Tidak semua orang bisa lucu seperti seorang standup comedian, maka kita tidak akan belajar menjadi lucu tetapi belajar presentasi. Satu ilmu standup comedy yang bisa diterapkan oleh seorang presenter adalah kerseriusan dalam menghafalkan materi. Anda pernah melihat standup comedian tampil begitu lucu dan terkesan alami penuh improvisasi? Jangan “tertipu”, 90% dari standup comedy adalah hasil skenario dan hanya 10 persen hasil improvisasi. Hal ini ditegaskan comic Indonesia seperti Ernest Prakasa dan Pandji Pragiwaksono, dua comic favorit saya. Jika Anda melihat penampilan seorang comic sekali saja, mungkin sulit untuk melihat bahwa leluconnya adalah hasil menghafalkan naskah karena nampak begitu alami. Namun jika Anda melihat lebih dari satu video mereka, Anda akan setuju dengan saya bahwa standup comedy adalah hasil belajar keras, hasil menghafalkan sebuah naskah seperti naskah film yang lengkap dengan titik, koma, intonasi, dan gerak tubuh.
Category: Inspirasi
Hebat karena diremehkan
Saya pernah menonton acara penjaringan bakat seperti Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, X Factor, atau acara serupa versi luar negeri. Yang paling saya suka adalah saat audisi pertama, ketika para kandidat memperlihatkan bakatnya untuk pertama kali di depan juri dan penonton. Suasana dan kesan dramatis akan muncul kalau ada kandidat yang mengejutkan penampilannya. Kandidat seperti ini biasanya istimewa karena ternyata penampilannya begitu hebat, jauh lebih hebat dari dugaan penonton dan juri.
Lelucon cerdas ala Ernest Prakasa
Belakangan ini saya cukup sering menikmati Standup Comedy yang dibawakan oleh comic (standup comedian) Indonesia. Saya selalu percaya bahwa melucu sendiri tanpa lawan interaksi itu paling sulit. Perlu kemampuan luar biasa untuk menjadi lucu dengan monolog dan menggerakkan orang untuk tertawa dan terlibat. Indonesia sudah punya cukup banyak comic yang menurut saya bagus. Ernest Prakasa, selain Pandji adalah salah satu yang saya suka. Kedua orang ini agak berbeda dengan beberapa orang lain yang saya tahu karena leluconya mengandung muatan pembelajaran dan nilai kebangsaan yang cukup tinggi.
Mari Keliling Dunia

Tembuslah kabut yang membuatmu menggigil di jalanan Antwepen dan masuklah ke stasiun kereta itu. Kita melaju menembus lansekap Eropa yang seperti perawan menuju warna-warni Luxembourg yang berhias pepohonan di musim gugur. Kita akan duduk sejenak membiarkan ujung jari kaki menyentuh air di sungai kecil di tengah belantara yang bersahabat lalu beranjak duduk di sebuah kursi untuk menikmati perbekalan. Di sekeliling kita warna warni dunia yang terpantul lewat daun-daun yang ikhlas bergururan. Terpejamlah dan menyatu dengan keberadaan.
Esok hari kita jelajahi Brussels yang mentereng, menapaki sebuah jalanan sempit yang selalu penuh sesak dengan umat manusia. Mereka terpesona dengan patung bayi yang menyemburkan urinnya di tepi sebuah perempatan. Dan heranlah, mengapa patug kecil nan sederhana itu menggetarkan orang-orang meski dia tidak ada apa-apanya dengan Garuda Wisnu Kencana yang megah di Selatan Bali. Tapi kawan, di situlah kamu akan mengerti bahwa ukuran itu bukan segalanya. Patung kecil itu telah menyerap sejarah berabad lamanya dan kini memancarkannya dalam bentuk wibawa yang memukau orang-orang seperti kita.
Kita akan masuki sebuah kasino megah Monte Carlo, di Monaco bukan untuk berjudi tetapi untuk menikmati imajinasi yg dituangkan dalam peradaban kota. Kita menyusuri jalan-jalan yang sekali waktu digunakan untuk Formula Satu lalu menikmati kapal-kapal mewah yang berbaris rapi di pelabuhan itu. Pemiliknya adalah kaum borjuis yang kekurangan tempat menyimpan uangnya maka mereka simpan di kapal-kapal itu, yang harganya lebih mahal dari rumah yang mereka tinggali. Jika lapar dan rindu santapan tanah air, berjalanlah selama tujuh menit maka kita akan tiba di sebuah rumah makan Asia di Perancis. Garis batas antarnegara tidak terasa, tidak ada ada yang pusing memeriksa visa dan passport kita. Atau naiklah kereta dan bercengkramalah dengan seorang gadis yang tinggal di Prancis dan bekerja di Monaco lalu 17 menit kemudian kita sudah minum kopi di sebuah kafe di Italia. Lihatlah pemuda tampan itu, terampil membuat kopi dan gadis cantik itu akan menghidangkannya untuk kita. Adakah yang lebih berkesan dari secangkir kopi Italia yang dinikmati di sebuah kafe di Ventimiglia?
Kalau saja Indonesia punya akun Twitter
- Tweeps, terima kasih atas ucapan selamat ulang tahunnya. Maaf tidak bisa mention semua, banyak banget soalnya.
- @MahasiswaINA thanks bro! Jgn lupa ASEAN Community nunggu. Selain sibuk demo SPP, km harus leading gerakan mahasiswa ASEAN ya 🙂
- @MhsINAdiLN ok sob, aku gak takut kok sama Malaysia asalkan kamu bisa adu argumentasi menyakinkan di depan para bule temen sekelasmu
- @DosenINA tentu aku akan kalahkan Singapura kl kamu sudah bisa bikin publikasi ilmiah lebih banyak/bagus dari dosen mereka
- Aku bangga kok sama kamu, biarpun tulisanmu sulit dibaca RT @RemajaALAY: nGg4 B4n66a jd 0rG iNd0n351a !!!
- @PengusahaINA makasih ya, pajaknya sudah aku terima. Keren, tanpa rekayasa!
- @MahasiswaINA aku sih nggak takut sama Amerika. Yang penting kamunya gak takut bersaing lomba karya ilmiah sama mahasiswa @Harvard
- @PencintaBeritaBuruk jangan lupa, GDPku nomor 16 di dunia, nomor 5 di Asia dan nomor 1 di Asia tenggara. Itu fakta!
- @MahasiswaINA ya setuju aku harus berantas korupsi dan kamu jangan titip absen lagi untuk demo menentang korupsi ya.
- @PremanOnline sorry sob, urusanku bukan sekedar takut/tidak takut sama bangsa lain tapi turut menjaga ketertiban dunia 🙂
- @LSMVokal ya aku pasti peduli sama Mesir tapi anak tetanngga yang putus sekolah saat ini sangat penting untuk kamu urusin jg
- @SopirAngkot ok, aku minta bos kamu naikin gaji tapi nyetirnya jangan ugal-ugalan lagi ya.
- @TukangBecak aku nggak akan nipu asalkan kamu gak nipu wisatawan asing yg tumben naik becak. Janji ya sob 🙂
- @PetaniINA aku stabilkan harga hasil panen tapi kamu harus nurut apa kata PPL soal urutan tanam padi-padi-palawija.
- @DosenINA aku akan lunasi janji kemerdekaan, seperti kamu yang selalu datang tepat waktu dan tidak ninggalkan mahasiswa karena proyek.
- @MusisiINA jangan Cuma minta aku ga takut sama Amerika Bro. Kamu berani bersaing sama musisi Amerika nggak?
- @BoyBand dulu Bung Karno bilang, dia perlu 10 pemuda untuk mengguncang dunia. Aku yakin, pemuda seperti kamu maksudnya 🙂
- @OrangTua terima kasih telah mengajarkan anak-anak untuk bergaul tanpa membedakan suku dan daerah
- @PemukaAgama terima kasih karena telah mengajarkan umatmu untuk tidak membenci umat agama lain
- @Rakyat terima kasih tlh mengerjakan kewajibanmu dan paham bahwa tdk semua urusanmu adalah tanggung jawabku. Merdeka!
Diaspora Indonesia: Nasionalisme dari Negeri Seberang

Dunia kini adalah sebuah tempat yang berbeda dibandingkan satu atau dua dekade lalu. Kita hidup di era media sosial, yang dengannya kita bisa bertegur sapa dengan seorang kawan di Russia sekaligus bergurau dengan sahabat di Afrika Selatan di menit yang sama. Kita bisa menghibur seorang sahabat di New York yang sedang sedih sambil tetap mengawasi anak yang sedang membuat PR di Jogja tanpa beranjak dari sofa kita di Sydney. Persepsi kita tentang ruang dan waktu begitu berbeda. Kita hidup di masa ketika ‘passport’ dengan jumlah pemilik terbanyak adalah akun Facebook dan tempat ngerumpi paling asik bukan lagi cafe tetapi Twitter. Rupanya inilah yang dimaksud dengan “borderless world” oleh Kenichi Omahe atau “the world is flat” oleh Thomas Friedman.
Continue reading “Diaspora Indonesia: Nasionalisme dari Negeri Seberang”
Dari Hati ke Hati dengan Profesor Hasjim Djalal

Sydney, 13 Agustus 2013
Hari beranjak sore, matahari masih terik menikam wajah kami yang duduk di bangku dengan satu meja di depan sebuah cafe. Saya bisa melihat matanya memecing-micing tanda silau, tetapi tidak nampak keluhan. Dingin winter yang masih terasa membuat terik matahari sore itu seperti penawar yang tepat kadarnya. Tidak jauh dari situ, saya lihat atap Sydney Opera House yang memantulkan sinar matahari begitu menawan. Sesekali burung camar melintas, hinggap di pagar besi tidak jauh dari kami. Di sisi kiri agak jauh, terlihat lengkungan Sydney Harbour Bridge yang khas itu. Sore ini saya ditemani oleh Profesor Hasjim Djalal. Mereka yang menekuni hukum laut dan belajar diplomasi Indonesia, tentu mengenal siapa beliau. Lelaki inilah, berasama Prof. Mochtar Kusumaatmadja, yang menjadi pahlawan Indonesia saat memperjuangkan status Indonesia sebagai negara kepulauan. Karena kegigihannya saat merundingkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS), laut di antara pulau-pulau Indonesia yang tadinya adalah laut bebas, akhirnya diakui dunia sebagai bagian dari kedaulatan Indonesia.
Sore begitu istimewa, saya berkesempatan berbincang-bincang dari hati ke hati dengan Pak Hasjim, begitu kami memanggil beliau, selepas acara lokakarya terkait Laut China Selatan. Pak Hasjim diundang oleh Australian Strategic Policy Institute (ASPI) untuk berbicara tentang confidence building measures di Laut China Selatan. Beliau adalah orang yang tepat untuk berbicara hal ini karena merupakan penggagas usaha mediasi konflik di Laut China Selatan. Selepas acara resmi, beliau berkenan berbincang-bincang tentang banyak hal di luar hukum laut. Meskipun sudah berkali-kali bertemu dan berbicara dengan Pak Hasjim, baru kali ini saya merasa begitu dekat dan bisa berbicara dari hati ke hati. Tadinya kami berbicara tentang hukum laut, batas maritim, sejarah perundingan dengan negara tetangga dan lain-lain, akhirnya topik melebar ke mana-mana dan justru itulah yang mengesankan.
Continue reading “Dari Hati ke Hati dengan Profesor Hasjim Djalal”
Mengakui Kebaikan, Menandai Kesalahan
Pagi itu saya sedang mengantri di kantor post Kingsford, Sydney untuk mengambil paket kiriman. Rumah sedang kosong ketika paket itu diantar ke rumah sehingga saya mendapat pesan untuk mengambilnya di kantor pos. Tepat ketika saya maju karena tiba giliran untuk dilayani, seorang lelaki berusia senja menepuk bahu saya dan dia meminta dilayani lebih dulu. Hal ini tidak biasa terjadi di Australia karena umumnya orang-orang mengantri dengan tertib. Tidak terbiasa dengan kejadian demikian, saya terperangah bengong. Tidak hanya saya, petugas kantor pos juga terlihat terkejut. Secara spontan perempuan muda, petugas itu, hendak mengingatkan si bapak tua untuk membiarkan saya dilayani terlebih dahulu. Melihat itu, saya memberi isyarat agar lelaki itu dilayani duluan. “It’s okay!” kata saya tersenyum untuk meyakinkan bahwa saya tidak apa-apa. Dari gaya bicaranya, saya duga lelaki tua itu seorang imigran. Dari wajahnya, kemungkinan besar dia berasal dari dari Eropa Timur.
Kolak untuk Buka Puasa

Saya sedang di ruang kerja di kampus Teknik Geodesi UGM sore itu di tahun 2006. Sayup-sayup saya dengar kawan-kawan mahasiswa sedang berkegiatan di luar. Jika tidak salah memahami, mereka sedang melakukan kajian-kajian keagamaan. Kala itu Bulan Ramadhan, para mahasiswa giat mendalami agama sebelum berbuka. Tidak ingin mengganggu mereka, saya tidak keluar ruangan dan masih setia di depan komputer sambil menyelesaikan beberapa hal yang masih tertunda.
Sejurus kemudian saya dengar lantunan adzan. Sesuatu yang sudah lama tidak terdengar karena dua tahun sebelumnya saya meninggalkan Jogja, ke suatu tempat yang tidak ada suara adzan. Lantunan adzan itu mengingatkan saya akan kenangan lama ketika datang ke Jogja pertama kali di tahun 1996 untuk menuntut ilmu di UGM. Suara adzan yang terdengar di setiap tempat di Jogja ketika itu mejadi salah satu penanda saya telah memasuki satu peradaban baru. Teman-teman muslim mungkin tidak merasakan betapa berkesannya suara adzan itu bagi saya. Sesuatu yang asing dengan pesan yang kuat. Pesan universal tentang ajakan untuk menghadap Sang Pencipta, apapun agama yang dipeluk si pendengarnya.
Diingatkan sopir taxi

Beberapa waktu lalu saya menulis sebuah pengalaman yang tidak terlalu baik dengan seorang sopir taxi di Sungapura. Rupanya Tuhan ingin memberi saya pengalaman lengkap selama berada di Singapura beberapa hari terutama yang terkait dengan sopir taxi. Di hari terakhir saya ada di Singapura, saya berangkat dari penginapan ke Bandara Changi dengan taxi. Saat itu hampir jam empat pagi dan hari masih gelap ketika saya menghentikan sebuah taxi di depan penginapan. Dengan sigap saya bilang “airport please” ketika memasuki taxi. Sopir taxi menyapa ramah, “good morning, Sir!” ketika saya mulai duduk. Sayapun membalas sapaan itu dengan baik. “Morning flight Sir?” tanyanya sopan dan saya iyakan. Yang menarik adalah pertanyaan dia selanjutnya, tepat saat mobil mulai bergerak. “Make sure you don’t forget your paspor Sir. Have you got it?” katanya bertanya setengah mengingatkan. Mendengar pertanyaan itu, spontan tangan saya meraba tas dan menemukan paspor ada di tempatnya. “Oh thank you, I got it” kata saya sambil tersenyum dan berterima kasih.
Saya rasa pertanyaan singkat dan sederhana dari sopir taxi ini begitu penting. Dia sesungguhnya tidak punya kepentingan apakah saya sudah membawa paspor atau tidak karena urusan saya dengan dia hanyalah perjalanan dari penginapan ke bandara. Perihal paspor saya ketinggalan atau tidak, itu tidak ada kaitanya dengan keuntungan atau kerugian baginya. Meski tidak terkait dengan dirinya langsung, sopir taxi itu memilih untuk melakukan kebaikan kecil dengan sekedar bertanya atau mengingatkan. Meskipun itu tidak penting bagi dia, bagi saya, pertanyaan itu bisa bernilai ‘satu nyawa’. Dengan melemparkan pertayaan sederhana itu dia telah menyelamatkan calon penumpangnya dari kemungkinan ketinggalan pesawat atau bahkan tidak diperkenankan masuk bandar udara.
