Menjadi Bintang: Melihat dan Melakukan yang baik

“Mungkin Ayah tidak akan mendapatkan banyak hal dari buku ini. Walaupun sedikit, mungkin ada yang bisa menambah atau sekedar mengingatkan.” Begitu Asti berucap saan memberikan sebuah buku hadiah ulang tahun saya beberapa hari lalu.

Jujur saja, saya lebih sering kecewa saat membaca buku tentang pengembangan diri daripada tercerahkan. Asti mungkin tahu ini. Kali ini, karena hadiah ulang tahun dari orang yang dicintai, saya membacanya dengan sungguh-sungguh. Semangat menghargai membuat saya membaca dengan cepat, hanya dalam waktu sehari. Kebetulan hanya 212 halaman dan itupun hurufnya besar-besar. Singkat kata, buku saya lahap dengan cepat.

Continue reading “Menjadi Bintang: Melihat dan Melakukan yang baik”

Sebuah Obituari

I Made Andi Arsana, seorang dosen muda di Universitas Gadjah Mada, meninggal dunia tepat di usianya yang ke-30. Andi, begitu anak dari tiga bersaudara ini biasa dipanggil, meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Tidak ada indikasi apapun sebelum kepergiannya. Andi sehat dan tidak pernah mengeluh soal apapun perihal kondisi fisik dan psikologisnya. Seakan tidak ingin meresahkan siapapun, Andi menghembuskan nafas terakhirnya ketika semua orang-orang yang dicintainya dibuai oleh tenangnya malam Jogja yang dingin.

Continue reading “Sebuah Obituari”

Tips menulis di koran

Banyak kasus mengindikasikan bahwa pembaca blog ini tidak memerlukan tips cara menulis di koran. Kebingungan mereka bisa jadi hanya satu: ke mana tulisan harus dikirim? Kalau Anda ingin mengirim ke Kompas, kirim tulisan Anda sekitar 700 kata ke opini@kompas.com. Kalau mau terbit di The Jakarta Post, kirim artikel maksimal 1000 kata ke opinion@thejakartapost.com. Tulisan untuk media lain bisa dikirim ke email redaksi atau opini masing-masing yang bisa diperoleh dengan mudah di websitenya.

Jika informasi di atas sudah cukup, Anda tidak usah melanjutkan membaca tulisan ini. Tidak banyak hal teknis yang akan Anda dapatkan. Percayalah!

Continue reading “Tips menulis di koran”

Australian Leadership Awards

At 10 am on 10 September 2007 I started the interview in a room at Four Seasons Hotel in Jakarta, second floor. It was a bit late since the original schedule was 9.45 am. Three interviewers were in the room: two ladies from AusAID and one gentleman from the Australian Embassy for Indonesia.

Continue reading “Australian Leadership Awards”

Kuliah jarak jauh berbiaya rendah

Kalau chatting menggunakan YM, Gtalk atau Skype untuk bergosip atau sekedar curhat, pasti sudah biasa. Tapi kalau menggunakan instant messenger itu untuk kuliah jarak jauh, ini mungkin belum biasa.

Ketika berada di Australia dan New York, saya mencoba mengembangkan metode kuliah jarak jauh menggunakan instant messenger (YM, GTalk, Skype). Meskipun belum sempurna, hasilnya cukup menjanjikan dan saya yakin bisa dijadikan salah satu alternatif kuliah jarak jauh berbiaya rendah.

Sebuah tulisan saya tentang teknis pelaksanaan kuliah jarak jauh model ini dan pengalaman menyelenggarakannya diterbitkan oleh Suara Merdeka tanggal 4 Mei 2008 ini. Silahkan simak untuk lebih jelasnya

Continue reading “Kuliah jarak jauh berbiaya rendah”

Berani bermimpi, tekun mencoba

//www.kompas.com/kompascetak/images/logokompascetak.gifSekitar tiga tahun yang lalu, saya menulis sebuah renungan dengan judul “Tentang sebuah Dendam“. Tulisan ini berkisah tentang dendam saya kepada Kompas yang akhirnya terbalaskan. Setelah bertahun-tahun menunggu, untuk pertama kalinya ketika itu tulisan saya dimuat oleh kompas, dalam rubrik Ilmu Pengetahuan. Itu adalah tulisan pertama setelah sekian kali ditolak.

Continue reading “Berani bermimpi, tekun mencoba”

Petengkaran

//i17.photobucket.com/albums/b64/lope-mizz-ya/tear.jpgPertengkaran bukanlah hal biasa, dan dia tidak boleh menjadi biasa. Meskipun pada dasarnya pertengkaran adalah salah satu bentuk diskusi dan komunikasi yang sangat tua umurnya, pertengkaran, bagaimanapun juga, bukanlah cara terbaik menyelesaikan suatu perkara.Dalam pertengkaran ada kesedihan, setidaknya sesudahnya. Dalam pertengkaran ada air mata karena tekanan dan kemarahan yang tidak selalu sehat dampaknya. Dalam pertengkaran, bahkan mungkin muncul dendam jika tidak disikapi dengan besar hati. Dendam adalah makhluk paling berbahaya dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya.

Continue reading “Petengkaran”

Beda Generasi

Genjo terhempas dalam duduknya yang dalam dan letih. Seharian menunaikan dharwa mulia sebagai penyelamat dan penunjuk jalan bagi generasi baru yang sedang berburu masa depan. Genjo sumringah sejak pagi tadi karena hutang budinya terasa terbalas kini. Dua belas tahun lalu, Genjo adalah generasi baru. Gelap sepertinya alam ketika itu saat Genjo memasuki altar suci perguruan termasyur tempatnya berdharma saat ini. Adalah seorang abang yang menjadi penyelamatnya ketika itu, tidak akan pernah dilupakannya. Kini kesempatan membalas budi itu datang juga, tentu saja tidak kepada sang abang tetapi kepada adik dari generasi yang jauh di depan. Pay Forward, begitulah memang sebaiknya perjalanan kebaikan itu. Genjo membayar ke depan, bukan ke belakang.
Continue reading “Beda Generasi”

Setengah dekade

Waktu memang seperti terbang. Time flies, kata orang bule untuk menggambarkan betapa seringnya kita terlena dan akhirnya tertinggal oleh waktu. Banyak pekerjaan yang tidak terselesaikan dan target tidak terpenuhi ketika kita mendapati waktu tidah tersisa lagi. Sejarah klasik ini berulang lagi dan lagi.

Ketika diri ini alpa tidak menikmati dan lalai menyimak waktu dengan seksama maka keterperanjatanlah yang dihadiahkannya. Keterperanjatan akan kenyataan bahwa waktu begitu sadis menggilas keluguan ataupun keculasan, semua sama tak diampuni. Tak peduli sang aku yang bijaksana atau berperangai pecundang, sang waktu tetap berlaku adil, seadil-adilnya. Hanya ada 24 kali pergantian jam setiap harinya, lain itu tidak ada. Maka begitulah ketika perayaan setengah dekade ini jatuh pada masanya, semua terasa tiba-tiba dan perhelatan besar sepertinya baru kemarin sore. Hari ini, lima tahun yang lalu, dua anak manusia mengikat janji.

Continue reading “Setengah dekade”

Indonesia Merdeka, Malaysia Merdeka

http://userserve-ak.last.fm/

Generasi lama bangsa ini menyebut Malaysia sebagai Adik Nusantara. Hal ini beralasan karena Malaysia memang berada di Nusantara dan berusia 12 tahun lebih muda dari Indonesia. Di tahun 70-an, konon banyak guru Indonesia yang dikirimkan ke (atau diminta oleh ) Malaysia untuk mengajar di sana. Banyak profesor yang kini ‘berkuasa’ di perguruan tinggi Malaysia konon adalah juga alumni dari Universitas Gadjah Mada. Ketika saya bertemu dengan seorang pakar dan profesional di perusahaan minyak asal Malaysia, beliau dengan tanpa canggung memuji kesaktian tim sepak bola Indonesia di awal tahun 80-an. Senada dengan itu, kapal angkatan laut Indonesia juga menjadi satu tontonan yang menakjubkan ketika beliau kecil. Sebuah kenangan yang kini entah di mana.

Indonesia kini berusia 62 tahun dan Malaysia menginjakkan kaki di usia 50 tahun. Keduanya dari dulu bertetangga dan berbagi banyak sekali kebudayaan yang sama. Namun begitu, tidak jarang keduanya juga dihadapkan pada suasana yang panas dan mencekam. Sebut saja di tahun 60-an, misalnya, perhatian dunia sempat tertuju pada Nusantara gara-gara Indonesia ingin “mengganyang Malaysia”. Ketegangan berlanjut saat adanya sengketa soal Pulau Sipadan dan Ligitan di Laut Sulawesi yang berakhir di tahun 2002 dengan “kemenangan” Malaysia. Tahun 2005, ketegangan kembali menghiasi hubungan kakak-adik ini dengan sengketa Ambalat di Laut Sulawesi yang hingga kini belum terselesaikan sempurna. Kedua tetangga ini memang berbagi banyak cerita suka dan duka.

Ketika keduanya mulai berusia, mungkin ada baiknya menilai pencapaian masing-masing sebagai indikator keberhasilan perjalanan bernegara. Banyak yang secara spontan menyatakan bahwa Malaysia telah mencapai sesuatu yang lebih tinggi dari Indonesia. Kalau yang dimaksud adalah menara kembar Petronas, tentunya tidak bisa disangkal 🙂

Tidak mudah untuk menilai secara pasti siapa yang lebih maju sesungguhnya. Kemajuan tentu saja tidak bisa dilihat hanya dari jumlah gedung tinggi dan panjangnya jalan aspal yang berhasil diwujudkan. Pembangunan harus dilihat secara lebih komprehensif.

Continue reading “Indonesia Merdeka, Malaysia Merdeka”