Bakat


Tinggal dan besar di sebuah desa di Bali di tahun 1980an kadang membuat dunia terasa sempit. Terkait dengan seni, tidak banyak hal yang bisa dieksplorasi kecuali seni khas Bali yang sudah ada dan diwariskan turun temurun. Metetabuhan (gamelan) adalah salah satu hal yang tidak pernah mati di desa saya, Tegaljadi dan menjadi satu dari sangat sedikit alternatif seni yang bisa dinikmati dan dipentaskan.

Sekaa (kelompok) penabuh (atau yang dikenal dengan Sekaa Gong) yang berperan biasanya juga turun temurun di keluarga yang sama. Entah apa pasalnya, keluarga saya memang tidak pernah mendapat bagian sebagai anggota Sekaa Gong. Mulai dari kakek saya hingga saya, tidak satupun mendapat tempat dalam kelompok seniman itu. Hal ini tentu tidak terjadi karena kami tidak diberi ruang melainkan karena ada semacam ‘kesadaran’ atau kesepakatan bersama bahwa bakat menabuh memang tidak mengalir dalam silsilah keluarga kami. Sementara itu, di keluarga tetangga, bakat seni ini begitu kentara. Jabatan sebagai Kelihan (ketua) Sekaa Gong bahkan bisa dipangku mulai dari kakek, hingga cucu secara turun-temurun.

Bapak saya bahkan pernah menyatakan, “keluarga kita memang tidak berbakat seni.” Hal ini kami percaya agak lama, setidaknya sampai saya remaja. Selama itu pula tidak pernah ada usaha untuk bergabung menjadi anggota Sekaa Gong, sampai akhirnya di pertengahan 2000an, adik saya menunjukkan ‘penyimpangan’. Tidak seperti Kakek, Bapak dan saya, adik saya ini menunjukkan bakat seni yang sangat menonjol. Ketika ada pemilihan anggota Sekaa Gong remaja, dia secara meyakinkan menempati posisi yang [katanya] tidak mudah. Saya pun tidak ingat posisi itu, mununjukkan bahwa saya memang tidak paham soal gamelan.

Bapak dan saya cukup heran dengan perkembangan ini, sekaligus bangga tentu saja. Pertanyaannya adalah: apakah komposisi bakat seni pada saya dan adik saya memang berbeda ataukah hanya karena saya terlanjur percaya bahwa saya tidak punya bakat itu? Tidak mudah menjelaskan ini tetapi ketika saya pernah berusaha dengan keras belajar gitar, saya bisa memainkan lagu “Now and Forever”-nya Richard Mark lengkap dengan melodinya. Entahlah! Yang jelas, selain bakat, saya jadi percaya pada usaha.

Seperti kata Andrea Hirata di Laskar Pelangi, bakat juga perlu ditemukan dan lingkungan akan menjadi penentu perkembangan bakat seseorang. Seorang yang berbakat sepak bola tetapi terlanjur bekerja sebagai pembantu di sebuah warung bakmi dan tidak punya waktu bermain bola tidak akan bisa membuat bakatnya menjadi prestasi. Begitu pula dengan keluarga saya. Kepercayaan yang kuat bahwa kami bukanlan keluarga seniman akan membuat kami tidak penah tahu bahwa kami pun mungkin adalah orang-orang yang telah dipertunangkan dengan seni. Seperti saya yang terkagum-kagum melihat adik saya memainkan Ya ya ya nya Gigi dengan sedemikian fasihnya. Maka dari itu, bebaskanlah pikiran dan leluasalah untuk melakukan sesuatu yang berbeda.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

1 thought on “Bakat”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s