Sukailah saya!

Lomba Karya Tulis

UPDATE: Saya tidak berhasil jadi juara dalam lomba ini 🙂 Terima kasih atas dukungan teman-teman semua.

Rasanya memang maksa banget kalau saya harus katakan “sukailah saya!” Namun memang demikianlah kompetisi dewasa ini. Pemenang ditentukan oleh seberapa banyak yang menyukai sesuatu. Dalam bahasa Facebook: “like”.

Saya ikut lomba menulis Telkom Solution dan ternyata tulisan saya masuk final. Pemenang akan ditentukan berdasarkan jumlah “likes” yang diperoleh oleh masing-masing tulisan. Jika teman-teman merasa tulisan saya layak untuk jadi pemenang, silakan klik “like” di link ini: https://www.facebook.com/TelkomSolutionID. Saya adalah finalis #4 dengan judul tulisan “Teknologi Inspirasi: Jarak Bukan Lagi Tirani”. Kalaupun bukan untuk menyukainya, silakan membaca tulisan tersebut, semoga berguna.

Jadi, istilahnya mungkin bukan “sukailah saya” tetapi, “berikanlah apresiasi teman-teman jika memang tulisan saya layak disukai”. Terima kasih 🙂

Pertanyaan yang Melatih Kesabaran

Dipinjam dari http://duncantrussell.com/

Saya menerima berbagai pertanyaan yang sama lewat komentar di blog ini. Pertanyaan itu biasanya seputar beasiswa. Menariknya, komentar/pertanyaan yang sama itu disampaikan pada tulisan yang sama. Artinya si penanya berikutnya tidak membaca dengan seksama komentar/pertanyaan/jawaban sebelumnya, meskipun sudah saya anjurkan pada tulisan. Kalau hanya dua atau tiga, mungkin tidak jadi soal tapi kalau sudah belasan atau puluhan, ada perasaan yang tidak nyaman. Kadang ada saja godaan untuk menanggapi pertanyaan yang sama dengan cara yang agak emosi sambil memberi “kuliah”. Perlu perjuangan keras untuk  tetap terdengar sabar dan bijaksana.

Yang bertanya tentu tidak bisa memahami perasaan saya. Suasana psikoligis kami berbeda. Si penanya merasa mengajukan satu pertanyaan yang wajar, sementara saya merasa mendapat dan sudah menjawab pertanyaan yang sama puluhan kali. Saya kira pembaca memahami situasi ini. Bagaimana saya  merespon pertanyaan yang sama seperti ini? Sebenarnya saya merasa punya alasan untuk menjawab pertanyaan ke-20 dengan emosi karena merasa sudah cukup sabar menjawab 19 pertanyaan serupa sebelumnya. Tentu saja saya akan terlihat sangat tidak bijaksana bagi si penanya ke-20 yang tidak tahu duduk perkaranya. Tentu kasihan sekali dia. Dilema ini tidak serius tetapi cukup mengganggu.

Continue reading “Pertanyaan yang Melatih Kesabaran”

Membuat animasi di Power Point dengan Grafik dari Excel

Seorang kawan baik meminta saya membantunya perihal presentasi yang sedang disiapkan untuk sebuah konferensi. Dia memiliki grafik yang dibuat dengan Excel dan ingin disajikan dengan power point saat presentasi. Jika saja penyajian ini menggunakan tampilan statis tentu tulisan ini tidak perlu ada karena tinggal copy grafiknya di Excel dan paste di Power Point. Teman saya tentu saja mau yang lebih canggih dari itu. Dia mau grafik itu beranimasi dengan kemunculan garis-garis informasi dengan urutan sedemikian rupa sehingga lebih mudah dijelaskan dan terutama dipahami.

Bayangkanlah di sebuah grafik ada beberapa garis yang menujukkan data berbeda dengan warna berbeda. Akan jauh lebih menarik jika saat presentasi garis-garis bebeda ini muncul berurutan, tidak sekaligus, palagi hanya gambar statis. Bagaimana cara melakukan ini?

 

Terus terang saya tidak langsung bisa mengerjakannya. Saya perlu waktu yang cukup lama untuk bereksperimen, trial and error. Akhirnya saya menemukan caranya seperti video ini. Lihat juga langkahnya setelah video.

 

  1. Jika grafik itu masih di Excel atau sudah dicopy ke Ms Word, copy grafik itu lalu paste special di Power Point. Ingat, gunakan paste special, bukan paste biasa. Pilih Microsof Office Graphic Object ketika muncul pilihan untuk paste.
  2. Jika perlu, sesuaikan ukurannya. Klik kanan gambar tersebut di bagian pinggirnya (bingkai) lalu “Save as Picture” dan pilih Windows Enhance Metafile saat menyimpan.
  3. Buat slide baru dan masukan (insert) gambar hasil langkah 2 ke Power Point.
  4. Klik kanan gambar tersebut lalu pilih Group > Ungroup. Pilih yes, lalu lakukan ungroup sekali lagi. Tujuan langkah ini adalah untuk memisahkan bagian-bagian gambar menjadi bagian tersendiri agar nanti mudah dianimasikan.
  5. Rapikan gambar agar tampilannya cantik. Ganti font, geser posisi, putar orientasi dll.
  6. Karena di-ungroup maka semua obyek jadi terpisah satu sama lain, padahal mungkin kita ingin ada beberapa obyek yang tergabung membentuk satu kesatuan. Untuk obyek yang demikian, satukan lagi dengan melakukan pengelompokan (Grouping). Caranya, pilih semua obyek yang ingin dikelompokkan lalu klik kanan dan pilih group.
  7. Setelah semua obyek pada posisi yang benar dan terkelompokkan sesuai keinginan, mulailah merencanakan animasi, terutama terkait urutan tampil.
  8. Berikan animasi pada masing-masing obyek, dengan cara memilih menu Animation lalu Custom Animation. Selanjutnya pilih Add Effect yang diinginkan misalnya suatu obyek muncul biasa (appear) atak muncul secara perlahan dari arah tertentu (wipe) atau muncul dengan zoom dan lain-lain.
  9. Lakukan hal ini untuk semua obyek dan nikmati animasinya.
  10. Selamat mencoba.

Adakah cara yang lebih gampang dari ini? Mohoh kesediaannya berbagi.

Mimpi Bulan

Aku kelelahan dan lupa menurunkan tirai jendela. Aku telentang berselimut pekat, menyerah pada malam yang berdendang. Pekat itu berubah temaram karena ada pijar cahaya yang bertandang. Bukan pijar, cahaya itu serupa bola yang berpendar. Aku memang lupa menurunkan tirai jendela malam itu.

Dendang berlatar temaram merafalkan mantra berkabut. Bertuturlah ia lewat semburat pendar yang redup dan gugup. Kegugupan yang meresahkan dan berjubah lelah yang gelisah. Aku kehabisan gairah yang mengalir laksana darah karena pendar itu memantik amarah. Aku lupa menurunkan tirai jendela malam itu.

(Satu malam di Wollongong: setelah sinar bulan yg hadir jadi mimpi buruk)

ASEAN vs China in The South China Sea

Just in case you wonder, like my other friends, yes, this animation was made using Power Point only. Nothing else. Yes, nothing else. I know, now you wonder even more. Enjoy aja 🙂

Diterima beasiswa ADS: DIJAMIN!

Apakah Anda salah satu dari 5-6000an orang hebat Indonesia yang sedang berjuang mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS)? Mudah-mudahan Anda tidak tergoda membaca tulisan ini gara-gara judulnya demikian. Silakan kecewa karena tidak ada yang bisa menjamin Anda diterima beasiswa luar negeri.

Saya sering mendapatkan pertanyaan atau curhat terkait beasiswa luar negeri, terutama ADS. Ada yang bertanya “seberapa besar peluangnya?” Ada yang ingin tahu “layakkah saya?” Tidak sedikit yang bahkan pesimis, merasa tidak mungkin diterima. Membayangkan ada 5000an orang yang mendaftar untuk kuota yang hanya 400, kita mudah sekali tergoda untuk merasa tidak mampu bersaing. Mudah sekali untuk berpikir “saya pastilah bukan salah satu dari 400 orang terbaik dari 5-6000an orang itu. Saya bukan siapa-siapa.”

Tulisan ini bukan motivasi yang membuat Anda tiba-tiba berubah jadi semangat lalu berdiri tegak siap menghadapi air bah dan menjadi tidak realistis. Bukan! Saya tidak punya kapasitas itu dan saya memang tidak bisa menjamin seseorang bisa diterima beasiswa. Saya hanya ingin ingatkan bahwa syarat beasiswa ADS itu adalah TOEFL 500 dan IP di atas 2,9. Jika tidak ada yang bisa bisa menjamin seseorang lolos beasiswa maka tidak boleh ada satu orang pun di muka bumi ini yang berhak mendikte “kamu pasti tidak lolos” jika memang Anda memenuhi syarat.

Kita adalah para pejuang. Tugas kita hanya satu: berusaha dengan segenap upaya. Tugas kita bukan menghakimi, apalagi menghakimi diri sendiri. Bahwa IMPOSSIBLE bisa jadi adalah I’M POSSIBLE yang kita baca secara salah. Selamat berjuang, kawan!

Melaporkan untuk Ocean TV

Suatu hari saya diminta membantu professor untuk menyiapkan bahan kuliah bagi aparat keamanan laut dari 21 negara. Dia diminta mengajar berbagai skenario insiden (pembajakan, perampokan) di laut dan terutama bagaimana reaksi aparat keamanan laut dari berbagai negara. Misalnya, ada kapal bergerak dari sebuah teluk di negara A menuju negara B dan melewati kawasan perairan negara C. Jika di kawasan laut C terjadi perampokan oleh segerombolan perampok yang bermarkas di negara D dan perampok itu lari ke negara E, apa yang terjadi? Siapa yang bertanggung jawab, apa dasar hukumnya, apa yang bisa dilakukan oleh siapa dan seterusnya.

Saya diminta memvisualisasi skenario itu. Tidak hanya itu, saya harus membuat peta dunia tiruan agar tidak menggambarkan negara-negara yang ada di dunia. Sang professor juga meminta saya mengisi efek suara (deru mesin kapal, ledakan, teriakan). Animasi, audio dan visual effect ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan topik S3 saya. Selain karena diminta oleh professor, saya merasa tertantang dan mengiyakan permintaan itu. Akibatnya memang bisa parah: riset tertunda.

Continue reading “Melaporkan untuk Ocean TV”

Demi iMac, antri dari jam 5 pagi

This is the new iMac – Chatting sama Lita

Saat tinggal di New York tahun 2007 silam, saya sering melihat antrian panjang di toko produk Apple alias Apple store. Sulit memahami mengapa ada orang yang rela melakukan hal itu hingga berjam-jam. Saya bukan penggemar Apple ketika itu. Bahkan tidak kenal iPod yang waktu itu dinobatkan sebagai sebuah fenomena baru mendengarkan musik. Singkatnya, saya tidak melihat pentingnya harus antri hingga berjam-jam untuk mendapatkan sebuah produk IT.

Keyakinan itu tumbang beberapa hari lalu. Saya menghabiskan waktu lebih dari 5 jam demi sebuah produk Apple bekas: iMac produksi 2008. Sulit dipercaya tapi demikianlah kenyataannya. Tulisan ini sangat panjang, semata-mata untuk merekam pengalaman saya secara utuh.

Suatu saat ada kawan yang mengirimkan berita ke milis PPIA Wollongong bahwa akan ada penjualan iMac inventaris laboratorium yang akan diremajakan. Spesifikasinya, menurut teman yang tahu, cukup bagus dan yang penting harganya hanya AUD 300. Beberapa kawan lain yang sempat melakukan riset mengatakan harga produk serupa di pasaran masih sekitar AUD 700-800. Artinya, itu barang murah. Saya tidak maniak apple tetapi harga yang murah memang godaan luar biasa.

Adalah hal biasa universitas di Australia melakukan penjualan dengan cara ini untuk barang-barang yang akan diremajakan. Informasi dibuka untuk umum dan mereka yang datang pertama yang akan mendapatkannya. First come first served, istilah pare bule itu. Ini akan jadi pengalaman saya yang pertama setelah melewatkan cukup banyak kesempatan sebelumnya karena memang kurang tertarik.

Continue reading “Demi iMac, antri dari jam 5 pagi”

Pengembara Geospasial

Saya penah dihubungi seseorang dari Jakarta. Beliau memerlukan bantuan karena putranya akan bersekolah di Wollongong. Seperti biasa, sayapun membantu sebisanya dengan informasi yang saya punya. Yang cukup mengejutkan adalah ketika beliau tiba di Wollongong. Sepertinya hafal dengan semua jalan dan lingkungan, padahal baru pertama kali ke Wollongong. Ketika saya tanya, ternyata beliau sudah melakukan kunjungan virtual dengan Google Maps sebelum kunjungan sebenarnya. Saya menyebut orang-orang seperti ini sebagai “pengembara geospasial”, mereka yang melakukan perjalanan dengan persiapan geospasial yang matang. Peta adalah andalan mereka.

Continue reading “Pengembara Geospasial”

Do you see what I see?