Made Kondang ragu-ragu mengangkat tangannya dan berteriak. Ada yang tidak pas karena tidak biasanya dia begini, bersemangat dan berdebar-debar menyaksikan bola tergelincir di lapangan hijau dan mengungsi dari kaki ke kaki. Ini jelas bukan dirinya. Bukan Kondang yang dikenal banyak orang kalau lelaki itu lalu menjadi orang biasa yang berteriak, histeris dan berdebar karena sebutir bola.
Namun bola itu kini istimewa. Istimewa karena dia menjadi satu-satunya pusaka kebersamaan desa pekraman yang lama ditinggalkan Kondang. Saat kelihan banjar, nak lingsir, tukang angon dan penyiang gulma sudah kehilangan dan tidak bisa menjadi teladan, bola itu seperti malaikat, datang tiba-tiba dan menyatukan.
Aku berkelana di sebuah desa, menyusuri jalanan yang terjalin dari bebatuan berukir ulah manusia yang fana. Gelap jalanan itu, berhias temaram lampu minyak. Di tepinya berderet gapura-gapura dan benteng ringkih yang melindungi istana-istana kecil yang mengenaskan. Penjaja hidangan bersemu sendu mematung di sudut-suduh jalan bercahayakan lentera yang juga temaram. Lehernya kurus, keriput dan panjang, wajahnya tirus lesu namun menatap tajam. Rambutnya putih pucat terurai hingga bahu. Telinganya panjang berjuntai menyentuh pundaknya yang telanjang dan keriput. Sesekali dia menyeringai, giginya kehitaman, sisa-sisa tembakau bersembunyi lekat berbaur dengan sirih dan gambir yang pekat dan pucat. Wajah itu tak kan kaulihat di sembarang tempat. Aku melihatnya karena aku adalah sang waktu yang selalu melihat dan mencatat.
“Jarang-jarang kita ke Sydney berdua ya Yah”
“Ya, biasanya ada yang ramai, ngoceh sepanjang jalan.” Aku melirik cermin di depanku, terlihat car seat (kursi bayi) kosong di jok belakang.
“Ya, kok bisa ya, dia ngomoooong terus sepanjang 1,5 jam tidak berhenti”
“Kecuali kalau tidur aja dia diam.” Kami tertawa.
Perjalanan ke Sydney dari Wollongong kali ini terasa berbeda. Sepi dari obrolan yang biasanya berasal dari jok belakang yang tidak pernah berhenti. Aneh rasanya tidak ada yang memaksaku bermain tebak-tebakan I spy with my little eyes, something to begin with a letter D. Kangen juga dengan ocehan itu.
Mobil biru ungu melaju di sepanjang freeway yang lengang. Kecepatan maksimum 110 km/jam aku manfaatkan sebaik mungkin. Terdengar alunan suara Armand Maulana, melantunkan Cinta Lalu yang syahdu. Aku teringat kelakar seorang kawan, ada kejanggalan dalam syair lagu ini. ”Aneh banget ada kata-kata ’telepon aku’ dari lagu sebagus itu. Kata ’telepon’ nggak pas bersanding dengan kata-kata puitis” kata temanku penuh kritik. Kamipun berderai tawa, saat menyadari bahwa lagu-lagu sekarang dipenuhi kata-kata yang sangat teknologis dan gaul seperti email, chatting, facebook, telepon, hp dan sejenisnya.
”Ini berarti kita sudah tua” kataku mengingatkan.
”Ya, bisa jadi. Mungkin kita saja yang merasa aneh mendengar kata-kata ’facebook’ digunakan dalam lagu cinta.” Aku sempat hanyut dalam lamunan di sepanjang perjalanan Wollongong-Sydney.
Saya memperhatikan dengan seksama anak muda belasan tahun di depan saya yang tekun mencuci motor saya yang kumalnya sudah berlebihan. Beginilah enaknya hidup di Indonesia, seseorang yang tidak kaya sekalipun bisa memerintahkan orang lain untuk mencucikan motornya hanya dengan delapan rubu rupiah saja. Tinggal menunggu sambil baca koran, dalam waktu beberapa menit saja motor sudah kembali kinclong. Meski begitu, cerita ini bukanlah tentang motor, apalagi tentang uang. Sama sekali bukan.
Menjelang hari raya seperti Idul Fitri ini, dunia maya dipenuhi oleh lalu lintas ucapan salam dan selamat. Teknologi Informasi memang telah mengubah cara kita bertegur sapa dan mengucapkan salam. Dengan Facebook, mengucapkan selamat ulang tahun kini bukan perkara sulit. Mengingat hari ulang tahun puluhan teman yang 20 tahun lalu memerlukan usaha yang tidak sederhana, kini sangat mudah dilakukan. Facebook dan jejaring sosial lainnya melakukan dengan dengan senang hati untuk kita, tanpa bayaran. Sekretaris paling handal dan tidak pernah mengeluh dewasa ini mungkin bernama Facebook.
Made Kondang tergopoh-gopoh menemui Nak Lingsir, mengabarkan berita yang menggemparkan. Seorang pemuda di desanya diterima bekerja di kapal pesiar.
“Wayan diterima bekerja Nak Lingsir, sebulan lagi dia berangkat ke Amerika.”
”Astungkara” Nak Lingsir mengucap syukur lalu melanjutkan. ”Wayan memang berbeda dengan kebanyakan anak muda di kampug ini. Banyak orang yang tidak suka melihat kelakuanya, tetapi aku tahu, suatu saat dia akan berhasil. Saat masih kecil dia dikenal sangat kreatif. Dia biasa membuat sabung ayam tiruan dari daun keladi dan taji duri salak. Cerdas sekali bukan? Wayan juga sudah menunjukkan sifat mandiri dan berani mengambil keputusan sendiri. Di saat teman-temannya menangkap capung dengan getah kamboja, dia sudah menggunakan getah nangka, meskipun waktu itu dilarang orang tuanya. Dia juga berani mengambil risiko, pernah mengusir bebek Kak Wi yang terkenal galak itu dari kolamnya. Dia tetap tenang walaupun akhirnya dimarahi. Pemberani sekali dia. Wayan memang sudah menunjukkan kelasnya dari dulu. Saat teman-temannya masih menggunakan sepeda gayung, dia sudah berhasil meyakinkan bapaknya untuk membelikannya motor. Memang luar biasa si Wayan. Aku turut senang mendengar berita ini.”
Saya pernah menulis di blog ini soal pergulatan batin saya ketika membuat sebuah keputusan penting. Tulisan itu adalah sebuah kontemplasi yg bagi saya sangat mendalam, meskipun bagi orang lain mungkin biasa saja. Keputusan penting itu adalah masalah kebajikan, setidaknya demikian saya memahaminya.
Kisah itu bercerita tentang berbagai kegagalan, terutama bagi Asti, istri saya, dalam mendapatkan beasiswa. Di saat yang sama, saya bersemangat membantu banyak orang untuk mendapatkan beasiswa yang sama. Saya sampai pada satu pertanyaan penting: perlukah dalam hidup membantu sesama, jika ternyata kebaikan itu tidak perpihak pada keluarga saya? Saya telah memenangkan sebuah pertarungan penting: kebajikan harus tetap dijalankan, meskipun di saat yang tidak membahagiakan. Kebaikan idealnya adalah investasi tanpa pamerih, seperti halnya doa yang adalah puja, doa bukan tuntutan untuk sebuah imbalan. Meski sering kali gagal menjalankannya, rasanya nasihat ini sangat layak diperjuangkan.
Beberapa jam terakhir, saya dihubungi beberapa orang terkait seleksi beasiswa Australian Leadership Awards (ALA). Rupanya pengumuman seleksi tahap pertama sudah keluar dan beberapa orang telah dinyatakan lolos ke tahap wawancara. Sebenarnya saya sudah pernah menulis tips wawancara ALA di blog ini tetapi rupanya masih ada yang kurang. Saya akan tambahkan di posting kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.
Sebelum lanjut, Anda mungkin bertanya-tanya, apa kualifikasi saya sehingga berani menuliskan tips wawancara ini. Jawaban saya sederhana, saya tidak memiliki kualifikasi resmi. Yang saya tuliskan adalah pengalaman pribadi ketika diwawancarai tiga tahun lalu ditambah hasil bacaan dan ngobrol dengan teman.
Seleksi ALA sangatlah kompetitif. Hanya kandidat luar biasa yang dipanggil untuk wawancara. Oleh karena itu, bersenang hati dan bersyukurlah karena panggilan wawancara itu adalah bentuk lain dari sebuah pengakuan. Kalau ada pengakuan yang patut membuat seseorang senang, maka pengakuan dari ALA adalah salah satunya. Anda telah menyisihkan ratusan atau mungkin ribuan orang hebat lainnya untuk bisa diwawancarai.
Karena sebuah alasan, saya pernah duduk bercakap-cakap dengan Bapak Nur Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri RI, di sebuah hotel di Sydney. Kami berada di satu meja selepas menikmati sarapan di lantai 47 Hotel Shangri La Sydney sehingga bisa memandang lengkungan Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House yang ketika itu nampak kecil nun jauh di bawah sana. Banyak sekali hal teknis yang saya tanyakan kepada beliau terkait penelitian saya: batas maritim. Pak Hassan memang ahli yang tepat untuk berkonsultasi soal itu.