Merebut Kesempatan


Saya adalah seorang surveyor. Pekerjaan saya mengukur dimensi bumi dan mewujudkannya menjadi peta. Selain itu, saya juga seorang guru. Pekerjaan menjadi dosen dan peneliti membuat saya memiliki kesempatan presentasi di berbagai konferensi di dalam maupun di luar negeri. Bulan April 2010 lalu, saat mengikuti konferensi FIG (Fédération Internationale des Géomètres) alias Federasi Surveyor Internasional, di Sydney, Australia. Di konferensi ini saya membawakan satu makalah. Dalam sebuah konferensi seperti FIG Congress, seringkali yang menarik disimak bukanlah apa yang terjadi di ruang presentasi, melainkan suasana di ruang makan atau saat istirahat minum teh.

Ketika acara ‘welcome dinner’ ada sekelompok orang usia 40 an yang terlihat sedikit norak. Dari penampilan dan warna kulit mereka, saya menduga mereka dari tanah Afrika. Benar dugaan saya, mereka memang dari Marroco, ujung utara Benua Afrika. Saya awalnya tidak mengerti mengapa orang-orang Marroco ini sebegitu agresif mendatangi orang-orang di ruangan itu dan dengan antusias menjelaskan sesuatu.

Ternyata mereka sedang mempromosikan sebuah acara di negaranya. Singkatnya, mereka sedang mempromosikan Marroco dan ‘merayu’ orang-orang untuk datang ke negara mereka. Para surveyor ini adalah juga duta budaya dan pariwisata. Mungkin ini yang namanya soft diplomacy.

Mereka memberikan gantungan kunci khas Marroco kepada siapa saja yang mau mendengar celoteh mereka. “We need people like you to come to our country” demikian seseorang berkata pada saya dengan serius. Meskipun saya yakin, kalimat ini sama saja dengan ‘greeting’ di facebook yang mengatakan “I send this only for you“, padahal dikirim ke seribu orang di “list of friends“nya. Nice try, tapi patut dihargai. Mereka sedang merebut kesempatan.

Saat sedang menikmati makanan kecil, seorang berwajah melayu datang. Dia mengenalkan diri dari Malaysia, seorang surveyor juga tentunya. Setelah bercakap-cakap, dikeluarkannya sebuah kartu nama dengan desain cantik, pada kartu itu tertulis FIG 2014. “We are bidding, Pak” katanya ketika saya tanya perihal itu. Rupanya Malaysia ingin merebut kesempatan menjadi tuan rumah FIG 2014 di Kuala Lumpur. Tidak saja kepada para surveyor senior dan petinggi FIG mereka gencar berpromosi, pada anak-anak muda seperti saya pun mereka antusias ‘berjualan’. Sebentar kemudian, Bapak ini mengenalkan seseorang temannya dari Malaysia juga. “This is Theo, he is running for President” katanya dengan serius.

Besoknya ketika acara resmi dimulai, saya menemukan CD di kursi. Saya kira ini milik seseorang yang tertinggal tetapi ternyata tidak. CD yang sama ada di setiap kursi. Pada covernya tertulis Turkey, dan ada kata-kata FIG 2014. Rupanya, seperti halnya Malaysia, Turkey pun sedang merebut kesempatan. Rasanya saya pribadi akan senang berkunjung ke Turkey 4 tahun lagi menikmati suasananya yang eksotis sambil menimba dan berbagi ilmu geospasial.

Di suatu siang, saya menemui Christiaan Lemmen, dosen senior dari ITC Belanda. Saya mengenal beliau tahun 2006 saat seorang kawan menodong saya jadi MC dadakan acara Land Administration Short Course di Teknik Geodesi UGM. Setelah cukup lama berpisah, saya senang dia masih ingat saya. “We had fun in Yogya, how can I forget you!” katanya. Chris sendiri sedang bercakap-cakap dengan orang lain dalam Bahasa Belanda. Sayapun berdiri di sampingnya, diam tidak membuat kegaduhan berarti, berusaha ‘invisible’ agar tidak mengganggu 🙂 Saya biarkan mereka berinteraksi. Orang yang diajaknya bicara hanya melihat saya sekilas, tersenyum singkat lalu sibuk lagi dengan topiknya bersama Chris. Diam-diam saya curi pandang, name tag yang tergantung di lehernya beruliskan ’Geomares’. Selain itu di tangannya ada sejumlah majalah yang saya kenal: GIM International dan Hydro International, dua majalah geospasial terkemuka dari tanah Eropa. Rupanya Durk, demikian namanya, adalah seorang jurnalis. Belakangan saya tahu, dia editor senior.

Ketika Chris pergi, Durk masih ada di sana, tetapi siap-siap untuk berlalu. Tentu tak ada pentingnya dia menemani saya di situ :(( Sayapun harus mengambil keputusan cepat. Saya perlu satu kalimat singkat yang membuatnya tidak jadi pergi.

I am a subscriber of Hydro. Very good!” saya bilang sambil menunjuk Majalah Hydro International di tangannya. Jurnalis mana yang tidak senang jika publikasinya dipuji, apalagi oleh seorang pelanggan. Percakapan yg menarik pun terjadi. Sampailah pada inti cerita saat saya mengatakan “I want to write for Hydro“. Meskipun Durk cukup antusias melayani saya karena saya pelanggan, tapi jelas dia ragu-ragu saat mendengar keinginan saya menulis untuk Hydro. ‘Sopo bocah iki?‘ mungkin demikian pikirnya (itupun kalau dia bisa Bahasa Jawa). Tetapi, demi sopan santun, dia tetap melayani dan berbasa-basi bertanya. Saya bercerita bahwa saya belajar batas maritim, telah menulis puluhan artikel di Jakarta Post dan di berbagai media lain. Saya merasa jadi seorang ’salesman’.

Hm, interesting” katanya mulai memberi harapan. “I know there is a paper about maritime boundary delimitation in the Singapore Strait. Unfortunately I could not come to the presentation yesterday. It must be very interesting. Were you there yesterday?” Konferensi ini memang besar, dihadiri 2000 surveyor seluruh dunia. Dalam sehari ada banyak sesi presentasi dan kadang tidak semua presentasi menarik bisa didatangi karena berbenturan waktunya. Tentu saja saya tahu perihal makalah yang dimaksud oleh Durk. Saya pun menjawab dengan agak gaya “That is my paper.

Durk melihat saya dengan pandangan berbeda. Tanpa basa-basi, dikeluarkannya satu kartu nama sambil mengatakan “I will be waiting for your article. Give me your email, so I can chase you!“. Betul kata ungkapan lama, bola harus dijemput dan kesempatan memang harus direbut.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

12 thoughts on “Merebut Kesempatan”

  1. Saya jadi teringat kata-kata dari Arnold H. Glasow : ‘Jika ingin meninggalkan jejak di pasir waktu, jangan hanya menyeret kaki.’

    Best of Luck Mr. Arsana …

  2. I have difficulties to selling myself…. although i graduated Master in Psychology, i choose to teach psychology in Faculty of sport because its a place where you can teach in class using sport shoes (instead of sepatu fantofel… hahaha). I feel really comfortable with that. And not too good in communication of selling myself….
    do you have suggestion?

  3. Menarik sekali pak membacanya, saya sampai merinding. Betul kata bapak, bola itu harus di jemput…

    Setelah membaca blok nya pak andi, saya merasa menemukan orang yang tepat untuk di minta nasihat nya (bersedia ya pak 🙂 ).

    Beberapa bulan lalu saya memberanikan mengirim email kepada salah satu profesor di King’s College dan dia juga sebagai Programme Leader of MSc in War and Psychiatry, King’s Centre for Military Health Research.

    Isi email saya adalah meminta beliau untuk memberikan rekomendasi kepada saya, bahwa saya candidat yang layak untuk jurusan tersebut. Rekomendasi beliau rencananya akan saya pergunakan untuk beasiswa chevening.

    Tidak di sangka, ternyata prof tersebut membalas emal saya dan memberikan rekomendasi.

    Kira2 apa yang saya bisa lakukan agar saya tetap bisa berkomunikasi dengan beliau ya pak??

    Trima kasih

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s