Ibu Guru Kasih

Desa Tegaljadi, akhir dekade 1980an

Sepeda tua itu melaju dengan tersendat, dikayuh seorang anak kecil berusia belum sepuluh tahun. Keringatnya mengucur deras, tubuh kecilnya ditikam terik matahari. Panas tak membuatnya terhenti, atau mungkin bahkan tidak dirasakannya. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, dia sedang mengemban tugas mulai dari ibu gurunya. Ibu Kasih, nama beliau.

Si murid diminta untuk menyerakan kain hasil bordir kepada juragan border yang berlokasi cukup jauh dari sekolah. Ibu guru Kasih, selain menjalankan kewajiban dengan baik mengajar anak muridnya, juga berprofesi sebagai tukang bordir, membuat pola berenda warna warni pada kain yang kemudian dijadikan pakaian. Kala itu, bordir merupakan pekerjaan banyak perempuan muda dan dewasa di Desa Tegaljadi. Ibu Guru Kasih tidak berasal dari sana tetapi beliau melihat itu sebagai peluang dan memutuskan untuk menjadi salah satu pekerja lepas. Selepas mengajar, beliau biasanya membawa pulang beberapa orderan bordir untuk dikerjakan di rumah dan dikembalikan kepada juragan bordir setelah menyelesaikannya. Ibu Kasih menaiki sepeda tuanya dari desanya di Tatag ke Desa Tegaljadi setiap hari. Mungkin karena alasan ekonomi, Bu Kasih merasa perlu untuk mengerjakan order bordir selain mengajar sebagai guru di SD 1 Tegaljadi.

Continue reading “Ibu Guru Kasih”

Anak muda, pergilah! Tinggalkan Indonesia!

dusunAda seorang perempuan muda duduk dan sedang membaca buku. Dia takzim menyimak kata demi kata di buku itu dan sesekali melingkari lokasi-lokasi di peta yang menghiasi halaman yang sedang dibacanya dengan pena. Dari wajah dan buku yang dibaca, saya duga dia orang Jepang atau mungkin China. Entahlah. Saya duduk di sebelahnya, sebentar lagi pesawat akan terbang dari Jakarta ke Jogja. Perempuan muda itu menoleh sekilas, tersenyum sesaat lalu tenggelam lagi dalam bacaannya.

In a holiday?” tanya saya setelah mengencangkan sabuk pengaman. Saya tidak menoleh, hanya melirik saja, sekedar untuk memulai percakapan. Rasanya aneh jika tidak menyapa orang yang duduk di sebelah saya dalam sebuah perjalanan yang berlangsung satu jam. “Yes”, katanya sambil menengok. Mungkin dia tidak menyangka saya akan menyapanya. “I hope you enjoy Indonesia” kata saya singkat sambil tersenyum. “Yes” katanya singkat dan berhenti membaca. Dari jawabannya saya bisa tahu, Bahasa Inggrisnya tidak lancar tetapi dia berusaha dengan baik.

Continue reading “Anak muda, pergilah! Tinggalkan Indonesia!”

Kejutan untuk Ibu

memeIbu saya mudah kagum dengan orang pintar, sedikit tergagap-gagap dengan kemewahan dan mudah merasa lebih rendah dari orang lain. Sempat bersekolah hanya enam tahun dalam hidupnya, ibu saya hidup dalam kesederhanaan pikir, kata dan laku. Meski begitu, sosoknya penuh perhatian dan peduli pada kegiatan anaknya yang mungkin lebih sering tidak dipahaminya. Ibu saya sulit membayangkan bahwa ada orang yang bisa hidup dan menhidupi keluarganya hanya dari berbicara dan presentasi di depan orang, misalnya. Itu tidak masuk dalam kamus tipisnya yang minim pendidikan formal. Meski begitu, Ibu saya tidak pernah ketinggalan menunggu cerita saya tentang presentasi atau konferensi. Menceritakan konferensi tentang sengketa antarnegara di Laut China Selatan, misalnya, bukan sesuatu yang mudah, jika pendengarnya adalah ibu saya. Tak menyerah dengan ketidakterdidikan, Ibu saya gemar bertanya tentang Ambalat, Quick Count, Exit Poll atau tentang kata kata sulit seperti “check list“, “down payment” atau “marketing“. Kami sangat menikmati ngobrol hingga lama.

Dua minggu lalu beliau ke Jogja untuk menengok cucunya. Saya sibuk luar biasa, lebih dari biasanya. Di saat beliau ada di Jogja, saya harus tinggal ke Bandung, ke Magelang atau sekedar lembur di kampus sampai jam 11 malam. Parah nian saya menjadi anak. Namun begitulah kenyataannya. Hidup harus terus bergerak. Ibu saya menghibur “kamu kan memang sibuk sejak kecil dan kesibukan itu yang membuatmu merasa hidup”. Beliau tahu betul anaknya. Pernah ketika SMA, saat menjadi ketua OSIS, ibu saya berkelakar “kaya’ dapat gaji sejuta saja” saat menyaksikan anaknya jarang pulang. Sejuta memang jumlah yang sangat besar. Tidak pernah ada larangan, tidak pernah ada arahan harus begini atau begitu. Yang ada hanya satu: kepercayaan.

Continue reading “Kejutan untuk Ibu”

Kuliah Online yang Mudah, Murah, dan Wah

Saya sudah sering menceritakan soal kuliah online di blog ini. Saya pernah memberi kuliah online di ITS, di Paser, di Sidoarjo, di Papua dan banyak lagi. Kali ini agak berbeda, saya meminta orang lain untuk memberi kuliah online di kelas saya di Jogja. Namanya Imam Priambodo, anak muda lulusan Geodesi UNDIP yang bekerja di Fugro, sebuah perusahaan yang cukup mentereng namanya di bidang offshore. Imam saya minta memberikan materi tekait surveying yang dilakukan untuk pekerjaan konstruksi offshore. Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan materi terkait prosedur pemindahan rig atau rig move.

Continue reading “Kuliah Online yang Mudah, Murah, dan Wah”

Tips Wawancara: Membangun Empati

dari: brantar.blogspot.com

Ada seorang perempuan muda masuk ruangan dan saya sudah menunggu dengan siap. Saya bertugas mewawancarai gadis itu untuk seleksi beasiswa di sebuah kabupaten di Kalimantan Timur. Saya mengamati dia berjalan agak cepat ke arah saya dan langsung duduk di sebuah kursi, tepat di depan meja. Kami berhadap-hadapan dan siap melakukan peran masing-masing.

Berbeda dengan peserta wawancara lainnya, perempuan muda ini memberi kesan yang tidak biasa. Jika yang lainnya cenderung hormat, sopan dan sangat menjaga sikap, perempuan ini terkesan agoran. Ada hal yang melampaui percaya diri sehingga yang muncul adalah kesombongan. Setidaknya itu kesan yang saya tangkap. Cara dia memandang, cara dia tersenyum dan caranya duduk menggambarkan bahwa dengan sengaja dia memancarkan energi yang besar dan kuat bahwa dia ada di sana dengan niat untuk mengalahkan. Continue reading “Tips Wawancara: Membangun Empati”

Tips Menjadi Moderator: Improvisasi di Tengah Jalan

Ada kalanya kita tidak siap untuk melakukan suatu tugas. Alasannya bisa banyak. Mungkin karena tidak punya waktu mempersiapkan, karena tugas itu memang bukan bidang keahlian kita atau semata mata karena kita pemalas. Saya akan ceritakan pengalaman saat menjadi moderator sebuah forum dan sebenarnya saya tidak siap sehingga harus berimprovisasi.

Saya pernah menulis di blog ini tentang tips menjadi moderator. Bagi saya, sukses itu perlu persiapan. Ini tidak bisa ditawar. Maka dari itu, ada perasaan bersalaah saat harus tampil tanpa persiapan, apalagi tampil sebagai moderator di forum internasional. Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma UGM meminta saya menjadi moderator bagi tiga ilmuwan keren dengan topik Weda dan Ilmu Pengetahuan. Ini bukan topik sehari hari yang saya geluti tetapi menantang dan keinginan untuk belajar begitu besar sehingga saya iyakan. Malang sekali, saya dihantam berbagai kesibukan lain sehingga tidak sempat melakukan persiapan semestinya. Jika Anda membaca tulisan saya sebelumnya, Anda akan paham persiapan apa yang saya maksudkan.

Continue reading “Tips Menjadi Moderator: Improvisasi di Tengah Jalan”

Pelajaran di Kursi 45 dari Anies Baswedan: Obyektif vs Netral

Bersama Anies Baswedan
Bersama Anies Baswedan

Badan masih terasa lelah, kantuk belum pergi sempurna ketika saya melangkah menuju pesawat Garuda yang akan menerbangkan saya dari Jogja ke Jakarta. Dari kejauhan nampak sesosok tubuh yang tak asing. Mas Anies Baswedan, saya segera mengenalinya. Beliau mendekati tangga dan termasuk dalam kelompok penumpang terakhir. Saya menyusul di belakangnya. “Mas Anies”, demikian saya sapa dan beliau menoleh lalu memberi sambutan hangat khas seorang Anies Baswedan. Jabatan yang erat bertenaga, pandangan yang antusias menatap mata dan air muka yang sumringah bukan buatan. Tentu bukan karena saya yang istimewa tetapi karena memang demikianlah Anies Baswedan. Seorang pemimpin alami yang karakternya memancar dari hal-hal kecil seperti itu. “Apa kabar Mas Andi?” sapanya serius dengan nada antusias.

Kami ternyata duduk di deretan kursi yang sama, bernomor 45, hanya beda lajur. Kami sama-sama di lorong sehingga cukup dekat untuk ngobrol tetapi masih cukup jauh untuk menjaga interaksi yang elegan. Di sepanjang jalan menuju kursi kami, banyak sekali yang menyapa Mas Anies. Tentu sulit mencari orang Indonesia, yang biasa naik Garuda, yang tidak mengenal Anies Baswedan. Mas Anies menyalami dan membalas sapaan banyak orang dengan alami. Saya menikmati suasana itu dari belakang. Hangat, antusias dan sederhana. Itulah tiga kata yang menggambarkan lelaki ini.

Continue reading “Pelajaran di Kursi 45 dari Anies Baswedan: Obyektif vs Netral”

Salak

http://intisari-online.com/

Kami sedang menikmati Bulan yang bundar sempurna, menggantung rendah, di atas Prambanan. Sinarnya menghasilkan siluet bangunan candi yang cantik. Seorang perempuan berambut pirang asyik berceloteh. Tak lain, dia adalah Pro Vice Chancellor Flinders University, Australia yang menangani kerjasama internasional. Kunjungannya ke Indonesia untuk menjajagi kerjasama dengan UGM dan saya bertugas menyambutnya. Malam itu, kami menjamu mereka di Prambanan. Sesaat lagi, kami akan menikmati Sendratari Ramayana.

Sejurus kemudian, saya perhatikan perempuan itu datang membawa sebiji salak dan dua bulir pisang. Buah tropis menjadi menu utama desert malam itu. Saya memperhatikannya karena ada yang aneh. “How can I” tanyanya. Dia bahkan tidak melanjutkan pertanyaannya apakah dia harus mengupas salak itu atau langsung memakannya. Dia sama sekali tidak paham bagaimana cara makan salak. Dengan sabar, saya mengajarinya. Tentu saja saya tidak perlu memegang tangannya ketika dia harus mengupas kulit salak itu. Kalaupun demikian, tentu tidak akan muncul dalam tulisan ini. Dengan telaten dia memperhatikan meskipun ketika praktik dia kerepotan. Mengupas salak adalah pekerjaan sulit. Baginya demikian.

Continue reading “Salak”

Lelaki Pengelana

Aku lelaki pengelana yang bepergian tidak saja dari satu tempat ke tempat lain tetapi juga dari satu peradaban ke peradaban berikutnya. Aku menuai badai yang menerpa layarku untuk merelakan diri terombang ambing di satu titik Samudera tak bertuan. Aku menyisir pantai yang lengang, melacak jejak kebijaksanaan abadi seraya mengabadikan tinggalan tinggalan yang gugup nan rapuh.

Aku berkelana dipandu bintang, disemangati angin yang bergemuruh dan dilecut terik matahari yang menikam kemalasan. Aku mandi tetasan air yang mengalir dari gemercik suara yang berasal dari senda gurau para cendikia. Aku berbekal tongkat para santri yang mudah lantak dan luluh tapi berjaya tanpa keluh meski terik tak kunjung teduh. Aku berjalan di kesunyian, saat sendiri dan sepi menjadi satu satunya kebisingan. Saat senyap menjadi perdebatan yang paling hakiki, bahwa lawan sejati adalah keyakinan akan senyap yang penuh cerita.

Aku berkelana, tidak untuk meninggalkan kepatutan tetapi untuk berburu satu wasiat nan waskita. Aku meniti pematang yang gelap atau lorong lorong yang berdebu dan kehilangan gairah, bukan untuk menyembunyikan diri tetapi untuk menemukan keniscayaan yang lama hilang. Di suatu titik waktu aku kembali. Kembali pada gairah cemara atau aroma pagi yang basah di sebuah kita yang kerap gelisah. Dan tak ada satupun yang lebih melenakan, dari senyum seorang gadis kecil yang berlari dan menghantamku tanpa ampun dengan tumpukan rindu yang sengaja tak dipatut patutkannya.

Jangan Terlalu Berharap, Jokowi Pasti Mengecewakan!

http://www.jpnn.com/

Satu pertanyaan: “mungkinkah ada seorang umat manusia yang bisa memuaskan seperempat miliar manusia sekaligus” Jawabannya pasti: TIDAK. Jokowi, atau siapapun presidennya, tidak akan bisa memuaskan semua orang Indonesia. Semua presiden pasti [pernah] mengecewakan.

Saya diskusi agak serius dengan beberapa kawan asal Malaysia, Singapura, Myanmar dan Amerika Serikat di sela sela sebuah forum di Kuala Lumpur beberapa hari lalu. Pertanyaan saya, “bagaimana pandangan Anda terhadap Indonesia dan presidennya” Jawabannya seragam, Indonesia akan lebih baik dengan presiden baru. Mungkin klise tetapi jawaban mereka cukup analitis. Singkatnya, mereka melihat harapan yang begitu besar. Seorang kawan dari Kuala Lumpur dengan tegas mengatakan “Indonesia akan segera meninggalkan Malaysia jika kami tidak kerja keras”. Mungkin ini berlebihan tetapi sepertinya dia tidak sedang berbohong.

Continue reading “Jangan Terlalu Berharap, Jokowi Pasti Mengecewakan!”