Obamacare


Kawan saya bertanya setengah berkelakar, “mau jadi warga Amerika, memangnya?” karena tahu saya sedemikian gandrung mengikuti kampanye Obama dari awal hingga akhirnya dia berhasil berkantor di Oval Office. Meskipun memang tidak sedikit kelemahannya, bagi saya Obama adalah sebuah fenomena yang kepadanya saya banyak belajar. Keberhasilannya menjadi presiden bukan kulit putih pertama di Amerika Serikat adalah salah satu buktinya. Tidak saja itu, dia menjadi presiden dengan cara yang istimewa.

Obama adalah presiden yang mengandalkan dana kampanyenya dari sumbangan orang biasa, akar rumput, dan dengan tegas menolak campur tangan para pelobi berduit. Alasannya sederhana, namun prinsipil, Obama tidak ingin berhutang budi para para pelobi yang kelak akan menyulitkan langkahnya ketika menjadi presiden. Para pelobi yang punya uang tentu akan bisa mengendalikannya kelak dan mewarnai atau bahkan mendikte kebijakan sang presiden. Tidak, Obama tidak mau seperti itu. Kalaupun dia berhutang budi, dia ingin berhutang budi kepada rakyat banyak dan itupun tidak terlalu besar pada satu individu tertentu. Obama adalah salah satu kandidat presiden yang berhasil mengumpulkan uang kampanye terbesar dalam sejarah pemilu Amerika Serikat. Menariknya, sumbangan itu berasal dari banyak sumber yang tersebar di seluruh Negeri Amerika sehingga distribusinya menjadi seimbang, tidak hanya pada orang atau sumber tertentu. Itulah sebabnya, tidak ada penyandang dana yang mempunyai kontrol dominan terhadap Obama. Demikianlah saya memahami fenomena Obama sebagai orang yang tidak paham soal politik.

Hari ini, 22 Maret 2010 atau 21 Maret waktu Amerika Serikat, sebuah sejarah terjadi. Obama berhasil menggolkan undang-undang reformasi pelayanan kesehatan (Health Care Reform Bill, HCRB) di Amerika Serikat. HCRB sangatlah istimewa karena keberhasilan ini adalah hasil menunggu hampir seratus tahun. Reformasi ini sudah diusahakan bahkan sejak 1912 ketika Theodore Roosevelt mencalonkan diri jadi Presiden untuk kedua kalinya. Sayang sekali usaha itu gagal dan dilanjutkan oleh presiden sesudahnya. Kegagalan demi kegagalan mewarnai usaha itu, termasuk yang terakhir oleh Bill Clinton yang mendapat dukungan istrinya, Hillary yang brilian. Usaha itu gagal juga. Salah satu yang cukup dominan menjadi penyebab kegagalan itu adalah keberhasilan para pelobi yang punya uang dan tidak ingin kenikmatannya berkurang. Inilah hal istimewa yang berhasil menjadi pondasi bagi Obama: ketidaktergantungannya pada para pelobi dan penyandang dana.

Satu hal yang sedemikian menginspirasi saya adalah kegigihanya dalam mengusahakan HCRB ini. Dalam kampanyenya, Obama memang menjual isu reformasi kesehatan ini, selain isu lain yang juga penting. Saat menjadi presiden, dia mengusahakan janji itu secara gigih. Seperti yang diungkapnya dalam pidato kemenangannya November 2008, dia sadar bahwa usahanya untuk melakukan reformasi tidak akan mudah. Dia tahu akan ada masa-masa kemunduran dan kelesuan tetapi berkali-kali dia katakan bahwa dia yakin akan berhasil. “We, as a people, will get there” katanya.

Hambatan ini terlihat dan terasa sedemikian besar dan seakan tak tertaklukkan, misalnya, ketika Ted Kennedy, salah seorang anggota Senat Demokrat pendukung HCRB, meninggal dunia. Posisinya, secara tragis digantikan oleh anggota senat dari Partai Republik yang jelas-jelas menentang HCRB. Banyak yang mengatakan bahwa harapan telah pupus karena kesempatan untuk memenangkan pemungutan suara menjadi kecil, jika tidak ingin dikatakan, nihil. Banyak yang bahkan mengubah slogan Obama dari “Yes we can!” menjadi “No we cannot!” Apakah ini menyurutkan seorang Obama? Kenyataannya tidak demikian.

Meski begitu, perlu dicatat bahwa Obama bukanlah seorang superman. Ada banyak sekali orang yang berperan besar dalam mencapai keberhasilan ini, termasuk yang turut menjaga dan menyulut kembali semangatnya ketika menyurut. Salah satunya adalah Nancy Pelocy, Speaker of the House.

Kampanye untuk menggolkan program-program Obama, terutama HCRB, ternyata bahkan lebih seru dibandingkan kampanyenya untuk menjadi presiden. Dia menggalang massa melalui Organzing For America (OFA), baik secara fisik maupun virtual. Kepada mereka di belahan dunia lain, Obama mengirimkan email secara berkala tentang apa yang dilakukan dan dihadapinya. Seperti janjinya saat memenangkan pemilu, dia berusaha jujur dengan apa yang dihadapinya, meskipun sulit. Dia mendengarkan orang, terutama saat terjadi perbedaan pendapat. Sehari sebelum pemungutan suara untuk HCRB yang bersejarah itu, Obama berbicara di depan representative Demokrat. Pidatonya sangat berenergi seperti biasanya, tetapi kini lebih dalam. Dia berbicara benar-benar dari hatinya. Dia mengutip apa yang dikatakan Lincoln bahwa I am not bound to win, but I am bound to be true. I am not bound to succeed, but I am bound to live by the light that I have.” Dia menegaskan bahwa seorang manusia memang tidak harus selalu menang, tetapi dia wajib untuk selalu melakukan kebenaran. Itulah yang Obama lakukan, dan itulah yang dia minta kepada Kongres Amerika.

Dalam sebuah pemungutan suara yang ketat, HCRB telah disetujui. Ini adalah tonggak sejarah yang luar biasa bagi Amerika. Namanya disejajarkan dengan Abraham Lincoln yang visioner, dengan Franklin D. Roosevelt dengan New Dealnya, dengan JFK yang fenomenal.

Jika ada satu pelajaran penting yang harus dipetik dari seorang Obama maka pelajaran itu berbunyi “Kreativitas adalah titik awal yang baik, tetapi ketekunan dan kesungguhan dalam mengusahakan adalah bahan utama untuk keberhasilan.” Bagi saya pribadi, keberhasilan Obama ini mengingatkan bahwa sejarah besar masih terjadi. Saya tidak berniat untuk menjadi orang Amerika tetapi sangat ingin melihat pemimpin Indonesia bisa memetik pelajaran dari pemimpin Amerika yang satu ini. Meski begitu, saya tidak buta dengan kelemahan Obama karena dia juga manusia. Hanya saja saya sedang ingin berkonsentrasi pada hal-hal baik agar bisa memetik pelajaran.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “Obamacare”

  1. Obama adalah sosok yang sangat unik, dukungan bagi dirinya tidak hanya datang dari “warga” negerinya, namun banyak “warga” di seluruh belahan bumi.

  2. Siapa ya dari Indonesia yang bisa memimpin dengan penuh kesungguhan bisa mewujudkan janji2 saat berkampanye 🙂
    (he..he…)

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s