80 Tahun Profesor Hasjim Djalal: Persembahan Indonesia untuk Dunia

With the Star
With the Star

Teater Jakarta masih sepi saat saya tiba di sana sore tanggal 25 Februari 2014. Sementara di halaman terlihat deretan karangan bunga, ucapan Selamat Ulang Tahun untuk Prof. Hasjim Djalal. Malam itu saya menghadiri malam apresiasi untuk Prof. Hasjim Djalal dalam rangka memperingati ulang tahun beliau yang ke-80. Saya beruntung mendapat undangan istimewa itu.

Saya gelisah karena ada satu hal yang belum saya selesaikan. Panitia meminta saya memberikan sambutan yang mewakili murid Pak Hasjim dan saya belum menyelesaikan naskah pidato saya. Tidak biasanya saya tidak mempersiapkan pidato dengan baik jauh-jauh hari sebelumnya. Semua itu karena kesibukan belakangan ini yang gagal saya antisipasi dengan cermat. Pagi hari tadi waktu saya habis untuk menjadi representative University of Wollongong dalam acara Australia Awards Scholarship Information Days di Ritz Carlton, tidak jauh dari Teater Jakarta.

Setiba di Teater Jakarta saya segera menemui Bang Efri, penulis buku “Patriot Negara Kepulauan”, sebuah biografi Prof. Hasjim Djalal. Saya sedikit terlibat dalam proyek penerbitan buku itu, terutama membantu dalam mencarikan penerbit. Ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa saya mendapat undangan ini. selepas berbasa basi, saya segera mencari tempat tenang untuk menyelesaikan naskah pidato. Saya tidak bisa pidato tanpa menyiapkan naskah meskipun akhirnya lebih suka berpidato tanpa naskah.

Continue reading “80 Tahun Profesor Hasjim Djalal: Persembahan Indonesia untuk Dunia”

Jika terpaksa harus kuliah online

Kuliah MG di Teknik Geodesi dan Geomatika UGM

Jika Anda dosen, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa tugas selain mengajar kadang jauh lebih banyak jumlahnya. Selain urusan administrasi seperti BKD, SIPKD, SKP, dan singkatan-singkatan lain yang kadang membingungkan, ada juga tugas lain untuk memikirkan negara. Tidak jarang, seorang dosen diundang satu kementerian untuk dimintai pendapat. Bagi dosen yang berdomisili di luar Jakarta, panggilan-panggilan dan tugas non akademik ini kadang menyita lebih banyak waktu. Perjalanan pulang pergi ke Jakarta dari Jogja, misalnya, akan memakan waktu setidaknya sehari. Akibatnya, tugas mengajar di kampus bisa terabaikan.

Sebenarnya pilihannya bisa sederha yaitu dosen menolak undangan kementerian atau instansi tertentu dan fokus saja mengajar atau meneliti di kampus. Saya yakin ada dosen yang melakukan ini. Tidak demikian dengan saya karena berbagai pertimbangan. Sedapat mungkin undangan itu saya penuhi, terutama yang terkait erat dengan aktivitas berpikir dan melaksanakan kajian. Alasannya sederhana. Saya percaya data, informasi dan pengetahuan itu harus berujung pada kebijakan agar dia memberi manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Terdengar sok idealis? Tentu saja. Seorang yang berani menyebut dirinya guru memang harus idealis. Adakah alasan pragmatis dari kegiatan itu? Tentu saja ada. Dosen mendapat honor dari aktivitas itu. Mungkin ini bukan alasan utama tetapi tidak benar jika tidak saya akui.

Jika terpaksa harus meninggalkan perkuliahan, apa yang bisa dilakukan seorang dosen? Pilihan yang paling mudah adalah mengosongkan kuliah dan menggantinya di hari lain. Saya akui, ini tidak bisa dihindari jika terlalu banyak undangan atau panggilan ke luar kota. Meski demikian, ada pilihan lain yang bisa dicoba yaitu memberikan kuliah secara online. Teknologi informasi dan komunikasi yang sudah sedemikian canggih bisa dimanfaatkan untuk memberi kuliah online ini. Saya baru saja mencobanya.

Saya harus berada di Jakarta dan Bali karena suatu tugas pada tanggal 24-28 Februari 2014. Dalam seminggu itu ada dua kuliah wajib yang harus saya isi yaitu Matematika Geodesi (ya, betul! Anda tidak salah baca) untuk S1 Teknik Geodesi dan Geomatika UGM dan Praktek Basis Data untuk D3 Teknik Geomatika Sekolah Vokasi UGM. Tadinya saya mau mengosongkan saja dan menggantinya di hari lain tapi saya berubah pikiran. Saya memutuskan melakukan kuliah online dengan Skype dibantu oleh Team Viewer. Sebenarnya ini sudah sering saya lakukan dulu ketika masih ada di Australia sehingga secara teknis saya bisa melakukannya tanpa banyak kendala. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah saya akan memiliki akses internet yang memadai ketika ada di Jakarta atau Bali nanti. Jika saya ada di hotel tentu saja tidak masalah tetapi jika saya berada di luar hotel atau benar-benar dalam perjalanan, maka kendala akan muncul.

Kalau ada niat, pasti ada jalan dan kalau tidak ada niat pasti banyak alasan. Saya selalu percaya hal itu. Maka saya mulai mencari cara. Saya kontak asisten saya di Teknik Geodesi dan Geomatika UGM, Sapta Hadi, yang selama ini membantu banyak. Saya ajari dia menggunakan Skype dan Team Viewer untuk kuliah online dan dia antusias. Satu titik terang sudah ada. Tidak ada yang lebih baik dari bekerja dengan orang yang antusias. Singkat cerita saya sudah merasa siap untuk bereksperimen.

Pinjam tempat di IDP/IALF Bali
Kuliah Matematika Geodesi dijadwalkan hari Jumat jam 13.00 WIB dan ketika itu saya berada di Bali dan artinya itu jam 14.00 WITA. Saya harus temukan suatu tempat yang tepat untuk mengajar. Saya kenal dengan Pak Ketut di IDP/IALF Bali dan segera menelpon beliau untuk meminta izin menggunakan salah satu ruangan di IDP/IALF untuk mengajar. Yang saya butuhkan tentu saja sebuah kursi, satu meja dan akses internet. Jika kemudian saya dapat ruang kelas ber-AC, tentu saja itu bonus belaka. Pak Ketut dengan baik hati mengizinkan. Ini terjadi karena sebelumnya saya sudah berinteraksi baik dengan beliau saat saya menjadi perwakilan Universitas Wollongong dalam acara pameran pendidikan yang dikelola IDP. Pertemanan adalah kuncinya.

Ketika selesai kuliah Matematika Geodesi, waktu sudah menunjukkan pukul empat di Bali dan ternyata ruang kuliah yang saya pakai itu akan digunakan. Saya harus mengungsi ke tempat lain untuk memberi kuliah Praktek Basis Data. Akhirnya saya pindah ke ruang dapur/pantry di atas dan mengatakan kepada security bahwa saya adalah tamu dari Pak Ketut. Mereka baik hati mengizinkan saya. Saya menempatkan laptop dan iPad di dekat tempat cuci piring agar bisa di dekat jendela dan pencahayaan jadi lebih bagus. Saat kuliah, sempat juga saya tunjukkan suasana ‘dapur’ itu kepada mahasiswa di Jogja dan mereka tertawa geli menyaksikan dosennya mengajar di dekat tempat cuci piring. Pilihan saya tidak banyak, tempat itupun harus disyukuri.

Belum maksimal tapi awal yang baik
Harus saya akui, perkuliahan oline itu tidak berjalan sempurna. Saat kuliah Matematika Geodesi, ada kendala teknis dengan laptop di Jogja yang microphone-nya tidak berfungsi dengan baik. Ini di luar dugaan karena sebelumnya kami sudah coba dan berhasil baik. Ini satu pelajaran bahwa saya harus mencoba lagi di detik-detik terakhir sebelum kuliah agar hal ini tidak terjadi. Kendala kedua adalah audio yang tidak kami siapkan dengan matang sehingga katanya suara saya kadang turun. Saya duga ini terkait dengan kualitas laptop di Jogja dan juga koneksi internet. Saat itu masih jam 13.00 WIB di Jogja dan pengguna internet masih cukup banyak. Selain itu, koneksi menggunakan WIFI sehingga tidak sebagus jika menggunakan kabel. Lain kali, ini harus kami perhatikan hal ini lebih baik.

Praktek Basis Data di D3 Teknik Geomatika SV UGM

Kendala yang terjadi di Kuliah Matematika Geodesi akhirnya kami jadikan pelajaran dan perbaiki di Kuliah Praktek Basis Data. Hasilnya cemerlang. Hampir tidak ada kendala koneksi dan audio saat kuliah Basis Data itu. Suara jernih, tayangan berjalan baik dan bahkan interaksi bisa dilakukan dengan sangat baik. Mahasiswa bisa memberikan komentar dengan leluasa. Saya bisa mendengar mereka tertawa dan antusias merespon kuliah itu. Saya juga meminta mahasiswa mengirimkan email dan memberi kesan serta masukan. Hasilnya bagus. Secara umum mahasiswa merasa ini pengalaman yang menarik karena ini merupakan pengalaman pertama bagi sebagian besar dari mereka. Tentu saja bukan soal materi tetapi kuliah online ini memberikan pengalaman baru yang segar kepada mahasiswa.

Satu yang mahasiswa dan saya sepakati adalah kuliah online tidak pernah bisa menggantikan kuliah tatap muka secara utuh, setidaknya sampai hari ini. Saya tegaskan kepada mereka, kuliah online ini dilakukan jika dan hanya jika terpaksa. Saya mohon mahasiswa memahami bahwa tugas dosen tidak hanya mengajar meskipun tetap harus mengutamakan itu sebagai tugas pertama. Intinya, dosen dan mahasiswa perlu bekerjasama dengan baik agar semua tugas itu berjalan dengan baik dan tidak ada pihak yang benar-benar dirugikan. Komunikasi yang baik adalah kuncinya.

Saya pribadi merasa senang bisa melakukan kuliah secara online Jumat kemarin. Saya tidak menawarkan sesuatu yang luar biasa dengan kuliah online itu karena semuanya menggunakan teknologi yang begitu sederhana. Tidak ada investasi tambahan, hanya menggunakan apa yang sudah biasa kita pakai sehari-hari. Kuliah ini berbiaya rendah karena tidak ada biaya tambahan dibandingkan kuliah yang biasa dilakukan. Memang tidak sempurna tetapi ini bisa jadi solusi yang mengatasi keterpisahan jarak. Saya berharap pihak lain akan memberikan tanggapan konstruktif karena yang saya tawarkan adalah sebuah niat baik. Itu saja.

Ini gratis, bukan murah apalagi murahan!

http://akademiberbagi.org/

Teman-teman sering bertanya “dibayar berapa untuk memberi kuliah umum atau seminar?” Banyak yang tidak percaya kalau saya bilang “saya tidak selalu dibayar”. Memang ada yang membayar saya untuk memberi kuliah tetapi rasanya lebih banyak yang gratis selama ini. mengapa saya mau melakukan itu? Banyak yang heran. Ada mahasiswa yang secara serius bertanya pada saya soal ini. Dia dengan rasional bertanya perihal imbalan materi yang sebenarnya layak saya dapatkan.

Continue reading “Ini gratis, bukan murah apalagi murahan!”

Pendaftaran Beasiswa AAS 2015 Sudah Dibuka!

STOP PRESS:

Mungkin Anda bermaksud mencari informasi Beasiswa AAS 2016 yang pendaftarannya dilakukan tahun 2015. Pendaftarannya dibuka tanggal 1 Februari 2015. Silakan baca tulisan saya yang ini.

+++++++++++++

Sejak tanggal 1 Februari 2014, pendaftaran beasiswa AAS atau Australia Awards Scholarship sudah dibuka. Dulu beasiswa ini dikenal dengan nama Australian Development Scholarship atau ADS. Kini, beasiswa ini dikelol oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia. Intinya, beasiswa ini memungkinkan warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan untuk sekolah S2 atau S3 di Australia dengan biaya dari pemerintah Australia.

Berguru ke Negeri Kangguru

Jika Anda termasuk satu dari sekian banyak orang yang awam dengan beasiswa ini, saya sarankan membaca tulisan saya yang berjudul “Memahami Beasiswa AAS bagi Orang Biasa“. Selain itu, saya sudah kumpulkan tips dan trick sesuai pengalaman sendiri dan teman-teman di halaman khusus di blog ini. Silakan baca semua artikel di sana dan kemungkinan besar pertanyaan Anda sudah terjawab di sana. Saya juga sudah menulis sebuah buku yang lengkap tentang meraih beasiswa Australia ini. Silakan dapatkan di toko buku terdekat atau pesan lewat blog ini. Saya ingatkan, buku itu merupakan kumpulan tulisan di blog ini sehingga Anda tidak harus membelinya. Meski demikian, tentu saja ada penyempurnaan dalam hal isi maupun penampilan.

Setelah membaca tulisan ini, Anda akan tergoda untuk bertanya tentang persyaratan, tentang proses, tentang fasilitas dan lain-lain. Jangan buru-buru bertanya karena semua itu sudah ada di blog ini. Silakan kunjungi halaman khusus ini dan mudah-mudahan rasa penasaran Anda terpuaskan. Selamat berjuang, Kawan!

STOP!

Jangan buru buru bertanya lewat comment di bawah. Sangat amat mungkin pertanyaan Anda itu terjawab dengan mudah jika Anda teliti membaca informasi di link yang saya sampaikan di atas. Good luck!

Perempuan Cantik itu Buang Sampah Sembarangan

krl
Suasana KRL yg nyaman 🙂

Kereta yang bergerak dari Bogor ke arah Kota Jakarta itu penuh. Banyak orang harus berdiri karena semua tempat duduk terisi. Saya termasuk yang memilih untuk berdiri meskipun tadinya dapat tempat duduk. Ada beberapa perempuan dan lelaki senior yang lebih membutuhkan. Meskipun sebenarnya saya punya tugas yang harus diselesaikan, saya akhirnya memilih menutup laptop, memasukkan ke tas dan berdiri. Tidak nyaman bekerja di kereta dengan tatapan perempuan atau lelaki tua yang lebih membutuhkan kursi.

Syukurlah baterei HP saya habis sehingga saya tidak tenggelam di dunia maya berakrab-akrab dengan orang jauh dan mengabaikan orang dekat. Saya raih tali pegangan yang berjuntai di atas kepala. Memandang ke luar jendela, saya menikmati suasana sepanjang jalan. Harus diakui, dibandingkan sepuluh tahun silam, kereta di Jabodetabek jauh lebih nyaman kini. Saya tidak ragu mengacungkan jempol untuk siapa saja di PT Kereta Api Indonesia yang menghadirkan kebaikan itu.

Kekaguman saya terganggu begitu melihat seorang gadis cantik yang membuang tisu ke lantai kereta. Terus terang saya terkejut karena tidak berharap perbuatan ‘hina’ itu dilakukan oleh seorang gadis yang kelihatannya terdidik dan bermasa depan itu. Pakaiannya bagus, pada telinganya terselip earphone dengan pandangan mata yang rupanya begitu menikmati diri sendiri. Saya berpikir sejenak, bertanya pada diri sendiri apa yang harus dilakukan.

Continue reading “Perempuan Cantik itu Buang Sampah Sembarangan”

Berkah di Hari Valentine

http://media.viva.co.id/

Hello Kawan,

Kamu pasti sudah mendengar berita baik ini. Kami semua bersykur, setelah lama menunggu, akhirnya Tuhan mengabulkan doa kami. Tuhan mencintai kami penuh seluruh dengan menurunkan berkah di hari Valentine ini. DiberikanNya pada kami apa yang sudah bertahun-tahun kami idam-idamkan dan rindukan. Kami dikirimi bahan makanan berlimpah. Keluarga bersuka cita menyambut berkah itu. Anak-anak bersenandung bermain di halaman dan berdansa menikmati guyuran nikmat yang tiada tara. Berkah itu akan membuat generasi penerus kami hidup tenang selama bertahun-tahun di masa depan.

Continue reading “Berkah di Hari Valentine”

Kereta Terakhir

http://adventureamigos.net/

Aku melesat meninggalkan loket tiket di stasiun Pondok Cina, bergegas mendekati kereta yang sebentar lagi berlalu. Hampir setengah sebelas malam, ini adalah kereta terakhir yang akan membawa penumpang ke arah Bogor. Aku tidak punya pilihan lain, aku tidak boleh terlambat jika tidak ingin tertinggal. Hari telah larut, aku tidak begitu paham pilihan transportasi dari kawasan Depok ke Bogor selain kereta.

Kurang dari semenit setelah aku menginjakkan kaki di gerbong paling belakang, kereta perlahan melaju. Aku lega, aku berhasil memasuki kereta terakhir malam itu. Dengan nafas masih terengah, aku meraihh pegangan yang berjuntai di atasku. Tidak ada tempat duduk yang kosong, akupun berdiri. Sambil mengatur nafas, aku perhatikan sekeliling. Di satu sudut, ada seorag perempuan muda yang asyik dengan HPnya, sekali-sekali melirik ke arahku yang baru datang dan masih tersengal. Tidak lama, dia kembali tenggelam di layar HPnya tetapi seperti ada senyum yang tersungging di bibirnya. Ada getaran yang berbeda dari senyum itu. Entahlah.

Continue reading “Kereta Terakhir”

Radius Siaga Gunung Kelud

Seberapa jauh tempat tinggal Anda dari puncak Gunung Kelud?

Gunakan:
[+] untuk memperbesar tampilan peta (zoom in)
[-] untuk memperkecil tampilan peta (zoom out)
[tanpa panah] untuk menggeser tampilan peta
Klik pada tiap lingkaran untuk melihat keterangan radius (5 – 85 kilometer dari Gunung Kelud)

Untuk Pengguna Google Earth, silakan unduh file KML di sini.

Jika ingin melihat peta dengan ukuran lebih besar, silakan klik di sini

PS. Informasi ini hanya menunjukkan jarak dari puncak Gunung Kelud dan tidak mewakili status kesiagaan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, meskipun radius yang ada di peta ini hanya sampai 85 kilometer, kawasan di luar itu juga tetap harus waspada. Di Jogja, misalnya, hujan abu cukup parah dan masyarakat sebaiknya menggunakan masker. Semoga semua selamat.

Turun Tangan Menjadi Guru SD

Mengajar

Handy Bunawan namanya. Dia kawan baik saya ketika bekerja di Astra lebih dari sepuluh tahun silam. Kami bercakap-cakap di ruang makan kantor di suatu siang. Dia mengatakan kepada saya “De, kalau memang niat jadi pendidik, sekalian ikuti gaya Romo Mangun aja.” Dia sedang mengomentari rencana saya keluar dari Astra untuk menjadi dosen di UGM. Pilihan ini tentu tidak begitu lazim bagi teman-teman saya ketika itu. Memutuskan pindah dari Astra untuk jadi guru di kampus tentu bukan pilihan yang mudah diterima akal konvensional. Tentu saja alasan finansial yang menjadikan pilihan itu tidak menarik.

“Cobalah sekali-sekali mengajar anak SD di sela-sela memberi kuliah De” kata Handy memberi sumbangan ide. Ketika mendengar gagasan itu, saya tidak banyak menanggapi. Ide untuk pindah ke UGM dari Astra sudah terasa cukup aneh ketika itu karena gaji yang ditawarkan sepersekiannya. Keanehan itu kini ditambahi gagasan yang juga tidak lazim. Handy menyarankan saya untuk menjadi guru SD selain menjadi dosen di UGM. Lebih parah lagi, Handy menyarankan saya jadi guru bagi anak-anak tidak mampu sebagai bentuk pengabdian saya pada pendidkan. Saya tidak mengiyakan, sekaligus tidak membantah. Saya mengerti, Handy tentu tidak melihat alasan finansial/materi yang melatarbelakangi kepindahan saya dari Astra ke UGM. Rupanya dia melihat ada idealisme di balik keputusan itu sehingga dia kemudian dengan tanpa beban mengusulkan gagasan idealis dengan menjadi guru SD pada saya.

Continue reading “Turun Tangan Menjadi Guru SD”

Jika sudah S2, bolehkah mendaftar S2 lagi lewat Beasiswa AAS?

Sering ada pertanyaan seperti pada judul tulisan ini yang saya terima dari para pejuang beasiswa Australia Awards Scholarship – AAS (dulu disebut Australian Development Scholarship, ADS). Jika pertanyaan ini dilayangkan sebelum 1 Februari 2014 jawaban saya biasanya seperti ini:

Secara formal tidak boleh. Meski demikian, kenyataannya ada orang yang sudah S2 lalu mendaftar AAS/ADS untuk sekolah S2 dan ternyata diterima. Saat mendaftar, dia rupanya dengan sengaja menyembunyikan statusnya yang sudah S2 dan hanya menggunakan ijazah S1. Saya tidak ada dalam posisi menyarankan atau melarang orang lain melakukan itu. Yang pasti, ada unsur ketidakjujuran dan pelanggaran di situ. Saya yakin Anda bisa memutuskan dengan bijaksana.

Continue reading “Jika sudah S2, bolehkah mendaftar S2 lagi lewat Beasiswa AAS?”