Melaporkan untuk Ocean TV


Suatu hari saya diminta membantu professor untuk menyiapkan bahan kuliah bagi aparat keamanan laut dari 21 negara. Dia diminta mengajar berbagai skenario insiden (pembajakan, perampokan) di laut dan terutama bagaimana reaksi aparat keamanan laut dari berbagai negara. Misalnya, ada kapal bergerak dari sebuah teluk di negara A menuju negara B dan melewati kawasan perairan negara C. Jika di kawasan laut C terjadi perampokan oleh segerombolan perampok yang bermarkas di negara D dan perampok itu lari ke negara E, apa yang terjadi? Siapa yang bertanggung jawab, apa dasar hukumnya, apa yang bisa dilakukan oleh siapa dan seterusnya.

Saya diminta memvisualisasi skenario itu. Tidak hanya itu, saya harus membuat peta dunia tiruan agar tidak menggambarkan negara-negara yang ada di dunia. Sang professor juga meminta saya mengisi efek suara (deru mesin kapal, ledakan, teriakan). Animasi, audio dan visual effect ini benar-benar tidak ada hubungannya dengan topik S3 saya. Selain karena diminta oleh professor, saya merasa tertantang dan mengiyakan permintaan itu. Akibatnya memang bisa parah: riset tertunda.

Hari Jumat, tiga hari sebelum bahan kuliah itu dipakai, saya menunjukkannya pada professor. Dia senang sekali. Sesaat kemudian dia termenug lalu seperti merasakan ada pijar bintang di sisi kanan atas kepalanya dia menatap saya dan berkata “how about making a short video, like a breaking news?” Dia kemudian menjelaskan dia ingin ada video singkat sekitar dua menit seperti halnya breaking news yang akan diputar sebelum skenario itu ditayangkan. Breaking news itu harus sedemikian rupa menunjukkan adanya suatu kejadian serius di tengah laut blah blah blah. Saya menyimak dengan baik dan tersentak ketika dia bertanya “can you do it?

Saya tidak pernah jadi presenter TV, tidak paham benar penyuntingan video dan bahkan belum tahu bagaimana mengambil video yang baik. Modal narsis saja jelas tidak cukup kalau videonya mau ditayangkan di sebuah workshop yang dihadiri 21 negara. Tapi entah mengapa keluar kalimat yang akhirnya menyiksa saya sepanjang dua hari itu “yes, I can do it!” Saat beranjak pergi dari ruangan saya, sang professor berkata “we need four videos. Two for each session and we have two sessions. One opening video and one closing video.” Saya tidak bisa meralat kesanggupan saya.

Jumat hampir habis dan besok jam lima sore video harus sudah selesai. Dengan galau saya melangkah pulang karena di kampus tidak ada kamera dan memang belum punya ide. Sampai rumah baru sadar, coretan hasil diskusi dengan professor ketinggalan di kampus. Kalau sudah tiba waktunya, sial memang bisa bertumpuk-tumpuk. Produksi belum bisa dimulai, saya sibuk menyiapkan naskah skenario dan begadang sampai malam.

Sabtu, pagi hari sekitar jam 9 telepon berdering. Saya terperanjat bangun dari balik selimut, ternyata professor menelpon. Dengan berusaha keras menguasai diri dan membuat suara tidak parau saya bilang “I am getting there!” Tentu saja berikutnya panik dan melesat ke kampus. Saking paniknya, kunci kampus ketinggalan dan ini adalah hari Sabtu. Sial memang tidak bertumpuk saja tapi bisa berjejer dan antri kalau kita panik. Saya memutuskan untuk berhenti panik lalu duduk tertunduk lesu di depan gedung yang tertutup rapat. Perlahan saya keluarkan laptop dengan berusaha memutar otak. Saya menemukan ide.

Sayapun online di FB dan mencari-cari teman sesama mahasiswa PhD yang sedang online. Mengapa harus lewat FB? Karena HP saya mati akibat lupa dicharge semalam. Lengkaplah sudah penderitaan dan kini sudah jam 10.30. Saya menemukan satu orang di FB dan menyapanya sambil berharap bisa meminjam kunci dari dia yang tinggal tidak jauh dari kampus. Ternyata dia belum punya kunci karena memang anak baru. Saya juga mengirim email kepada seorang teman, bertanya apakah dia bisa membantu saya. Tidak ada jawaban, saya hampir putus asa dan akan beranjak pulang ambil kunci.

Saat itulah datang seorang cewek dari dalam gedung membukakan pintu untuk saya. “Hey, you are here!?” kata saya histeris. “Yes, I answered you email through Whatsapp. Why didn’t you respond?” Ternyata dia menjawab email saya dengan pesan di Whatsapp yang artinya tidak bisa saya buka karena iPhone saya sedang tidak ada baterenya. Cerdas! Moral of the story: kalau dihubugi lewat email, balaslah lewat email dan jangan sok kreatif menggunakan perangkat dan jalur lain. Tapi sudahlah, yang penting saya bisa masuk. Thanks to her.

Kini saatnya bekerja. Saya mencoba merekam diri sebagai presenter breaking news menggunakan Windows Live Movie Maker. Kameranya adalah webcam external karena webcam laptop kurang bagus kualitasnya. Saya ingin menatap kamera seperti presenter di TV dan artinya berbicara tanpa membaca. Padahal saya harus bicara agak panjang sementara di skenario ada banyak istilah aneh dan terutama nama-nama tempat (teluk, laut, selat, negara) yang memang asing karena semuanya tiruan/palsu. Saya sempat mencoba menampilkan itu di layar tetapi itu menyebabkan pandangan saya tidak pas ke kamera. Kelihatan kurang professional, meskipun memang saya bukan professional. Setidaknya saya ingin kelihatan professional. Tidak ada jalan lain, sayapun menghafalkannya. Betul, empat skenario untuk empat video, waktu saya sekitar 5 jam saja.

Tidak hanya itu, professor meminta videonya dalam bahasa Indonesia karena workshopnya dilakukan di Indonesia tetapi dengan subtitle Bahasa Inggris karena pesertanya dari berbagai negara. Mengisi subtitle adalah pekerjaan yang tidak sulit tetapi perlu waktu karena harus memastikan singkron antara suara dan subtitle. Ternyata oh ternyata!

Inilah yang terjadi selama lima jam itu: pengambilan video ulang, pemotongan dan penyambungan video, membaca manual dan tutorial lewat internet, proses ekspor berulang-ulang untuk mendapatkan kualitas/ukuran video yang pas, gonta ganti baju agar kelihatan di hari berbeda, pakai headset atau tidak dan banyak lagi. Hari itu saya belajar sekaligus bekerja untuk menghasilkan empat video. Hari kian sore saya selalu melihat jam. Jam lima nanti seseorang akan mengambil video itu.

Jam 5.02 sore iPhone saya berdering dan saya menjawab dengan mantap “Yes, Martin, the videos are ready!” padahal di saat itu saya sedang menunggu harap-harap cemas proses rendering video terakhir. Sesaat kemudian, saat saya menyimpan video tersebut ke DVD, seseorang yang diutus professor datang dengan wajah berharap. “This is for you!” kata saya sambil menunjuk ke DVD ROM yang masih dalam proses penyimpanan. “I want to see them first!” katanya agak mengejutkan. Saya mulai grogi. Bagaimana kalau dia tidak suka dan meminta saya mengulang?

Sayapun menunjukkan video pertama. Orang ini terkenal serius dan jarang tertawa. Saya tujukkan video itu dengan penuh keraguan. Saya harus akui, ada banyak kekurangan seperti misalnya saya belum berhasil membawa suasana genting dalam breaking news tersebut. Saya bahkan tidak mendengar apa yang saya ucapkan di video itu karena tegangnya. Saya hanya melihat wajahnya perlahan tersenyum lalu berubah menjadi tawa yang lepas. Saya tidak tahu persis artinya, saya hanya mendengar kalimat terkhir di video itu “Saya Andi Arsana dari Ocean TV akan mendampingi Anda. Selamat mengikuti!” Pelajaran moral: Seperti smart phone yang digandrungi bukan karena fungsi telephonnya, seorang mahasiswa PhD di bidang kelautan kadang mendapat kesempatan karena kemampuannya membuat video.

`

Video Hari ke-2 – Penyelundupan

Video Kesimpulan

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

19 thoughts on “Melaporkan untuk Ocean TV”

  1. menarik pak,,banyak pelajarannya nih 😀
    misalnya:

    1. ambil kesempatan secepat kilat. kadang perlu nekat bae.
    2. tapi kerjakan sungguh-sungguh kesempatan yang udah didapet itu
    3. tenang, jangan panik :p
    4. miliki jaringan (yang saya heran kenapa pak Andi ga minta bantuan temen2? kan pasti banyak org Indonesia di Australia yg jago bikin video)
    5. berpikir luas yah. seorang ahli kelautan juga penting utk kuasain teknik buat video ternyata 🙂

  2. yang hebat dari cerita ini adalah … tetap tenang dan fokus dalam keadaan terjepit, meski sial bertumpuk tetap produktif dan berpikir jernih menghasilkan lima video teredit … bravo buat bapak

  3. Ehm…,really multi talent person ! Jangan-jangan kalau karni ilyas atau surya paloh liat…bisa ditawarin jd news readernya metro atau tv one tuh mas….hehehe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s