Category: Renungan
Menuliskan Sejarah

Dalam kegalauan hati yang tidak sempat saya pahami, sayapun beranjak menuju podium itu. Samar-samar beberapa menit lalu saya mendengar nama saya dipanggil dan harus menyampaikan sambutan. Sayapun berdiri, menundukkan kepala tidak memandang audiens dan menatap kosong ke arah yang tak bertuan. Saya mulai berucap sangat lirih.
“Tadi malam saya bermimpi” dan saya diam sejenak sehinga hadirin pun diam tenang, menunggu-nunggu kelanjutan cerita saya. “Saya bermimpi didatangi Siti Nurhalisa!” Hadirin pun tergelak hebat, teringat dengan presentasi saya kemarin, barangkali. Sejenak kemudian semua diam dan saya pun melanjutkan.
Bertahanlah Indonesia!

Bencana menjadi cerita keseharian. Dia tidak lagi menyeramkan seperti ketika aku berlari bertelanjang dada, resah membentur dinding rumah tua saat linuh kecil datang menghampiri di tahun 1980an. Di negeri ini, duka nestapa dan air mata tak lagi sakral, tak lagi berbisa untuk mengundang iba dan belas kasihan. Tangisan seperti suara angin yang mengalir tiada henti. Air mata yang membahasi wajah-wajah polos ataupun berdosa merambat pasti tak ubahnya parit kecil di desa Tegaljadi yang tak pernah berhenti. Dengan apa lagi harus kugambarkan duka ini, karena kata-kata sudah kehilangan ketajaman maknanya.
Selamat Ulang Tahun Lita
Hari ini Lita berusia empat tahun. Usia saat mana makhluk manusia sedang menunjukkan apa yang orang Bali sebut sebagai guna. Sedeng meguna, demikian katanya. Lucunya sangat, cantiknya bernilai, senyumnya meluluhkan hati yang penuh amarah. Demikianlah anak di usia empat tahun. Begitulah anak yang sedeng meguna.
Wanita lain [4]
Hubungan kami sesungguhnya sudah lama. Tidak saja kami berpelukan dan berciuman serta berinteraksi fisik lainnya, ada emosi yang terlibat. Ini yang dinamakan cinta, aku yakin itu. Cinta yang kata orang tak bersyarat.
Ketika Asti tidak ada, aku memanjakannya. Aku jadikan diriku budak atas gagasan-gagasan nakalnya yang liar. Hari Jumat, kami menjadi penguasa rumah karena Asti tidak ada. Dapur, kamar mandi, kamar dan ruang tamu menjadi ajang eksplorasi kreativitas dan kenakalannya. [bersambung]…
Tujuh September

Kadang orang bisa kehabisan kata untuk menuturkan sesuatu yang sesungguhnya hebat tetapi terjadi berulang-ulang dan menjadi rutinitas. Di saat Tukul muncul dengan gaya khasnya di Empat Mata, hampir semua orang berbicara tentangnya. Saat stasiun televisi memutuskan untuk menayangkan Empat Mata setiap hari, lambat laun orang menjadi kehilangan gairahnya. Hampir tidak ada lagi kejutan, hampir tidak ada lagi sesuatu yang baru, meskipun sebenarnya Tukul tetaplah lucu. Sesuatu yang menjadi rutinitas kadang bisa menimbulkan kebosanan, betapapun hebatnya.
Tujuh September tahun ini tepat duabelas tahun lalu saya bertemu Asti untuk pertama kalinya. Sebagai anak muda yang dilanda cinta ketika itu kami biasa memperingati hari penting ini bahkan hampir setiap bulan 🙂 Kini, ketika cinta beranjak dewasa, saat pelukan bukan lagi sesuatu yang layak disembunyikan dan saat bercinta bukan lagi sebuah larangan, kadang kami lupa. Lupa dengan gairah lama, karena rutinitas yang mendesak. Mungkin terlalu sedikit waktu tersedia untuk saling memuji, cinta dan kemesraan juga diinvasi oleh kewajiban-kewajiban teknis memandikan Lita, menyuapi makannya, mengantar sekolah, masak, nyuci, bersih-bersih rumah.
Wanita lain [2]

Sabtu malam, Asti sudah terlelap di sampingku yang masih terjaga. Kulihat lampu di ruang tamu nampak temaram. Samar-samar terdengar suara percakapan dari sebuah film di TV. Aku tahu, masih ada seorang perempuan yang menikmati acara TV di luar sana. Aku bangun hati-hati, Asti tak terjaga. Tanpa takut membuat gaduh, aku jalan ke luar ruangan tanpa perlu berjingkat. Aku yakin Asti tidak akan bangun.
Surat untuk Pangeran

Paduka Pangeran,
Ijinkan hamba menyampaikan secarik kertas ini yang bertuliskan kata-kata sederhana. Kalimat-kalimat ini bukanlah sloka para pujangga yang akan membuai hati paduka yang sedang lara. Dia juga bukanlah mantra-mantra sakti mandraguna yang serta merta mencipta semburat senyum di wajah paduka yang telah lama dirundung nestapa. Untaian kalimat itu bukan obat yang diperolah baginda raja dari hasil bertapa di bawah pohon jakaranda. Dia tidak mengobati seketika.
Merdeka

Yogyakarta, Agustus 1996
Saya sedang terjebak dalam dunia sempit saya, tidak peduli pada sekitar karena sedang punya karya yang menyenangkan. Dua kawan dekat saya datang menghampiri dan hampir tidak saya ketahui. Mereka heran bertanya, apa yang sedang saya lakukan. Di tangan saya ada setumpuk kertas minyak tembus pandang, warnanya merah, ada juga yang putih. Potongannya kecil kurus menjuntai seperti rumbai-rumbai. Sementara itu di sebelahnya terdapat tumpukan kertas merah dan putih yang sama, namun dengan potongan yang berpola. Di sebelahnya lagi terongok sekaleng lem kertas yang tutupnya terbuka. Mereka tidak mengerti apa yang akan saya lakukan dengan perangkat dan bahan itu.
Pertemuan kembali
Aku ingin menulis sesuatu yang abadi, seperti halnya yang tertuang dalam kitab-kitab suci yang mewarnai peradaban manusia. Aku ingin menulis sesuatu yang ketika dibaca esok hari tidak menimbulkan malu, sekaligus tetap bercahaya seratus tahun kemudian. Seperti itulah aku ingin menceritakan pertemuan kita pagi tadi. Ingin kuceritakan dengan bahasa yang tidak lekang oleh waktu dan hanya dimengerti oleh jiwa yang terbuka. Seperti halnya ayat-ayat suci yang selalu menyisakan ruang penafsiran sehingga tidak termakan waktu.

