Let’s visit CERN Lab for FREE!

If you are a big fan of particle physics, you might want to visit the CERN Laboratory in Geneva, Switzerland. Have you been there? If not, you may want to visit the lab virtually before paying a real visit next time. Thanks to Google Street View, now you can visit CERN Lab. anytime you want without appointment. You do not have to put any safety equipment/uniform either. Enjoy!

Sugianto

Gambar dari http://djinar.wordpress.com

“Bupati Tabanan, Sugianto, …” demikianlah kumandang berita radio hampir setiap sore di tahun 1980an. Saya sampai menghafalnya dan bahkan rasa-rasanya kata Sugianto yang paling tepat diucapkan setelah frase “Bupati Tabanan”. Rekaman seorang anak kecil memang kuat. Sugianto adalah Bupati Tabanan pertama yang saya kenal sejak mengerti Bahasa Indonesia.

Tidak ada yang aneh ketika Tabanan dengan masyarakat mayoritas pemeluk Hindu memiliki Bupati orang Jawa yang Islam. Saya bahkan tidak ingat ada orang yang membicarakan agama atau suku ketika itu. Paruman di banjar, kelakar di warung-warung atau kumpulan lelaki dewasa menyabung ayam di pempatan jalan saban sore tidak pernah dihiasi pembicaraan tentang agama. Pak Sugianto tidak dipertanyakan keimanannya, tidak digugat keberpihakannya pada masyarakat Tabanan yang mayoritas Hindu. Di Banjar Pengembungan tempat kelahiran saya, yang 100% penduduknya Hindu, tidak pernah sekalipun terdengar bisik-bisik soal agama Pak Bupati yang berbeda.

Continue reading “Sugianto”

Menulis untuk Kebaikan, bersama Ahmad Fuadi

fuadi
A. Fuadi, penulis Trilogi #Negeri5Menara

Malam tanggal 23 September 2013 ada satu kecelakaan yang membahagiakan. Saya bertemu dengan Bang Ahmad Fuadi, penulis trilogi novel laris Negeri 5 Menara (N5M), Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara. Saya sebut kecelakaan karena pertemuan ini memang tidak direncanakan jauh-jauh hari. Sore tadi, tiba-tiba saja Asti, istri saya, bertanya “Ayah kenal Fuadi?” dan itu sanggup menghentikan aktivitas saya seketika. Tentu saja saya kenal beliau walaupaun Bang Fuadi kemungkinan besar tidak mengenal saya. Singkat cerita, Bang Fuadi sedang ada di Sydney untuk satu urusan dan teman-teman Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) Sydney menodong beliau untuk bersilaturahim, berbagi soal kepenulisan. Saya langsung memutuskan datang.

Saya tiba di lantai tiga squarehouse UNSW, Sydney sekitar pukul 20.05 AEST, sedikit terlambat dari yang dijadwalkan. Sebelumnya saya telah terlanjur mengundang seorang kawan untuk makan malam di rumah dan demi Bang Fuadi, kawan ini terpaksa saya tinggalkan :). Saat tiba, saya lihat Bang Fuadi sudah ada di ruangan bercakap-cakap dengan panitia. Beberapa kawan mahasiswa dan keluarga terlihat antusias menunggu acara ditemani berupa-rupa penganan kecil dan minuman. Ini daya tarik lain mengikuti acara bersama KPII. Peserta tidak begitu banyak karena dua alasan. Pertama, acaranya memang mendadak dan hari-hari ini adalah saatnya penyelesaian tugas kuliah dan ujian. Meski demikian, masih cukup banyak yang mengambil risiko datang meskipun besoknya akan ujian. Kedatangan mereka adalah testimoni tersendiri bagi keampuhan daya tarik Bang Fuadi.

Continue reading “Menulis untuk Kebaikan, bersama Ahmad Fuadi”

Indonesia Juara!

Terima kasih, Timnas U-19 telah mengakhiri dahaga kita semua. Saat teladan tak mudah didapatkan dan kebanggan adalah hal yang mahal, anak-anak muda usia belasan ini memberi kita satu senyum. Terima kasih anak-anak muda Indonesia!

Sebuah tulisan lama tentang bola.

Pengalaman LDR – Long Distance Relationship

Memadukan Skype dan kartu pos :)
Memadukan Skype dan kartu pos 🙂

Saya tidak akan membicarakan hubungan pacaran jarak jauh tetapi hubungan antaranggota keluarga yang terpisah Jarak jauh. Tidak semua orang beruntung bisa selalu bersama-sama keluarga ketika harus menempuh studi atau bekerja dan kami adalah salah satu yang kurang beruntung itu. Karena berbagai alasan, kami hidup terpisah. Saya dan Asti, isteri, di Sydney, Lita, anak kami di Jogja. Ini bukan model keluarga ideal dan tidak direkomendasikan untuk siapapun. Namun, jika harus mengalaminya, toh kita harus tetap bertahan. Saya ingin berbagi pengalaman sederhana bagi yang sedang atau akan mengalami hal yang sama.

  1. Selamatkan komunikasi dengan teknologi.
    Dewasa ini, cara pandang kita terhadap jarak dan waktu jauh berbeda dengan dua dekade lalu. Saya masih ingat, pernah berdebar-debar menunggu surat dari sahabat pena selama sebulan lebih di awal tahun 1990an. Sekarang, whatsapp yang tidak dibalas lebih dari dua menit sudah terasa lama dan bisa menjadi alasan untuk marah. Teknologi membuat jarak menjadi pendek dan ini yang sebaiknya dimanfaatkan. Lita, anak saya, sudah kami ajari cara berkomunikasi dengan email dan Skype ketika berumur lima tahun. Waktu itu dia belum lancar menulis tetapi sudah mulai memahami cara berkomunikasi. Saya kadang mengirimkan gambar lewat email ketika kami bercakap-cakap dengan Skype sehingga saya bisa mengajari dia cara membuka gambar dari email. Ini adalah komunikasi multimedia dalam satu waktu.
  2. Menggunakan teknologi untuk pemantauan.
    Kita tahu, teknologi tidak selalu bagus untuk kita. Untuk meminimalisir efek buruk teknolgi, kami memasang alat pemantau di komputer Lita di Jogja agar kami tahu jika dia sedang online. Hal paling sederhana adalah dengan memastikan Skype akan online otomatis jika komputer dinyalakan sehingga kami akan tahu dia sedang di depan komputer. Hal lain adalah memasang alat pemantau seperti Team Viewer sehingga saya bisa melihat layar komputer di Jogja dari Sydney. Ini tentu tidak akan menghilangkan semua dampak buruk tetapi tentu bisa meminimalkannya.
    Continue reading “Pengalaman LDR – Long Distance Relationship”

Email juga ada etikanya, percayalah :)

dipinjam dari http://ignatius-eko-b.blog.ugm.ac.id
  1. berkirim email memang perihal yang tidak terkait hidup mati tapi tetap penting. Kirim email ada etikanya. Mari kita simak #EtikaEmail
  2. Email itu semestinya ada salam sapa, isi dan penutup. Email bukan chatting. Kecuali sudah bebalas2an dalam satu topik. #EtikaEmail
  3. Kirim email pertama kali sebaiknya tdk terlalu panjang, apalagi kepada orang yg sibuk/terkenal. Jadikan pembuka #EtikaEmail
  4. Pada email pertama, jangan sibuk bicara diri sendiri. Pastikan Anda juga menunjukkan simpati/ketertarikan pada penerima email #EtikaEmail
  5. Pada email pertama, pastikan Anda menjelaskan bagaimana Anda menemukan email penerima agar jelas perkara dan ke mana arahnya. #EtikaEmail
  6. Penting bagi Anda untuk membaca tentang si penerima email (karya, pemikirannya) apalagi maksud email itu adalah konsultasi #EtikaEmail
  7. Bayangkan, Anda tiba2 tanya perihal yang umum dan sudah sering dibahas oleh penerima emial di blog/web. Anda terlihat kurang perhatian #EtikaEmail
  8. Hindari tiba-tiba kirim email dan tanya hanya satu baris tanpa salam tanpa perkenalan di email pertama. #EtikaEmail
  9. Gaul boleh, tapi bahasa email pertama sebaiknya standar/baku. Ini strategi biar aman. Kalau ternyata dia mau gaul, silakan di email berikutnya #EtikaEmail
    Continue reading “Email juga ada etikanya, percayalah :)”

Ketika Anies Baswedan Turun Tangan

Gambar di pinjam dari http://twitpic.com/b4xoka

Saya merasa mengenal Anies Baswedan tetapi yakin bahwa Mas Anies tidak kenal saya. Saya menggunakan istilah Mas semata-mata karena usia kami tidak terpaut jauh dan merasa bahwa beliau mewakili kaum muda. Meskipun pernah beberapa kali berkirim email dan bertegur sapa lewat twitter, saya adalah satu dari sekian ratus ribu orang. Tentu tidak istimewa. Namun bagi saya, seorang Anies Baswedan adalah keistimewaan. Itulah alasan saya menuliskan ini.

Saya mendengar nama Anies Baswedan pertama kali pada tahun 2008 ketika dia dinobatkan oleh Majalah Foreign Policy sebagai satu dari 100 tokoh intelektual dunia. Sebagai anak muda, saya bangga ada orang Indonesia muda yang menyandang predikat bergengsi itu. Sejak itulah, saya mulai mempelajari sepak terjangnya lewat dunia maya. Karena predikat bergengsi itu, tidak sulit mendapatkan informasi tentang Anies dari media massa. Saya mulai menyimak pemberitaannya dan menonton videonya di Youtube. Fakta bahwa Mas Anies telah menjadi rektor di usia 38 tahun adalah keistimewaan tersendiri, lepas dari segala kontroversi yang menyertai perhelatan itu. Banyak tulisan yang telah membahas ini.

Kini Mas Anies mengikuti Konvensi Partai Demokrat untuk menjaring calon presiden. Wacana Anies Baswedan menjadi calon presiden untuk pertama kali saya dengar ketika beliau diwawancarai oleh BBC tahun 2010. Dengan agak nakal tapi cerdas pewawancara yang cantik dari BBC bertanya apakah Anies adalah kandidat presiden Indonesia. Anies dengan tegas menjawab bahwa dia bukan kandidat presiden dan ingin memfokuskan diri di dunia pendidikan. Di akhir acara, pewawancara kembali bertanya setengah ‘memojokkan’ dan Anies dengan cerdas menjawab “kita lihat saja nanti”.

Continue reading “Ketika Anies Baswedan Turun Tangan”

Makan

http://www.sixthseal.com/

Makan bisa jadi perkara yang tidak mudah bagi sebagian orang. Setiap kali makan hidangan di pesawat, saya teringat ibu dan bapak saya yang pasti akan kesulitan jika harus berhadapan dengan hidangan semacam itu. Makanan pesawat tentu aneh bagi lidah kampung mereka. Nama makanan yang ditawarkanpun pasti terdengar asing dan tidak mudah untuk dipilih. Jangankan ibu bapak saya, hal ini masih terjadi pada saya sampai hari ini

Makanan di pesawat hampir tidak pernah membuat saya merasa bergairah seperti makan makanan rumah, terutama yang dibuat ibu saya ketika kecil. Rupanya lidah seseorang dilatih untuk merasakan kenikmatan ketika dia kecil dan makanan ibunya menjadi standar yang akhirnya menjadi pembanding makanan lain yang dinikmatinya ketika dewasa. Makanan di pesawat jelas tidak masuk dalam kriteria makanan enak yang direkam oleh lidah saya. Maka, menikmati makanan di pesawat lebih sering menjadi kebutuhan saja, bukan sebagai ekspresi gairah.

Continue reading “Makan”

Selamat Ulang Tahun, Lita

ultahlita8Lita, kami ingin mencertikatan sesuatu kepadamu. Di usiamu yang genap sewindu ini, banyak hal yang terjadi dan tidak sedikit yang tidak terjadi. Kami ingin minta maaf untuk yang tidak terjadi. Untuk ketidakbersamaan keluarga yang cukup lama dan untuk ketidakberhasilan kami menjadikan Jarak dan waktu sebagai sesuatu yang biasa seperti layaknya keluarga. Untuk keterceraiberaian, untuk waktu yang tidak dihabiskan dengan minum teh bersama di sore hari dan untuk sentuhan yang lebih sering tiada dari waktu ke waktu. Kami menginginkan semua itu. Pecayalah.

Continue reading “Selamat Ulang Tahun, Lita”

Belajar presentasi dari standup comedy

Tidak semua orang bisa lucu seperti seorang standup comedian, maka kita tidak akan belajar menjadi lucu tetapi belajar presentasi. Satu ilmu standup comedy yang bisa diterapkan oleh seorang presenter adalah kerseriusan dalam menghafalkan materi. Anda pernah melihat standup comedian tampil begitu lucu dan terkesan alami penuh improvisasi? Jangan “tertipu”, 90% dari standup comedy adalah hasil skenario dan hanya 10 persen hasil improvisasi. Hal ini ditegaskan comic Indonesia seperti Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono, dua comic favorit saya. Jika Anda melihat penampilan seorang comic sekali saja, mungkin sulit untuk melihat bahwa leluconnya adalah hasil menghafalkan naskah karena nampak begitu alami. Namun jika Anda melihat lebih dari satu video mereka, Anda akan setuju dengan saya bahwa standup comedy adalah hasil belajar keras, hasil menghafalkan sebuah naskah seperti naskah film yang lengkap dengan titik, koma, intonasi, dan gerak tubuh.

Continue reading “Belajar presentasi dari standup comedy”