang yang ambisius. Tentu saja saya kecewa akan kekalahan. Namun begitu, saya tidak menyesalinya. Saya telah berusaha dengan baik, termasuk melakukan hal-hal yang tidak biasa saya lakukan dalam berpromosi. Yang utama, dukungan teman-teman sedemikian luar biasa dan saya menghargai dukungan tersebut. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya merasa menang karena berhasil memenangkan dukungan lebih dari 600 orang, meskipun tidak menjadi juara.

Selebihnya, saya menyatakan penghormatan saya pada Mas Yoga Hanggara, finalis #2, yang berhasil memenangkan lomba ini dengan dukungan lebih dari 1000. Sebuah prestasi yang luar biasa. Hasil ini dengan tegas mengatakan bahwa tulisan Mas Yoga memang lebih bagus dari tulisan saya dan saya mengakui kekalahan ini. Hormat dan kagum saya tertuju juga pada tiga peserta lainnya yang telah berkarya dengan sungguh-sungguh. Lomba ini mungkin tidak luar biasa bagi orang lain tetapi saya merasa ini adalah potret kompetisi yang menarik dan penuh pembelajaran. Dalam hidup, kompetisi serupa selalu terjadi dan seperti inilah potret demokrasi di era digital.

Kepada teman-teman pendukung yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, ucapan terima kasih tentu tidak cukup. Saya persembahkan pembelajaran ini untuk teman-teman semua. Yang serius, tidak serius, sengaja, tidak sengaja, peduli, tidak peduli, rela, atau terpaksa, semoga menjalani hidup dengan kedamaian. Seberapa jauhpun jarak kita, pertemanan tetap bisa terjalin. Kita menolak ditindas jarak, karena jarak memang bukan lagi tirani.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

23 thoughts on “Saya mengaku kalah”

  1. Tulisan Mas Yoga memang bagus. Namun untuk mengatakan tulisan itu lebih baik daripadamu, Mas, butuh penjurian yang mendalam dalam banyak kategori.

    Karenanya, jangan kecewa. Tidak terpilihnya engkau sebagai juara bukan pertanda tulisanmu kalah bagus. Sayangnya, untuk kali ini, engkau hanya menjadi korban sebuah inovasi masyarakat dari zaman purba yang dinamai demokrasi. Dan ketika bersinggungan dengan demokrasi, hanya angka yang menang. Mutu bisa jadi dikesampingkan.

    Aku kira semua karya-karya bagus tidak harus populer. Tapi dunia mencatat, karya-karya semacam itulah yang membawa perubahan besar bagi manusia. Contohnya ya karyanya para pemenang Nobel: Sartre, Marquez, dkk.

    Untungnya ada proses penjurian yang ketat dalam pemilihan pemenang Nobel. Coba bayangkan kalau pemenang Nobel Sastra ditentukan lewat “Like” di Facebook. Di mana mutunya?

    Subhan Zein

  2. Tulisan Bli Andi memang lebih sederhana namun lebih humanis. Benar spt Mas Subhan bilang, quantitiy belum tentu bermakna sama dengan quality. Demikian adanya, dan tetaplah menulis, Bli. Salam 🙂
    Made

    1. De Hery,
      Suksma atas komentar dan apresiasinya. Betul De, kekalahan tidak semestinya membuat kita berhenti. Justru tyang akan lebih keras belajar dan berkarya lebih banyak. Semoga 🙂

  3. Izinkan saya mampir sejenak kembali di blog inspirasi ini.

    Pak Made Andi yang saya hormati,

    Saya lebih banyak sepakat dengan Pak Andi, tentang perasaan kurang sreg dengan model penjurian/penilaian berdasarkan jumlah “Like”, yang pasti akan membuat kita berpromosi “Pilihlah saya”, sesuatu yang sebenarnya sejak dulu saya tidak suka. Dulu, saya sering tidak mau jika diminta teman-teman untuk me-Like post mereka, alih-alih saya lebih baik membaca semua, dan me-Like hanya yang benar-benar saya sukai, tidak harus milik teman saya tersebut.

    Setelah diumumkan 5 finalis untuk kemudian sesi vote, selain senang, ada satu perasaan yang aneh setelah membaca tulisan Pak Andi: Great! Ini bagus. Dari ide gagasannya, sampai cara penyampaiannya. Saya seorang mahasiswa Pendidikan Teknik Informartika, yang mempelajari teknologi informasi sekaligus ilmu pendidikan, menilai, inilah pemanfaatan teknologi informasi yang bagus sekali. Seperti di awal dulu saya tweetkan, sejak mulai memasuki dunia kuliah, bahwa hal seperti tulisan Pak Andi yang saya inginkan, ketika dosen-dosen berhalangan di tempat yang jauh. Andaikan saja Pak Andi bukanlah “musuh” saya dalam lomba ini, pasti saya sudah Like tulisan Pak Andi.

    Bagi saya, tulisan Pak Andi-lah yang lebih pantas untuk menang. Tulisan pak Andi terlalu ‘murah’ untuk dibandingkan kualitasnya hanya berdasarkan jumlah “Like” saja. Terlalu mudah jika untuk lomba menulis di media ini. Seperti halnya kontes-kontes “Idol”, bahwa sering yang menjadi pemenang bukanlah yang terbaik, melainkan siapa yang lebih gencar promosi, lebih banyak waktu luang, dsb. Sesuatu yang mungkin bagi Pak Andi sulit saat ini, karena keaktifan dan banyaknya kerja-kerja yang dilakukan Pak Andi, didalam dan luar negeri. Beberapa sahabat yang membantu saya, ketika mencari tahu siapa Pak Andi ini, kaget, “Lho ini saya sering dapat informasi beasiswa ADS dari Pak Andi ini.” 😀

    Pembelajaran yang saya dapatkan dari Pak Andi adalah agar terus bersemangat dan tidak mudah untuk “down” mental menghadapi siapapun. Seperti di awal, saya sempat hampir menyerah ketika mengetahui siapa “lawan” saya dalam lomba ini. Setelah itu saya hanya memanfaatkan waktu saya yang masih lebih banyak luangnya.

    Selesai satu pekerjaan, lalu kerjakan yang lain. Ke depan pasti saya akan sering mampir ke blog ini atau mencari tulisan Pak Andi, untuk bisa mendapatkan informasi, inspirasi, dan semangat, terutama untuk mendapatkan beasiswa dan kuliah di luar negeri.

    Terimakasih banyak Pak Andi, senang bisa berkenalan dengan Pak Andi 😀

    1. Mas Yoga yang baik,

      Saya terharu sekali membaca tulisan Mas Yoga ini. Saya semakin yakin, Mas Yoga layak memenangkan kompetisi ini. Mas Yoga sangat dewasa di usia yang masih muda. Terima kasih banyak atas kata-katanya yang penuh simpati dan jujur. Mas Yoga adalah orang yang mulia. Selamat sekali lagi Mas. Saya ingin berkolaborasi suatu saat nanti. Salam hangat dari saya.

  4. Great….!!!
    Senang rasanya melihat dua orang yg pada awalnya berkompetisi utk menjadi yg paling lebih disukai diantara yg lain, pada akhirnya saling melempar puja dan puji. Yang jelas telkom tdk salah pilih, kedua pemenang adalah orang-orang yg begitu fasih menggunakan teknologi utk mempermudah kerja dan hidup.

    Hal lain yg jg membuat saya salut adalah dukungan yg tdk hanya gegap gempita utk mas andi, namun juga dukungan yg tulus dr seseorang yg mengaku “teman paling dekat “-nya Mas Andi melalui grup IALF….itulah bentuk dukungan dari partner sejati…yang tidak hanya membagi cinta …tapi juga doa…dan usaha.

    Membaca tulisan-tulisan mas andi tak hanya bermanfaat krn sarat info dan ilmu…tap…pi..ada pelajaran cinta dan hidup di sana….(yaah..walaupun…kadang-kadang sedikit “lebay”…tp saya suka) ;-),

    Jujur…andaikan tak membaca tulisan mas andi pun saya tetap akan me-likenya, karena sudah kadung begitu menjadi SANGAT PERCAYA akan kualitas dari hasil buah pikir dan buah karya mas andi. Sekali lagi SELAMAT MAS ANDI…..anda telah memenangi hati kami dan hati mbak asti serta lita tentunya !
    %-),
    ;-),

  5. Halo, merining juga baca tulisan dan cara saling mengenal yang unik ini..ada pepatah di dunia persilatan kalo perselisihan udah selesai, cowok akan bersahabat sama musuhnya, hehe..

    salam kenal dengan Anda para penulis hebat, saya Wahyu Awaludin dari UI 🙂

  6. apapun dan apapun saya suka membaca tulisan2 mas Andi baik di facebook blog atau dimana2,, tulisan mas Andi , sederhana, sopan apalagi mempunyai isi misi dan visi dan saya pribadi kalau membaca tulisan mas andi seperti berbeda dengan yang lain dan yang terpenting menrik hati saya untuk membaca tulisan2 nya, keep going untuk menulis lagi Mas untuk seputar ilmu pengetahuan, saya siap kok untuk membacanya lagi

  7. assalamualikum pak andi
    I love your writing Pak andi. you so kind guy, that I have never meet before, really Im serious when i first read and joint your blog I was so motivated by your writing especially the articles that discuss about ADS scholarship, I wonder you give more informations that another people does, it so awesome i think, and you really polite guy in writing that why I really love your writing,,, good luck Pak Andi I really waiting another of your writing and readyyy to read them

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s