Jalan Panjang ke Paris


slog.thestranger.com
slog.thestranger.com

Jumat malam, 9 Oktober 2009

Singapura sudah gelap, yang nampak hanya cahaya lampu berpijar seperti jutaan kunang-kunang yang bertengger di gedung-gedung pencakar langit. Tak banyak yang bisa aku nikmati di Bandara Changi, meskipun luasnya memang hampir menyamai Desa Tegaljadi, tempat kelahiranku. Aku lelah setelah tujuh jam termangu-mangu di salah satu kursi pesawat SQ nan besar A380-800 yang dua tingkat itu. Meskipun makanan berlimpah dan senyum pramugari nan cantik tak pernah kering, perjalanan tujuh jam tetap saja menyisakan kelelahan.

Aku tercenung, duduk di sebuah bangku di dekat pintu B17, menunggu pintu dibuka. Semakin kubayangkan, semakin jelas rasa enggan datang. Perjalananku sebentar lagi tidak akan kurang dari 14 jam dari Singapura ke Paris. Tempat duduk kelas ekonomi di pesawat komersil yang konon paling besar di dunia dan dioperasikan oleh salah satu penerbangan terbaik di muka bumi tetap tidak akan bisa menghindarkanku dari lelah dan bosan. Perjalanan ini pastilah akan terasa lama.

Transit dua jam di Bandara Changi aku manfaatkan untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk presentasi yang akan aku jalani di Paris esok hari. Meskipun sudah pernah tampil di pentas internasional untuk membawakan makalah, aku memang tidak pernah bisa tampil tanpa berlatih dan bersiap diri. Aku harus pastikan lagi dan lagi bahwa susunan slide-ku sudah seperti yang kuinginkan dan aku harus tahu persis urutan slides tersebut di luar kepala. Yang lebih penting lagi, aku harus memastikan bahwa aku bisa memaparkannya dengan tuntas dalam waktu yang diberikan.

Aku baru sadar bahwa colokan listrik di Singapura berbeda dengan di Australia, sementara baterai laptopku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Dia harus selalu di-charge ketika digunakan karena baterainya sudah tidak bisa menyimpan energi listrik. Aku beringsut mencari toko elektronik di dalam bandara. Untunglah ada yang masih buka dan aku mendapatkan sebuah adaptor universal.

Aku terduduk lesu di sebuah pojokan dekat colokan listrik dan seperti orang tak waras berkomat kamit sendiri mencoba membiasakan diri dengan presentasiku. Sesekali tanganku bergerak-gerak, melatih gerakan yang pas ketika presentasi nanti. Mungkin ada satu dua orang yang memperhatikanku dengan pandangan sedikit bertanya-tanya. Sudahlah, mereka tidak tahu bahwa aku memang tidak sempat melatih presentasiku di Wollongong karena Indonesia Day ternyata menyita waktu dan energiku. Syukurlah acara charity untuk korban gempa dan kampanye batik ini berjalan dengan sukses di halaman University of Wollongong dua hari sebelumnya. Waktu yang kurang dari satu jam itupun aku gunakan untuk berlatih sampi hampir tiga kali. Aku harus benar-benar memastikan bahwa presentasiku lancar, lugas, menarik dan yang pasti tidak melebihi waktu yang ditetapkan. Aku paling tidak nyaman melihat seorang pemapar yang otaknya dipenuhi dengan ilmu berlebih sehingga meluber saat presentasi dan berbicara melebihi waktu yang disediakan.

Pernah seorang kawan berkomentar, apakah seorang aku masih perlu berlatih presentasi karena sepertinya sudah terbiasa. Kawan ini tidak paham rupanya. Kalau benar aku memang terlihat ‘terbiasa’ olehnya, justru itu terjadi karena aku berlatih dan terus belajar. Kelihaian presentasi tiak jatuh dari langit. Kadang ada saja yang memainkan logika terbalik seperti kawanku ini. Kawanku ini mungkin tidak akan percaya kalau sebelum presentasi aku bahkan merasa perlu gladi di depan Asti dan memintanya menilai kelemahannku. Sampai sekarang aku masih yakin, sehebat-hebatnya seseorang, berlatih dan berlajar tak pernah kehabisan ruangnya.

Samar-samar aku melihat orang mulai bangkit dari tempat duduknya dan bergerak membentuk antrian. Rupanya pintu masuk pesawatku sudah dibuka. Akupun sudahi latihan itu dan segera berkemas. Sejurus kemudian aku sudah terhimpit di jejelan antrian yang mengular. Rupangan banyak sekali yang ingin ke Paris, pikirku. Sesampai di depan X-Ray, aku bongkar tas punggungku, keluarkan laptop, buka ikat pinggang dan keluarkan kamera sarta HP. Jaket juga aku lepas untuk dilewatkan pada kotak X-Ray. Dunia memang telah dihantui oleh phobia. Meskipun pada papan di depanku bertuliskan ”Security for your safety”, tetap saja adalah sesuatu yang tidak nyaman harus membuka jaket dan melepas ikat pinggang hanya untuk masuk pesawat. Inilah buah tindakan segelintir umat manusia yang gemar bermain-main dengan rasa takut manusia lainnya. Akibatnya orang baik-baik sepertiku harus nyaris ditelanjangi dan bahkan kadang harus membuka sepatu hanya untuk masuk pesawat, itupun untuk layanan yang harus dibayar sangat mahal. Sudahlah, ini tak penting untuk diceritakan.

Sebentar kemudian akupun termangu-mangu di pesawat. Kantuk belum juga datang, mungkin karena aku juga dihinggapi perasaan was-was dan grogi. Sebentar lagi akan menginjakkan kaki di Paris, aku memang sangat excited! Film demi film aku tonton di media hiburan pribadi yang disediakan SQ, ternyata tak semuanya menarik. Kadang aku melamun, diam tidak melakukan apa-apa dan pikiranku melayang-layang kembali ke Wollongong.

Kamis, 8 Oktober 2009
Aku tersentak, terjaga dari tidur yang tak nyenyak oleh bunyi alarm jam 6 pagi yang nyaring dari HP. Pagi ini agak berbeda. Kepalaku tidak lagi dipenuhi beban Indonesia Day, sebuah proyek idealis yang sudah tiga minggu ini tak enyah dari kepalaku. Lama sekali dia meringkuk di alam bawah sadarku dan menjadi beban tersendiri. Lega rasanya, pagi ini aku tidak terjaga dengan beban itu, karena kemarin semuanya sudah berlalu. Pelan-pelan aku tersadar dan sejurus kemudian melompat dari tempat tidur. Pagi ini ada yang tak kalah istimewanya, aku harus berangkat ke Paris. Aku harus memaparkan makalahku yang masuk final di Olimpiade Karya Tulis Inovatif prakarsa dari Persatuan Pelajar Indonesia Perancis (PPIP). Jam sembilan aku sudah harus ada di Konsulat Jendral Perancis di Sydney untuk mengambil passporku yang sudah dilabeli visa.

Aku lihat Asti, masih tergeletak lesu di sebelahku. Dia positif kena cacar air, tertular olehku yang sudah tiga minggu ini berwajah berantakan. Cacar air di usia yang tak muda lagi memang mendatangkan penderitaan luar biasa. Lita pun tak mau kalah, di wajah dan punggungnya pun ada tanda-tanda bentol cacar air yang meyakinkan. Sempat aku ragu, haruskan aku berangkat ke Paris meninggalkan istri dan anak yang sedang butuh perawatan. Asti meyakinkanku, aku harus berangkat.

Guardian, seorang kawan mahasiswa Indonesia di Wollongong, mengantarkanku ke stasiun Wollongong. Kereta akan berangkat sekita jam 7 pagi. Sebentar kemudian akupun sudah terkulai di kereta, tertidur sempurna karea sisa kelelahan akibat acara kemarin yang masih terasa. Sydney pun jadi sangat dekat terasa karena aku terjaga ketika kereta sudah berhenti sempurna di Central Station Sydney. Aku segera mengemasi tas punggung dan koper kecil, bergegas setengah berlari menuju Platform 16 yang akan membawaku ke Town Hall Station.

Orang-orang seperti ikan teri yang bergerombol dan bergerak seragam. Saat pagi seperti ini, Sydney memang dipenuhi oleh kaum pekerja yang bergegas menuju kantor masing-masing. Mereka bergerak cepat dan semua orang terlihat terburu-buru. Tak lama kemudian akupun tenggelam diantara kerumunan itu. Aku terjepit diantara lelaki dan perempuan yang hendak menunaikan tugasnya mengais rejeki. Tiba di Town Hall, aku segera melesat keluar beringsut-ingsut menemukan pintu yang tepat dan akhirnya kudapati diriku di tengah kota Sydney yang hidup dan bergairah. Kutelusuri jalanan menuju Market Street, ingin segera kulihat gedung bernomor 31 tempat konsulat Perancis berada.

Di dalam lift yang membawaku ke lantai 26, aku sedikit tegang. Visaku memang belum jadi dan aku bertanya-tanya, akankah visaku jadi hari ini. Yang jelas, harus jadi karena aku sudah membeli tiket dan penerbanganku hari ini jam 16.25. Aku berdebar-debar keluar dari lift dan menuju satpan di Konjen Perancis. ”Your ID please!” kata seorang lelaki yang sepertinya berdarah asia. Akupun mengeluarkan kartu mahasiswa dan dia segera mencatat identitasku. ”I am picking up my passport” demikian kujelaskan dan aku dipersilahkan duduk. Aku duduk dengan ketegangan yang semakin meningkat, sampai akhirnya aku dipanggil. Seorang lelaki muda di dalam kamar kaca tersenyum padaku. ”I am really sorry, I don’t have a good news for you today. Your visa has not been approved, yet!” Kalimat sopan yang keluar dari diplomat muda ini seperti petir di siang bolong membuat kakiku seperti tidak bertenaga dan aku kehilangan akal. Darahku seperti berhenti mengalir sejenak dan tiba-tiba dunia terasa sepi, tidak ada satu suarapun. Aku ada dalam keheningan dan tubuhku seperti ringan melayang di dalam desahan alam yang tidak jelas. Aku lemas, lunglai dan terdiam tak mampu bicara. Aku hanya memandang kosong kehilangan akal.

I suggest you reschedule your flight” kata lelaki itu menyadarkanku dari kehampaan. Dalam hati aku mau memaki memangnya aku ke Paris mau jalan-jalan sehingga jadwalnya seenak udelku. Aku ke sana untuk presentasi acara bergengsi. Semuanya sudah diatur jadwalnya oleh panitia. Ngerti nggak lu??!! Tentu saja itu hanya dalam hati. Akupun mencoba menguasai diri. “When will I get the visa?” tanyaku. “I don’t know” demikian jawabnya singkat dan lagi-lagi menyengat telingaku. Aku tak punya harapan.

Aku melangkah gontai dengan tas dan koper yang masih kubawa. Tiba-tiba aku melihat diriku sangat konyol. Datang jauh-jauh dari Wollongong dengan sok percaya diri membawa koper dan berlagak akan ke Paris, ternyata visaku belum jadi. Selain kecewa karena tidak jadi ke Paris, aku tidak habis pikir, bagaimana menjelaskan ini semua kepada mereka yang terlanjur aku kabari dan bahkan sombongi bahwa aku sebentar lagi akan menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne? Tak kutemukan bagaimana caranya.

Dalam kegalauan itu, aku hubungi KBRI Canberra yang adalah penyandang dana untuk keberangkatanku. Mengejutkan, atase pendidikan KBRI yang sedianya akan berangkat sore itu menemaniku dan finalis lainnya, ternyata juga tidak berhasil memperoleh visa. Ada apa ini? Kalau orang sekelasku tidak dapat visa ke Paris mungkin bisa dipahami, tetapi kalau diplomat setingkat atase pendidikan tidak jadi berangkat karena tidak berhasil memperoleh visa, ini bisa jadi novel tragedi best seller, pikirku. Akupun mencoba peruntunganku untuk mengundurkan tiket sehari lagi, KBRI menyetujui. Bagiku ini sebuah spekulasi, kalau-kalau ada keajaiban esok hari visaku akan dikeluarkan. AUD 100 harus dibayarkan untuk pengunduran tiket sehari, itupun dengan tingkat kepastian yang sangat amat rendah.

Aku meluncur menuju Konjen RI di Maroubra dalam kekecewaan yang dalam. Aku sendiri tidak mengerti, untuk apa aku harus ke Konjen RI karena sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan visa Parisku. Tapi sudahlah, aku mungkin perlu curhat dengan orang Indonesia nomor satu di NSW tentang ‘keanehan’ ini. Pak Konjen, Bapak Sudaryomo, menyambut hangat. Beliau memang sangat bersahabat dan dekat dengan masyarakat Indonesia di Sydney dan sekitarnya. Mengalirlah ceritaku tentang visa dan lomba di Paris yang sepertinya akan gagal aku ikuti. Pak Konjen dengan sabar mendengar keluh kesahku dan berjanji akan membantu sebisanya. Pertemuan itu, meskipun tidak membuat visaku keluar, ternyata melegakan. Akupun melangkah gontai menuju Central Station untuk bertolak ke Wollongong. Asti dan Lita tentu akan bertanya, mengapa aku kembali. Sudahlah, mungkin memang aku harus merawat anak istri yang sakit, tidak malah jalan-jalan ke Paris.

Jumat, 9 Oktober 2009 Pk. 09.44 pagi
Yes, Andi speaking!” aku mengangkat telepon dari nomor yang tidak aku kenal “Mr. Arsana, I am Sylvain from the visa section of the Consulate General of France. I am pleased to inform you that your visa has been approved.” Mendengar berita itu, sama girangnya diriku dengan hampir lima tahun lalu ketika Asti sms “Yah, ibu positif!”.

Sabtu, 10 Oktober 2009
Di luar masih gelap. Meskipun sudah jam tujuh pagi, langit belum juga terang dan hari masih seperti malam. Di belahan bumi utara, siang memang sedang pendek sehingga jam 7 pagipun matahari masih enggan menampakkan diri. Aku telah menginjakkan kaki di Perancis, sebuah pusat peradaban Eropa. Sayang kegelapan ini tidak mampu menghadirkan sensasi ke-eropa-an seperti yang aku imajinasikan.

Setelah melewati imigrasi aku bergegas menuju pintu keluar. Mataku menyapu para penjemput, berharap namaku ada dalam salah satu plang atau kertas yang dipegang oleh belasan penjemput di depanku. Aku lihat dengan sekilas, tak ada namaku. Aku lihat lagi, mungkin tadi aku kurang teliti. Tidak ada juga. Aku mulai ragu, apakah panitia OKTI tidak jadi menjemputku? Bisa-bisa aku mati berdiri di bandara ini kalau tidak ada yang menjemput. Akupun menunggu di salah satu sudut ruangan sambil mataku tetap mencari-cari dengan awas. Tak ada tanda-tanda orang Indonesia yang datang menjemput. Aku sempat berpikir apakah panitia OKTI menugaskan penjemput lokal profesional untuk menjemputku. Akupun meneliti satu persatu penjemput bule berpakaian rapi mengenakan jas, tak satupun menunjukkan namaku.

Aku mulai gelisah. Segera kudatangi pusat informasi, aku bertanya di manakah diriku sekarang ini. “You are in Terminal 1, arrival level at Gate 34” demikian seorang gadis menjelaskan dengan logat Perancis yang masih terasa. Segera kupencet nomor telepon salah satu panitia yang kucatat nomor HPnya, Ichsan Rauf. Suara di seberang terdengar sedikit ragu. Diapun kemudian berusaha meyakinkanku bahwa akan ada orang yang menjemput. Aku agak tenang, akupun mulai bermain dengan telepon dan laptopku. Untunglah tadi aku membawa kabel power cadangan dari Indonesia sehingga bisa digunakan untuk colokan Eropa. Colokan Eropa dengan Indonesia memang sama, mungkin ini salah satu peninggalan Belanda, sang penjajah yang patut aku sykuri. Aku mulai membuka-buka kembali presentasiku dan lagi-lagi seperti orang yang setengan saraf, aku berlatih presentasi. Aku berkomat-kamit sendiri melafalkan mantra-mantra yang siap aku kumandangkan sebentar lagi. Sedemikian seriusnya aku menyiapkan diri karena sudah jauh-jauh terbang 24 jam ke Paris. Sayang kalau hanya tampil seadanya dan tidak meyakinkan.

Satu jam berlalu, tak ada tanda-tanda penjemput datang. Akupun tak sabar dan aku pencet lagi nomor telepon Ichsan Rauf. Suara merdu seorang perempuan muda terdengar ”Your credit is not sufficient to make a call” Optus yang kupakai memang prabayar. Ini satu masalah lain yang muncul di saat yang tepat sehingga penderitaanku menjadi sempurna. Untunglah aku segera teringat bahwa aku sudah mengaktifkan pengisian pulsa dengan kartu kredit. Segera kupencet 444 dan dalam waktu singkat aku sudah memilki kredit untuk menelpun. Lagi-lagi suara di seberang menenangkan bahwa akan ada yang menjemput. Akupun pasrah. Kalaupun tidak jadi presentasi gara-gara aku terlambat akibat jemputan yang tidak datang, mungkin memang sudah demikain skenario yang diagendakan Tuhan. Akupun bersiap menerima segala yang terburuk.

Hampir jam sembilan, muncul seorang lelaki Indonesia mengenakan batik berjalan ke arahku dan menyapa dengan sopan. Mas Makarimah, asli Semarang ditugaskan untuk menjemputku. Terjawab sudah satu teka-teki. Aku akhirnya akan tiba di Paris dan presentasi. Selama perjalanan kami saling mengenal satu sama lain. Ternyata perjalanannya tidak dekat, dengan waktu tempuh sekitar satu jam. Berjalan bersama kami adalah Ibrahim, seorang rekan dari Swedia.

Aku ternyata tidak diajak ke hotel tetapi langsung ke KBRI Perancis tempat acara berlangsung. Rupanya aku tidak punya waktu untuk mandi apalagi istirahat karena acara sudah dimulai. Aku masih tenang, karena presentasiku sekitar jam 3 sore.

Begitu sampai di KBRI dan menuju meja registrasi, terjadilah percakapan yang lebih mengejutkan lagi. ”Oh ini Pak Made ya, Bapak sebentar lagi harus presentasi, jadwalnya diubah dan Bapak kebagian yang pagi” kata seorang panitia. Ampun dah! Memang kisah presentasiku akan penuh drama. Akupun bergegas menuju ruang panitia dan menyembunyikan diri di sebuah ruang kecil yang ditutup partisi. Aku ganti pakaian, mengenakan batik, celana kain dan sepatu kantoran. Tanpa mandi tentu saja. Seorang panitia sudah menungguku di luar dengan wajah yang tidak sabar. Aku menjadi grogi dibuatnya. Akupun masih menyempatkan diri ke kamar kecil dan sikat gigi. Selama 30 jam tidak sikat gigi, aku kasihan pada orang-orang di sekitarku. Aku harus bertoleransi.

Aku masuk ke ruangan yang dipenuhi puluhan orang berwajah tegang, presentasi pertama sedang berlangsung. Bang Zulfan dari Sydney ternyata mendapat giliran pertama. Akupun berusaha tidak menarik perhatian dan membaurkan diriku di antara orang-orang itu. Sekilas aku lihat di meja di depanku ada tulisan: Belanda, Jerman, Filipina, Korea Selatan, Rusia, Perancis, Swedia, Australia dan seterusnya. Rupanya itu tanda delegasi. Akhirnya aku tahu, jadwalku diletakkan paling akhir untuk sesi pagi sebelum makan siang, sebagai pembicara keenam. Akupun mulai bisa menguasai diri dan memperhatikan satu per satu pemapar yang tampil sebelumku. Saat presentasi kelima, aku baru sadar belum memberi berkas presentasi ke panitia karena dari tadi tidak ada panitia yang meminta. Akupun berinisiatif dan membuat kegaduhan kecil karena harus memindahkan berkas dari laptop ke flash disk yang aku pinjam dari Bang Zulfan.

Begitu presentasi kelima selesai, moderator di depan, yang kemudian aku tahu namanya Gan Gan Dirgantara (kalau ini jelas bukan orang Batak, tapi orang Sunda), menebar pandangannya mencari-cari wajahku dan segera saja aku angkat dua jempol tanda aku sudah siap. Moderator satunya, Mas Fadjar kalau tidak salah (maklum masih tegang), segera memperkenalkanku sebagai presenter terakhir yang baru tiba dan datang dari jauh, Australia. Beliau juga kembali mengingatkan aturan main presentasi karena menyadari aku datang terlambat dan tidak sempat mendengar saat aturan main presentasi dibacakan di awal acara. Sementara aku berdiri mematung di depan, dekat podium. Perkenalan dan briefing ini sedikit meningkatkan keteganganku karena aku jadi pusat perhatian, sedikit lebih istimewa dibandingkan pemapar sebelumnya.

Aku beranjak ke podium, mendekati laptop dan menekan tombol F5. tampilah slide pertamaku. Aku sejujurnya tegang dan grogi. Aku jadi ingat satu tips dari Larry King tentang public speaking. Samar-samar aku mendengar kembali nasihatnya ”Jika kamu merasa memiliki kelemahan dan keraguan dan kamu harus berbicara di depan orang, yang pertama kali harus kamu sampaikan adalah kelemahan itu. Ajaklah pendengarmu mengerti situasimu dan mencoba memakluminya”. Aku memulai kalimatku dengan berucap ”Saya terus terang kurang percaya diri siang ini karena belum mandi”. Entah bagaimana asal muasalnya, meledaklah hadirin dengan tawa yang lepas. Tawa hadirin ini memberikan kekuatan tersendiri bagiku dan perlahan namun pasti aku merasa di atas angin. Keluarlah segala yang ada di kepalaku lewat cerita yang mengalir. Di belakangku bermunculan slide satu dan slide lainnya menjadi latar yang menguatkan dongengku. Sekali waktu aku melihat wajah yang serius, lalu di saat yang lain terdengar tawa yang lepas. Tak jarang juga aku melihat wajah yang terangguk-angguk meyakinkan. Sepertinya mereka cukup menikmati sajianku. Tak lupa, di tengah presentasi aku selipkan foto Siti Nurhalisa yang cantik rupawan, mengimbangi pesona dua pembawa acara, Cheria dan Laras, yang dari tadi sepertinya menyedot perhatian para kaum adam di ruangan itu.

Kota Paris, 11 Oktober 2009 di sore menjelang malam
Di depanku berdiri annggun Menara Eiffel. Wajahnya tenang, angkuh dan perkasa. Ada kebanggan akan peradaban mapan yang dipancarkannya dan seakan ingin disombongkan kepada siapa saja yang menatapnya. Ingin sepertinya dia kisahkan bahwa telah disaksikannya pergantian generasi dan lakon sejarah penting di pusat peradaban Eropa. Seakan ingin dilantunkannya tembang tentang bangun dan runtuhnya sebuah peradaban manusia ketika dia menjadi pencatat yang setia. Aku tertegun, nyaris tidak percaya akan berkenalan dengan sang maha karya nan termasyur itu. Ingat aku dengan Andrea Hirata yang menciptakan Laskar Pelangi. Kita memang tidak boleh mendahului nasib. Mungkin sang waktu dan kesabaran memang bisa saja mengantarkan anak seorang penambang padas sepertiku untuk menjelajahi Eropa. Mengantarku berkenalan dengan tinggalan-tinggalan peradaban yang sudah mapan dan termasyur bahkan, seperti kata Bang Zulfan, ketika Ken Arok masih tergelincir air liurnya saat melihat betis Ken Dedes yang tersingkap. Waktu memang menyimpan rahasianya.

Ketika gelap sudah turun, keindahan lain tercipta. Menara Eiffel kini bermandikan cahaya. Separuh di atasnya berwarna putih bersih sedangkan separuh di bawahnya merah menyala. Di sela-selanya ada nuansa biru yang samar tetapi anggun. Di puncak tertinggi berkelip dan berputar sinar laser menembus langit yang mulai gelap. Sebuah pesona yang luar biasa. Sang perkasa yang tadi angkuh dan berwibawa menjelma menjadi anak perawan yang cantik dan sedikit genit menggoda. Dia seperti gadis yang mengundang tiap pemuda tampan untuk menjamahnya. Dia menawarkan keindahan yang tak akan habis direguk dan dinikmati. Eiffel memang adalah paduan kemapanan rekayasa cipta dengan keindahan yang bercita rasa.

Saat malam makin memantapkan dirinya, gelap ditingkahi oleh rinai gerimis yang turun perlahan. Sebuah pemandangan yang dramatis menawarkan sebuah romansa yang pasrah untuk dinikmati. Tak salah para pujangga menyebut Paris sebagai kota cahaya dan kota cinta. Romantisme yang dihadirkan oleh pijaran cahaya yang berpadu dengan rinai gerimis dan kelakar anak manusia yang bersenda gurau memang sebegitu magisnya. Angin yang berhembus, dingin yang bisu, langit yang gelap dan bintang gemintang yang bersinar malu-malu bahkan ingin menyatakan cintanya.

KBRI, 11 Oktober 2009 pagi menjelang siang
Wajah-wajah para perserta nampak sedikit menegang. Saat-saat yang ditunggu telah tiba yaitu pengumuman para juara. Juri yang diwakili oleh Dr. Rizqa Derfiora memulai pemaparannya. Tentu saja beliau memulai dari penilaian umum yang sifatnya menyeluruh. Selanjutnya Dr. Hendra Suhendra (dari namanya ini juga jelas bukan Bali) mendapat giliran bicara yang menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta. Beliau menegaskan, sulit bagi dewan juri memilih juara karena semua bagus, semuanya hebat. Aku terdiam di deretan bangku mengangguk-angguk walaupun tahu kalimat itu adalah basa-basi biasa yang disampaikan oleh hampir semua juri ketika bersiap akan mengecewakan sebagian orang dan membuat sebagian orang lainnya berteriak girang. Meski Dr. Suhendra menyampaikan dengan kocak, ketegangan tetap saja menyelimuti. Dr. Ismail Fahmi juga mendapat giliran. Beliau menyampaikan kekagumannya karena olimpiade ini yang diikuti oleh 54 karya tulis, sebuah kuantitas yang luar biasa dalam waktu persiapan yang tidak lama.

Tibalah saatnya Dr. Derfiora membacakan juara satu demi satu. Aku tidak menyimak dengan seksama para juara kategori 1A dan 1B yang diraih oleh Reiza (Jerman) dan Elrade (Perancis). Aku terfokus pada kategori 2, kategoriku. ”Pemenang untuk kategori 2A adalah Zulfan Tadjoeddin dari PPI Australia” demikian aku dengar dan hadirin pun riuh rendah oleh tepuk tangan. Namaku tidak disebut, aku ada di kategori itu. Ini berarti aku akan pulang dengan senyum dan kebanggan hanya karena bisa berpose di depan Menara Eiffel sore nanti. Itu saja, tidak lebih! Aku mulai menenangkan diri. ”Juara kategori 2D adalah Miko Kamal dari PPI Australia” demikian selanjutnya mengundang tepuk tangan yang meriah. Sapintas kulihat dua sahabatku dari Australia ini sumringah dan mulai saling berjabat tangan. Hadirin pun mulai berbisik-bising menyebut-nyebut prestasi PPI Australia. ”Dan kini giliran kami bacakan juara umum untuk kategori 2” Dr. Rizka pun melanjutkan.

KBRI, 11 Oktober 2009 sekitar jam 12 siang

Dalam kegalauan hati yang tidak sempat aku pahami, sayapun beranjak menuju podium itu. Samar-samar beberapa menit lalu aku mendengar namaku dipanggil dan harus menyampaikan sambutan. Akupun berdiri, menundukkan kepala tidak memandang hadirin dan menatap kosong ke arah yang tak bertuan. Aku mulai berucap sangat lirih.

“Tadi malam saya bermimpi” dan aku diam sejenak sehinga hadirin pun diam tenang, menunggu-nunggu kelanjutan ceritaku. “Saya bermimpi didatangi Siti Nurhalisa!” Hadirin pun tergelak hebat, teringat dengan presentasiku kemarin, barangkali. Sejenak kemudian semua diam dan aku pun melanjutkan.

“Saat berangkat dari Wollongong menuju Bandara Sydney, saya dipenuhi keraguan karena menyaksikan istri dan anak saya tergeletak di tempat tidur. Mereka sakit, tertular oleh cacar air yang saya derita sebelumnya. Ada perasaan tidak tega meninggalkan mereka berdua di apartemen kecil saya yang sepi di Wollongong. Sempat saya tawarkan bahwa saya sebaiknya tidak berangkat ke Paris mengikuti lomba ini, istri saya mencegah. Dia meyakinkan saya bahwa mereka akan baik-baik saja. Sebuah dukungan yang tidak ada tandingannya, saya berangkat dengan doa dan ketulusan seorang istri yang sedang sakit. Saya berjanji dalam hati, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Pengorbanan dan dukungan istri saya terlalu besar untuk saya abaikan.” Hadirin tercenung, diam memandang dan hanyut. “Ibu Bapak yang saya muliakan, dengan mengucap syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa, ijinkan saya mempersembahkan kemenangan ini untuk istri dan anak saya.” Hadirin bertepuk tangan riuh.

“Sebelum berangkat, saya juga sempat berdiskusi ringan dengan istri saya, mau beli apa nanti kalau dapat juara, demikian kami bercakap-capak. Saya punya ide brilian, saya akan menjalani operasi plastik” Hadirin tergelak, menyadari hubungan ucapan saya dengan wajah saya yang masih sedikit berantakan akibat cacar air yang sejak kemarin saya jadikan kelakar. “Istri saya pun mengingatkan, tidak mungkin lah operasi plastik hanya dengan 750 Euro, katanya. Saya pun akhirnya menurunkan target saya. Kini saya hanya ingin membeli krim pemutih wajah.” Lagi-lagi meledaklah tawa hadirin, sementara aku tetap menunduk setelah berbicara lirih.

“Ibu Bapak yang saya hormati. Kedatangan saya ke Paris adalah hasil drama panjang yang menurut saya luar biasa. Saya mendapatkan visa beberapa jam sebelum terbang, itupun setelah mengundurkan jadwal penerbangan selama sehari. Yang lebih menarik lagi, atache pendidikan kami dan satu rekan lain di Australia tidak berhasil datang ke Paris karena tidak mendapatkan visa. Bagi saya, ini adalah teka-teki yang sulit dipecahkan. Seorang diplomat setingkat atache yang gagal mendapatkan visa ke Paris adalah sebuah kejanggalan, menurut saya. Maka dari itu, mendapati diri saya berdiri di sini dan bahkan akhirnya menang, hanya syukur yang bisa saya panjatkan. Benar kata orang bijak: Tuhan tidaklah tidur, hanya saja kadang saya tidak menyadari Dia bekerja, karena caranya memang sangat misterius.

Saya memberikan apresiasi kepada kawan-kawan PPI Perancis yang telah melakukan hal yang luar biasa. Saya ingat satu ucapan, bahwa semua orang bisa membuat sejarah, tetapi tidak semua orang bisa menuliskan sejarah. Apa yang dilakukan PPI Perancis telah memberikan kesempatan kepada kami untuk tidak saja menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga aktif menuliskannya. Lomba ini akan mendokumentasikan gagasan-gagasan indah dari generasi Indonesia dan akan menjadi catatan tersendiri, betapapun sederhananya.

Kalau Obama memang masih bertanya ‘where were you when the history took place?‘, maka saya akan menjawab, saya ada di sana ketika sejarah itu terjadi.

Terima kasih!”

Hadirin pun bergemuruh dengan tepuk tangan dan aku melangkah pelan menuju kursi saya. Hari ini aku telah menorehkan sejarah kecil. Meskipun bukan untuk hal yang luar biasa, setidaknya untuk diri sendiri, semua ini akan menjadi catatan abadi.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

64 thoughts on “Jalan Panjang ke Paris”

  1. Selamat ya Bli atas prestasinya 🙂

    Tapi koq kebetulan sekali, saya juga habis posting tentang Paris, he he 😀

    Enaknya minta oleh-oleh apa ya 😉 ?

  2. Betul, Bli Made Andi…
    Nama saya sudah disebut dan dieja secara betul oleh Bli Made Andi. Selamat atas kemenangannya ya.. Semoga hadiahnya cukup untuk beli salep kulit seperti yg dicita-citakan he he he…. Senang saya bisa berkenalan dengan Bli Made Andi dan rekan-rekan kontingen dari Australia lainnya. Insya Allah kita akan jumpa lagi next time ya… Good Day Mate…..

  3. Oh..Mas Andi…you are sooo inspiring…. tulisanmu membuat perasaanku bercampur aduk… senang membacanya, termenung, sedih, ketawa, gembira – mix feeling….. one of my fav blog.

    Salam buat Asti dan Lita ya…

  4. Selamat Pak Andi…semoga bisa dicontoh yang lainnya, khususnya saya sendiri…sekali lagi good luck (sepuluh jempol…..)….salam saya buat Mba Asti (dari emma)

  5. Sekali lagi selamat mas Andi…
    Sebuah runtutan peristiwa yang sangat inspiratif, mengalir dan ending yang memukau.
    Saya sangat kagum dengan mas Andi terutama dengan kalimat2 ini:
    “sehebat-hebatnya seseorang, berlatih dan berlajar tak pernah kehabisan ruangnya.”
    “Tuhan memang tidak tidur, hanya saja aku kadang tidak tahu Dia bekerja karena caranya memang sangat misterius.”

    Sukses selalu mas…

  6. hehehhehe………

    presentasinya bli made lucu banget…. kayak lagi ngedongeng sama anak-anak Tk…

    btw… selamat untuk kemenangannya ya bli…

    sukses selalu buat beli made…!!

  7. Terharu…………………
    Moga tidak menjadikan sombong dan tetap membumi….
    Selamat mas Andi…….
    Itu baru potensi kecil yang ada pada diri sampeyan…..
    Saya yakin sampeyan punya potensi besar yang akan segera muncul………
    Terus di asah agar semakin mengkilap dan berkilau……
    Sekali lagi selamat……
    Bravo…..

  8. Selamat Ndi, aku ikut bangga… kelingan pas jaman kepungkur mbiyen, gaweane nyek-nyekan sa’iki wis dadi wong hebat, satrio piningit pilih tanding…. 😀
    Kapan syukurane..?

  9. Sejak pertama kali saya menerima paper Bli Andi, membacanya dan kemudian mencari juri spesialis yang cocok untuk menilanya, paper itu sudah menjadi favorit dalam hati saya. Pagi hari saat kami mengundi urutan presentasi, saya kaget mendengar Andi Arsana masih di pesawat!! Tentu saja langsung kami tentukan langsung nomor urut 6 dan setelah menghubungi para juri kami pun masih memberi kelonggaran bahwa presentasi masih bisa dilakukan setelah presentasi kelompok 1B. Mengapa??? Karena beberapa dari kami tahu bahwa presentasi ini harus kami saksikan. Terus terang saya terkesan dengan paper, presentasi dan terlebih dengan penulisnya. Pertemuan beberapa jam dengan Andi Arsana di Paris memberi kesan mendalam bagi saya. Saya mendapatkan pelajaran banyak dari pengamatan saya tentangnya, bukan hanya dari perbincangan singkat yang substansinya yang sebagian basa basi tapi juga dari cerita perjalanan panjangnya dan winning speechnya.
    Enchanté…

  10. Selamat ya Bli Andi…..
    membaca cerita di atas, sangat terharu dan penuh perjuangan… Tuhan pun tidak lupa untuk memberikan penghargaan senilai dengan perjuanganya…

    salam
    Fadil Fauzulhaq / Rusia

  11. Gak narsis mode on kok Andi…very inspiring…Dan bener bgt komen2 sblmnya, baca critanya Andi seakan2 aku ada di sana dan ikut degdegan.
    Jadi penasaran sama presentasinya…ada videonya gak? kalo boleh, share dong…kan bisa belajar banyak bgt dari Andi =)..Sekali lg selamat ya…bangga punya teman yg beprestasi dan full of inspiration =)

  12. Selamat, selamat dan selamat.

    Maaf, tidak sempat bawa ke tempat2 beli oleh2 yang lebih murah. Mudah2an Mas Miko menemukan tempat yang saya maksud untuk membelikan miniatur eiffel yang sangat2 murah.

  13. hai ndi, selamat atas keberhasilannya, semoga menjadi cambuk untuk menjadi lebih baik dan yang terbaik. saya sebagai sahabat terus bangga atas prestasi andi.

  14. bli andi. oleh2nya top markotop. baca ceritanya saja sudah melelahkan. apalagi perjalanannya beneran.

    ilerku ngeces pas baca tulisan ini. 😀

    *melanjutkan mimpi..

  15. Pinjem jempol suami..4 jempol deh buat Andi.
    Very inspiring story…udah dibikin buku aja lagi..
    Tambah sukses ya Ndi..Salam buat Asti.
    Oh ya..jgn kebanyakan seminar. Inget kasi adik buat
    (siapa nama anakmu) Mita ya..

  16. Slamat ndi, aku ikut bangga dengan perjalananmu..maaf baru sekarang tergerak baca2 pengalaman kawan yang studi di LN ini coz baru dapat kesempatan studi juga baru sekarang..perjalananmu akan jadi teladan buatku yang lebih tua ini..sukses selalu..

  17. Dear Lecturer,

    Kemanakah Saya harus membawa Akte kelahiran untuk diterjemahkan ke dalam bahs Inggris, dan terjemahan tersebut mendapatkan pengesahan/certified sehingga bisa saya kirimkan untuk melengkapi administrasi univ luar negeri. Mengingat Saya tinggal di daerah (luar jawa), Kira2 lembaga apa ya? atau mungkin di universitas ada yg memberikan jasa ini serta berapa budget yg dikeluarkan. Thx

    With Kind Regards,

    Student

    1. Dear Ardyansyah,

      Di tiap tempat pasti ada lembaga penerjemah resmi. Salah satu yang
      bisa dihubungi adalah lembaga bahasa di universitas. Jika di UGM, ada
      Pusat Pelatihan Bahasa. Mungkin di universitas di kota Anda ada
      lembaga atau pusat bahasanya.

      Jika di UGM, biaya menerjemahkan tidak lebih dari 50 ribu pada tahun
      2007. Sekarang mungkin tidak lebih dari 2 kali lipatnya. Saya kira di
      lembaga di daerah lain juga serupa.

      Bisa juga coba ke lembaga kursus bahasa inggris di kota Anda.

  18. Dear Pak Arsana,

    Oh seperti itu ya. sekalian saya mau tanya, perusahaan/lembaga apa ya kira2 di negeri ini yang memberikan grant (Full) untuk master di luar negeri sebab saat ini saya sudah diterima program master erasmus mundus QEM non beasiswa pantheon sorbonne dan Ca’Foscari Venice, sayangnya beasiswa blm saya dapatkan. Sudah banyak perusahaan yg saya hubungi tapi mereka tidak punya program tsb dan kebanyakan tidak membalas contact saya. Beasiswa OPEC yg sudah saya apply juga gak keluar2 pengumumannya yang seharusnya tanggal 14 June ini. Pihak EM QEM juga sudah mendesak kepastian saya. Jika Pak Arsana punya references akan sangat membantu sekali.

    Cordialement,

    Student

    1. Terus terang saya tidak tahu persis dan tidak berani menjamin. Coba kontak Sampoerna Foundation. Mereka biasanya menyediakan dana untuk belajar ke luar negeri. Good luck!

  19. tulisan yang menarik. membawa saya kembali ke “kompetisi” itu. sepakat dengan mas gan gan, memang mas andi pantas memperoleh hasil setelah jalan panjang berliku. semoga kedepan semakin sukses, dan kita bisa bertemu tidak hanya di kompetisi tetapi dimana saja. sukses selalu mas. kapan foto-foto lagi di eiffel?

  20. salam kenal bli Andi…jalan2 eh nyasar ke sini. Beruntungnya nyasar ke blog yg menarik & inspiratif..
    kalau boleh di share mas karya tulis yang bikin mas jadi juara ini. Saya jadi penasaran sekali pengen baca,hehehe..

    salam..

  21. Wah… kapan ya bisa seperti mas Andi… Semoga… Terimakasih ceritanya mas Andi… (saya tau cerita ini juga dari istri saya).

  22. sebagai juri saya cuma ingat selamatkan siti nurhaliza, hahahahaha lucu sekali,; tetapi analisa yg baik untuk kasus malaysia dan indonesia, bravo.

  23. wah, saya bener2 menikmati tulisan anda, pak. serasa baca novelnya Dan Brown 🙂 (atau jangan2 anda terinspirasi dri style-nya dia ya ? he..he..he..) tulisan anda sangat menginspirasi saya, pak.

    1. Terima kasih atas apresiasinya. Saya malah tidak baca Dan Brown tetapi saya tahu banyak yang suka. Saya mirip Dan Brown? Sungguh tersanjung, jika itu berarti kebaikan 🙂 Suksma.

      1. sama2, pak. thanks for keep on share with us. senang rasanya bisa lebih membuka mata. dan yang paling saya ingat dari seluruh postingan anda adalah tentang “tamparan2 untuk mahasiswa”. semoga hal itu semua bisa menjadi pengingat diri saya agar tetap “bergerak dan berkembang” 🙂

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s