Status


Dulu, saat pertama kali belajar agama, kami diajari dengan sifat-sifat Tuhan. Pak Wayan Sukantra, guru agama kami waktu itu, memang pintar memintal kata-kata menjadi cerita. Saya sangat tertarik dengan nilai-nilai keagamaan yang dirangkai dalam bentuk cerita. Tidak saja mencerahkan, juga seringkali lucu. Tentu saja Tuhan digambarkan sempurna. Salah satu yang menarik perhatian saya sebagai anak kecil adalah kemampuan Tuhan untuk mendengar (Dura Sravana) dan melihat (Dura Darsana) secara jauh dan tembus. Beliau mendengar segalanya, baik yang diucapkan maupun yang tersimpan dalam pikiran.

Naluri nakal saya muncul. Seandainya saya bisa mengetahui apa yang dipikirkan teman saya, pastilah seru sekali. Saya akan buat mereka terkesima dengan menebak dengan tepat apa yang mereka pikirkan. Saya akan tahu siapa yang suka pada siapa dan siapa yang tidak suka pada siapa. Luar biasa.

Di penghujung tahun 2000-an apa yang saya idam-idamkan di masa kecil itu hampir terwujud. Saya bisa mengetahui apa yang dipikirkan teman saya tanpa berkomunikasi secara langsung. Tentu saja saya bisa membacanya di status Facebook (FB) mereka. Belum pernah terjadi dalam hidup sebelumnya, saya mengetahui dengan mudah apa yang dipikirkan atau dikerjakan ratusan teman saya sekaligus, tanpa berkomunikasi langsung dengan mereka.

Di Amerika, ada kawan yang sedang mengagumi penampilan street performers, di Jerman ada teman yang sedang sedih karena telur yang digorengnya gosong, di Purwokerto ada yang sedang berdoa khusuk mengharap anaknya lulus UN, di Wollongong ada teman yang sedang mekar hatinya setelah jalan-jalan di Nan Tien Temple. Ada juga di belahan dunia lainnya teman yang sedang gusar karena status teman lainnya.

Dalam kadar yang terbatas, ada kemampuan ‘mendengar’ yang lebih hebat setelah adanya Facebook. Apakah hidup kini jadi lebih baik seperti yang saya idam-idamkan di masa kecil? Jawabannya ternyata bisa “ya”, dan seringkali “tidak”. Mengetahui dengan mudah apa yang dulu menjadi rahasia (baca: apa yang dipikirkan teman) ternyata tidak selalu menyenangkan. Selalu saja ada orang yang tidak siap menerima kenyataan bahwa temannya berpikir hal-hal yang tidak sehaluan dengan pikirannya. Kebencian, ketidaksetujuan, kemarahan, kejengkelan sebenarnya sudah menjadi sahabat manusia sejak dulu. Bedanya, dengan FB semua itu kini bisa dengan mudah dipertontonkan lewat status.

Status Facebook menebar banyak kesenangan tetapi telah terbukti juga menuai banyak bencana. Kalau bukan karena status Facebook, orang-orang seperti Ibnu mungkin tidak perlu diusir dari Pulau Dewata, misalnya. Orang-orang yang bete saat Nyepi di Bali tentu ada banyak dan sudah terjadi sejak dulu. Hanya saja, jika ke-bete-an itu dituangkan dalam status Facebook yang dibaca banyak orang, dia bisa jadi bencana. Orang seperti Ibnu bisa dengan mudah dituduh melecehkan agama.

Seperti halnya Bruce yang tergagap-gagap saat diberi kuasa Tuhan yang akhirnya justru membuatnya menderita, pengguna Facebook ternyata tidak selalu bahagia karena bisa membaca pikiran orang lain.  Benar rupanya nasihat Uncle Ben kepada Peter Parker si Spidermanwith great power, comes great responsibility“. Dengan kemampuan yang lebih untuk membaca pikiran teman, rupanya diperlukan kesabaran dan kebijaksanaan yang lebih pula.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

11 thoughts on “Status”

  1. Sekarang bisa jadi kicauanmu harimaumu (merujuk pada aplikasi microblogging semacam twitter.

    Saya jarang di facebook, tapi kalau mendengar kabar-kabar heboh seperti itu, juga malah malas rasanya ikutan nimbrung. Seperti menyiramkan minyak ke dalam bara.

  2. memang sech terkadang facebook bisa menjadi menyeramkan, , , itu semua tergantung dari kita melihatnya . . .

    bagi sebagian orang mungkin senang . . karena bisa bertemu dengan kawan lama. . atau mungkin mantan kekasihnya. ..

    tapi mungkin sebagian orang tidak suka, ,,karena facebook membuka peluang besar untuk berbuat negativ. .

    tapi bagi aku sendiri tidak bermasalah karena aku pada posisi yang biasa2 aja dengan dunia maya. ..

    sama halnya dengan program2 lainnya. ..
    seperti YM, Gtalk, dan lain2. . .

    aku biasa nya main di tagged. . .
    disana saya bertemu tidak saja dengan orang indonesia. ..

    tetapi dengan berbagai suka di dunia. ..
    meskipun tidak semua orang suci. ..tapi tergantung kita mau atau tidak ..

    take it or leave it. . . gampang kan …

  3. Tulisan yang mengingatkan…setuju. Dan saya percaya bahwa cara ber-facebook ria pun butuh pembelajaran sama seperti anak belajar berjalan terkadang jatuh lalu menangis terkadang senyum lebar ketika berhasil melangkah mendekat ke ibunya tanpa terjatuh, tapi positif dan negatif adalah satu paket pembelajaran dalam hidup.

  4. di penghujung tahun 2000-an itu maksudnya ujung 2009, bli?
    karena facebook tahun 2001 blom ada,

    CMIIW

    *jadi ingat ibu-ibu yang jadi berantem cuma karena status pesbuk*

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s