Betul, penghargaan memang akan datang

Sekolahnya Lita

Saya pernah menulis di blog ini bahwa penghargaan akan datang. Tugas saya adalah berbuat yang terbaik yang saya mampu maka penghargaan yang pantas untuk kualitas yang saya berikan adakan datang. Saya yakin itu.

Sejak bersekolah di Wollongong, saya cukup sering berbagi informasi terutama kepada teman-teman yang akan bersekolah ke Wollongong. Saya merasakan, tidak mudah untuk datang ke lingkungan baru tanpa bantuan dari rekan yang sudah mengalami terlebih dahulu. Tidak istimewa sesungguhnya yang saya lakukan. Hanya membalas email, memberikan tips-tips sederhana tentang belanja, tentang transportasi, tentang komunitas Indonesia dan hal-hal sederhana lainnya. Kadang saya tulis pengalaman di blog. Hal ini berlanjut hingga saya jadi Ketua PPIA Wollongong. Hobi membantu orang ini masih berjalan. Saya katakan ‘hobi’ karena memang saya melakukan tanpa tekanan, di sela waktu luang, bukan karena kewajiban, dan dengannya saya mendapat kesenangan. Bukankah hobi memang demikian?

Continue reading “Betul, penghargaan memang akan datang”

Happy Mother’s Day

Ibu
Oleh Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Hikayat seorang penulis

Sejak menulis buku, saya kerap menerima email tentang buku saya. Ada yang mengapresiasi, ada juga yang tidak. Seperti kata kakak ipar saya, semua komentar pasti ada manfaatnya. Maka dari itu saya terima dan berusaha untuk tidak cepat puas, tidak cepat kecewa dan tidak cepat terkejut. Dari sekian pesan atau email itu, tidak sedikit yang meminta dikirimi buku dengan cuma-cuma. Saya senang mendapat permintaan ini karena saya tahu ini adalah salah satu bentuk penghargaan. Tidak jarang saya memberikan buku cuma-cuma, bahkan kepada orang yang tidak saya kenal.

Continue reading “Hikayat seorang penulis”

Merebut Kesempatan

Saya adalah seorang surveyor. Pekerjaan saya mengukur dimensi bumi dan mewujudkannya menjadi peta. Selain itu, saya juga seorang guru. Pekerjaan menjadi dosen dan peneliti membuat saya memiliki kesempatan presentasi di berbagai konferensi di dalam maupun di luar negeri. Bulan April 2010 lalu, saat mengikuti konferensi FIG (Fédération Internationale des Géomètres) alias Federasi Surveyor Internasional, di Sydney, Australia. Di konferensi ini saya membawakan satu makalah. Dalam sebuah konferensi seperti FIG Congress, seringkali yang menarik disimak bukanlah apa yang terjadi di ruang presentasi, melainkan suasana di ruang makan atau saat istirahat minum teh.

Continue reading “Merebut Kesempatan”

Gayus yang [tak] jayus

Biawak di Bundeena

Di tahun 90an, istilah jayus sangat terkenal. Jayus digunakan untuk mengungkapkan satu siatuasi atau sifat yang maunya lucu tetapi tidak lucu, garing atau sebangsanya. Konon, menurut sebuah situs yang dipercaya banyak orang, Jayus adalah nama seorang anak sekolah di Jakarta yang karena kelakuannya akhirnya menjadi terkenal dan namanya menjadi kosakata baru. Jayus kabarnya memang tidak lucu, meskipun berusaha melucu.

Continue reading “Gayus yang [tak] jayus”

Status

Dulu, saat pertama kali belajar agama, kami diajari dengan sifat-sifat Tuhan. Pak Wayan Sukantra, guru agama kami waktu itu, memang pintar memintal kata-kata menjadi cerita. Saya sangat tertarik dengan nilai-nilai keagamaan yang dirangkai dalam bentuk cerita. Tidak saja mencerahkan, juga seringkali lucu. Tentu saja Tuhan digambarkan sempurna. Salah satu yang menarik perhatian saya sebagai anak kecil adalah kemampuan Tuhan untuk mendengar (Dura Sravana) dan melihat (Dura Darsana) secara jauh dan tembus. Beliau mendengar segalanya, baik yang diucapkan maupun yang tersimpan dalam pikiran.

Continue reading “Status”

Reading between the lines

Sekitar bulan Juni tahun 2005, saya bertugas menjemput mahasiswa baru dari Indonesia yang akan melanjutkan sekolah di University of New South Wales (UNSW) di Sydney. Tradisi jemput menjemput ini memang sudah turun temurun di UNSW, terutama bagi mahasiswa dengan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) ketika itu.

Continue reading “Reading between the lines”

Jok Mobil

Fort Scratchley, Newcastle

Saat pulang ke Bali Desember 2009 lalu, kami sempat dipinjami mobil untuk jalan-jalan menjelajahi Bali. Begitulah kalau jarang-jarang pulang bertemu keluarga, yang tampak dan terasa hanya manis-manisnya saja, mobilpun dipinjami, bebas dipakai ke mana saja. Yang paling terasa ketika duduk di belakang stir pertama kali adalah jok mobil yang empuk, enak sekali. Memang beda, kalau mobil baru. Beda jauh dengan Suzuki Alto ’95 kami di Wollongong yang kalau dirupiahkan tidak lebih dari 12 juta rupiah saja. Betul, lebih murah dari sebuah Vario baru di Indonesia. Tapi ini bukan cerita tentang harga mobil, tetapi jok mobil, jadi kita lupakan saja.

Continue reading “Jok Mobil”

Cinta sederhana

Newcastle
Men Suda (sebut saja demikian), tetangga saya seberang jalan, patah tangannya. Sebuah kecelakaan kendaraan roda dua yang cukup parah membuatnya menderita patah tulang. Saat itu paruh akhir dekade 1980an, saya belum genap 10 tahun dalam usia. Setiap hari, tanpa diminta oleh siapapun, saya selalu berada di rumah Men Suda. Dek Cung, anaknya nomor dua, memang adalah sahabat saya. Sahabat untuk mancing lindung dan membuat layangan. Dek Cung adalah pahlawan tak tertandingi urusan membuat layangan: be-bean, bucu dua, kedis-kedisan pre-prean, ikut-ikutan. Semua jenis layangan dia bisa.

Continue reading “Cinta sederhana”

Para Sahabat

Noisy Mynah – Newcastle

Bocah itu berlari sekencang-kencangnya, keringatnya bercucuran membasahi baju seragam SD putih merah yang sudah lusuh. Di kepalanya bertengger sehelai topi berlambang Tut Wuri Handayani, lusuh tak terkira. Sepatu hitamnya tak kalah mengenaskan, berdebu dan sedikit camping.

Dia mendapati apit surang rumahnya dan mulai mendesis. Sejurus kemudian melompatlah seekor tupai mungil dari balik rerimbunan kembang kertas. Mahkluk kecil itu berlari dan memanjat kaki sang bocah, mencengkramkan kuku-kukunya di kaos kaki, lalu ke lutut, ke celana merah hatinya dan akhirnya bertengger di bahu. Tupai itu mengendus-endus seakan hendak mencium.

Belum puas melepas rindu dengan si tupai, sang bocah bersiul siul seperti memanggil ke arah pohon kamboja di jaba sanggah tak jauh dari apit surang. Melesatlah dari sebatang dahan, seekor burung tekukur nan jinak. Belum sempat disadari, kakinya sudah bertengger di kepala si bocah yang masih ditutup topi lusuhnya. Dua binatang itu adalah sahabatnya.

Continue reading “Para Sahabat”