Demi iMac, antri dari jam 5 pagi


This is the new iMac – Chatting sama Lita

Saat tinggal di New York tahun 2007 silam, saya sering melihat antrian panjang di toko produk Apple alias Apple store. Sulit memahami mengapa ada orang yang rela melakukan hal itu hingga berjam-jam. Saya bukan penggemar Apple ketika itu. Bahkan tidak kenal iPod yang waktu itu dinobatkan sebagai sebuah fenomena baru mendengarkan musik. Singkatnya, saya tidak melihat pentingnya harus antri hingga berjam-jam untuk mendapatkan sebuah produk IT.

Keyakinan itu tumbang beberapa hari lalu. Saya menghabiskan waktu lebih dari 5 jam demi sebuah produk Apple bekas: iMac produksi 2008. Sulit dipercaya tapi demikianlah kenyataannya. Tulisan ini sangat panjang, semata-mata untuk merekam pengalaman saya secara utuh.

Suatu saat ada kawan yang mengirimkan berita ke milis PPIA Wollongong bahwa akan ada penjualan iMac inventaris laboratorium yang akan diremajakan. Spesifikasinya, menurut teman yang tahu, cukup bagus dan yang penting harganya hanya AUD 300. Beberapa kawan lain yang sempat melakukan riset mengatakan harga produk serupa di pasaran masih sekitar AUD 700-800. Artinya, itu barang murah. Saya tidak maniak apple tetapi harga yang murah memang godaan luar biasa.

Adalah hal biasa universitas di Australia melakukan penjualan dengan cara ini untuk barang-barang yang akan diremajakan. Informasi dibuka untuk umum dan mereka yang datang pertama yang akan mendapatkannya. First come first served, istilah pare bule itu. Ini akan jadi pengalaman saya yang pertama setelah melewatkan cukup banyak kesempatan sebelumnya karena memang kurang tertarik.

Tanggal 11 Juli 2011 sekitar jam 10 pagi saya mengunjungi lab di Gedung 3 University of Wollongong untuk melihat barang yang akan dijual besoknya. Sesampai di sana, sudah ada belasan orang dan seorang petugas nampak sedang menjelaskan. Saya sendiri tidak tahu soal iMac jadi tidak banyak tanya. Sekilas, dari penampilannya nampak bagus. Intinya, saya tertarik dan memutuskan tetap datang besoknya. Ketika ada petugas yang mendekat saya tanya polos “apakah mungkin melakukan pemesanan dulu sehingga besok tinggal ambil?” Dia menatap saya dengan senyum yang tertahan “you gimme one million dollars” katanya bergurau. “No, mate, you have to come here tomorrow as early as possible. No advanced booking” katanya menegaskan. Rupanya mereka benar-benar ingin membuat kompetisi yang fair.

Sayapun bertanya jam berapa penjualan dilakukan besok hari. Petugas menjawab, “nine o’clock, but make sure you come before seven. Otherwise, all will be gone!” Wah harus berjuang benar-benar, pikir saya.

Saya terjaga jam 4.40 pagi tanggal 12 Juli 2012. Winter dingin dan gelap, godaan untuk tidur lagi begitu besar. Saya tetap berusaha bangun, cuci muka dan membuat segelas teh. Saya membayangkan akan antri panjang nantinya, jadi sarapan dulu. Sebungkus mi gelas, benar-benar gaya anak kos yang jauh dari keluarga. Segelas teh dan sebungkus mi gelas menemani pagi yang dingin itu. Begitu saya lihat keluar jendela, hari masih pekat. Saya tergoda untuk menunggu lebih lama sambil menghabiskan sisa teh. Teringat kata-kata petugas itu kemarin, saya masih punya waktu sebelum jam tujuh.

Tiba-tiba saya ingat lagi antrian panjang di New York yang pernah saya saksikan. Apakah tidak mungkin orang-orang yang maniak itu sudah mendirikan tenda di kampus? Sayapun melesat pergi dengan mobil tua saya. Sesampai di gedung tempat penjualan, saya melihat satu orang antri di depan pintu. Berarti saya nomor dua. Aman, pikir saya. Lalu saya parkir kendaraan dan melesat menuju gedung itu lagi. Seingat saya, petugas kemarin memberitahu bahwa pintu yang lebih cepat terbuka adalah yang di bawah dekat parkir sementara orang itu menunggu di pintu atas. Saya mendekatinya dan berbasa-basi. Rupanya dia alumni yang paham gedung tersebut dan yakin pintu yang di atas itu akan terbuka lebih cepat. Saya sampaikan ke dia, sebaiknya kita berpencar. Saya jaga di bawah, dia jaga di atas. Sayapun melesat turun.

Saat beberapa menit menuggu, tiba-tiba ada orang datang mendekati pintu di dekat saya dan membukanya. Ternyata dia punya kartu akses, artinya dia adalah “penghuni” gedung. Saya duga dia adalah mahasiswa riset di gedung tersebut. Sayapun mencoba menyapa dia. Wajahnya dingin. Saya pakai isyarat bahwa saya juga mau masuk. Dia menahan pintu dan sayapun bergegas medekat menahan pintu yang sudah terbuka itu. Sementara itu dia melesat masuk dan rupaanya dia juga akan antri iMac. Di saat seperti itu saya merasakan dilemma. Di satu sisi, saya sudah bisa masuk tetapi tadi ada kesepakatan tidak tertulis untuk memberi tahu “teman baru” saya yang sekarang antri di pintu atas. Masalahnya saya pun tidak bisa memanggil dia dan melepaskan pintu karena artinya pintu akan tertutup lagi.

Saya berpikir keras bagaimana caranya agar bisa memberi tahu teman tetapi menjamin pintu masih terbuka. Saya melihat di tangan saya ada iPad. Saya memang membawanya dengan harapan nanti bisa membaca atau browsing saat antri. Ternyata saya menemukan fungsi lain dari iPad: mengganjal pintu. Betul, memang ini sangat berisiko dan harga iMac tidak sebanding dengan harga iPad jika rusak gara2 terjepit pintu. Tapi janji adalah janji dan saya harus menepatinya. Pelan-pelan saya pun tempatkan ipad sedemikian rupa untuk mengganjal pintu dan memastikan tidak ada yang tergores. Saya juga menemukan fungsi baru dari smart cover iPad: melindungi iPad saat dipakai mengganjal pintu. Dengan sangat berhati-hati akhirnya saya lepaskan pintu perlahan-lahan dan sepertinya semua aman. Begitu beberapa langkah saya beranjak hendak memanggil teman yang di pintu atas, saya mendengar suara berisik orang berlari. Rupanya teman ini mendengar keributan kecil di bawah dan dia turun sebelum sempat saya panggil. Kamipun masuk ke gedung dan dia berlari lebih dulu. Tiba-tiba hadir pertanyaan aneh: apakah saya melakukan kesalahan telah menunggu orang ini dan sekarang dia berlari mendahului saya? Bagaimana kalau sudah ada 25 orang di dalam dan dia adalah orang ke-26 yang artinya orang terakhir yang mendapatkan iMac? Ada 26 iMac yang dijual hari itu.

Sambil bertanya-tanya saya pun bergegas di belakangnya dan berlari menuju lab tempat penjualan dilakukan. Perasaan saya mulai khawatir, jangan-jangan semua mahasiswa IT di gedung ini sudah ngantri karena mereka memiliki kartu akses. Akhirnya kekhawatiran saya terjawab, saya melihat ada enam orang yang duduk di depan lab dan orang di depan saya menjadi orang ke-7. Artinya saya adalah orang ke-8 dan itu artinya, semoga, saya akan mendapatkan satu iMac. Saya lega. Waktu baru menunjukkan jam 5.20 pagi dan sudah ada delapan orang.

Saya lihat tujuh orang lainnya, sepertinya mereka para maniak Apple dan kosakata yang dipakai terdengar seperti bahasa alien bagi saya. Rupanya mereka rata-rata mahasiswa IT di gedung tersebut. Tidak begitu nyambung dengan pembicaraan mereka, sayapun memilih untuk membaca beberapa berita terkait Pemilu Jakarta dan ngetwit. Sementara itu ada juga yang nonton acara lucu di internet dan mereka tertawa-tawa.

Beberapa menit kemudian berdatanganlah pengantri lainnya. Sekitar jam enam, sudah ada sekitar 20 orang yang antri. Beberapa saat kemudian sudah lebih dari 26 orang. Orang masih berdatangan dan sekitar jam tujuh, dua jam sebelum pintu dibuka, sudah ada lebih dari 40 orang. Di saat seperti itu ada seorang pengantri baru datang dan tertegun melihat antrian panjang itu. Dia berinisiatif bertanya. Dengan suara agak keras dia bertanya “excuse me guys, are all of you buying the iMac? I just want to make sure if I need to stay or I have to go home now and continue sleeping” sambil tertawa. Para pengantripun tertawa dan mulai menjawab. Sebagian besar memang antri untuk beli iMac, bukan sekedar menemani temannya. Setelah dihitung dari awal ternyata memang sudah lebih dari 26 orang dan orang itupun akhirnya pulang. “Ok guys, good luck!” katanya sambil pergi. Cukup mengenaskan dan itu belum juga jam tujuh pagi.

Sementara itu, saya bercakap-cakap dengan dua orang China yang antri setelah saya. Mereka ternyata mahasiswa di gedung tersebut, keduanya orang IT. Percakapan kami sangat bagus, mulai dari topik IT security hingga maritime security. Sama-sama security, hanya domainnya berbeda. Kami banyak berkelakar dan waktu berlalu agak cepat. Satu per satu pengantri mulai berulah. Ada yang duduk di lantai, ada yang tiduran, ada yang menggeret kursi dari lab terdekat untuk duduk. Para pemuja Apple itu nampak seperti rombongan pengungsi atau lebih mirip korban bencana alam yang antri jatah makanan. Saya telah secara resmi masuk dalam kelompok yang selama ini sering saya tertawakan geli karena antri di Apple store.

Selama antri, saya tetap ngetwit dan beberapa kawan di Perancis dan Jerman menyapa dengan berbagai kelakar. Memang cukup menarik kalau saya ikut antri iMac. Pelan-pelan teman di Australia juga menyapa karena rupanya mereka sudah mulai bangun. Saya antri iMac dengan tetap bercakap-cakap dengan teman di berbagai benua. Demikianlah teknologi informasi saat ini.

Jam delapan, seorang petugas datang dan kami semua berteriak tepuk tangan. Dia datang sejam lebih awal dari waktu dibukanya pintu lab. Diapun mulai menghitung dari awal dan memastikan siapa yang akan mendapatkan iMac tersebut. Tentu banyak yang tegang di belakang sana tetapi saya tidak. Ketika penghitungan dimulai, saya dipastikan nomor delapan dan artinya akan mendapatkan satu iMac. Sampai pada hitungan ke 26 saya mendegar teriakan YES di belakang. Sementara itu, orang ke-27 tentu tertunduk lesu. Si petugas berkata kepada orang nomor 27 dan seterusnya “Ok guys, we have only 26 iMac. Of course you can stay here but I don’t think you should. Go home and have some more sleep” katanya setengah berkelakar. Yang diajak bicarapun bersorak kecewa “huuuu”. Demikianlah persaingan, very tough!

Meski sudah dihitung, pintu tetap belum dibuka dan benar-benar menunggu jam Sembilan. Sambil menunggu, saya pun akhirnya tahu bahwa pengantri pertama yang adalah staff dosen di gedung itu ternyata antri sejak jam 4.50 pagi. Benar-benar sebuah perjuangan. Di tengah winter yang dingin dan pekat dan tidak ada kepentingan sholat subuh, bangun pagi adalah perjuangan tersendiri.

Jam sembilan pagi, pindu dibuka dan petugas mempersilahkan lima orang pertama untuk masuk. Pemilihan komputerpun dilakukan sesuai urutan. Si pengantri pertama mendapat kesempatan memilih, lalu pengantri kedua dan seterusnya. Ketika saya masuk, saya tidak berpikir terlalu jauh. Kalau orang lain menyempatkan diri melakukan testing dan bahkan ada yang memasukkan CD ke iMac untuk menguji kinerja kompter itu, saya malah pakai perasaan saja ketika memilih. Karena saya nomor urut delapan, saya pilih komputer nomor delapan. “Woh, you make my life easier” kata petugas karena saya tidak menyusahkan.

Nama sayapun dicatat dan diberi sebuah kertas tanda terima untuk pembayaran. Setelah itu saya bergegas membayar sebesar AUD 300 di kantor yang tidak jauh dari lab. Mereka hanya menerima pembayaran menggunakan kartu debet maupun kredit. Dalam waktu tidak lebih dari 10 menit semua beres dan kami diminta kembali untuk mengambil barang setelah jam 10.

Sayapun beranjak ke luar gedung dan menuju kafe terdekat. Di sana saya menikmati segelas kopi dan setangkup roti pisang. Sebuah sarapan yang nikmat, terutama karena merasa lega bisa mendapatkan sebuah iMac setelah antri dan berproses selama hampir lima jam. Ketika asik menikmati kopi, orang yang tadinya saya bantu masuk gedung datang menghampiri, sayapun mempersilakan dia duduk di dekat saya. Kamipun secara resmi berkenalan.

Entah bagaimana ceritanya, obrolan melebar ke mana-mana hingga batas maritim, UN Security Council, akses pendidikan untuk warga negara, pariwisata Bali, bisnis penjualan komputer, pendidikan di Autralia dan seterusnya. Saya sangat menikmatinya dan banyak mendengar pandangan anak muda itu. Cukup menarik mendengarkan pandangan seorang aktivis IT ketika berbicara tentang pelanggaran batas maritim oleh nelayan Indonesia di Laut Timor, misalnya. Saya tidak banyak berucap, justru menikmati segala teori dan opini yang diungkapkannya sebagai warga negara Australia. Saya belajar sesuatu dengan mendengarkan pendapat non-ahli.

Jam sepuluh lebih, kamipun bergegas ke Gedung 3 untuk mengambil iMac. Saya juga menawarkan dia numpang mobil saya ketika pulang nanti dan dia menerima. Proses pengambilan komputer berjalan cukup cepat dan dalam waktu beberapa menit kami sudah di luar gedung. Dia menyarankan saya ambil mobil dan dia menunggu iMac di sebelah gedung sampai saya datang menjemput. Saya merasa nyaman dan memutuskan untuk meninggalkan iMac saya bersama dia lalu melesat ke parkiran mobil. Dalam perjalanan ada sedikit perasaan was-was, bagaimana kalau orang ini jahat dan melarikan iMac saya? Sudahlah tidak ada waktu untuk memikirkan hal menyeramkan seperti itu.

Dalam hitungan menit saya sudah kembali ke tempat dia menunggu dan segera memasukkan dua iMac di jok belakang. Saya lalu mengantarnya ke tempat tinggalnya di dekat staiun North Wollongong. Dia sempat memberi kartu namanya dan mengatakan, “if you do not want the iMac, let me know.” Wah, belum sampai rumah pun iMac ini sudah bisa saya jual ternyata. Banyak peminatnya.

Dalam perjalanan pulang saya merasa sangat lega dan puas. Soal iMac ini tentu saja bukan sekedar masalah barang murah. Bagi saya ini adalah soal perjuangan mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan cara yang tidak mudah. Selain itu, ini adalah perihal fair play bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama dan hanya mereka yang berusaha jauh lebih keras dari yang lain saja yang akan mendapatkannya. Ini adalah tentang cerita yang membuktikan bahwa mereka yang bekerja keras dan bersungguh-sungguh akan mendapat apa yang diinginkan, bukan mereka yang memiliki posisi dan koneksi. Oh ya saat mengambil iMac di lab, saya melihat seorang gadis datang dengan dandanan cantik dan rapi. Dia nampak bingung dengan kesibukan orang-orang dan ketika ditanya, dia bilang mau beli iMac. Sorry lady, you are late!

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

20 thoughts on “Demi iMac, antri dari jam 5 pagi”

  1. seru tuh mas !!!! tapi enak…kuotanya jelas…jadi tidak sampai menimbulkan keributan dan korban jiwa kaya di Indonesia :),

  2. Jadi setelah menjalani ritual antri pagi2 dan mendapatkan sebuah Apple besar, sudah bisa menyebut diri sebagai ‘fanboy’ kah? hehehe… Sekarang sudah lengkap kah koleksi Apple-nya? 🙂

      1. Lho… kan sudah pake iChat (lihat foto di posting ini). Itu sudah terobosan kok… Cuma bisa bilang hati2, karena biasanya yg sdh kena ‘gigitan’ Apple apalagi yg sebesar iMac susah keluar dari sekte sesat ini… hihihi… 😀

      2. Hehe.. kalau ini masih tipu2 Bli Dewa 🙂
        Karena Lita di Jogja pakai Windows jadi ga bisa pakai iChat. PC dan iMac, terpaksa ketemu di Skype saja 🙂
        Tapi sepertinya memang menggoda sekali. Masih belajar dan siap2 upgrade OS. Masih pakai Leopard ni 🙂

      3. Eh, saya yg gak ngeh ada logo Skype di pojok itu… Kalo utk keluarga di Indonesia, saya jg berdayakan Skype sih. Hanya dgn Ruri dan kakaknya bisa iChat dan iMessage karena sudah dgn iPad & iPhone. Nanti tunggu iOS 6, kita bisa iChat dgn jaringan 3G.
        Mudah2an bisa upgrade ke Mountain Lion sekalian… Pengguna Mac pasti akan selalu bilang “masih belajar” karena selalu menemukan hal baru di sana… *Ah, saya kayaknya mulai jadi Apple Evangelist nih… :p

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s