Ide-ide cemerlang yang mandul

makan hasil curian

Memiliki ide cemerlang adalah satu hal. Kemampuan menggagas sesuatu yang hebat patutlah dipuji dan disyukuri. Meski demikian, mewujudkan ide cemerlang itu menjadi sebuah tindakan nyata atau hasil yang berfaedah adalah hal yang lain.

Perjalanan saya yang masih belum seberapa menunjukkan bahwa saya memiliki kemampuan untuk merencanakan yang jauh lebih hebat dari kemampuan mewujudkan rencana. Tidak jarang saya harus berpuas diri menyaksikan ide saya terserak tak berguna dan tidak menghasilkan apa-apa. Saya sering berdalih semua itu karena situasi dan waktu tetapi sesungguhnya itu karena ketidakdisiplinan diri sendiri, tidak lain tidak bukan.

Continue reading “Ide-ide cemerlang yang mandul”

Lima tahun Made Kondang

Koala

Made Kondang telah berusia lima tahun hari ini. Bagi pembaca yang kadang mengunjungi blog ini, mungkin kerap bertemu dengan Made Kondang dan mengikuti pemikiran dan keluguannya. Made Kondang saya ciptakan sebagai tokoh virtual pada tanggal 18 Januari 2005, ketika saya ada di Jakarta. Saat itu, saya berstatus sebagai mahasiwa di UNSW, Sydney dan sedang melakukan penelitian (field work) di Indonesia.

Menjadi dan berperan sebagai diri sendiri kadang membuat saya tidak mudah dalam menyampaikan gagasan. Ada saja yang membatasi dan tidak mudah untuk dijelaskan. Untuk itulah, saya menciptakan tokoh yang bisa mewakili pemikiran-pemikiran saya atau mimpi-mimpi yang tidak memerlukan terlalu banyak justifikasi. Made Kondang, lahir karena alasan dan kebutuhan itu. Dia kadang mewakili saya sendiri, meskipun lebih sering mewakili sosok imajinatif yang ada dalam angan-angan saya. Made Kondang kadang menjadi simbol gagasan, seringpula menjadi obyek penumpahann rasa senang atau tidak senang yang saya miliki. Dia kerap mewakili orang lain di sekitar saya yang menarik perhatian dan saya rasa penting untuk dibahas perilaku atau sifatnya.

Continue reading “Lima tahun Made Kondang”

Kilas Balik 2009

Purnama terakhir tahun 2009

Sepertinya baru kemarin sore saya menulis sebuah posting dengan judul yang terakhir di blog ini untuk memperingati berakhirnya tahun 2008, sekarang tiba-tiba saya sudah harus menulis sebuah ‘rekap’ untuk tahun 2009. Waktu memang cepat sekali berlalu, kadang saya tidak sempat menikmatinya, apalagi memetik pelajaran. Meski mungkin tidak banyak yang terjadi, tahun 2009 tetap layak saya catat sebagai masa yang penting dalam hidup.

Continue reading “Kilas Balik 2009”

Takdir, Bajaj dan Gus Dur

“Gitu aja kok repot!” adalah sebuah ucapan tenar yang sering dikemukakan Gus Dur di masa hidupnya. Dari kalimat ini, jelas terlihat bahwa beliau adalah sosok yang blak-blakan, lugas, cuek dan berani berbeda. Meskipun kontroversial, Gus Dur adalah sosok istimewa yang perlu lebih banyak jumlahnya di Indonesia yang bhineka. Sebagai seorang muslim, Gus Dur adalah tokoh yang menjunjung pluralisme.

Continue reading “Takdir, Bajaj dan Gus Dur”

Kaca mata minoritas

https://madeandi.wordpress.com/2009/12/29/kaca-mata-minoritas/

http://i.dailymail.co.uk

Ketika Natal tiba seperti saat ini, saya lebih banyak menonton film Hollywood. Banyak sekali film bertema Natal yang diputar di TV dan tidak sedikit yang bagus meskipun sebagian besar sudah pernah ditonton. Meskipun kisahnya berbeda, ada yang selalu sama: Natal adalah musim dingin dan bersalju. Bagi anak-anak, Natal identik dengan Santa yang berpakaian serba merah dan tertutup layaknya pakaian musim dingin. Pengalaman saya melewati musim di dingin di New York tahun 2007 mengkonfirmasi pemahaman ini.

Continue reading “Kaca mata minoritas”

Mission:Impossible

Saya seperti hidup di dua dunia yang berbeda. Di saat tertentu saya pernah menikmati Time Square yang gemerlap di Manhattan atau tenggelam di kerumunan manusia pekerja workaholic di Tokyo yang metropolis. Di saat berbeda saya duduk bersila, khusuk melakukan pemujaan di depan sebuah lubang misterius tempat mengalirnya air suci di kawasan sebuah perbukitan di Bali Selatan. Jika kawan saya dari Kanada melihatnya, dia mungkin akan bertanya setengah mencibir “what are you doing here?“. Terutama jika melihat setelahnya saya akan menempelkan beras putih di kening saya, sebuah pemandangan yang bagi sebagian besar kawan saya ‘tidak biasa’.

Continue reading “Mission:Impossible”

Tukang Parkir Pasar Sukawati

https://madeandi.wordpress.com/2009/12/17/tukang-parkir-pasar-sukawati/

Pengalaman menyetir di Bali, bagi mereka yang terbiasa mengendarai mobil di negara maju, bisa jadi luar biasa. Orang yang tadinya sudah cukup terampil berkendara di Wollongong, misalnya, bisa jadi terlihat seperti orang yang baru belajar nyetir kalau harus berhadapan dengan medan jalanan di Denpasar dan sekitarnya. Inilah yang terjadi dengan Asti beberapa hari lalu. Kelihaiannya di Wollongong terlihat tidak berarti ketika harus mengendarai mobil dari Tabanan ke Gianyar melalui Denpasar. Setiap saat sport jantung karena selalu saja terjadi hal-hal yang tidak diduga: orang yang nyalip dari kiri, sepeda motor yang memotong jalan seenaknya, kendaraan yang melanggar lampu merah, klakson yang berbunyi tiada henti, jarak antar mobil yang hanya beberapa senti, dan sebagainya. Semua itu membuatnya tegang luar biasa. Tidak hanya Asti, saya yang duduk di sampingnya tidak henti-hentinya turut menginjak rem dalam angan-angan. Singkat kata, siang menjelang sore itu sangat menegangkan, melelahkan. Keringat bercucuran.

Continue reading “Tukang Parkir Pasar Sukawati”

Love Cartography

Bagi seorang pemuda normal yang biasa-biasa saja hidupnya seperti saya, lelaki yang paling menyeramkan adalah calon bapak mertua. Atau kalau mau disederhanakan, lelaki yang paling menakutkan adalah ayah dari gadis yang saya taksir. Begitulah keyakinan saya ketika masih muda, not a very long time ago.

Sore itu di penghujung tahun 1997, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Bapak Putu Gelgel, yang sekarang adalah kakeknya Lita. Karena hidup penuh rencana dan penuh target, saya membawa beban tersendiri ketika bertemu beliau pertama kali. Saat itulah saya merasa kualitas hidup saya benar-benar diuji, jauh melebihi sulitnya ujian Kartografi Dasar yang sebentar lagi saya lakukan. Saya adalah seorang pemuda tanggung yang belum genap 20 tahun dalam usia. Masih sangat belia, tergagap-gagap dan rupanya belum tahu apa-apa dalam hidup.

Continue reading “Love Cartography”

Friday the 13th

Jalan Panjang ke Paris

slog.thestranger.com
slog.thestranger.com

Jumat malam, 9 Oktober 2009

Singapura sudah gelap, yang nampak hanya cahaya lampu berpijar seperti jutaan kunang-kunang yang bertengger di gedung-gedung pencakar langit. Tak banyak yang bisa aku nikmati di Bandara Changi, meskipun luasnya memang hampir menyamai Desa Tegaljadi, tempat kelahiranku. Aku lelah setelah tujuh jam termangu-mangu di salah satu kursi pesawat SQ nan besar A380-800 yang dua tingkat itu. Meskipun makanan berlimpah dan senyum pramugari nan cantik tak pernah kering, perjalanan tujuh jam tetap saja menyisakan kelelahan.

Aku tercenung, duduk di sebuah bangku di dekat pintu B17, menunggu pintu dibuka. Semakin kubayangkan, semakin jelas rasa enggan datang. Perjalananku sebentar lagi tidak akan kurang dari 14 jam dari Singapura ke Paris. Tempat duduk kelas ekonomi di pesawat komersil yang konon paling besar di dunia dan dioperasikan oleh salah satu penerbangan terbaik di muka bumi tetap tidak akan bisa menghindarkanku dari lelah dan bosan. Perjalanan ini pastilah akan terasa lama.

Continue reading “Jalan Panjang ke Paris”