Hikayat seorang penulis


Sejak menulis buku, saya kerap menerima email tentang buku saya. Ada yang mengapresiasi, ada juga yang tidak. Seperti kata kakak ipar saya, semua komentar pasti ada manfaatnya. Maka dari itu saya terima dan berusaha untuk tidak cepat puas, tidak cepat kecewa dan tidak cepat terkejut. Dari sekian pesan atau email itu, tidak sedikit yang meminta dikirimi buku dengan cuma-cuma. Saya senang mendapat permintaan ini karena saya tahu ini adalah salah satu bentuk penghargaan. Tidak jarang saya memberikan buku cuma-cuma, bahkan kepada orang yang tidak saya kenal.

Persoalannya menjadi serius ketika lebih dari 20 orang meminta buku gratis. Perlu diketahui, seorang penulis hanya mendapatkan maksimal 10 buku gratis dari penerbit saat bukunya diterbitkan. Dengan kata lain, seorang penulis bisa memberikan buku gratis kepada maksimal 10 orang teman, itupun jika penulisnya tidak ingin menyimpan buku untuk dirinya sendiri. Memang ada kalanya penerbit memberikan lebih banyak buku gratis kepada penulis, misalnya dalam rangka peluncuran atau promosi lainnya. Saya mendapat 20 buku tambahan untuk dibagikan gratis pada acara peluncuran di Sydney beberapa saat lalu. Yang memperoleh buku dalam acara ini, tentu saja tidak perlu khawatir karena memang gratis segratis-gratisnya.

Yang lebih menarik lagi, menjadi penulis di Indonesia, apalagi penulis pemula seperti saya, bukanlah pekerjaan yang membuat kaya. Saya pernah membuat catatan tentang betapa mengenaskannya nasib penulis di Indonesia yang penghasilannya tidak lebih baik dari seorang pencuci piring di Wollongong. Mengejutkan, tetapi memang nyata adanya.

Jika penulis ini baik hati, mungkin dia akan merelakan dirinya untuk membeli bukunya sendiri dengan diskon sekitar 25 persen dan memberikannya secara cuma-cuma kepada koleganya. Meskipun koleganya mendapat buku gratis, buku itu sesungguhnya tidak gratis. Jika penulisnya kebetulan adalah seorang pegawai negeri sipil golongan 3B yang gajinya tidak lebih dari dua juta rupiah per bulan, maka menggratiskan buku ini bisa berujung pada masalah yang serius. Memberikan buku gratis secara berlebihan kepada pembaca bisa jadi adalah kompromi atas jatah belanja mingguan keluarganya.

Di suatu ketika, ada juga yang dengan jujur dan polos meminta saya mengirimkan file buku saya. Saya yakin seyakin-yakinnya, permintaan ini pastilah baik maksudnya. Daripada saya membelikan buku untuknya dan mengirimkannya repot-repot, tentu memang lebih mudah jika mengirimkan file-nya saja. Hanya saja, saya merasa ada yang salah dalam permintaan ini. Jika memang saya berniat menyebarkan buku itu dalam format digital, tentu saja saya tidak perlu meminta penerbit untuk mecetaknya. Selain urusannya ribet, untungnyapun tidak seberapa. Rupanya terjadi perbedaan pandangan antara penulis dan calon pembaca dalam hal ini. Betul, mereka memang bisa mengatakan bahwa file itu hanya untuk dibaca sendiri tetapi saya yakin bahwa setiap orang memiliki teman baik. Kepada teman baik ini kita selalu berkata “file ini hanya buat kamu, jangan kasih orang lain ya!”

Jika urusannya hanya berhenti pada keinginan membaca dan kemudian selesai, tentu tidak jadi masalah. Bagaimana jika permintaan file ini muncul karena sebuah mentalitas yang tidak menghargai usaha penulisan buku? Bagaimana jika permintaan ini didasari ketidaksadaran akan arti penting kreativitas berpikir dan perlunya menghargai hak cipta? Saya duga, urusannya bisa jadi panjang, terutama jika ini dilakukan oleh para peneliti dan penggiat pendidikan.

Kadang saya menjadi sedikit sensitif ketika ada yang dengan mudah meminta file buku saya. Lebih sering saya merasa tidak dihargai, dibandingkan dipuji. Seakan mereka mengatakan, “barang tidak berkualitas memang sebaiknya digratiskan.” Tentu saja saya yakin bahwa ada kolega yang memintanya benar-benar karena menghargai karya saya dan tidak sabar ingin membacanya. Anda yang membaca tulisan ini dan pernah meminta file buku saya, semoga termasuk kelompok kedua.

Kembali kepada urusan menulis dan menerbitkan buku. Jika menulis sebuah buku tidak bisa membuat orang hidup dengan layak secara ekonomi, pekerjaan menjadi penulis selamanya akan menjadi sambilan. Akibatnya, buku-buku yang kita baca selamanya akan merupakan karya sampingan karena jika dijadikan pekerjaan utama, penulisnya akan mati perlahan-lahan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

6 thoughts on “Hikayat seorang penulis”

  1. Pak Andi,
    Syukurlah saya tidak termasuk orang yang meminta file buku2 yang Bapak tulis walopun saya yakin Bapak akan memberikannya.he..h.e..

    Saya sdh beli buku CMBS dan udah promosikan kepada satu orang dan beliau langsung beli. Kepada kawan2 dekat saya yg belum sempat/tak niat beli, saya pinjamkan saja buku yg saya miliki itu (dengan tetap berpromosi).he..he…. 🙂

  2. Makanya kalau ada temen blogger yang nulis buku, biasanya saya beli bukunya, ga enak nodong gratis, padahal rasanya lebih enak jika diberi langsung sama penulisnya – seperti dapat harta karun…

  3. Pak andi, kalau saya malah borong buku CMBS untuk dibagikan gratis ke customer saya. Terus berkarya pak! ditunggu buku-buku selanjutnya

  4. Pak Andi,

    Mungkin tips berikut ini dapat dilakukan. Mintalah feedback berupa tulisan dari setiap buku yang diberikan gratis tersebut. Bukankah feedback adalah reward yang diharapkan seorang penulis? selain royalti tentunya.

    salam,

    1. Thanks Mas Hari. Sangat membantu 🙂
      Saya tidak berharap keuntungan finansial dari menulis buku, honestly. Hanya saja kalau dengan menulis buku seorang penulis justru mengalami kerugian finansial, ini tentu jadi menarik 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s