Saya merasa mengenal Anies Baswedan tetapi yakin bahwa Mas Anies tidak kenal saya. Saya menggunakan istilah Mas semata-mata karena usia kami tidak terpaut jauh dan merasa bahwa beliau mewakili kaum muda. Meskipun pernah beberapa kali berkirim email dan bertegur sapa lewat twitter, saya adalah satu dari sekian ratus ribu orang. Tentu tidak istimewa. Namun bagi saya, seorang Anies Baswedan adalah keistimewaan. Itulah alasan saya menuliskan ini.
Saya mendengar nama Anies Baswedan pertama kali pada tahun 2008 ketika dia dinobatkan oleh Majalah Foreign Policy sebagai satu dari 100 tokoh intelektual dunia. Sebagai anak muda, saya bangga ada orang Indonesia muda yang menyandang predikat bergengsi itu. Sejak itulah, saya mulai mempelajari sepak terjangnya lewat dunia maya. Karena predikat bergengsi itu, tidak sulit mendapatkan informasi tentang Anies dari media massa. Saya mulai menyimak pemberitaannya dan menonton videonya di Youtube. Fakta bahwa Mas Anies telah menjadi rektor di usia 38 tahun adalah keistimewaan tersendiri, lepas dari segala kontroversi yang menyertai perhelatan itu. Banyak tulisan yang telah membahas ini.
Kini Mas Anies mengikuti Konvensi Partai Demokrat untuk menjaring calon presiden. Wacana Anies Baswedan menjadi calon presiden untuk pertama kali saya dengar ketika beliau diwawancarai oleh BBC tahun 2010. Dengan agak nakal tapi cerdas pewawancara yang cantik dari BBC bertanya apakah Anies adalah kandidat presiden Indonesia. Anies dengan tegas menjawab bahwa dia bukan kandidat presiden dan ingin memfokuskan diri di dunia pendidikan. Di akhir acara, pewawancara kembali bertanya setengah ‘memojokkan’ dan Anies dengan cerdas menjawab “kita lihat saja nanti”.
Makan bisa jadi perkara yang tidak mudah bagi sebagian orang. Setiap kali makan hidangan di pesawat, saya teringat ibu dan bapak saya yang pasti akan kesulitan jika harus berhadapan dengan hidangan semacam itu. Makanan pesawat tentu aneh bagi lidah kampung mereka. Nama makanan yang ditawarkanpun pasti terdengar asing dan tidak mudah untuk dipilih. Jangankan ibu bapak saya, hal ini masih terjadi pada saya sampai hari ini
Makanan di pesawat hampir tidak pernah membuat saya merasa bergairah seperti makan makanan rumah, terutama yang dibuat ibu saya ketika kecil. Rupanya lidah seseorang dilatih untuk merasakan kenikmatan ketika dia kecil dan makanan ibunya menjadi standar yang akhirnya menjadi pembanding makanan lain yang dinikmatinya ketika dewasa. Makanan di pesawat jelas tidak masuk dalam kriteria makanan enak yang direkam oleh lidah saya. Maka, menikmati makanan di pesawat lebih sering menjadi kebutuhan saja, bukan sebagai ekspresi gairah.
Lita, kami ingin mencertikatan sesuatu kepadamu. Di usiamu yang genap sewindu ini, banyak hal yang terjadi dan tidak sedikit yang tidak terjadi. Kami ingin minta maaf untuk yang tidak terjadi. Untuk ketidakbersamaan keluarga yang cukup lama dan untuk ketidakberhasilan kami menjadikan Jarak dan waktu sebagai sesuatu yang biasa seperti layaknya keluarga. Untuk keterceraiberaian, untuk waktu yang tidak dihabiskan dengan minum teh bersama di sore hari dan untuk sentuhan yang lebih sering tiada dari waktu ke waktu. Kami menginginkan semua itu. Pecayalah.
Tidak semua orang bisa lucu seperti seorang standup comedian, maka kita tidak akan belajar menjadi lucu tetapi belajar presentasi. Satu ilmu standup comedy yang bisa diterapkan oleh seorang presenter adalah kerseriusan dalam menghafalkan materi. Anda pernah melihat standup comedian tampil begitu lucu dan terkesan alami penuh improvisasi? Jangan “tertipu”, 90% dari standup comedy adalah hasil skenario dan hanya 10 persen hasil improvisasi. Hal ini ditegaskan comic Indonesia seperti Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono, dua comic favorit saya. Jika Anda melihat penampilan seorang comic sekali saja, mungkin sulit untuk melihat bahwa leluconnya adalah hasil menghafalkan naskah karena nampak begitu alami. Namun jika Anda melihat lebih dari satu video mereka, Anda akan setuju dengan saya bahwa standup comedy adalah hasil belajar keras, hasil menghafalkan sebuah naskah seperti naskah film yang lengkap dengan titik, koma, intonasi, dan gerak tubuh.
Saya pernah menonton acara penjaringan bakat seperti Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, X Factor, atau acara serupa versi luar negeri. Yang paling saya suka adalah saat audisi pertama, ketika para kandidat memperlihatkan bakatnya untuk pertama kali di depan juri dan penonton. Suasana dan kesan dramatis akan muncul kalau ada kandidat yang mengejutkan penampilannya. Kandidat seperti ini biasanya istimewa karena ternyata penampilannya begitu hebat, jauh lebih hebat dari dugaan penonton dan juri.
Belakangan ini saya cukup sering menikmati Standup Comedy yang dibawakan oleh comic (standup comedian) Indonesia. Saya selalu percaya bahwa melucu sendiri tanpa lawan interaksi itu paling sulit. Perlu kemampuan luar biasa untuk menjadi lucu dengan monolog dan menggerakkan orang untuk tertawa dan terlibat. Indonesia sudah punya cukup banyak comic yang menurut saya bagus. Ernest Prakasa, selain Pandji adalah salah satu yang saya suka. Kedua orang ini agak berbeda dengan beberapa orang lain yang saya tahu karena leluconya mengandung muatan pembelajaran dan nilai kebangsaan yang cukup tinggi.
Kami menyebut diri kami surveyor. Kami adalah para penjelajah yang memetakan permukaan bumi. Di Indonesia, orang-orang seperti kami terhimpun dalam satu wadah bernama Ikatan Surveyor Indonesia (ISI) yang sudah berdiri sejak lama. Bersama dengan profesi lain, kami telah melukis keindahan nusantara dalam wujud peta. Dengan peta, kami hadirkan wajah bumi kepada mereka yang tidak sempat menjelajah. Dengan peta, Anda semua tau lokasi tempat penting dan posisi relatifnya terhadap tempat lain. Tanpa peta, sulit membayangkan seberapa jauh Desa Tegaljadi dari Manggis di Karangasem atau seberapa dekat Monaco dan Paris di Eropa. Dengan peta, Anda bisa merencanakan perjalanan dengan baik, bisa melakukan pembangunan dengan terencana dan bisa melihat apa yang belum terlihat dalam merencanakan kota, misalnya.
Tembuslah kabut yang membuatmu menggigil di jalanan Antwepen dan masuklah ke stasiun kereta itu. Kita melaju menembus lansekap Eropa yang seperti perawan menuju warna-warni Luxembourg yang berhias pepohonan di musim gugur. Kita akan duduk sejenak membiarkan ujung jari kaki menyentuh air di sungai kecil di tengah belantara yang bersahabat lalu beranjak duduk di sebuah kursi untuk menikmati perbekalan. Di sekeliling kita warna warni dunia yang terpantul lewat daun-daun yang ikhlas bergururan. Terpejamlah dan menyatu dengan keberadaan.
Esok hari kita jelajahi Brussels yang mentereng, menapaki sebuah jalanan sempit yang selalu penuh sesak dengan umat manusia. Mereka terpesona dengan patung bayi yang menyemburkan urinnya di tepi sebuah perempatan. Dan heranlah, mengapa patug kecil nan sederhana itu menggetarkan orang-orang meski dia tidak ada apa-apanya dengan Garuda Wisnu Kencana yang megah di Selatan Bali. Tapi kawan, di situlah kamu akan mengerti bahwa ukuran itu bukan segalanya. Patung kecil itu telah menyerap sejarah berabad lamanya dan kini memancarkannya dalam bentuk wibawa yang memukau orang-orang seperti kita.
Kita akan masuki sebuah kasino megah Monte Carlo, di Monaco bukan untuk berjudi tetapi untuk menikmati imajinasi yg dituangkan dalam peradaban kota. Kita menyusuri jalan-jalan yang sekali waktu digunakan untuk Formula Satu lalu menikmati kapal-kapal mewah yang berbaris rapi di pelabuhan itu. Pemiliknya adalah kaum borjuis yang kekurangan tempat menyimpan uangnya maka mereka simpan di kapal-kapal itu, yang harganya lebih mahal dari rumah yang mereka tinggali. Jika lapar dan rindu santapan tanah air, berjalanlah selama tujuh menit maka kita akan tiba di sebuah rumah makan Asia di Perancis. Garis batas antarnegara tidak terasa, tidak ada ada yang pusing memeriksa visa dan passport kita. Atau naiklah kereta dan bercengkramalah dengan seorang gadis yang tinggal di Prancis dan bekerja di Monaco lalu 17 menit kemudian kita sudah minum kopi di sebuah kafe di Italia. Lihatlah pemuda tampan itu, terampil membuat kopi dan gadis cantik itu akan menghidangkannya untuk kita. Adakah yang lebih berkesan dari secangkir kopi Italia yang dinikmati di sebuah kafe di Ventimiglia?