Pengalaman LDR – Long Distance Relationship


Memadukan Skype dan kartu pos :)
Memadukan Skype dan kartu pos 🙂

Saya tidak akan membicarakan hubungan pacaran jarak jauh tetapi hubungan antaranggota keluarga yang terpisah Jarak jauh. Tidak semua orang beruntung bisa selalu bersama-sama keluarga ketika harus menempuh studi atau bekerja dan kami adalah salah satu yang kurang beruntung itu. Karena berbagai alasan, kami hidup terpisah. Saya dan Asti, isteri, di Sydney, Lita, anak kami di Jogja. Ini bukan model keluarga ideal dan tidak direkomendasikan untuk siapapun. Namun, jika harus mengalaminya, toh kita harus tetap bertahan. Saya ingin berbagi pengalaman sederhana bagi yang sedang atau akan mengalami hal yang sama.

  1. Selamatkan komunikasi dengan teknologi.
    Dewasa ini, cara pandang kita terhadap jarak dan waktu jauh berbeda dengan dua dekade lalu. Saya masih ingat, pernah berdebar-debar menunggu surat dari sahabat pena selama sebulan lebih di awal tahun 1990an. Sekarang, whatsapp yang tidak dibalas lebih dari dua menit sudah terasa lama dan bisa menjadi alasan untuk marah. Teknologi membuat jarak menjadi pendek dan ini yang sebaiknya dimanfaatkan. Lita, anak saya, sudah kami ajari cara berkomunikasi dengan email dan Skype ketika berumur lima tahun. Waktu itu dia belum lancar menulis tetapi sudah mulai memahami cara berkomunikasi. Saya kadang mengirimkan gambar lewat email ketika kami bercakap-cakap dengan Skype sehingga saya bisa mengajari dia cara membuka gambar dari email. Ini adalah komunikasi multimedia dalam satu waktu.
  2. Menggunakan teknologi untuk pemantauan.
    Kita tahu, teknologi tidak selalu bagus untuk kita. Untuk meminimalisir efek buruk teknolgi, kami memasang alat pemantau di komputer Lita di Jogja agar kami tahu jika dia sedang online. Hal paling sederhana adalah dengan memastikan Skype akan online otomatis jika komputer dinyalakan sehingga kami akan tahu dia sedang di depan komputer. Hal lain adalah memasang alat pemantau seperti Team Viewer sehingga saya bisa melihat layar komputer di Jogja dari Sydney. Ini tentu tidak akan menghilangkan semua dampak buruk tetapi tentu bisa meminimalkannya.
  3. Menjadikan keterpisahan sebagai alasan kemandirian.
    Karena ‘terpaksa’ berpisah, semua anggota keluarga terseleksi secara alami untuk menjadi lebih mandiri. Dalam banyak hal Lita jadi lebih mandiri tidak tergantung orang tuanya dalam melakukan sesuatu. Mungkin berat, tetapi dia jadi terbiasa bahwa tidak harus selalu ada orang tua untuk menemani aktivitas pentingnya di sekolah, misalnya. Lita juga perlahan memiliki pemahaman yang positif terhadap jarak dan waktu. Bepergian ke tempat-tempat yang jauh bukan sesuatu yang aneh atau menakutkan karena mungkin tahu ayah dan ibunya juga ada di tempat jauh. Ini salah satu alasan mengapa Lita berani terbang ke Bali dari Jogja dengan Garuda Indonesia tanpa ditemani siapapun di usia belum tujuh tahun. Keterpisahan itu, jika dikelola dengan baik, bisa jadi alasan untuk lebih cepat mandiri. Perlu dicatat, kemandirian bisa tumbuh dalam hal bepergian jauh tetapi belum tentu dalam hal keseharian. Ini juga terjadi pada kami.
  4. Komunikasi konvensional tetap penting.
    Meskipun telepon dan internet sudah sedemikian canggihnya, saya masih mengirimkan kartu pos dan surat kepada Lita terutama jika sedang bepergian ke negara lain. Mungkin dia tidak merasakan manfaatnya sekarag tetapi saya yakin pengalaman menerima kartu pos dari berbagai tempat dengan catatan singkat akan membuat kesan tersendiri. Saya harap pengalaman itu akan berakumulasi positif untuk membentuk karakternya di masa depan.
  5. Siasati pertemuan dengan alasan akademik.
    Pertemuan fisik jelas tidak bisa digantikan oleh bentuk komunikasi virtual apapun. Maka dari itu saya selalu usahakan bisa pulang ke Indonesia dari Australia untuk bertemu Lita. Untuk menyiasati pembiayaan yang tidak murah, saya biasanya mengusahakan partisipasi di forum ilmiah di Indonesia atau negar terdekat. Dengan demikian, keberangkatan saya akan dibiayai oleh beasiswa atau pihak lain yang berwenang dan berkenan. Dengan melakukan ini saya bisa mampir bertemu Lita sehingga sekali merengkuh dayung maka dua tiga pulau terlampaui.
  6. Berbagi peran dengan keluarga.
    Saat berpisah dan terpencar-pencar seperti ini, saya merasa bahwa peran keluarga besar terutama Ibu, Bapak dan Ibu Bapak mertua tidak tergantikan. Merekalah yang menyelamatkan keluarga kecil kami. Tanpa mereka, kami tidak akan bisa apa-apa. Maka keterpisahan ini menghadirkan alasan yang lebih kuat lagi untuk mengakui peran dan menjaga hubungan baik antar anak-orang tua, mantu-mertua, sadara kandung dan saudara ipar. Tanpa dukungan mereka, kami tidak ada artinya.
  7. Sahabat adalah kekayaan yang menyelamatkan.
    Kami beruntung karena sahabat kami, orang tua teman-teman Lita begitu baik hati membantu. Banyak sekali peran kami yang mereka lakukan sehingga Lita tidak merasa jadi asing di keluarga besar sekolahnya. Maka memiliki sahabat baik dan paguyuban orang tua yang bisa diandalkan adalah suatu kemewahan yang menyelamatkan. Perjalanan masih jauh tetapi saya sudah tidak bisa menyangkal betapa besar peran sahabat-sahabat kami ini. Saya juga kadang meminta teman atau mahasiswa saya untuk datang ke rumah di Jogja jika tiba-tiba Lita mengalami masalah teknis komputer yang tidak bisa saya selesaikan dari jauh. Memiliki mereka adalah suatu berkah bagi kami.
  8. Mencataat kisah, merekam sejarah.
    Untuk mengambil pelajaran dari situasi yang tidak mudah ini, kami biasakan membuat catatan. Ada sejuta pelajaran penting dari keterpisahan ini maka kami ingin menuai makna. Selain untuk keluarga sendiri, catatan ini ingin kami bagi kepada mereka yang sedang atau akan mengalami hal yang sama. Kami mencatat berbagai peristiwa ringan di blog atau merekam interaksi kami dengan video. Merekam dengan video ini adalah favorit saya karena dalam aktivitas ini terjadi banyak hal sekaligus. Saya melatih Lita untuk menceritakan pemahamannya terhadap sesuatu, belajar berkomunikasi dengan tata cara yang baik, dan adanya tuntutan untuk melek teknologi dan multimedia. Selain itu, dokumentasi berupa audio visual adalah rekaman sejarah yang jujur dan paling ampuh dalam mengabadikan kesan dan pelajaran.

Semoga cerita ringan ini menjadi satu tambahan pemahan bagi pembaca. Bagi mereka yang sedang mengalami keterpisahan semoga menemukan alasan untuk kuat bertahan. Bagi mereka yang harus tetapi masih ragu untuk melakukannya, semoga menemukan alasan yang baik untuk bergerak dan menepis keraguan. Sekali lagi, tidak ada satu keluargapun yang semestinya bercita-cita untuk terpisah dan cerai berai tetapi jika ada alasan mulia untuk melakukannya, maka kita harus usakan semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Mari saling mendoakan.

PS.
Video ini diunggah dengan persetujuan Lita. Lita juga sudah meyadari bahwa saya ‘berbohong’ karena merekam bagian-bagian yang tadinya tidak ingin direkam. Pada akhirnya dia tidak keberatan bagian itu tetap dipertahankan karena memberi nuansa lucu pada video 🙂

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

18 thoughts on “Pengalaman LDR – Long Distance Relationship”

  1. Ma kasih sharingnya… Jadi rada kepo, kalau perasaan mbak Asti pas akhirnya memutuskan ‘meninggalkan’ Lita bagaimana Pak? Walaupun juga berat buat seorang ayah pergi meninggalkan keluarga untuk alasan apapun, saya pikir, seorang ibu akan lebih berat lagi.. (curhat karena akhirnya melepaskan kesempatan sekolah keluar negeri karena alasan belum bisa meninggalkan 1 anak dan 2 balita)

  2. Ada beberapa dosen saya yg jg melanjutkan study di aussie dan mereka membawa anak2nya walau yang dapat beasiswa hanya para suami, sementara istri tidak.
    Kalau saya jadi mbk asti saya akan bawa lita, dgn asumsi akan baik jg bagi lita memiliki pengalaman sekolah di luar negri

  3. Ya….ya saya ada lihat foto keluarga mas andi yang di salju itu.
    Saya senang membaca posting tentang beasiswa dari mas andi dan telah banyak membantu memotivasi saya. Dan Alhamdulillah saya mendapat beasiswa sejenis short course khusus guru selama 5 bulan di amerika (ILEP), berangkat januari 2014. Mudah2an ini akan membuka jalan S2 ke aussie jg nantinya.

    Terima kasih Mas Andi

  4. Saya sedang mengalami hal yang sama, 2011 istri yang ke Australia dan saya di Indonesia, 2012 istri saya pulang ke Indonesia, dan 2013 saya berangkat ke Australia. Sedikit banyak apa yang kami lakukan mirip-mirip dengan cerita mas Andi walaupun ada beberapa yang berbeda. Terimakasih share pengalamannya mas Andi, salam kenal.. herri

  5. terima kasih telah berbagi, Pak Andi 🙂 . semoga secepatnya bisa berkumpul kembali. #harapan untuk diri sendiri dan juga Pak Andi.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s