Mengunjungi Museum lewat Google Art Project

Sebenarnya ini bukan berita baru. Saya baru tertarik menuliskannya di blog ini untuk dokumentasi dan untuk Anda yang belum tahu. Kini kita bisa berkunjug ke banyak museum di seluruh dunia dan menikmati koleksinya secara virtual. Kita bisa seakan-akan masuk ke museum dan menjelajahi setiap sudut museum dan menikmati maha karya seni di dalamnya tanpa terganggu siapapun, tanpa perlu antri dan tanpa risau museum sebentar lagi akan tutup.

Pernahkan Anda membayangkan datang ke sebuah museum impian Anda dan menjadi satu-satunya pengunjung dengan waktu tak terbatas untuk menikmati setiap koleksi? Pernahkan membayangkan mengamati setiap lukisan atau patung atau benda seni bersejarah lainnya dari dekat seakan-akan Anda membawa kaca pembesar? Pernahkan membayangkan Anda menelusuri lorong-lorong museum sendirian dan berdiam diri selama mungkin tanpa ada yang mengganggu? Kini, semua itu bukan hanya angan-angan. Google Art Project telah membuat semua itu menjadi nyata. Google telah mengumpulkan koleksi puluhan jika tidak ratusan museum dan menyajikannya dengan pendekatan geospasial menggunakan teknologi yang sama dengan Google Street View. Anda bisa berkunjung ke sebuah museum dan merasakan pengalaman menikmati koleksinya seakan itu hal nyata. Berikut adalah contoh sebuah museum di Sydney: Art Gallery of New South Wales. Semua bisa dilihat di Google Art Project.

Berlin 2013: telur setengah matang

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Tanggal 7 Maret saya meninggalkan Berlin menuju tanah air. Siang menjelang sore itu saya mengajak Ayu makan siang terakhir. Meskipun hampir seminggu tinggal bersama, kami jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing. Saya ingin menyampaikan terima kasih saya yang tulus di hari terakhir. Saya sudah berjanji mengajak Ayu makan siang dan kali ini saya yang akan mentraktir. Dibandingkan segala kebaikan Ayu yang telah menyediakan tempat tinggal dan sarapan sehat setiap hari, traktiran itu adalah hal minimal yang bisa saya lakukan. Kami makan di sebuah restoran sushi.

Continue reading “Berlin 2013: telur setengah matang”

Berlin 2013: The Visa

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

Visa selalu menjadi urusan penting bagi orang Indonesia jika harus bepergian lintas negara. Kunjungan ke Berlin inipun tidak berbeda. Saya harus mendapatkan visa schengen yaitu visa yang memungkinkan saya memasuki Jerman dan beberapa negara lain yang tergabung dalam penjanjian Schengen dan Uni Eropa. Dengan mendapatkan Visa Schengen ini saya akan bebas berkeliaran di beberapa negara di Eropa tanpa perlu secara khusus mendapatkan visa dari masing-masing negara. Oleh karena itu juga, persetujuan Visa Schengen memerlukan waktu cukup lama karena tidak hanya berasal dari satu negara. Karena sedang di Australia, saya harus mendapatkan visa schengen dari perwakilan yang tepat di Australia.

Continue reading “Berlin 2013: The Visa”

Berlin 2013: The Invitation

Cerita ini bagian dari Berlin 2013

undanganberlin

Kedatangan saya ke Berlin tahun 2013 ini berawal dari sebuah undangan untuk berpatisipasi dalam symposium ketahanan bumi atau Earth Resilience yang kedua. Intinya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin berniat mengumpulkan pemikiran dan gagasan dari orang-orang Indonesia yang tersebar di seluruh dunia terkait dengan ketahanan bumi. Maka diadakanlah sebuah forum yang memungkinkan para ilmuwan Indonesia untuk betemu dan bercurah gagasan. Simposium Ketahanan Bumi ini berfungsi demikian.

Continue reading “Berlin 2013: The Invitation”

Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke

@SabangMeraukeID
@SabangMeraukeID

Ada satu pertanyaan penting yang belum bisa saya jawab dengan baik “bagaimana mewakili Indonesia di pentas dunia?” Jika harus mewakili Indonesia dengan sepotong baju, baju apa yang paling layak mencirikan Indonesia? Ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan dengan ratusan suku bangsa dan sekian banyak pakaian daerah di Indonesia. Ketika menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) University of Wollongong, saya selalu mengalami kesulitan ketika harus mengikuti pameran budaya antarbangsa. Kesulitan pertama adalah ketika ingin menampilkan PPIA agar tampil khas diantara organisasi pelajar dari berbagai negara. Memang tidak mudah menyajikan atribut yang menarik, khas dan gampang diingat karena keindahannya. Bendera Merah Putih tentu saja khas tetapi rasanya tidak cukup untuk meghadirkan semarak pesta antarbangsa yang menuntut kemeriahan lebih dari kibaran Sang Saka Merah Putih. Akhirnya, pilihan lebih sering jatuh pada atribut Bali yang memang sudah dikenal di Australia. Namun Bali bukanlah Indonesia. Bali, dengan segala keunikan dan keindahannya sesungguhnya tidak pernah bisa mewakili Indonesia secara utuh. Tidak heran jika seorang petugas bank Commonwealth di Wollongong bertanya polos tanpa dosa kepada kawan saya yang dari Bali ketika membuat rekening “are you actually from Bali or Indonesia?

Continue reading “Mengenal Indonesia dari Sabang sampai Merauke”

Bahasa

Di sebuah perjamuan makan malam di Canberra selepas konferensi, anak muda itu berkisah. Dia lahir di Malaysia, besar di Singapura dan mengenyam pendidikan tinggi di Australia. Seorang pemuda berwawasan global dan terekspos oleh geliat internasional. Dia cakap berbahasa Inggris, itu sudah pasti. Menariknya, saya bisa menyimak dengan jelas, cengkok Singlish terdengar cukup sering dari celotehnya.

Continue reading “Bahasa”

Mengingat 2012

2012

Ada satu kegagalan utama saya di tahun 2012 yaitu belum menyelesaikan sekolah S3 saya, tidak sesuai dengan yang seharusnya saya lakukan. Kata orang bijaksana, kalau ada kemauan pasti ada jalan, kalau tidak ada kemauan biasanya banyak alasan. Maka saya bisa menyampaikan 1001 alasan untuk membenarkan mengapa saya harus menunda penyelesaian studi S3 saya hingga tahun 2013 nanti. Meski demikian, di balik semua itu ada satu kebenaran yang tidak bisa dibantah: semua itu terjadi karena kelemahan saya sendiri. Maka resolusi paling utama saya untuk tahun 2013 adalah menyelesaikan S3. Semoga alam semesta bersekongkol membantu saya mewujudkan resolusi ini.

Dengan menjadikan kegagalan sebagai pelajaran dan motivasi, saya ingin mengenang sejenak apa yang terjadi tahun 2012 lalu. Dari berbagai kegagalan, ada juga keberhasilan. Dari sekian banyak hal yang tidak membanggakan, ada hal-hal yang menumbuhkan semangat. Tahun 2012 saya lewati dengan suka dan duka, seperti halnya tahun-tahun lainnya.

Continue reading “Mengingat 2012”

Ucapan Natal yang salah alamat?

http://pujo.web.id/

Sore tadi, saya menerima telepon dari seorang sahabat baik. Kami berbicara banyak hal yang penting dan tidak begitu penting. Selalu menyenangan berbicara dengan sahabat baik, apapun topiknya. Di ujung percakapan dia mengucapan “Selamat Natal” dengan sangat ringan tanpa beban. Sambil tertawa renyah sayapun membalas tidak kalah santainya “Selamat Natal juga”. Jika tidak dipikir serius, ucapan ini biasa saja. Dia jadi tidak biasa karena yang mengucapkan adalah seorag Muslim dan diucapan kepada seorang pemeluk Hindu. Tidak satupun dari kami merayakan Natal dalam konteks agama. Meski demikian kami tentu saja menikmati libur natal dan akhir tahun karena sama-sama berada di Australia.

Continue reading “Ucapan Natal yang salah alamat?”

Wawancara dengan RRI Pro 3 soal isu perbatasan

Tanggal 23 Desember 2012 saya diwawancarai oleh RRI Pro 3 terkait isu perbatasan Indonesia dengan negara tetangga. Wawancara berlangsung cukup lama dan disiaran secara nasional. Yang tertarik dan belum sempat menyimak, silakan nikmati rekaman berikut 🙂

Atau download file pertama dan file kedua (lanjutan) untuk dinikmati secara offline.

Selamat Hari Ibu

meme
Saya dan ibu (1995)

Dalam sebuah lokakarya kepemimpinan yang diselenggarakan di Kangaroo Valley, New South Wales, Australia setiap peserta diminta mempresentasikan seorang pemimpin yang menginspirasi hidupnya. Lokakarya itu diikuti oleh pemimpin dan calon pemimpin di Asia Pasifik. Kala itu pertengahan 2009, Obama sedang naik daun. Ada pikiran untuk mempresentasikan Obama karena memang menginspirasi hidup saya. Meski begitu saya urungkan karena saya duga akan ada terlalu banyak orang yang menjadikannya idola. Saya berpikir lama dan akhirnya menemukan tokoh yang saya yakin tepat mewakili seorang pemimpin yang menginspirasi hidup saya.

Di depan para peserta dari Asia Pasifik itu saya berdiri. Saya memegang sebuah poster ukuran sedang dengan gambar seorang perempuan berbusana sederhana. Dengan menatap para hadirin saya memulai presentasi itu dalam Bahasa Inggris.

“Pemimpin ini adalah seorang perempuan. Perempuan ini bukanlah siapa-siapa. Dia dilahirkan di sebuah tempat di pelosok dunia yang mungkin tak ketetahui oleh peradaban. Dia bukanlah seorang politikus, bukan pula tokoh masyarakat. Dia juga tidak terkenal. Dia adalah perempuan biasa tetapi dia menjadi batu karang yang menjaga ketegaran keluarganya. Dia adalah perempuan yang perkasa. Dia kuat dalam makna sebenarnya. Di tahun ‘70an dan awal 80an, dia bekerja di sebuah penambangan batu padas tradisional, di sebuah tempat yang mungkin bahkan tidak terlihat pada Google Earth edisi premium.

Continue reading “Selamat Hari Ibu”