Jokowi Harus Berani Lawan Megawati!

Jokowi di masa muda

Saya tidak belajar politik secara formal tetapi rasanya sulit untuk tidak terpapar isu politik jika berdiam diri di Bumi Indonesia belakangan ini. Jangankan mereka yang sengaja mengikuti isunya, mereka yang berusaha menghindar dari hingar bingar politik pun harus rela bertemu lagi dan lagi dengan isu politik. Disengaja atau tidak, setiap orang akan bertemu dengan isu politik yang tengah menyita perhatian seluruh negeri. Yang lebih penting, percaya atau tidak, paham atau tidak, kehidupan kita dipengaruhi politik. Nasi yang kita kunyah, jalan yang kita lalui, buku yang kit abaca, kendaraan umum yang kita tumpangi, disadari atau tidak adalah produk politik. Seperti udara, kita tidak harus percaya atau peduli padanya, kita tetap akan tergantung. Politik itu demikian. Pilihannya jelas, diam saja atau memberi komentar dan bereaksi. Saya memilih yang kedua, tentu dengan kapasitas yang sangat terbatas.

Continue reading “Jokowi Harus Berani Lawan Megawati!”

Antara Sepeda, Motor dan Mobil

Kendaraan dinas UGM
Kendaraan dinas UGM

Jika ditanya serius “apakah kita boleh membedakan perlakuan terhadap orang berdasarkan kendaraan yang dipakainya?” mungkin sebagian besar, jika tidak semua, orang akan menjawab “tidak”. Anda juga mungkin menjawab “tidak”. Ini ilmu yang umum, ajaran yang dipercaya oleh semua penganut kebaikan. Benarkah kita tidak membedakan perlakuan terhadap orang berdasarkan kendaraannya?

Dalam beberapa bulan terakhir ini saya banyak menggunakan sepeda di UGM untuk mengunjungi tempat-tempat berbeda di lingkungan kampus. Kami menyebut sepeda itu sebagai ‘kendaraan dinas’ bagi mereka yang bertugas menjalankan roda organisasi UGM. Di kesempatan berbeda, saya juga sering menggunakan motor. Tentu saja sekali waktu masih menggunakan mobil, terutama ketika hujan mendera atau karena harus mengantar tamu. Ternyata perlakuan yang saya terima saat naik sepeda, motor atau mobil itu berbeda.

Continue reading “Antara Sepeda, Motor dan Mobil”

Sepuluh ‘Dosa’ Saat Menulis Email

Seharusnya saya beri judul tulisan ini “Tips Menulis Email yang baik dan benar” tapi mungkin kurang sangar makanya saya ganti menjadi seperti judul sekarang. Dulu saya berpikir bahwa menulis email itu begitu mudah, semua orang bisa dan tidak perlu diajari. Semakin lama saya semakin ragu dengan pemahaman itu. Dalam beberapa hari terakhir saya bahkan jadi yakin bahwa menulis email itu tidak mudah dan saya merasa tergerak untuk berbagi pemahaman saya. Tulisan ini berdasarkan ratusan email yang saya terima baik dari mahasiswa maupun dari mitra di luar universitas. Ada sepuluh hal penting yang perlu diperhatikan:

Continue reading “Sepuluh ‘Dosa’ Saat Menulis Email”

Saya Jadi Kepala KUA

Saya mendapat tugas sebagai Kepala Kantor Urusan Internasional alias Office of International Affairs UGM sejak pertengahan tahun lalu. Sebagian teman saya menganggap ini musibah, sebagian lain menyelamati sebagai pencapaian. Saya sendiri menganggap ini kesempatan belajar yang kadang membawa musibah mendewasakan. Tapi tulisan ini bukan tentang pencapaian atau musibah.

Meskipun saya merasa peran kantor ini sangat penting dalam konteks internasionalisasi pendidikan di UGM, ternyata kantor ini, yang disingkat KUI atau OIA, tidak dikenal oleh semua orang UGM sekalipun. KUI? Opo kui? tanya banyak orang dengan logat Jogja yang enak didengar.

Continue reading “Saya Jadi Kepala KUA”

UNSW, setelah 11 tahun

Sydney, 14 Januari 2004

Hari sudah terang, pagi tak lagi muda karena matahari menghadirkan benderang yang cerah. Sydney kulihat pertama kali dari balik jendela pesawat yang baru saja menyentuhkan roda-rodanya di landasan Bandara Kingsford Smith. Inikah negeri Kangguru yang telah lama kusimpan dalam rasa penasaranku? Aku nyaris tidak percaya, hari itu datang juga. Sebentar lagi, pikirku, Negeri Kangguru tak lagi asing di mata dan terutama hatiku.

Kulihat dua lelaki bekerja giat di landasan Bandara. Keduanya mengenakan helm dan baju dengan rompi yang memendarkan sinar. Sepatunya nampak khusus untuk bekerja di lapangan dengan warna cokelat gelap. Yang menarik, keduanya mengenakan celana pendek, bukan sesuatu yang aku lihat setiap hari. Pekerja lapangan dengan sepatu berujung baja dan berhelm proyek yang berstandar, rasanya tidak cocok mengenakan celana pendek. Itulah Sydney dalam kesan pertamaku.

Yang paling aneh dari segala yang aneh, keduanya bule. Bukankah bule seharusnya bersenang-senang di Pantai Kuta sambil minum bir dan menikmati pijatan penjaja jasa keliling di atas pasir? Bukankah seorang bule seharusnya berselancar melawan deru ombak di pantai eksotis di Bali Utara dan bukan bekerja mengangkat kopor atau barang berat lainnya di sebuah bandara yang benderang? Pikiran konyol orang Bali yang hanya tahu Alas Kedaton, Kuta dan Tanah Lot, tidak bisa disembunyikan di saat begitu. Aku terheran-heran melihat bule bekerja karena kusangka selama ini tugas hidup mereka hanya melancong. Bule itu turis, kata tetua di kampungku.

Aku bergerak mengikuti antrian yang mengular. Perjalanan masih panjang meskipun aku sudah keluar dari pesawat. Kini antrian di bagian imigrasi dan bea cukai menunggu. Di tanganku ada pasporku dan sebuah kartu kedatangan yang sudah aku isi di pesawat tadi. Saat mengisi, penuh ketegangan, takut salah dan takut dimarahi. Yang paling menyeramkan, kalau-kalau kartunya salah aku isi dan diminta merevisi. Kartu kedatangan memang bukan skripsi tetapi apapun bisa terjadi, pikirku.

Tidak seserem yang aku duga, aku terbebas dan diizinkan memasuki Sydney. Dalam hati aku berteriak girang “Australia, here I am”. Tentu saja tidak dengan logat Aussie yang malas dan terseret-seret. Betul, bicara dalam hatipun tentu ada logatnya. Kupandangi sekitar, koperku sudah terlihat berkeliling di conveyor belt, entah untuk keberapa kalinya. Kugamit pegangannya dan dalam sekejap aku sudah siap melanjutkan perjalan keluar dari bandara. Tentu saja harus melewati custom yang super ketat. Tidak boleh ada buah, tidak boleh ini tidak boleh itu. Singkat cerita, aku terbebas dengan mudah. Tentu saja. Tidak ada gunanya belajar cross culture understanding selama delapan minggu di IALF Jakarta jika aku masih belum paham apa yang boleh dan tidak boleh dibawa saat datang ke Australia.

Aku melihat wajah-wajah yang sumringah penuh senyum menyambutku. Ternyata mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sudah belajar di University of New South Wales (UNSW) terlebih dahulu. Kini aku menjadi junior mereka, siap menjadi adik kelas yang baik. Mereka adalah orang-orag baik hati. Satu per satu menyalami kami dan ternyata lebih banyak penjemput dibandingkan yang dijemput. Orang-orang baik yang pintar itu merelakan dirinya menjadi penjemput kami. Tidak saja itu, mereka menemani kami di kendaraan yang membawa kami ke Sydney sambil membicarakan hal-hal menarik yang menambah semangat. Ada banyak nama yang kuingat dan tidak akan aku lupakan.

Aku diantar ke sebuah rumah tinggal. Aku dititipkan di sebuah keluarga Indonesia yang istrinya sedang sekolah di UNSW. Aku memang tidak siap sebelumnya dan tidak mendapatkan akomodasi sebelum berangkat ke Sydney. Untunglah para senior menyediakan semua fasilitas itu dengan kerelaan hati. Aku membayar tentu saja. Kami semua mendapat beasiswa yang sama, tak ada alasan bagi yang satu untuk menghamba secara finansial kepada yang lain.

Menjelang siang, kami diantar ke International Students Service alias ISS alias Kantor Urusan Internasional UNSW. Tempat itu surga bagi mahasiswa asing. Ada komputer untuk dipakai mahasiswa asing, terutama yang baru bergabung seperti aku. Ada penganan kecil yang tersedia untuk para mahasiswa asing yang baru, ada lembaran-lembaran informasi akomodasi yang tersedia, ada berbagai brosur kegiatan mahasiswa di UNSW, ada konsultan yang siap sedia memberikan informasi dan banyak lagi.

Di berbagai pojok kulihat petugas yang tidak pernah berhenti mengumbar senyum seraya memberi penjelasan kepada mahasiswa asing yang baru saja tiba. Aku menunggu giliranku, sambil mencoba mengirimkan email kepada teman dan sanak famili di Jogja ketika itu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku mendapat giliran. Seorang perempuan muda yang ramah dan menarik hati menyapaku. “Good morning, thank you for waiting. How can I help you?”. Aku yang belum terbiasa mendengar Bahasa Inggris logat Australia sejenak tertegun, tidak begitu paham apa yang ditanyakan gadis itu. “Pardon me” ada frase yang paling sering aku ulang. Syukurlah, pada akhirnya semua baik-baik saja. Memulai dengan senyum, gadis itu mengakhiri juga dengan senyum. Professional dan hangat. Tiba-tiba aku merasa di rumah sendiri. Aman, nyaman dan sangat diperhatikan. Itulah kesan pertama tetang kantor urusan internasional UNSW pada pagi itu.

Kutengok di sekelilingku, ada yang sedang konsultasi perihal memperoleh akomodasi. Ada yang curhat karena kopornya lenyap di pesawat atau bandara, ada yang sedang diajari cara menggunakan perangkat lunak tertentu. Ada juga seorang gadis lain yang khusus berkeliling memberikan penganan kecil. Aku dilayani begitu rupa, membuatku merasa di atas angin seperti raja. Sentuhan pertama office of international affairs UNSW itu memberikan kesan mendalam. Sentuhan personal dalam konteks professional menjadi kunci yang menyentuh hati. Dalam sekajap, aku sudah merasa jatuh cinta pada kampus UNSW ini. Terkesima oleh layanan yang memanusiakan.

Yogyakarta, 14 Januari 2015
Aku menatap wajah perempuan itu. Air mukanya tenang, sorot mata birunya tajam tapi tak mengancam. Dia menatapku dan berkata “So, Pak Andi, thank you for making the time. We are so pleased to finally meet you. With your position as the Head of the Office of International Affairs at UGM, I am sure we can strengthen our relationship.

Sambil mengangguk mantap, kulirik lagi kartu nama berwarna kuning yang baru saja diserahkannya. Kartu nama itu tiba-tiba seakan berubah menjadi layar TV yang memutar ulang peristiwa lama. Berkelebat wajah-wajah para senior yang menjemputku di Bandara Sydney 11 tahun silam, tersungging senyum yang hangat para pelayan mahasiswa baru, tercium aroma nasi goreng halal di Taste of Thai, Randwick, dan terngiang logat Bahasa Inggris Yew Kong Tam, petinggi kantor urusan internasional , yang tak lazim. Kusimak dengan seksama, pada sisi kiri kartu nama itu terukir logo yang aku kenal baik dan dibawahnya bertuliskan singkatan yang tidak asing lagi: UNSW. “Pleasure is mine!” kataku mantap!

Tukang Ojek yang Misterius

Hari sudah malam ketika saya keluar dari kediaman Duta Besar Perancis untuk Indonesia di bilangan Menteng, Jakarta. Beberapa menit lalu, baru saja dilaksanakan resepsi dan saya mendapat kehormatan untuk hadir. Ibu Duta Besar berkenan bertemu berbagai pihak, salah satunya adalah kantor urusan internasional beberapa universitas terpilih di Indonesia. Makan malam yang berkesan, bukan karena makanannya tetapi karena pertemuan dengan banyak orang sebagai tempat belajar.

Malam sudah cukup sepi dan saya bermaksud mencari kendaraan untuk mengantarkan saya ke hotel tempat menginap. Di depan kediaman Ibu Dubes tidak ada taksi, tak juga saya lihat ada ojek. Jalan agak gelap dan sepi ketika saya melangkah ragu untuk menuju jalan raya terdekat. Tidak jauh dari kediaman Duta Besar Perancis, saya melewati persimpangan dan melihat ada beberapa orang sedang bercakap-cakap di keremangan.

Saya mendekati sekumpulan orang itu dan bertanya perihal taksi atau ojek. Dua orang lelaki berdiri dan satu orang lainnya duduk di atas sebuah motor. Intinya mereka mengatakan tidak ada taksi di daerah itu dan saya disarankan untuk berjalan menuju jalan raya terdekat. Saya hampir melaksanakan apa yang disarankan sampai akhirnya lelaki yang duduk di atas motor itu bertanya “mau ke mana Mas?”. Dari tadi lelaki itu tidak banyak bicara dan kini dia seperti peduli. Saya pun menjelaskan maksud saya untuk kembali ke hotel.

“Sini saya antar” katanya, di luar perkiraan saya. Saya agak ragu dan sedikit kurang paham atau tepatnya bingung dengan tawaran lelaki itu. “Bener nih Pak?” tanya saya. “Ya, biar saya antar, nggak apa-apa” katanya meyakinkan dan dilanjutkan dengan pamitan kepada dua orang lelaki yang berdiri di sana. “Yuk, aku ngojek dulu ya” katanya sambil menghidupkan motornya. Ada berbagai perihal yang berkecamuk dalam kepala saya. Pertama, saya jadi ragu apakah lelaki itu memang ojek atau bukan. Kedua, jika dia bukan tukang ojek, mengapa memberi tawaran kepada saya. Menariknya di tengah keraguan itu, ada dorongan untuk tidak menolak tawaran lelaki itu.

Dengan agak ragu saya naik di jok belakang motor yang dikendarai lelaki itu. Di sepanjang jalan kami bercakap-cakap dan saya pun menceritakan sekilas tetang profesi saya dan untuk apa saya ada di sana. Saya masih ragu apakah lelaki ini tukang ojek atau bukan. Saya yang tidak begiktu familiar dengan jalan-jalan di Jakarta mulai agak ragu dan curiga. Siapa gerangan lelaki misterius ini? demikian saya berpikir. Di sepanjang jalan di bertanya tetang profesi saya dan mengatakan istrinya juga seorang dosen. Saya tidak tahu apakah ceritanya benar atau tidak, yang jelas dia memiliki daya persuasi yang begitu kuat hingga saya manut saja diajaknya berkendara. Jika diminta menasihati, saya tidak sarankan pembaca melakukan apa yang saya lakukan.

Rasa curiga menguat setelah beberapa menit di atas motor. Jangan-jangan ini penipuan. Jangan-jangan lelaki ini penjahat yang akan mencelakakan saya di suatu tempat yang gelap dan sepi. Jangan-jangan … dan seterusnya. Saya baru memperhatikan postur lelaki yang membonceng saya ini. badannya tegak, tubuhnya berisi dan cukurannya pendek. Adakah dia seorang anggota TNI, saya tidak tahu. Perasaan saya diliputi rasa khawatir yang amat sangat tetapi sepertinya sudah terlambat.

Setelah bebrapa menit menerobos geliat jalanan Jakarta, saya tiba di depan lobby hotel. Dari beberapa kalimat yang diucapkan, saya masih menduga bahwa dia mungkin saja memang tukang ojek. Ketika saya turun, saya beranikan diri berkata “terima kasih Pak. Berapa harus saya bayar Bapak?” Lelaki itu hanya tersenyum, menggelengkan kepala lalu lenyap di kegelapan malam. Siapakah lelaki baik hati yang rela menjadi tukang ojek buat saya malam itu. Hingga kini, ada kisahnya di ruang misteri dalam bathin saya. Lelaki itu mungkin orang biasa saja. Bedanya dengan orang lain, dia tidak merasa perlu banyak bertanya ketika menolong orang lain yang sedang membutuhkan. Dalam perspektif yang lebih serius, bisa jadi ini adalah karmaphala, buah dari apa yang terjadi selama ini.

Jakarta, 14 Oktober ’14

Tips Seminar Proposal Skripsi, alias SemPro

Banyak yang menganggap seminar proposal skripsi itu menyeramkan. Sesungguhnya tidak demikian kalau kalian paham dengan baik apa sesungguhnya seminar proposal ini. Tips ini pernah saya twit untuk Geodesi UGM. Silakan disimak dan semoga membantu.

  1. Seminar proposal skripsi itu bukan pengadilan, tidak usah takut 🙂 Itu adalah proses dialog untuk memastikan mahasiswa siap membuat skripsi.
  2. Tujuan utama Seminar proposal skripsi adalah untuk membantu mahasiswa dalam menyiapkan skripsinya jadi tdk perlu tegang tapi perlu siap-siap dengan baik.
  3. Intinya kalian mau bikin skripsi maka kalian perlu sampaikan gagasan skripsi itu kepada dosen agar dipastikan arahnya benar dan kalian tidak tersesat.
  4. Kalian perlu sampaikan apa yang sudah ada atau diteliti orang lain dan sampaikan apa yang belum ada atau diteliti. Nah itulah yang ingin kalian teliti. Namanya filling the gap. Makanya tugas utama kalian adalah membaca penelitian terdahulu.
  5. Pada dasarnya, dosen perlu tahu, kalian mau apa, siap nggak kalian melakukannya, sdh punya data belum. Intinya agar pembuatan skripsi nanti lancar 😉
  6. Dalam presentasi harus sampaikan apa topik skripsinya, mengapa itu perlu dilakukan, metode/caranya bagaiamna, datanya dari mana, lalu hasilnya nanti apa? Gunanya apa? Itu saja. Tidak usah ribet2 mikirnya 🙂
  7. Seminar proposal skripsi adalah proses dialog yg baik antara murid dan guru. Tidak bisa jawab pertanyaan dosen itu wajar, dosen akan kasih masukan. Tapi jangan meremehkan.
  8. Secara teknis, siapkan presentasi yg baik. Buat slide yg sederhana tapi efektif. Jangan kebanyakan huruf. Isi ilustrasi gambar yg bisa menjelaskan secara visual. Ini contoh yang perlu diperbaiki:
  9. Jangan hanya copas isi proposal ke slide Power Point. Itu bukan cara yg baik dlm presentasi. Lihat bedanya kedua slide berikut. Isinya sama tapi cara penyampaiannya beda.
    teksvsgambar
  10. Pastikan presentasi tdk lbh dari sepuluh menit, makanya jangan terlalu banyak teori. Latih di rumah sampai lancar dan tepat waktu. Jangan tampil tanpa latihan.
  11. Tidak semua orang berbakat presentasi. Tenang saja. Setidaknya kalian tampil wajar. Merasa tidak berbakat? Latihan!!! Ajak teman untuk belajar bersama dan saling koreksi.
  12. Kalau latihan 100 kali belum bisa lancar dan tepat waktu, latih 200 kali. Tapi kalau latihan sekali sudah okay, bagus lah 🙂
  13. Pertanyaan dosen biasanya seputar: hipotesis, metode/cara penelitian, kesiapan data, kesiapan software, hasil yg diharapkan dan manfaat penelitian.
  14. Intinya banget, dosen ingin kalian bisa selesai dengan lancar dan hasilnya baik. Seminar proposal skripsi adalah untuk membantu kalian, bukan mengadili. Sekian 🙂
  15. Eh, satu lagi: tampil rapi! Penampilan memang bukan yang utama tetapi selalu lebih menyenangkan melihat orang tampil rapi dan bersih secara wajar saat menyampaikan gagasannya.

Silakan baca juga tips presentasi skripsi

Kalau sudah selesai skripsi, mungkin Anda tertarik S2 dengan beasiswa ke luar negeri. Silakan baca buku ‘Rahasia Beasiswa‘ ini 🙂

Tips Wawancara Beasiswa AAS 2015

Tiba waktunya untuk wawancara bagi yang lolos tahap seleksi beasiswa Australia Award Scholarship alias AAS tahap 1. Tips ini sudah pernah saya twit dan saya kumpulkan di sini agar lebih mudah diarsipkan. Selamat berjuang Kawan!

  1. Tidak ada jalan pintas tidak ada simsalabim dalam #WawancaraAAS. Intinya: PERSIAPAN yg matang dan mantap.
  2. Baca kembali dg seksama berkas aplikasi #BeasiswaAAS yg dulu dikirimkan, pahami dengan sangat baik untuk #WawancaraAAS
  3. Target: memahami (bila perlu menghafal) 100% jawaban yg pernah ditulis di formulir beasiswa. #WawancaraAAS
  4. Cari info lbh rinci ttg #BeasiswaAAS lewat website, alumni, @PPIAustralia, kenalan yg sdg kuliah di Australia #WawancaraAAS
  5. Info yg perlu dikuasai: sejarah beasiswa, tujuan, skema, besarnya allowance, fasilitas, dll #WawancaraAAS
  6. Kontak perhimpunann mahasiswa INA di Australia @PPIAustralia, tanya sebanyak2nya dengan sopan #WawancaraAAS
  7. Bagaimana cara kontak mhs INA di Aus? Lihat website ppi-australia.org, lihat twitternya dan FB pagenya #WawancaraAAS
  8. #WawancaraAAS bukanlah proses pengadilan, wawancara adalah proses penegasan. Mereka tahu Anda punya potensi besar.
  9. Kuasai rencana penelitian untuk #WawancaraAAS. Siapkan pemaparan dg bahasa yg mudah dimengerti. Pewawancara blm tentu ahli
  10. Kaitkan penelitian dg isu umum (KetahananPangan, ClimateChange, pemilu, kemiskinan, demokrasi, terorisme) #WawancaraAAS
  11. Saat #WawancaraAAS, sampaikan salam hangat, tatap mata orang ketika menyapa misal “good morning, how are you?” senyum wajar
  12. Jika dia bilang ‘thank u 4 coming’, jawab dg elegan sambil senyum “happy to be here” atau “my pleasure” #WawancaraAAS
  13. Saat ditanya, mainkan mimik wajar. Kombinasikan anggukan, gerakan alis dan senyum untuk menunjukkan antusiasme #WawancaraAAS
  14. Jangan bicara cepat. Yang penting adalah tertata, meskipun pelan. Lbh baik menjawab dg struktur 1, 2, 3 #WawancaraAAS
  15. Saat menjawab terkait riset, bagus jika bisa mengutip informasi spesifik seperti angka, tahun, nama orang #WawancaraAAS
  16. Coba kaitkan jawaban dg apa yg sudah/akan Anda lakukan “Based on my recent research..”, “Having observed..” #WawancaraAAS
  17. Jangan terpaku dg informasi spesifik/teknis, pastikan menggunakan bahasa umum yg mudah dimengerti #WawancaraAAS
  18. Pastikan Anda mengetahui peran riset Anda untuk Indonesia dan kaitannya dg negara yg dituju #WawancaraAAS
  19. Misal: riset ini penting untuk mengatasi masalah X di Ina & sejalan dengan Priority Dev Area Y oleh AusAID #WawancaraAAS
  20. Pastikan memiliki rencana yg cukup jelas tentang apa yg akan dilakukan di masa depan setelah sekolah #WawancaraAAS
  21. Jika ambil master by research atau PhD, pastikan punya rencana riset yg jelas, termasuk adanya fieldwork #WawancaraAAS
  22. Misal: Topiknya a, data yg diperlukan x dan y, saya akan fieldwork ke Ina melibatkan instansi p dan q #WawancaraAAS
  23. Tekankan jg pada rencana membangun jejaring internasional dan bagaimana memanfaatkannya setelah lulus #WawancaraAAS
  24. Jejaring dg teman sebangsa, teman kuliah internasional, dosen/supervisor, para ahli terkait, industri #WawancaraAAS
  25. Jejaring dibangun dg interaksi personal, kolaborasi penelitian, pertemuan ilmiah (konferensi), komunitas maya #WawancaraAAS
  26. Pastikan Anda tahu perbedaan belajar di LN dan di INA dan sudah melakukan persiapan untuk itu. #WawancaraAAS
  27. Belajar di Aus menuntut kemandirian tinggi. Pastikan Anda paham itu dan siap belajar dg supervisi minimal #WawancaraAAS
  28. Pastikan Anda tahu potensi kendala: bahasa, budaya, suasana akademik, iklim alam, dan persiapan mengatasinya #WawancaraAAS
  29. Tunjukkan kesan bahwa Anda sudah berusaha maksimal: baca buku, website, tanya @PPIAustralia, kontak Univ, dll #WawancaraAAS
  30. Siapkan pertanyaan, kalau2 diberi kesempatan. Sebaiknya tidak fokus pada benefit tetapi pengembangan diri. #WawancaraAAS
  31. Contoh pertanyaan: bagaimana peluang berinteraksi/kolaborasi dg penerima #BeasiswaAAS dari negara lain #WawancaraAAS
  32. Jangan tanya: berapa allowance, apakah bisa nabung, bisa kerja, boleh tetap stay di Aus setelah lulus #WawancaraAAS
  33. Siapkan prestasi yg relevan dg rencana penelitian. Menang lomba, nulis jurnal, nulis buku, konferensi dll #WawancaraAAS
  34. Tutup dengan ucapan terima kasih yg elegan dan sopan. Thank you very much, I really appreciate the opportunity #WawancaraAAS
  35. Artikel lengkap #WawancaraAAS http://tinyurl.com/cbomacv, http://tinyurl.com/787rld7 n http://tinyurl.com/q5vntzg
  36. Contoh prediksi pertanyaan dan jawaban #WawancaraAAS ada di http://tinyurl.com/pchu75k
  37. Kandidat PhD dan Master by Research perlu presentasi proposal saat #WawancaraAAS. Lihat http://tinyurl.com/ox86hxt
  38. Masih bingung apa yang harus dilakukan setelah lolos tahap 1 AAS? Lihat http://tinyurl.com/nzgth67 #WawancaraAAS
  39. Tulisan saya mengantarkan Asti meraih #beasiswaAAS stlh gagal beberapa kali http://tinyurl.com/qz2rxkn #WawancaraAAS
  40. Sekian tips terkait #WawancaraAAS. Silakan RT, semoga bermanfaat bagi yang wawancara bulan depan. Tanya? Mention aja 🙂

Mengingat 2014

Ada banyak hal yang terjadi di tahun 2014. Yang berhasil dan yang gagal berdampingan sangat dekat sehingga keduanya menjadi pelajaran yang saling melengkapi. Inilah rekaman pribadi saya terhadap tahun 2014.

Continue reading “Mengingat 2014”

Kartu Kagama untuk Jokowi

Gedung Pusat UGM, 9 Desember 2014

sumber: http://ugm.ac.id/

Beberapa senior dan pejabat UGM nampak berbaris rapi di sisi kiri dan kanan pintu masuk ruang Rektor. Saya terselip di antara kerumunan itu, beruntung mendapat kesempatan menyambut tamu kehormatan. Bapak Presiden Joko Widodo berkenan berkunjung ke UGM dan memberi kuliah umum. Kunjungan itu dalam rangka Festival Antikorupsi yang diselenggarakan oleh KPK dengan menggandeng UGM.

Wajah-wajah di ruangan itu nampak sedikit tegang sampai akhirnya dua personil Paspampres masuk ruangan dan meminta kami untuk membentuk barisan di satu sisi saja. Masuk akal, Presiden Jokowi tentu akan kerepotan menyalami ‘pagar betis’ itu jika kami berdiri di dua sisi. Akan repot jika Pak Presiden harus membolak-balikkan badanya. Hal kecil seperti inipun rupanya sudah diantispasi. Maka bergegaslan sekelompok orang di ruangan itu membentuk satu baris ‘pagar betis’. Suasana menjadi sedikit cair karena orang-orang mulai tertawa berkelakar, menertawakan diri sendiri.

Nampak di barisan itu ada beberapa Profesor, dan banyak lagi orang-orang lain yang namanya hanya saya lihat di website UGM atau di koran. Siang itu, ruang rektor bertabur bintang UGM. Tak ketinggalan, beberapa dekan terutama Fakultas Kehutanan. Konon di antara mereka ada dosen wali Pak Jokowi ketika menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan UGM ti tahun 1980an silam.

Continue reading “Kartu Kagama untuk Jokowi”