Merdeka


Beyond Borders
Beyond Borders

Yogyakarta, Agustus 1996

Saya sedang terjebak dalam dunia sempit saya, tidak peduli pada sekitar karena sedang punya karya yang menyenangkan. Dua kawan dekat saya datang menghampiri dan hampir tidak saya ketahui. Mereka heran bertanya, apa yang sedang saya lakukan. Di tangan saya ada setumpuk kertas minyak tembus pandang, warnanya merah, ada juga yang putih. Potongannya kecil kurus menjuntai seperti rumbai-rumbai. Sementara itu di sebelahnya terdapat tumpukan kertas merah dan putih yang sama, namun dengan potongan yang berpola. Di sebelahnya lagi terongok sekaleng lem kertas yang tutupnya terbuka. Mereka tidak mengerti apa yang akan saya lakukan dengan perangkat dan bahan itu.

Den Hag, 17 Agustus 2008

Saya berdiri diantara kerumunan orang, mengangkat tangan dengan jari berbaris rapi, ujungnya menyentuh pelipis, saya mendongak. Di depan saya, pada tiang nan tinggi, bergerak perlahan namun pasti selembar kain merah dan putih, berkibar mendaki tiang yang kokoh itu. Ada rasa haru menyenandungkan Indonesia Raya di tanah penjajah, setelah 63 tahun merdeka.

Sydney, 17 Agustus 2005

Saya mengenakan batik, berbaris rapi di Rosebay, Sydney di bawah matahari yang terik. Saya mendongak memandang sang saka Merah Putih berkelebat-kelebat menghiasi langit Sydney yang biru bersih. Untuk pertama kalinya, setelah hampir 10 tahun tidak upacara bendera, saya merasakan lagi debar yang pernah saya rasakan ketika menjadi pemimpin upacara di SD 1 Tegaljadi. Waktu memang cepat berlalu, kebanggan menjadi petugas upacara sudah nyaris saya lupakan.

Yogyakarta, 17 Agustus 2006

Saya terisak sendiri mendengarkan lagu Bendera yang dikumandangkan Coklat di televisi. Saya sedang sendiri merenung dan berpikir tentang bangsa ini. Terlalu banyak yang mengatakan “tidak” kepadanya, saya tahu dia sedang bersedih. Bangsa saya sedang menangis tertatih dan memohon kepedulian. Terseok dia dalam kancah dunia dan terhinakan. Saya tahu itu. Masih beruntung bangsa ini ada anak muda seperti Eros yang mencipta “Bendera” untuk didendangkan. Saya pun ingin menjadi salah satu dari yang memberi, walau sangat kecil.

Bekasi, 17 Agustus 2009

Entahlah apakah saya masih punya debar jantung yang sama ketika melihat bendera merah putih seperti ketika menjadi pemimpin upacara bendera dulu. Yang jelas saya mudah terpesona dan terharu ketika melihat Dewa Budjana mengenakan baju berlogo I love RI dengan ‘love’ yang berupa Burung Garuda. Saya juga kagum pada seorang kawan yang mengenakan oblong bertuliskan ‘lahir di 6° LU – 11° LS dan 95° BT – 141° BT’.

Saya mungkin tidak punya energi yang sama seperti tahun 1996 ketika saya menghias kamar saya sendiri dengan bendera, rumbai-rumbai dan lampion merah putih buah tangan saya. Mungkin juga saya tidak sempat mendongak dan merapatkan tangan di pelipis kanan tanda bakti dan hormat. Setidaknya saya punya darah yang merah dan selalu mengalir di pembuluh saya. Tuduhan tidak nasionalis hanya gara-gara saya ingin mendudukkan perkara Ambalat pada porsinya, tidak akan membuat pudar merahnya darah ini. Satu lagi, saya punya sebuah catatan untuk negeri bernama Indonesia. Mudah-mudahan cukup untuk menunjukkan cinta.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s