Gayus yang [tak] jayus


Biawak di Bundeena

Di tahun 90an, istilah jayus sangat terkenal. Jayus digunakan untuk mengungkapkan satu siatuasi atau sifat yang maunya lucu tetapi tidak lucu, garing atau sebangsanya. Konon, menurut sebuah situs yang dipercaya banyak orang, Jayus adalah nama seorang anak sekolah di Jakarta yang karena kelakuannya akhirnya menjadi terkenal dan namanya menjadi kosakata baru. Jayus kabarnya memang tidak lucu, meskipun berusaha melucu.

Di awal tahun 2010, sekitar 20 tahun setelah Jayus mulai terkenal, ada Gayus yang tidak kalah terkenalnya. Ternyata sejarah tidak mengalami banyak perkembangan. Selama 20 tahun, hanya satu huruf yang berubah, J menjadi G. Menariknya, jika dibaca oleh penutur Bahasa Inggris, keduanya mungkin tidak terdengar berbeda. Sama-sama Jayus! Perkaranya, Gayus yang terkenal sekarang ini dalam konteks yang jauh lebih serius. Gayus, anak muda 30an tahun itu diduga memiliki uang yang sangat banyak dari proses yang tidak benar. Memiliki uang 25 miliar dalam usia yang sangat muda dan bekerja sebagai abdi negara golongan IIIA tentu dianggap tidak wajar.

Saya bukanlah seorang ahli ekonomi, tidak juga ahli pajak. Syukurnya, saya juga bukan ahli korupsi, apalagi pelaku korupsi. Mungkin tidak harus bangga dulu karena jangan-jangan saya tidak korupsi hanya gara-gara tidak punya kesempatan. Mudah-mudahan tidak demikian perkaranya. Hal sederhana yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang belum korupsi adalah berusaha keras dan berdoa dengan khusuk agar tidak terjebak korupsi. Itu saja.

Kembali kepada Gayus, bukankah kawan kita satu ini adalah anak muda?! Meminjam istilah seorang kawan, Gayus adalah generasi baru yang bahkan ketika reformasi mulai bergulir baru berusia belasan. Mungkin tokoh kita satu ini masih SMA ketika Pak Harto dipaksa turun dari kursi kepresidenan. Artinya apa? Artinya, Gayus adalah generasi masa kini yang dibentuk oleh lingkungan reformasi, lingkungan yang idealnya lebih baik dan lebih bergairah dalam melakukan hal-hal baik. Gayus, jika belajar dengan cara-cara yang baik, bahkan mungkin tidak terkontaminasi banyak ajaran yang konon buruk semasa orde baru. Mengapa sang muda itu berulah demikian, tidak ubahnya (atau bahkan lebih sadis) dibandingkan koruptor kelas kakap saat bangsa Indonesia masih pada ’masa kegelapan’?

Saya tidak pintar menganalisa ini dan tidak mampu menjawabnya. Jika memang benar Gayus telah berbuat jahat, saya sedih sekali. Jika bangsa ini sudah tidak bisa berharap kepada yang muda seperti Gayus dan tidak percaya kepada yang tua yang katanya sudah terlanjur rusak, kepada siapa kita harus berharap? Gayus tidak saja telah terlibat dalam penggelapan uang sebesar 25 miliar, dia juga telah menciderai mimpi banyak orang, termasuk orang-orang seperti saya yang berharap pada generasi baru.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Gayus yang [tak] jayus”

  1. kalau situasi kayak sekarang semuanya jadi jayus mas…he9

    Itu karena sifat manusia yang cenderung tidak puas dengan apa yang dia miliki. Sebagai pegawai ditjen pajak yang notabene telah mendapatkan remunerasi seharusnya mas gayus dapat menghidupkan dirinya dan keluarganya dengan berkecukupan.

    Apabila memang benar dia melakukan apa yang dituduhkan kepadanya itu benar2 keterlaluan, dimana masih banyak masyarakat indonesia yang membutuhkan uang tersebut untuk melangsungkan kehidupan…..

    Semoga kejadian mas gayus dapat membuka seluruh permainan mafia pajak dan reformasi birokrasi dapat berjalan dengan baik…..

    salam hangat

  2. Meminjam joke dari teman sekantor (pajak) : “Jika anda kurang dikenal di lingkungan Anda padahal Anda sudah bertahun-tahun ada di situ maka Anda KURANG GAUL, dan jika Anda sudah bekerja bertahun-tahun tapi tidak juga kaya maka Anda KURANG GAYUS”
    Sepertinya nanti kata Gayus menjadi menjadi idiom baru menggantikan popularitas Jayus (kasihan si Jayus kalah sama si Gayus).
    Memang keterlaluan si Gayus itu karena telah membuat masyarakat meng-“Gayus”-kan kita juga (nasib jadi pegawai pajak) sampai-sampai Institusi Pajak diusulkan utk dioutsoucing saja.
    Pak Andi mohon doanya supaya saya kuat utk tdk meng-Gayuskan cita-cita saya setinggi Gayus (kalo setinggi Pak Andi ga’ apa2x lah), lebih baik saya jadi Jayus saja di lingkungan para Gayus. Amin

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s