Pelamar beasiswa Australian Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS) sering bertanya “bisakah kita melamar S2 atau S3 yang tidak sesuai dengan S1 kita?” Jawabannya BISA. Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Tulisan ini adalah cerita tentang sebuah buku. Ini buku terbaru saya yang membahas tips dan tricks mendapatkan beasiswa ke Australia, terutama Australia Awards Scholarship (AAS) yang dulu dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS). Apakah tulisan ini adalah promosi buku? Tentu saja demikian, tetapi ini tentu saja iklan tanpa bayaran 🙂
Saya mulai menulis di blog ini terkait beasiswa sejak tahun 2005 atau bahkan sebelumnya. Tanpa direncanakan, ternyata sudah ada seratusan artikel terkait beasiswa Australia di blog ini dan rupanya menjadi salah satu sebab teman-teman pembaca ‘tergelincir’ atau ‘tersesat’ di blog saya. Seiring berjalan waktu, ada banyak usulan untuk membukukan tulisan-tulisan tersebut. Tadinya saya tidak tertarik karena alasan utama menulis adalah memberikan akses bebas kepada siapa saja tanpa perlu membeli buku. Siapa saja yang memiliki akses internet harus bisa mengakses informasi yang saya tulis kapan saja dan dari mana saja. Idealnya demikian.
Ada juga penerbit yang mau menerbitkan tulisan-tulisan saya jadi buku tetapi mengharapkan tulisan di blog dihilangkan. Dalam konteks bisnis, hal ini tentu bisa dipahami. Meski demikian, ini tidak sejalan dengan semangat saya berbagi maka dengan berat hati tidak bisa saya penuhi. Akhirnya ada satu penerbit, Pandu Aksara, memberi penawaran yang baik. Baik, dalam konteks ini tentu saja tidak terkait materi atau finansial. Pandu Aksara membebaskan saya tetap memelihara tulisan yang akan diterbitkan jadi buku di blog ini. Tawaran yang menarik.
Mungkin berlebihan jika saya katakan Indonesia heboh karena Presiden SBY memilik akun Twitter baru karena memang ada banyak sekali orang Indonesia yang bahkan tidak tahu apa itu Twitter. Bagi pengguna Twitter, mungkin setuju bahwa Indonesia memang heboh karena akun Twitter Pak SBY ini. Memang tidak jadi soal apakah kita tahu Twitter atau tidak. Paham atau tidak paham, Twitter tidak akan membuat kita berhenti bergerak, tidak membuat kita berhenti bermanfaat.
Suka atau tidak, pak presiden kini punya akun Twitter. Mengapa Twitter dianggap penting oleh presiden? Dugaan saya adalah karena pengguna Twitter di Indonesia banyak sekali. Sebuah artikel yang dilansir Forbes akhir tahun lalu menobatkan Jakarta sebagai kota dengan pengguna Twitter paling aktif di jagat raya. Indonesia sebagai negara, menempati posisi kelima di seluruh dunia. Sederhananya, pengguna Twitter di Indonesia banyak sekali. Tidak berlebihan jika Presiden SBY menggunakan Twitter untuk berkomunikasi dengan rakyatnya.
Delapan tahun yang lalu saya gembira sekali mendapati tulisan pertama saya terbit di The Jakarta Post. Saat itu saya masih mahasiswa S2 akhir tahun pertama di UNSW, Sydney. Itulah kali pertama saya merasakan bahwa topik yang saya teliti tidak saja penting tetapi juga menarik untuk dikisahkan. Ambalat menjadi debut saya dalam penulisan di media massa.
Saya teringat kisah Anand Krishna yang konon melakukan hal yang mirip. Jika ditanya tulisan mana yang paling membanggakan dari ratusan tulisannya maka jawabannya adalah yang ditulisnya pertama kali ketika dia bersekolah di luar negeri. Kalau ingat reaksi saya ketika itu, ada perasaan risih dan malu. Apa perlu sebuah tulisan yang muncul di The Jakarta Post dibanggakan begitu rupa? Waktu itu, rasanya reaksi itu tidak berlebihan. Entahlah bagaimana kawan saya melihatnya.
Dalam ilmu yang saya pelajari tetang pemetaan, kami mengenal istilah distorsi. Intinya, bumi yang permukaannya lengkung dan cenderung tidak teratur itu harus digambarkan dalam satu bidang datar berupa peta. Tentu saja akan ada distorsi, ada kesalahan, ada perubahan bentuk.
Pagi itu saya berangkat ke kampus di University of Wollongong dengan mengendari bus. Sebelumnya saya mampir di ALDI, sebuah tempat belanja, untuk membeli beberapa biji buah pir. Saya terbiasa ngemil kelau sedang bekerja.
Karena sudah jelas apa yang dicari, dalam waktu singkat saya sudah menjinjing satu kotak buah pir dan siap antri di depan kasir. Di depan saya ada sekitar empat orang yang sedang antri dan satu orang sedang dilayani. Tepat di depan saya ada seorang ibu-ibu yang sudah cukup berumur. Saya tersenyum ketika dia menoleh ke belakang. Diapun tersenyum lalu memerhatikan barang belanjaan saya yang hanya satu bungkus. Sementara itu, belanjaannya sangat banyak, demikian pula orang-orang yang antri di depannya. Semuanya berbelanja dengan troli besar dengan belanjaan beragam. Continue reading “Kebaikan yang Menyentuh”
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty, menyampaikan sebuah pernyataan yang mengejutkan sekaligus menyenangkan bagi pelamar beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) yang dulu disebut Australian Development Scholarship (ADS). Dalam pernyataannya yang dilansir Antara di Jakarta pada tanggal 1 April 2013, Dubes Moriarty menegaskan bahwa SEMUA palamar AAS yang menyerahkan berkas sebelum 1 Mei 2013 akan otomatis DITERIMA. Semua pelamar sebelum tanggal 1 Mei tidak akan diseleksi tetapi langsung diberi beasiswa untuk sekolah S2 atau S3 di perguruan tinggi terkemuka Australia sesuai pilihan mereka.
Ketika ditanya soal kuota penerima beasiswa AAS, Dubes Moriarty menegaskan bahwa untuk periode ini, tidak ada batasan kuota. Semua pelamar yang menyerahkan berkas sebelum 1 Mei pasti diterima. Dikatakan bahwa tidak akan ada seleksi IP dan Bahasa Inggris (TOEFL atau IELTS). Australia juga sudah menyiapkan dana tambahan karena yakin bahwa pelamar tahun ini akan membengkak jumlahnya karena kebijakan baru ini. “Berapa pun jumlah pelamar sebelum tanggal 1 Mei pasti kami terima”, kata Dubes Moriarty menjawab pertanyaan wartawan yang seakan meragukan kebijakan ini. Menurut Dubes Moriarty, pengumuman ini sengaja diberikan pada tanggal 1 APRIL untuk memberikan kesempatan kepada pelamar menyiapkan berkas lamarannya selama satu bulan penuh.
Pelamar Beasiswa AAS yang mendaftar sebelum tanggal 1 Mei tidak akan perlu untuk tes TOEFL atau IELTS, tidak juga harus tinggi IPnya. Mereka tidak harus repot-repot mempelajari tips wawancara beasiswa, tidak juga perlu untuk menghubungi calon supervisor bagi pelamar Master by Research dan PhD. Mereka tidak diwajibkan kontak dengan calon universitasnya di Australia karena surat penerimaan itu tidak diperlukan. Kelompok yang diterima ini juga akan dicarikan universitas, termasuk dibantu soal akomodasi selain beasiswa rutin yang jumlahnya dua kali lipat dari sebelumnya.
Dubes Moriarty menegaskan bahwa ada banyak sekali anak muda di Indonesia yang bermimpi sekolah ke luar negeri termasuk Australia sehingga bisa mengenyam kehidupan yang nyaman. Dubes juga menyadari ada banyak dari mereka yang punya keinginan tetapi tidak mau berusaha keras menggapainya. Pengumuman tanggal 1 April 2013 ini memang ditujukan khusus bagi orang-orang yang demikian. Orang yang menginginkan kesenangan tetapi tidak bersedia berjuang. Mereka juga tidak perlu membaca jurnal akademik sebelum sekolah ke Australia karena saat bersekolah di Australia nanti mereka lebih banyak berwisata melihat-lihat tempat yang ikonik tanpa perlu membuat tugas makalah ribuan kata.
Singkat kata, beasiswa AAS atau ADS tahun ini ditujukan buat siapa saja, terutama mereka yang tidak mau membaca buku panduan beasiswa yang tebal itu. Buku panduan itu tidak perlu karena dijamin semua pelamar sebelum tanggal 1 Mei akan diterima, betapapun buruk kualitas akademik dan Bahasa Inggris mereka. Para pelamar disarankan segera menyiapkan berkas lamarannya agar bisa menyerahkan sebelum tanggal 1 Mei. Untuk melihat sendiri pengumuman Dubes Moriarty, silakan klik tautan berikut.
PS. Jika ingin mengetahui Beasiswa AAS/ADS lebih lanjut, silakan baca buku terbaru saya “Berguru ke Negeri Kangguru“
Sebenarnya ini bukan berita baru. Saya baru tertarik menuliskannya di blog ini untuk dokumentasi dan untuk Anda yang belum tahu. Kini kita bisa berkunjug ke banyak museum di seluruh dunia dan menikmati koleksinya secara virtual. Kita bisa seakan-akan masuk ke museum dan menjelajahi setiap sudut museum dan menikmati maha karya seni di dalamnya tanpa terganggu siapapun, tanpa perlu antri dan tanpa risau museum sebentar lagi akan tutup.
Pernahkan Anda membayangkan datang ke sebuah museum impian Anda dan menjadi satu-satunya pengunjung dengan waktu tak terbatas untuk menikmati setiap koleksi? Pernahkan membayangkan mengamati setiap lukisan atau patung atau benda seni bersejarah lainnya dari dekat seakan-akan Anda membawa kaca pembesar? Pernahkan membayangkan Anda menelusuri lorong-lorong museum sendirian dan berdiam diri selama mungkin tanpa ada yang mengganggu? Kini, semua itu bukan hanya angan-angan. Google Art Project telah membuat semua itu menjadi nyata. Google telah mengumpulkan koleksi puluhan jika tidak ratusan museum dan menyajikannya dengan pendekatan geospasial menggunakan teknologi yang sama dengan Google Street View. Anda bisa berkunjung ke sebuah museum dan merasakan pengalaman menikmati koleksinya seakan itu hal nyata. Berikut adalah contoh sebuah museum di Sydney: Art Gallery of New South Wales. Semua bisa dilihat di Google Art Project.
Banyak review yang mengatakan film Taken 2 terlalu mengada-ada. Harus diakui beberapa adegan memang tidak masuk akal. Yang paling menonjol adalah keterlibatan Kim dalam operasi penyelamatan korban penculikan orang tuanya. Kim adalah seorang gadis usia belasan yang tidak pernah mendapat pelatihan operasi sejenis. Mengejutkan jika dia begitu terampil dan berani. Meski begitu, demikianlah film. Film memang menampilkan hal-hal menipu, bukan? Jika saja dia menyajikan hal-hal yang sama dengan kejadian sehari-hari mungkin kita tidak semangat menontonnya. Tulisan ini tidak akan membahas kualitas film Taken 2 secara umum tetapi menyoroti adegan geospasial di dalamnya. Adegan yang melibatkan peta.
Setengah penggal Maret 2013 saya menghabiskan cukup banyak waktu di pesawat. Saya bertemu dan duduk dengan banyak orang asing di pesawat. Mari kita sebut mereka “perfect strangers”, orang yang bener-benar tidak saya kenal sebelumnya. Saya yakin, kita semua pernah mengalami situasi demikian meskipun lokasi dan konteksnya berbeda. Apa yang Anda lakukan ketika duduk dengan orang asing di kereta atau bus atau pesawat atau sekedar halte? Pilihannya tentu beragam. Yang paling umum adalah diam, tidak menyapa dan tidak mengganggu. Orang yang memilih cara ini mungkin tidak ingin megganggu dan diganggu. Biasanya saya memilih untuk berinteraksi. Bisa jadi ini tidak baik bagi sebagian orang, bagi saya ini lebih menyenangkan.
Memang tidak selalu mudah memulai percakapan, terlebih jika orang yang di samping kita cenderung diam dan tenang. Selain itu, memang kita mudah dihinggapi perasaan rendah diri atau malu, terutama ketika orang yang duduk di samping kita terlihat perlente penampilannya. Selain itu, tidak sulit untuk mencurigai orang yang ada di samping kita sombong. Dalam perjalanan, saya kadang terbang belasan jam. Sangat mudah untuk tampil kucel dan tidak meyakinkan. Ini menambah kerumitan jika harus memulai percakapan.