Back for good


putrahermanto.wordpress.com

“Jarang-jarang kita ke Sydney berdua ya Yah”
“Ya, biasanya ada yang ramai, ngoceh sepanjang jalan.” Aku melirik cermin di depanku, terlihat car seat (kursi bayi) kosong di jok belakang.
“Ya, kok bisa ya, dia ngomoooong terus sepanjang 1,5 jam tidak berhenti”
“Kecuali kalau tidur aja dia diam.” Kami tertawa.

Perjalanan ke Sydney dari Wollongong kali ini terasa berbeda. Sepi dari obrolan yang biasanya berasal dari jok belakang yang tidak pernah berhenti. Aneh rasanya tidak ada yang memaksaku bermain tebak-tebakan I spy with my little eyes, something to begin with a letter D. Kangen juga dengan ocehan itu.

Mobil biru ungu melaju di sepanjang freeway yang lengang. Kecepatan maksimum 110 km/jam aku manfaatkan sebaik mungkin. Terdengar alunan suara Armand Maulana, melantunkan Cinta Lalu yang syahdu. Aku teringat kelakar seorang kawan, ada kejanggalan dalam syair lagu ini. ”Aneh banget ada kata-kata ’telepon aku’ dari lagu sebagus itu. Kata ’telepon’ nggak pas bersanding dengan kata-kata puitis” kata temanku penuh kritik. Kamipun berderai tawa, saat menyadari bahwa lagu-lagu sekarang dipenuhi kata-kata yang sangat teknologis dan gaul seperti email, chatting, facebook, telepon, hp dan sejenisnya.

”Ini berarti kita sudah tua” kataku mengingatkan.
”Ya, bisa jadi. Mungkin kita saja yang merasa aneh mendengar kata-kata ’facebook’ digunakan dalam lagu cinta.” Aku sempat hanyut dalam lamunan di sepanjang perjalanan Wollongong-Sydney.

Kulirik ke kiri, ada yang mulai terpejam. Istriku letih bukan kepalang setelah beberapa hari menyiapkan kepulangannya. Hari ini kami ke Sydney untuk mengurus perpanjangan passpor untuk anakku. Ada rasa sepi menghantui. Jalanan yang lengang, jok belakang yang hening dan istri yang tertidur membuat suasana kelam sempurna. Kegundahan meggempur kian hebat, mengingat keberangkatan istri dan anakku yang tinggal beberapa hari lagi. Aku akan sendiri di negeri dingin ini.

Hidup memang pilihan, keluarga kecilku harus terpencar-pencar untuk sementara. Demi cita-cita dan cinta, seperti istilah anak muda di tahun 90an. Lamunanku kian jauh, alunan lagu Gigi mengantarkanku pada titik terdalam sebuah kontemplasi yang sempurna. Perlahan namun pasti, tubuhku seperti hanyut dalam alunan alam yang mendesah-desah kecil lewat jedela mobil yang kukendarai. Jiwa yang tenang, dan pikiran yang tidak bekerja membuat fisik enggan melakukan fungsinya dengan sempurna. Aku marasa tubuhku santai, mata mulai berat, pandangan berbayang. Kantuk datang menyerang.
***
”Yaaaahhhh!”
Jeritan itu mengejutkanku. Dalam dua detik aku tersadar, sebuah truk di depanku, seperti dikirimkan dari langit. Karena sempat hampir tertidur, aku tidak melihat truk ini dari jauh. Kecepatanku sangat tinggi, tidak cukup waktu menghentikan kendaraan, akupun menyelamatkan diri membanting stir ke kanan menghindari truk besar itu. Tak sempat kuperhatikan kendaraan dari belakang, aku pindah jalur tanpa melihat kaca spion. Tiba-tiba terdengar jeritan ban yang direm mendadak dari belakangku. Tak sempat kusadari apa yang terjadi, sebuah hantaman yang mantap menyambutku tanpa ampun. Sempat kurasa mobilku terdorong hebat, berputar beringas setelah hantaman itu. Tiba-tiba, kurasakan waktu seperti berjalan sangat lambat, mobilku berkelebat berputar dalam gerak lambat yang mengagumkan. Mobil kecil itu melayang berputar-putar berkali-kali seakan tidak menyentuh aspal dalam sebuah slow motion yang super lambat. Aku seperti bisa mendengar suara angin, bisa melihat wajah istriku yang bergerak terguncang menjauh dari kursi, sementara sabuk pengaman menahannya. Semua dengan cara yang sama: slow motion.

Kulirik lewat cermin, kusaksikan sabuk pengaman kursi belakang menari-nari di udara, lambat dan sangat misterius, car seat melayang berputar, lepas dari jok belakang, seperti penari sakral yang membawakan tarian dengan penuh penghayatan. Tanganku tak lepas dari stir, aku menunggu sangat lama, mobil masih berputar sampai akhirnya pelan-melan terasa menyentuh aspal, tersentak hebat, namun masih dalam gerak lambat. Tubuhku terasa berat luar biasa, sulit disokong. Aku rasakan aku terhempas bersama mobil, masih dalam gerak lambat yang sempurna. Saat mobil terhenyak, kurasakan berat tubuhku menarikku ke arah depan dalam gerakan yang sangat lambat. Aku tidak kuasa menahannya, tubuhku seperti ditarik oleh 100 orang ke arah depan. Kepalaku seperti dipegangi oleh seribu orang, dipaksa untuk mencium kaca di depanku. Aku tak kuasa menahan semuanya sampai akhirnya dadaku menyentuh stir dan kepalaku bergerak pasti mendekati kaca di depanku.

”Pyar!” kudengar suara dan kepalaku terbentur benda pecah seribu itu. Akupun terdiam tak bergerak. Ada kantuk menyerang dengan luar biasa. Aku ingin tidur. Tidur yang sangat lama.

***

”Yah.. yah.. bangun.” istriku membangunkanku. Aku perlu waktu sejenak untuk mengingat-ingat apa yang terjadi. Rupanya cukup lama aku terlelap, dadaku ditopang stir dan kepalaku terjuntai ke depan. Sangat menyenangkan bisa tertidur sepulas itu. Kuperiksa tubuhku, tidak ada masalah. Rupanya kecelakaan itu tidak parah. Aku cek mobil, memang ada goresan dan penyok di belakang. Ternyata kaca tidak pecah, aku ternyata hanya panik saja. Aku pikir tidak masalah karena jiwa kami terselamatkan. Tak satupun orang di situ. Rupanya mobil yang menghantamku telah melarikan diri. Sial bener. Tapi sudahlah, aku toh merasa tidak apa-apa dan tetap bugar. Kamipun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kukendarai mobil dengan perasaan berdebar hebat. Tanganku masih bergetar.

”Tadi kejadiannya gimana ya?” aku mulai bertanya sambil melaju melanjutkan perjalanan ke Sydney.
”Nggak tahu juga sih, ibu kan baru bangun tuh. Tiba-tiba ngerasa truk dekat sekali, tapi ayah nggak ngerem. Makanya ibu langsung teriak.”
”Oke, tidak apa-apa, yang penting kita selamat. Kita harus cepat, sebelum Konjen tutup.” Mobilpun kupacu di sepanjang freeway yang terasa lengang.

”Yah, kok rasanya belum pernah lihat gedung itu ya?”
”Yanga mana?
”Itu tuh, kayak gedung tua. Khas Eropa sepertinya.”
”Ya ya, kita hampir tiap 2 minggu sekali ke Sydney, tetapi kurang perhatian pada lingkungan. Mungkin karena biasanya ada yang rajin bertanya dan ngoceh sepanjang jalan.” kami tertawa sambil sama-sama melirik car seat yang kosong di jok belakang.
”Ya, menjawab pertanyaann aneh-aneh saja sudah habis waktunya.”

”Eh Bu, kok jalanan agak sepi ya rasanya. Beda dengan biasanya.”
”Ya biasanya kan kita ke Sydney pas wiken Yah. Kalau hari kerja wajar lah sepi”
”Ya juga sih. Tapi nggak tahu deh. Lain rasanya, ada yang berubah nih dari Sydney.”
”Hari kerja memang sepi kali. Rasanya belum lihat satu mobilpun ya”
”Eh itu ada kok.. Cuma memang sedikit. Ada acara lain kali, sehingga tidak memenuhi jalanan.”
”Ya, sekalinya mobil lewat, malah mobil tua.. kaya’ mobil tahun 70an tampangnya.” Tak henti kami membicarakan keanehan-keanehan yang kami temui di sepanjang jalan. Sebenarnya mungkin bukan keanehan, hanya saja kami tidak menyimak dengan baik selama ini.

Kami sudah mendekati Konsulat Jendral RI di Maroubra. Aku segera mencari tempat parkir di tepi jalan di samping Konjen. Sejurus kemudian kami bergegas berjalan melalui pintu depan. Aneh sekali, tidak ada orang di sana. Di ruang jaga yang biasanya ada petugas, kini sepi. Pintu tidak terbuka karena tidak ada yang membukakan. Aku melongokkan kepala ke dalam. Tidak nampak siapapun.

”Kok aneh ya? Apa mereka masih istirahat? Padahal sudah hampir jam tiga lo.”
”Ya, biasanya petugas Konjen rajin ngasih pelayanan. Kok tumben ya?”
”Atau ada acara lain? Coba ayah telepon dulu” Aku segera menghubungi seorang diplomat yang kebetulan ku kenal baik. Beliau mengurusi soal passport. Aku mencari-cari nama di hp-ku lalu kupencet nomornya. Lama kutunggu, tidak ada jawaban. Biasanya ada mesin penjawab, kali ini tidak ada apa-apa. Nada sambung pun tidak ada. Aneh.

Kucoba nomor lain, seorang diplomat muda yang juga kukenal baik. Lama kutunggu, hal serupa terjadi. Aku menunggu-nunggu mesin penjawabnya yang lucu bersuara perempuan, padahal dia seorang laki-laki, ternyata tidak kunjung terdengar. Aku mulai tidak sabar. Rasanya tergoda untuk menuduh mereka tidak becus. Mau dikemanakan bangsa ini kalau petugas konjennya tidak ada di kantor jam tiga sore.

”Ada acara kali Yah, makanya tutup”
”Harusnya mereka memasang tanda atau pengumuman dong. Ini kan tidak ada pengumuman di pintu. Memang pejabat Indonesia ini nggak ada yang bener.” aku mulai naik darah.

Kami berjalan ke samping, menengok dari pintu samping kalau-kalau ada orang di belakang kantor yang bisa dipanggil. Tidak ada orang. Aku kembali ke depan. Mencoba melihat dengan seksama apakah di dalam kantor ada orang yang terlihat dari luar.

”Eh, Yah, kayanya ada orang tuh.”
”Mana?”
”Itu, duduk di kursi di ruang tamu di dalam.”
”Mana sih?”
”Itu lo, bapak tua itu. Di kursi di pojok itu lo. Agak gelap sih.” Mataku mencari-cari. Samar-samar terlihat sesosok lelaki duduk di kursi paling pojok, bajunya putih sehingga agak mudah terlihat di ruangan yang sedikit gelap. Aku merasa ada harapan.

”Pak.. Pak.. permisi Pak.” aku mulai memanggilnya. Tidak menoleh sedikitpun, bapak itu seperti menikmati kesendiriannya. Mungkin beliau juga tamu di Konjen, yang jelas bukan diplomat atau pegawai Konjen yang kukenal.
”Pak.. permisi..” istriku berteriak sambil melambaikan tangannya. Tiba-tiba laki-laki itu menoleh perlahan. Nampak wajahnya agak lelah. Mungkin dia sudah lama menunggu pelayanan dari Konjen, pikirku. Dia menatap kami dari jauh, seakan tidak yakin bahwa kami memanggilnya. Kami semakin bersemangat melambaikan tangan. Lelaki itu menoleh sekeliling untuk meyakinkan dirinya, lalu bangkit.

Dia berjalan pelan mendekati pintu kaca Konjen, memandang kami yang melambai-lambai di luar pagar. Aku kini bisa melihat wajahnya. Orang ini memang tidak aku kenal. Entah mengapa, rasanya aku pernah melihat wajahnya. Entah di mana.

Dia berhenti di dekat pintu kaca, memandang ke arah kami. Diam terpaku, tidak beranjak memberi informasi yang kami perlukan. Aku mulai berteriak bertanya apakah konjen masih buka. Lelaki itu diam agak lama. Aku merasa ada yang aneh pada lelaki itu. Wajah lelahnya nampak sedikit pucat, mungkin beliau sakit dan memerlukan dukungan administrasi dari konjen untuk pengobatannya. Bajunya putih, demikian pula celananya. Rambutnya juga didominasi oleh warna putih. Wajah bersihnya pucat memancarkan kelelahan. Meskipun ada kedamaian di situ, kegersangan nampak jelas. Atau ini hanya perasaanku saja yang memang suka berteori jika melihat kejanggalan.

Dia tersenyum. Sebuah senyum yang tidak biasa kulihat. Meski merasa aneh, kami jadi lega. Ada harapan, bapak tua ini akan membantu kami berurusan dengan Konjen hari ini. Tiba-tiba dia melambaikan tangan, bertanda ’tidak’ lalu menyilangkan kedua tangannya pertanda ’tutup’. Sejurus kemudian dia melambaikan tangannya lagi pertanda ’pergi’ atau ’kembalilah’ atau semacamnya seperti menyuruh kami berlalu dari Konjen.

”Kami mau perpanjang passport Pak.” aku berteriak. Lagi-lagi lelaki itu melambaikan tangannya. Kini kepalanya menggeleng berkali-kali lalu berlalu masuk kembali ke ruang tamu. Terlihat olehku dia duduk di kursi yang sama. Kini dengan wajah tidak peduli. Aku menangkap respon negatif dari orang itu. Sepertinya kami tidak bisa mengharapkannya.
”Ah nih Bapak gimana sih. Kayak orang bisu aja, pakai isyarat segala. Gimana ya Bu?”
”Gimana ya? Waktu kita tinggal dikit Yah. Kapan lagi mau perpanjang passport kalau nggak hari ini?”
”Sebenarnya masih bisa besok sih. Tapi memang mepet.”
”Kalau besok, Ayah aja yang pergi sendiri ya, Ibu nggak bisa ikut.”
”Kita tunggu sebentar lagi deh, siapa tahu ada petugas yang kita bisa temui.”
”Tapi kayanya nggak ada deh. Kantor kayak kuburan gini. Sepi!”
”Kita lihat dari samping sekali lagi yuk.”
”Ayo” kamipun bergegas menuju pintu samping, berharap ada yang terlihat dari luar. Nihil, tidak ada hasil.
”Udah, gini aja. Kita teriakin sekali lagi tuh Bapak, mudah-mudahan kini dia berubah pikiran.”
”Ayo, kita coba sekali lagi deh.” kamipun bergegas menuju pintu depan. Aku sudah menyiapkan suara terkerasku ketika kulihat kursi yang tadi diduduki orang itu kini telah kosong.”
”Ya.. kabur pula tuh orang. Gimana nih?”
”Kayanya kita harus balik ke Wollongong dulu deh. Nanti telat lagi jemputnya. Childcare tutup jam 6 lo hari ini.”
”Ya wis. Besok aja Ayah ke sini lagi. Sendiri nggak apa-apa.”

Kami melaju dengan kecepatan agak tinggi dari Sydney ke Wollongong, takut terlambat menjemput si centil, putri kami di childcare-nya.

”Memang beda kalau hari kerja ya.. sepi banget jalanan. Freeway kayak kita yang punya.” aku berkelakar melihat jalanan yang lengang.
”Ya sepi banget ya Yah… tapi ini kayanya keterlaluan deh.. sepinya.”
”Keterlaluan gimana? Australia memang di mana-mana sepi kok, apalagi jam kerja. Penduduknya aja 23 juta cuma” aku mulai berteori, sekaligus menghilangkan kantuk.

”Eh Yah.. lihat tuh.. kok ada ramai-ramai di depan?”
”Kecelakaan kali.”
”Wah untung di sisi kanan ya. Kalau di sisi kiri, bisa terlambat kita.”
”Ya, kayaknya ada yang kecelakaan, tuh. Polisi banyak banget.”
”Eh, Yah, ini bukannya tempat kita ketabrak orang tadi?
”Masak sih? Kayaknya nggak deh.”
”Ya yah, Ibu masih ingat.. kayaknya bener deh.”
”Iya to? Wah berarti tempat ini memang rawan. Masak dalam sehari ada dua kali kecelakaan.”
”Ya, untung ya, tadi tidak parah-parah amat.”
”Ya, coba kalau kita tadi nggak selamat.. gimana nasib anak kita ya?”
”Hus.. jangan gitu ah.. bikin merinding aja. Ayo, cepetan, kita harus segera jemput nih. Bisa 110 kok.”

Aku memacu kendaraan dengan laju. Ada rasa syukur di dalam hati, kami selamat dari kecelakaan itu. Namun melihat keramaian tadi, ada perasaan aneh. Takut sekaligus lega. Takut karena berbagai kemungkinan bisa menimpa kami, lega karena toh kami akhirnya selamat.

Aku berbelok dari Elliots Road ke arah kiri. Aku segera bergegas masuk ke childcare. Kuteriakkan nama anakku karena tidak terlihat olehku, padahal biasanya dia sudah menghambur menyambutku. Kini tidak ada. Suasana childcare terasa sepi. Di sebuah sudut kulihat seorang perempuan agak tua, melihatku yang panik. Dia tersenyum. Aku mendekatinya dan bertanya, dia hanya mengangkat bahu. Rupanya perempuan berwajah asia ini tidak bisa berbahasa Inggris. Mungkin dia sedang menjemput cucunya. Di pojok lain kulihat seorang guru muda sedang tertunduk. Sayup-sayup kudengar isak tangisnya. Aku tahu, guru ini adalah favorit anakku. Rupanya dia sedang ada masalah pribadi, aku tidak berani mengganggunya. Langsung saja kutengok log book. Aku tersentak, di sebuah kolom pada nama anakku aku melihat sebuah tanda tangan pertanda sudah ada yang menjemputnya. Aku panik bukan kepalang, aku melihat-lihat sekitar. Aku langsung lari ke kantor childcare, tidak ada satu orangpun di sana. Aku lari kembali ke log book, memastikan sekali lagi bahwa pandanganku tidak salah. Aku kini lebih terkejut lagi. Di ujung paling kanan terdapat keterangan ”picked up by the Consulate General of Republic of Indonesia, Sydney”. What! Apa hubungannya konjen dengan jemput menjemput anakku?

Aku beranikan diri mendatangi guru yang menangis itu. Aku bertanya perlahan. Dia diam saja, menunduk dan terisak. Rupanya masalah pribadinya terlalu serius, aku ragu-ragu. Tapi aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menuntut childcare mengapa mengijinkan orang lain menjemput anakku. Aku mengguncang-guncang tubuh guru itu, tidak bergeming. Dia tetap diam tidak peduli padaku yang putus asa dan memerlukan bantuannya. Aku melakukannya lagi dan lagi, hasilnya nihil. Dia tidak peduli, seakan tidak merasakan tanganku yang menggoyang-goyang tubuhnya. Rupanya dia sedih dan sedang shock hebat. Entah apa alasannya.

Istriku yang dari tadi diam di mobil ikut masuk dan tersentak setelah kujelaskan semuanya. Dia mulai menangis tanpa bisa dibendung. Aku menjadi panik tak terkira. Tapi sempat kutenangkan diri. Aku memencet nomor ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia di Wollongong. Tak sabar kutunggu jawabannya, aku menjadi uring-uringan. Tak ada jawaban. Sempat kumaki keadaan, aku tak mengerti apa yang terjadi. Tapi aku harus berbuat sesuatu. Akupun menarik istriku menuju kendaraan dan segera meluncur menuju apartemenku. Tak kuhiraukan lagi kecepatannku yang mungkin jauh melebihi kecepatan yang diperbolehkan.

Saat lewat di depan Rumah Sakit Wollongong, kulihat banyak sekali orang berkerumun. Banyak dari mereka yang kukenal. Sebagian besar adalah teman-teman orang Indonesia yang sekolah di Wollongong. Diantaranya, kulihat petugas konjen RI yang kukenal. Aku merasa ada yang tidak beres. Pastilah salah satu warga Indonesia di sini mengalami musibah sehingga semua warga dan petugas konjen datang ke rumah sakit. Tiba-tiba aku merasa aneh dan curiga. Apakah ini ada kaitannya dengan anakku yang dijemput pihak Konjen? Akupun menghentikan mobil dan parkir di tempat yang tidak diperbolehkan. Aku tidak peduli lagi, aku bersikeras menembus kerumunan. Sepertinya tidak ada satupun yang peduli denganku, seperti juga aku yang tidak berniat menyapa siapapun. Aku panik ingin segera tahu apa yang dikerumuni orang-orang itu.

Aku tersentak kaget, di ruang gawat darurat itu telentang sesosok tubuh berlumuran darah. Rupanya ada seorang warga yang mengalami kecelakaan. Aku menatapnya tanpa berkedip, sambil mencoba mereka-reka apa yang aku lihat. Kulihat kakinya tersingkap, sementara bagian tuhuh lainnya tertutup kain putih yang kini sudah berlumuran darah. Tiba-tiba mataku terantuk pada celana jeans yang terlihat membungkus kaki orang itu. Sepertinya seorang laki-laki. Aku merasa ada keanehan. Belum sempat aku sadar, aku melihat ada segerombolan orang mendorong sesosok tubuh lainnya yang sepertinya juga berlumuran darah. Melihat sosok tubuh itu, tiba-tiba semua orang menangis tersedu. Aku belum tahu siapa kedua orang yang tergelatak itu, dan tak ada niat bertanya pada orang-orang yang sedang dirundung duka itu. Aku kembali menatap tubuh laki-kaki yang tadi aku lihat, kini aku mengingat sesuatu. Jeans itu, sepertinya aku kenal. Apakah ini adalah orang yang aku kenal? Siapa dia? Aku bertanya-tanya mencoba menguasai pikiran yang tiba-tiba menjadi sangat liar.

Aku menatap kakinya. Jari-jari itu seperti aku pernah lihat. Aku merasakan keanehan yang tiba-tiba menjalar di tubuhku. Aku tiba-tiba ingat akan istriku yang tadi terpisah di kerumunan orang-orang. Di manakah dia berada? Konsentrasiku terpusat lagi pada diriku. Ada perasaan tidak menentu menjalar dari kaki hingga kepala. Aku memperhatikan tanganku sambil mataku melihat ke arah kaki yang telanjang berlumuran darah di depanku. Aku melihat diriku berbeda. Ada perasaan aneh saat menatap tanganku sendiri, ada keanehan merasakan tubuhku sendiri, ada keanehan melihat orang-orang itu yang tidak peduli padaku.

Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah papan yang menggantung di bagian depan dipan tempat lelaki itu telentang. Aku tersentak melihat namanya. Tiba-tiba tubuhku terasa dingin, dingin sekali. Kebekuan merasuk hingga ke tulang dan ada rasa takut yang teramat sangat. Aku memandang sekitar, tidak ingin percaya dengan apa yang kulihat dan kurasakan. Tiba-tiba aku bisa merasakan putaran bumi yang kian lama kian cepat. Dunia berputar, semua bergerak kecuali diriku. Aku ingin menangis dan memeluk semua orang agar menolongku dari kegundahan ini. Semua terdiam, semua asik dengan kesendiriannya. Mereka tak peduli dan semua berputar mengelilingiku.

Kulihat istriku beberapa meter dariku. Dia juga menatap tubuh lain yang telentang tak jauh dari tubuh lelaki itu. Di dipan itu juga tertulis nama. Nama yang sangat aku kenal. Aku melihatnya terisak, ada kesedihan dan terutama ketakutan yang mendalam di wajahnya. Akupun mendekatinya, memeluknya dan terisak berdua. Aku tidak mau mepercayai semua ini. Aku tidak mau. Kami menagis sejadinya tanpa satu orangpun yang mau peduli. Kami sendirian, kami ketakuan, kami kedinginan. Tolonglah kami.

Berkecamuk dalam pikiranku perca-perca kejadian yang sedari tadi menimpa kami. Telintas kecelakaan itu, putaran yang slow motion itu, lelaki berwajah dingin di konjen itu, kerumunan polisi itu, childcare anakku, guru yang menangis dan akhirnya dua tubuh tak bernyawa di depan kami. Semua potongan itu kini tersusun dengan sempurna membentuk sebuah gambar yang menceritakan semuanya. Kami berpelukan, menangis dan mengangis sejadinya. Tubuh jadi sangat ringan. Dunia lengang, dingin dan sepi tanpa suara. Kami seperti terlempar jauh ke sebuah masa yang tak bisa dipahami. Kami telah berangkat mendahului anak kami. Berangkat menuju persinggahan asing. We are going back. Back for good atau setidaknya untuk waktu yang aku tidak bisa perkirakan …

PS. Cerita ini adalah sebuah fiksi, dibingkai dalam setting tempat yang sebenarnya. Kejadian dan nama tempat yang sebenarnya hanya menjadi inspirasi.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

8 thoughts on “Back for good”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s