Pertanyaan yang Melatih Kesabaran


Dipinjam dari http://duncantrussell.com/

Saya menerima berbagai pertanyaan yang sama lewat komentar di blog ini. Pertanyaan itu biasanya seputar beasiswa. Menariknya, komentar/pertanyaan yang sama itu disampaikan pada tulisan yang sama. Artinya si penanya berikutnya tidak membaca dengan seksama komentar/pertanyaan/jawaban sebelumnya, meskipun sudah saya anjurkan pada tulisan. Kalau hanya dua atau tiga, mungkin tidak jadi soal tapi kalau sudah belasan atau puluhan, ada perasaan yang tidak nyaman. Kadang ada saja godaan untuk menanggapi pertanyaan yang sama dengan cara yang agak emosi sambil memberi “kuliah”. Perlu perjuangan keras untuk  tetap terdengar sabar dan bijaksana.

Yang bertanya tentu tidak bisa memahami perasaan saya. Suasana psikoligis kami berbeda. Si penanya merasa mengajukan satu pertanyaan yang wajar, sementara saya merasa mendapat dan sudah menjawab pertanyaan yang sama puluhan kali. Saya kira pembaca memahami situasi ini. Bagaimana saya  merespon pertanyaan yang sama seperti ini? Sebenarnya saya merasa punya alasan untuk menjawab pertanyaan ke-20 dengan emosi karena merasa sudah cukup sabar menjawab 19 pertanyaan serupa sebelumnya. Tentu saja saya akan terlihat sangat tidak bijaksana bagi si penanya ke-20 yang tidak tahu duduk perkaranya. Tentu kasihan sekali dia. Dilema ini tidak serius tetapi cukup mengganggu.

Akhirnya saya simpulkan. Jika ada orang yang harus memaklumi semua ini, maka orang itu adalah saya. Bahwa niat baik menyediakan informasi itu memang sering harus diikuti dengan konsekuensi menahan geram dan dengan serius mengajarkan diri untuk menjadi lebih sabar. Saya akui, sekali waktu tidak berhasil menahan emosi dan menjawab pertanyaan dengan nuansa yang kurang bersahabat. Semoga pembaca memaklumi saya, seperti saya yang dengan sungguh-sungguh berusaha memaklumi situasi pembaca.

Sesungguhnya saya berharap pengunjung blog ini lebih banyak membaca dibandingkan bertanya sehingga tidak ada pertanyaan yang tidak perlu. Meski demikian, saya juga yakin bahwa saya tetap akan mendapat pertanyaan serupa di masa depan. Mengapa? Karena tidak semua pengunjung membaca tulisan ini dan tidak semua pengunjung repot memikirkan perasaan. Tentu saja demikian karena mereka datang ke sini untuk mencari informasi, bukan ngurusin perasaan 🙂

Yang lebih penting, memang selalu ada orang yang tidak peduli. Untuk mereka yang peduli, tidak peduli, memahami perasaan, tidak memahami perasaan, saya akan tetap berusaha menjawab dengan baik. Meski demikian, saya berharap kebaikan ini tidak membuat pembaca semakin tidak peduli. Kebaikan yang justru membuat orang lain menjadi lebih buruk atau setidaknya tidak bertambah baik sesungguhnya adalah kebaikan yang sia-sia. Saya tidak ingin sia-sia. Semoga saya bisa tetap berbagi, menjadi lebih peduli  dan terutama menjadi lebih sabar dari waktu ke waktu.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

13 thoughts on “Pertanyaan yang Melatih Kesabaran”

  1. Satirically hilarious! Yet, I learn wisdom amidst the calamity here. Keep shining, keep inspiring, Mas! 🙂

    Got an idea: considering the vast bulk of the questions posed, perhaps it does no harm if you categorize them into various categories? Then you could create a separate page, called: FAQs (Frequently Asked Questions). In the page, you also provide the answers to each question. I suppose you know this.

    The good thing is your FAQs are pure in nature as all the questions are based on real corpus, they are based on people’s questions. And second, it saves you a lot of time because you could point the readers to refer to the FAQs before even they are attempting at asking similar questions. Unless a question is purely new in creation, you don’t necessarily re-explain the same thing over and over.

    Just my two cents.

    Namaste,

    Subhan Zein

  2. sungguh bijak! Ada tips yang lain mas…kasih aja link. Itu lebih simpel dan bisa menjawan pertanyaan lebih full. Atau sekalian dibuat peraturan aja. Misalnya si penanya disuruh baca dulu dengan teliti sebelum ngajuin pertanyaan 🙂

  3. Wah, tulisan ini seperti ditujukan kepada saya bli hahaha… meskipun saya sudah berusaha untuk membaca dulu sebelum bertanya, tapi ternyata seringkali setelah mengajukan pertanyaan sambil melanjutkan pencarian… jawabannya lalu ditemukan hahhaha, tapi untuk kasus terakhir di email bli, saya memang kesulitan sekali waktu itu mendownload aplikasi youtube panduan formulirnyanya becoz kendala teknis… but despite all, ure a very great bli 😀

  4. pernah dengan orang I nonesia itu menganut budaya tutur, bukan budaya membaca, makanya mereka lebih senang bertanya daripada membaca dulu,… I agree with mas Subhan Zein. bikin FAQ saja pak … dan saya kira its ok kalau bapak menjawab dengan *silahkan membaca FAQ terlebih dahulu* untuk pertanyaan yg sama

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s