Menjadi orang Indonesia itu sangat menarik. Salah satu yang membuatnya menarik adalah ketika harus melakukan perjalanan ke luar negeri. Perjalanan ini selalu dilengkapi cerita seru karena harus mengurus visa. Indonesia bisa ke luar negeri tanpa visa hanya jika ke sembilan negara ASEAN. Selain itu, semua memerlukan visa. Maka dari itu, selalu ada cerita menarik yang mungkin tidak dialami oleh orang-orang dari negara lain, terutama yang lebih maju. Supervisor saya yang orang Inggris bahkan tidak punya pengalaman mengurus visa Amerika dan Eropa, misalnya. Kasihan sekali dia. Itulah sebabnya saya katakan menjadi orang Indonesia itu sangat menarik. Kita orang-orang yang gesit dan cerdas, bisa mengurus sesuatu yang orang lain bahkan tidak pernah pikirkan.
Saya menutup tahun 2012 ini dengan sebuah perjalanan ke New York. Saya diundang oleh United Nations (PBB) sebagai alumni UN-Nippon Foundation Fellowship untuk menghadiri pertemuan alumni dan perayaan 30 tahun Konvensi PBB tentang Hukum Laut atau UNCLOS. Sebuah kesempatan istimewa tentunya.
Saya akan ceritaan di posting berbeda tentang undangan yang saya terima lalu proses aplikasi visa yang cukup seru. Saya juga kisahkan perjalanan saya yang mencapai lebih dari 20 jam penerbangan dari Sydney ke New York. Saya tinggal di Queens, New York, di tempat yang sama dengan yang saya tinggali lima tahun lalu ketika saya menjalani program UN-Nippon Foundation Fellowship. New York masih sama, hingar bingar dan bergairah. Masih terbayang saya menyusuri Eliot Avenue di Queens liam tahun lalu dan kini saya melakukannya lagi.
Agenda utama adalah mengikuti Sidang Umum PBB memperingati ulang tahun UNCLOS ke-30 dan pertemuan alumni. Kedua acara itu memberi saya pengalaman berharga salama di New York selain karena memberi pengetahuan juga memberi kesempatan berjejaring dengan para intelektual dunia di bidang kelautan dan hukum laut. Selain acara serius, tentu saja saya menikmati hingar bingar Manhattan dan romantisnya musim dingin yang bernuansa natal. Hidup di Manhattan memang mirip dengan menjadi tokoh dalam film Hollywood. Saya juga mencatat pelajaran-pelajarn kecil yang tercecer di sepanjang perjalanan. Selamat menikmati kisah saya.
Aku ingin mengajakmu serta, menyusuri Eliot Avenue yang dipagari pepohonan meranggas yang menggigil karena dingin. Lalu kita hangatkan beku dengan bersenda gurau sambil memandangi bajing yang bertengger di ranting dan dahan tak berdaun karena tirani musim dingin yang kejam. Aku ingin mengajakmu serta.
Silakan langsung lompat ke inti diskusi jika tidak ingin membaca rangkaian cerita sebelum diskusi.
Pak Mahfud dan moderatornya 🙂
Saya mendapat kesempatan berharga, diminta menjadi moderator sebuah diskusi istimewa dengan Profesor Mahfud MD. Nadia, ketua PPIA NSW tiba-tiba menghubungi saya lewat email menanyakan kesediaan untuk acara tersebut. Tentu saja tidak membutuhkan waktu lebih dari semenit untuk mengatakan ‘ya’, tawaran itupun saya terima dengan senang hati, meski sedikit grogi.
Stasiun North Wollongong, 24 November 2012 @ 7.40 pagi
Saya telah berdiri di pinggir rel kereta mengenaan batik lengan pendek. Hari ini adalah hari yang ditunggu, saya akan meluncur ke Sydney melakukan tugas istimewa mengantarkan diskusi bersama tokoh terkemuka Indonesia: Mahfud MD di Konsulat Jenderal RI di Sydney. Diskusi memang belum akan dimulai sebelum jam 11.00 tetapi jarak Wollongong ke Sydney ditempuh setidaknya 1,5 jam dengan kereta dan perjalanan dari Stasiun Central ke KJRI memakan waktu minimal setengah jam. Sementara itu, frekuensi jadwal kereta dari Wollongong ke Sydney adalah sejam sekali. Saya tidak boleh terlambat.
Sore ini saya mendengar dari seorang kawan bahwa Bali sedang dilanda gempa. Langsung saya telpon Ibu dan Bapak, ternyata mereka baik-baik saja. Seperti yang sudah-sudah mereka bahkan tidak tahu apapun tentang gempa itu. Syukurlah, artinya merea selamat dari bahaya. Terima kasih Tuhan. Ini adalah rincian gempa seperti yang dilansir oleh USGS, saya tampilkan dalam bentuk peta. Silakan klik ikon merah untuk mengetahui informasi rinci tentang gempa yang berkekuatan 5,4 skala richter.
Saya pernah menulis “Marketing in Venus” di blog ini tentang bagaimana sesuatu atau seseorang menjadi ‘laku’ bukan karena fungsi atau keahlian utamanya tetapi karena fungsi tambahannya. Saya mengalami hal ini berkali-kali, saya yakin Andapun demikian.
Sejak tahun 2011 saya secara resemi dilibatkan dalam revisi sebuah dokumen penting dalam bidang hukum laut dan terutama batas maritim. Dokumen itu bernama TALOS, sebuah buku manual yang menjelaskan aspek teknis dari Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Singkatnya, UNCLOS, sebagai produk hukum, dipenuhi muatan teknis yang tidak mudah dipahami oleh orang non teknis. Aspek teknis ini begitu rumit, sementara sebuah konvensi bahkan tidak memuat ilustrasi atau penjelasan tambahan. Agar pemahaman terhadap aspek teknis ini bisa berjalan baik maka sekelompok pakar teknis (geodesi, hidrografi) berinisiatif membuat buku manual yang menjelaskan. Jadi, TALOS adalah ‘suplemen’ UNCLOS yang menjelaskan segala hal teknis yang ada di UNCLOS.
Belakangan ini saya cukup sering menonton video yang diunggah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Youtube. Selama sekian tahun ada Youtube, baru kali ini saya betah menonton video yang ditayangkan oleh lembaga pemerintah. Ketertarikan saya melihat video PemProv DKI setara dengan antusiasme saya menyaksikan video-video Obama di Gedung Putih. Menurut saya, Pemprov DKI yang digawangi Jokowi dan Ahok telah berhasil membangun antusiasme publik. Masyarakat punya ketertarikan tinggi terhadap apa yang dilakukan oleh Gubernur dan Wagub Jakarta.
Dengan menayangkan video di Youtube, sesungguhnya Gubernur dan Wagub baru sedang berupaya ‘bersekongkol’ dengan rakyat. Sebuah video pelaksanaan rapat dengan PU yang ditayangkan di bawah ini misalnya, secara transparan menunjukkan pemikiran dan sikap tegas Gubernur dan Wagub tentang pembelaannya terhadap rakyat. Semua transparan, semua terbuka. Dengan begini, rakyat tahu persis apa yang terjadi. Dengan kata lain, rakyat diajak ikut serta mengawasi pemerintah dan terutama mengawasi sikap dan perilaku birokrat. Ini kelak juga akan jadi semacam bahan dukungan jika Gubernur dan Wakil Gubernur harus melakukan perombakan personil di suatu dinas misalnya. Dengan gagah mereka bisa bilang ‘seluruh rakyat seluruh dunia tahu kok. Mereka yang akan ada di belakang kami jika ada yang menghalangi’. Kini saya makin yakin bahwa teknologi informasi yang dimanfaatkan secara baik dan oleh mereka yang punya kuasa benar-benar bisa digunakan untuk menegakkan kebajikan. Jalan tentu saja masih panjang dan terlalu pagi untuk menghakimi. Meski demikian, Saya tidak pernah seoptimis ini tentang Indonesia melihat pemimpin yang ‘bersekongkol’ dengan rakyat melalui cara cerdas seperti yang dilakukan Jokowi-Ahok.
Dalam sebuah perjalanan di Eropa tahun 2010 silam, saya ada di Brussels suatu pagi. Hari itu saya akan menemui Bapak Duta Besar Indonesia untuk Belgia, Dubes Arif Hafas Oegroseno. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dari Antwerpen ke Brussels, saya tiba di sebuah halte bus bernama Chien Vert. Saya menunggu bus dan tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu. Bagaimana kalau bus di sini seperti di Kota Sydney yang tidak mau menerima pembayaran cash di dalam bus dan hanya mengangkut penumpang yang sudah memiliki tiket? Saya bertanya-tanya dalam hati sambil khawatir. Selain itu, kalaupun saya harus membeli tiket (pre-pass), sayapun tidak tahu harus membeli di mana. Saya harus bertanya kepada orang lain.
Di sebuah kursi, saya melihat seorang ibu-ibu duduk menunggu bus dan sayapun mendekatinya. “Excuse me, Ma’am! Can we buy tickets in the bus?” saya bertanya sopan. Perempuan itupun menjawab dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Sangat singkat tetapi memberi kesan dia tidak mengerti pertanyaan saya. Rupanya perempuan itu tidak paham Bahasa Inggris dan membuat saya menjadi agak panik. Di situ terasa, bisa Bahasa Inggris saja belum tentu bisa menyelesaikan persoalan komunikasi internasional, terutama kalau saya sedang kebingungan di sebuah halte bus di Brussels. Saya membayangkan, seandainya saja saya bisa Bahasa Belanda, Perancis atau Jerman, tentu semua akan beres. Ketiga bahasa ini adalah bahasa resmi di Belgia. Dengan menguasai salah satu dari ketiga Bahasa ini saya pastilah bisa mendapatkan informasi penting yang saya mau. Sementara itu, waktu terus berjalan, bus selanjutnya akan datang pada pukul 9.16, sekitar empat menit lagi.
Saya sedang berada di Kota Melbourne suatu sore untuk bertemu seorang kolega di sebuah gedung di Melbourne University. Sesaat setelah turun dari tram, saya mulai mereka-reka. Kebetulan tidak membawa peta dan iPhone tidak berfungsi dengan baik. Saya tidak bisa menemukan gedung yang dimaksud dengan cepat. Sementara itu saya melihat puluhan mahasiswa berlalu lalang di sekitar saya.
Orang Indonesia umumnya membayangkan gelar kesarjanaan, baik itu S1, S2, maupun S3 diperoleh setelah melalui ujian tugas akhir. Di Indonesia, umum kita ketahui, misalnya, lulus S1 harus melalui ujian skripsi. Ada yang menyebutnya pendadaran, ada yang mengistilahkan seminar. Di tingkat S2 dan S3 juga sama, selalu ada ujian untuk mempertahankan hasil karya tugas akhir (tesis maupun disertasi). Bagaimana dengan di Australia?