Inspired by something that has yet to exist

http://contest.mhphotoclub.com/

Inspired by someone you know or a writing that you have read? That is nothing new. We all have the experience in one way or another. We often say or do things in a particular way because of what others have done. Put simply, were are inspired by something that exists. Now, the question: can we be inspired by something that has yet to exist? Can non-existence be a reason for us to do things in a certain way? I have a story to share.

One day I was driving in a reasonably quiet city of Wollongong, Australia. It was my unlucky day since a car passing close by was misbehaving. The car suddenly overtook me and cut my line just before stopping due to a red light. Of course I was surprised and shocked since it was not something one experiences every day in Wollongong. I was about to hit the horn and yell. However, at the very critical moment there was something in me whispering “don’t do that” and I followed it. I was thinking for a while and then decided to smile, instead of cursing. I smiled to the car in front of me and I could see the driver’s face from his mirror. Having noticed me smiling, he raised his hand and smiled too. The difference was that he did it with a feeling of guilty which was noticeable from his eyes and face. I vaguely  saw his lips saying “sorry”. It was not bad at all. If I did not decide to prevent myself from yelling, the story might have been different.

Continue reading “Inspired by something that has yet to exist”

Desiderata

http://www.ciul.ul.pt/

Berjalanlah dengan tenang di tengah kebisingan dan ketergesaan, dan ingatlah kedamaian itu bertumbuh dalam kebisuan yang tenang. Sedapat mungkin, jagalah kisah baik dengan semua orang, tanpa harus menyerah dan menjadi tumbal. Nyatakanlah kebenaran hatimu dengan lirih dan jernih; dan dengarkanlah orang di sekitarmu, betapapun mereka membosankan dan tidak peduli; merekapun memiliki cerita yang layak didengar.

Hindarilah mereka yang gaduh dan agresif, mereka adalah orang-orang yang menebarkan kekhawatiran bagi jiwamu. Jika engkau membandingkan dirimu dengan yang lain, engkau mungkin merasa tiada berguna dan getir; karena sesungguhnya selalu ada orang yang lebih hebat atau lebih lemah dari dirimu.

Nikmatilah pencapaian dan juga rencana-renana hidupmu. Berusahala untuk tetap tertarik dengan pilihan pekerjaanmu, betapapun sederhananya.; itulah milikmu yang sesungguhnya melewati masa dengan keberuntungan yang senantiasa berubah tidak terduga.

Continue reading “Desiderata”

Maafkan aku

Sahabat sekalian,

Kata ‘maaf’ ini paling mudah diasosiasikan, salah satunya, dengan Mpok Minah di Bajaj Bajuri. Sudah lama aku percaya bahwa minta maaf adalah salah satu dari beberapa hal yang tidak mudah dilakukan. Anggapan ini berubah setelah aku berkenalan dengan Mpok Minah. Mudah sekali untuk minta maaf ternyata. Jangankan setelah melakukan kesalahan, sebelum melakukan apa-apa pun ternyata kita bisa minta maaf. Maaf ya, bagi yang tidak paham, silakan nonton dulu. Bagi yang punya hobi ilmiah, jangan terkejut kalau maaf-nya Mpok Minah sudah jadi skripsi/tesis. 🙂

Maaf yang dimaksud di tulisan ini tentunya bukan maaf-nya Mpok Minah. Bukan juga maaf yang tertempel di pintu kelurahan yang diteruskan dengan kalimat “tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun” karena maaf yang demikian sesungguhnya diilhami oleh penolakan bukan pengampunan. Maaf ini juga tak seperti maaf-nya Ungu, walaupun tanpa kausadari, aku kadang menduakan cintamu 🙂 Maaf ini seperti maaf-nya Iwan Fals kepada ibunya. Maaf yang mendalam, yang disesali dan berharap tak mengulangi kesalahan, meski berharap akan berjumpa Ramadhan di tahun mendatang.

Semoga maaf ini tak seperti maaf-nya Si Malin Kundang yang tak sempat diucapkannya hingga terbujur kaku menjadi batu. Selamat Idul Fitri 1433 H untuk kawan-kawan yang merayakan. Mari saling memaafkan atas segala kesalahan.

The Winner – Sang Pemenang

A nice surprise on the Independence Day 🙂

Warm greeting from Canberra (in the midst of cold winter),
Alhamdulillah. The English Writing Competition for the commemoration of the 2012 National Education Day has eventually reached its final stage.

Board of judges, consisting of Prof Aris Junaidi (Educational and Cultural Attaché of the Indonesian Embassy in Canberra) and A’an Suryana (PhD Candidate/former journalist at the Jakarta Post), have decided three winners as follows:

 

Continue reading “The Winner – Sang Pemenang”

National.is.me

Merah Putih

Di sebuah milis yang saya ikuti, sempat terjadi diskusi menarik soal nasionalisme. Beberapa ilmuwan Indonesia memilih untuk tidak pulang ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikannya. Tentu banyak yang prihatin akan hal ini. Saya memiliki satu pandangan.

Dimensi geografis di masa lalu tentu sangat berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Teknologi saat ini membuat dunia jadi ‘lebih kecil’ secara signifikan. Dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kita bisa tahu apa yg dilakukan seorang kawan di Finlandia dan dua detik kemudian bertegur sapa dengan kolega di Afrika Selatan. Ini tidak bisa dilakukan di tahun 80an. Saat ini ‘negara’ dengan jumlah pendudukan terbesar ketiga bernama Facebook, taman bermain paling besar bernama Google Earth dan tempat ngerumpi paling asyik mungkin saja Twitter.

Continue reading “National.is.me”

Saya mengaku kalah

darii http://6.mshcdn.com/

Saya mengikuti sebuah lomba menulis yang diselenggarakan oleh Telkom Solution terkait penggunaan teknologi informasi (TI) untuk mendukung kinerja perusahaan. Ketika mendapatkan informasi ini dari milis Bali Blogger, saya tidak berniat mengikutinya. Namun begitu, diskusi tidak serius di milis tersebut akhirnya membuat saya mengubah pikiran. Atas ‘desakan’ setengah guyon dari Cahya Legawa, saya akhirnya menulis dan mengirimkannya pada panitia. Ditulis suatu malam yang dingin di Innovation Campus University of Wollongong, saya mengirimkan langsung pada malam itu juga. Tulisan saya hanya 1.192 kata dari 1.200 syarat maksimum yang ditetapkan panitia.

Tulisan saya terkait penggunaan IT untuk kuliah jarak jauh yang memang saya senangi belakangan ini. Rasanya topik ini menarik untuk dibahas dan sangat mungkin untuk diterapkan dengan situasi infrastruktur TI yang dimiliki Indonesia saat ini. Tulisan itu berjudul Teknologi Inspirasi: Jarak Bukan Lagi Tirani.

Continue reading “Saya mengaku kalah”

Pencarian pada Google dengan tulis tangan

Setelah mengeluarkan fitur pencarian menggunakan suara, kini Google melengkapi pencarian dengan tulis tangan (hand writing). Berikut videonya.

Hangout: Komunikasi Video dari Google

Terbit di Suara Merdeka 5/8/12

Tanggal 21 Juli lalu, Perdana Menteri Australia, Julia Gillard, melakukan komunikasi dengan masyarakat Australia secara langsung menggunakan percakapan video di Ineternet. Menariknya, undangan untuk berinteraksi itu bahkan disampaikan lewat iklan di YouTube. Pada hari H, percakapan lewat video itu ditayangkan langsung lewat YouTube.

Teknologi sudah merambah dunia politik begitu jauhnya. Apa yang dilakukan Julia Gillard sesungguhnya bukan yang pertama karena sebelumnya Presiden Barack Obama di Amerika Serikat melakukan hal yang sama. Obama berinteraksi dengan rakyat Amerika secara langsung dengan komunikasi video di internet. Ini merupakan sebuah revolusi dalam dunia politik dan bahwa jarak, waktu dan hirarki kekuasaan memang semestinya tidak menghalangi rakyat untuk menyampaikan suaranya.

Barack Obama dan Julia Gilard menggunakan alat yang sama ketika berbicara dengan masyarakat yaitu Google Hangout. Ketika saya menyampaikan hal ini di twitter, ada yang bahkan bertanya “apa itu Google Hangout?” Itu jadi salah satu alasan saya menulis artikel ini.

Continue reading “Hangout: Komunikasi Video dari Google”

Pencarian dengan suara pada Google

Sudah cukup lama Google memiliki fitur pencarian dengan suara manusia. Berikut demonya.

Wollongong-California, Tiada Jarak di Antara Kita

Sleeping in the cloud – ini Asti, bukan cewek California 🙂

Suatu malam saya menerima sebuah email dari seseorang dari California, US. Si pengirimnya tidak saya kenal, sepertinya seorang perempuan, jika dilihat dari namanya. Pasalnya sangat menarik, dia adalah seorang guru yang diminta menyiapkan pengajaran secara online menggunakann Facetime untuk murid-murid di kawasan pedalaman di California. Yang menarik, dia minta saya berbagi soal ini. Rupanya dia membaca beberapa tulisan saya tentang mengajar online yang pernah saya lakukan.

Beberapa menit setelah email itu, kami sudah bercakap-cakap lewat video menggunakan Facetime. Just in case you don’t know, Facetime adalah video chat dari Apple. Dia mirip dengan Skype, hanya saja tidak bersifat lintas platform, khusus barang Apple. Percakapan saya dengan orang ini adalah contoh sederhana dari kuliah jarak jauh karena saya harus menjelaskan sesuatu dengan diagram sambil diskusi lewat video. Sepertinya dia sangat tertarik. Ada sumringah di wajahnya karena sepertinya dia sudah punya rencana-rencana yang ingin segera diwujudkan. Saya menjelaskan proses kuliah online ini seperti yang saya lakukan dengan Pak Imam Baihaqi  atau dengan Pak Ali Hapsah beberapa waktu lalu.

Yang menarik, saya baru saja berbagi tentang penggunaan Apple untuk kuliah online kepada seorang guru yang berasal dari Apple Capital City of the World. Apple, kalau teman-teman lupa, berkantor pusat di California. Kalau orang Bali justru belajar lontar dan sastra Bali dari Museum di Belanda, maka tidak aneh jika orang Amerika belajar kuliah online dengan Facetime dari orang Indonesia. Seperti itulah dunia saat ini.

PS. Tulisan saya terkait kuliah online ini masuk final Lomba Menulis Telkom Solution. Jika tertarik dan suka, silakan LIKE di laman FB Telkom Solution ya 🙂